Daeng Litere'

Abbarazanji

Rupanya, kerinduan Daeng Gappa pada kampung halamannya makin mengebu-gebu. Selalu ada nakku ri batang kalenna, sari dirinya menuntut rindu diwujudkan. Meskipun Daeng Litere sudah bikin grup WA bernama, “Empat Sekawan”, anggotanya hanya aku, Daeng Dunding, dan Daeng Gappa, tapi belum cukup memenuhi hasrat nakkuna. Ya, rindu tetaplah rindu.

Buktinya, Daeng Gappa setiap hari berkirim pesan ke grup. Entah menguritakan keluarganya, maupun sederet pertanyaan tentang kampung halaman. Maklum saja, sepekan setelah Idulfitri, ia dan keluarganya kembali ke negeri rantau, di seberang pulau.

Aku tak sangka. Dua pekan setelah Iduladha, Daeng Gappa berkabar di grup. Ia akan datang menunaikan rindunya. Appalappasa nakku. Daeng Litere bakal sibuk menyambutnya. Pasalnya, nasib kami berempat ditentukan oleh beliau selaku kepala suku. Daeng Litere paling cekatan mengurus perkawanan kami.

Sehari sebelum berangkat, Daeng Gappa bertanya di grup, “Masih adakah ritus abbarazanji setiap malam Jumat di Masjid Ruhul Amin?”

“Wow… masih dong,” Daeng Litere paling duluan merespon percakapan di grup. Aku Cuma memberikan emoticon jempol saja, sebagai tanda oke.

Pertanyaan Daeng Gappa cukup wajar. Soalnya, selama ia berada di kampung, Tombologani-Bissampole, saat menghabiskan masa pakansi, tak pernah melihat ritus itu berlangsung. Mungkin dia lupa, bahwa selama bulan Ramadan, ritus itu tidak dilaksanakan. Sebab, seluruh ritus terkonsentrasi pada amaliah Ramadan.

Sekadar menghangatkan ingatan saja, Daeng Gappa datang berlibur di kampung, kala jelang Ramadan dan pulang ketika sepekan setelah lebaran.

Padahal, ritus barazanji, membaca kitab Barazanji, dihentikan pada malam Jumat terakhir sebelum memasuki Ramadan dan akan dimulai lagi ketika malam Jumat pertama, atau sepekan sesudah lebaran.

Daeng Litere langsung mengambil inisiatif. Memberikan jaminan pada Daeng Gappa, insyaallah, kalau sudah mengada di kampung,  kala malam Jumat tiba, kita berkumpul di Masjid Ruhul Amin. Ikut ritus, sembari mengenang aktivitas masa bocil dan remaja tempo dulu.

Daeng Dunding langsung menyambar ajakan Daeng Litere di grup, dengan lima tanda jempol sebagai tanda persetujuan. Daeng Gappa melayangkan tujuh gambar lope berwarna merah. Aku pun tak ketinggalan, mengirim sepeluh tanda ketawa lebar, seolah mewakili diriku yang memang kelihatan bermulut lebar.

Rabu malam, Daeng Gappa sudah tiba di Bantaeng. Ia mengabarkan ketibaannya di grup. Daeng Litere menyilakan istirahat saja dulu. Esok pagi baru ngopi bareng di sudut kota, warkop langganan, Toko Bone Bantaeng.

Kamis, pagi masih buta, Daeng Litere sudah menyata di warkop. Ia mengirim gambar di grup, tentang suasana warkop yang masih sepi. Nyaris bersamaan, Daeng Dunding, Daeng Gappa, dan aku berkomentar  OTW.

Tidak butuh waktu lama, kami sudah berkumpul di warkop. Aku pesan kopi nirmanis. Daeng Gappa kopi susu, Daeng Dunding kopi hitam, sedangkan Daeng Litere ikut selera pesananku. Kami pun serempak memesan telur setengah matang. Masing-masing dua butir. Kecuali Daeng Gappa, pesan empat butir. Mungkin karena begadang semalam plus perjalanan yang melelahkan.

