BantaengBudayaEdukasiLiterasi

Accarita

Wajahnya tampak tua. Padahal usianya baru kelas akhir di sekolah dasar. Ia duduk berderet bersama anak-anak lainnya. Ragam rupa model sekumpulan anak itu. Aku berulang kali menatap, melirik, dan memandang. Sesekali bertumbuk pandang. Sekilas senyum kumekarkan. Ia pun tersenyum. Berlaksa detik kumangsa, barulah aku sadar, ternyata wajah tua si anak, tiada lebih dari sekadar tata rias, buat keperluan lomba Accarita.  

Lomba Accarita, serupa kompetisi Story Telling, bercerita. Sejumlah 15 orang anak sekolah dasar (SD) se-Kabupaten Bantaeng. Ajang lomba dihelat oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bantaeng. Bertemakan, “Membangun Karakter Bangsa , Melalui Kegemaran Membaca”. Acara dibuka oleh Sekda Bantaeng, Abdul Wahab. Sebelumnya ada pula sambutan Kadis, Syamsir, didahului laporan panitia, Kiky Suarsih.

 Sambutan Syamsir menguatkan laporan Kiky, menuturkan, “Lomba Accarita atau bercerita merupakan salah satu upaya untuk mengampanyekan kegiatan gemar membaca bagi anak. Melalui berbagai pendekatan yang menyenangkan, diharapkan anak-anak makin mencintai perpustakaan. Pun, salah satu sarana untuk melihat dan mencari anak-anak yang punya potensi tinggi, untuk dibina dan dikembangkan. Sehingga mereka dapat berprestasi, dan memberikan yang terbaik bagi dirinya, masyarakat, dan daerah.”

Senada dengan Abdul Wahab, sangat lantang menabalkan, kemampuan bercerita hanya bisa dilakukan dengan baik, manakala ada ketekunan membaca. Jadi, ketelatenan membaca akan menjadi fondasi dari kemampuan bercerita, khususnya pada anak-anak. Sehingga, momen lomba Accarita ini bisa berfungsi sebagai pemantik untuk menguatkan tradisi literasi dasar, terkait baca-tulis.

Usai acara pembukaan, rehat sejenak buat persiapan lomba. Sebagai salah seorang juri