Selain minuman, beberapa piring berisi peganan, berupa kue-kue tradisional. Pawa, dadara, duri-duriang, dan bayao pannyu. Tak ketinggalan air sappang berwarna merah, sejumlah empat gelas.

Tak ada percakapan yang serius. Hanya mengulang perbincangan di grup terkait keinginan Daeng Gappa untk kembali menetap di kampung. Pun, tak ketinggalan tentang tanah dan rumah yang pernah dilirik oleg Daeng Gappa untuk dibeli.

Baskara mulai merangkak pada ketinggian. Teriknya baru semenjana. Pertanda belum semadya cicilan perjalannanya. Kami memutuskan bubar, pulang ke mukim masing-masing. Namun, sebelum semuanya usai, kami memastikan terlebih dahulu, agar hadir salat berjemaah Magrib di Masjid Ruhul Amin.

Azan Magrib berkumandang. Lewat toa, muadzin memanggil umat agar salat berjemaah. Azan belum selesai, kecuali Daeng Dunding belum nongol di masjid. Bahkan, salat digelar pun ia belum muncul jua. Usai salat Magrib, aku baru melihatnya. Ia masbuk, telat dua rakaat. Daeng Litere berbisik ke Daeng Gappa, tapi sayup kudengar, “kebiasaan lamanya kambuh lagi.”  

Pascasalat sunah bakda Magrib, ritus abbarazanji pun dimulai. Membaca kitab Barazanji secara berjemaah. Lebih sepuluh orang jemaah duduk melingkar, menandakan partisipan aktif ikut mengawal pembacaan. Kami berempat tidak ikut duduk melingkar, melainkan menyudut di sayap kiri masjid, dekat jendela. Di sudut lain masjid, ada beberapa jemaah menyudut, sembari berzikir atau bersalawat secara senyap.

Kala pembacaan dimulai oleh seorang yang seusia kami, Daeng Gappa setengah berbisik mengajukan tanya. “Inai joka ampakaramulai barazanjia?” Daeng Litere spontan menjawab, “Yang memulai pembacaan itu, Yumang.” Lalu, aku menyambung, anaknya Hajji Haleko. “Masa kamu lupa sama Wahyu, yang lebih akrab dipanggil Yumang,” sergah Daeng Dunding. “Berarti teman sepermainan kita ya?” tutur Daeng Gappa penasaran.

Nah, saat tiba assaraka, satu tahapan pembacaan zikir puja-puji secara berdiri, ada satu orang mengomandoi agar iramanya tertib. Mohon dimaklumi saja, ada tiga orang bocah ikut assaraka, suaranya melengking di bait-bait tertentu. Mereka seolah ingin menggigit toa.

Daeng Gappa kembali penasaran, lalu bertanya pelan, “Siapa yang menjadi pemandu assaraka itu? Aku langsung menyalib sahutan Daeng Litere, “Cucunna Bangko.”

“Berarti ada regenerasi dong.” Daeng Gappa menegaskan sendiri pernyataannya.

Usai assaraka, jemaah kembali duduk, membaca lembaran-lembaran kitab Barazanji secara bergilir. Tidak semua lembaran kitab dibaca, lebih disesuaikan dengan durasi waktu antara Magrib dan Isa. Di pucuk pembacaan, ada doa penutup ritus. Kali ini dibaca oleh imam tetap Masjid Ruhul Amin, lulusan Pondok Pesantren As’adiyah Dapoko.

Arkian, ritus pembacaan selesai, dilanjutkan dengan menyantap peganan tradisonal, sumbangan dari jemaah masjid. Lumayan banyak kue tersaji. Pawa, babingka, cucuru, kaddo massingkulu, dan apang. Tak ketinggalan buah pisang. Tampak loka labbu, loka bainang, dan loka bulaeng jawa.

Peganan dan buah yang tersisa dibawah pulang oleh jemaah, termasuk Daeng Gappa, diberi sesisir pisang, sebagai bagian dari angngalle barakka, mengambil berkah ritus abbarazanji.

Tunai sudah hasrat Daeng Gappa, atas kerinduan pada ritus abbarazanji setiap malam Jumat di Masjid Ruhul Amin. Ia tak tahan untuk berkata kepada kami, sepulang jalan bareng dari masjid, “Saya merasa menjadi kanak-kanak kembali. Sebentuk reinkarnasi laku melihat lestarinya tradisi ritus Ini.” Aku pun membatin, singkamuaji, itu juga yang kurasakan. Entah kalau Daeng Litere dan Daeng Dunding.

Di perempatan jalan, sebelum pisah dengan Daeng Litere, aku setengah memohon, agar menuliskan akar tradisi ritus ini. Singkat saja ulasannya, lalu kirim ke grup untuk dieja bersama. “Okeh komandang boscuh.” Ujar Daeng Litere.

Tepat di hari Sabtu, waktunya nyaris sama waktu kami berkumpul di hari Kamis. Kami pun ngopi bareng lagi. Minuman dan peganan, serta telur setengah matang masih sama. Kecuali jumlah butir telur Daeng Litere bertambah tiga butir, sementara Daeng Gappa menyantap dua butir.

Ketika percakapan kami semakin intim, tiba-tiba telepon cerdas kami bunyi bersamaan, kecuali Daeng Litere. Kayaknya ada pesan masuk. Spontan masing-masing membuka ponsel. Aha, ulahnya Daeng Litere yang mengirim pesan di grup “Empat Sekawan”.

Ia menulis dengan lugas. Tradisi abbarazanji, sungguh sudah sangat tua. Nyaris seusia dengan Masjid Ruhul Amin, yang dulunya bernama Masjid Al-Mubaraat Tombologani. Ritus ini diletakkan pondasinya oleh pendiri masjid, Puang Hami’ (KH. Abdul Hamid), dikuatkan oleh Babba Usu (KH. Yusuf Sulaiman) dan Puang Lompo (KH. Abd. Jabbar Arafah).

Trio kiyai itu, sebagaimana hasil penelitian Litbang Kemenag Sul-Sel, tentang jejaring ulama di Bantaeng, memberikan pengajian secara annale kitab kuning,  dan sekaligus mematenkan ritus barazanji setiap malam Jumat.

Adapun sewaktu tiba di generasi kita, yang memandu pelestarian ritus ini tiada lain, Ust. Hamring Nawawi. Masih ingat bukan guru tilawah kita ini? Dialah yang mengajari kita ilmu tajwid sekaligus abbarazanji.

Lalu, paling mutakhir, yang merawat tradisi barazanji, itulah yang kita saksikan. Coba bayangkan, sudah generasi ke berapa? Pastinya, para bocil yang mau menelan toa itu, yang suaranya melengking lewat pelantang masjid, merupakan cicit para tetua pendiri dan perawat masjid di masa silam.

Kami yang membaca ulasan singkat sebagai pengingat dari Daeng Litere, hanya tertegun dan larut dalam suasana kebatinan masing-masing.

Telepon cerdas kami kembali bunyi. Rupanya, susulan pesan dari Daeng Litere, tertulis dengan jelas, “Alfatihah ma as salawat buat para kiyai dan tetua masjid kita.”

Serempak kami berempat memperbaiki cara duduk masing-masing. Menengadahkan tangan, Memanjatkan salawat, lalu merapal surah Al-Fatiha.

Aneh. Kelihatan aneh laku kami di warkop ini? Pengopi lain mungkin saja menghadirkan segudang rasa penasaran pada kami berempat, para lelaki yang sudah tidak muda lagi.

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *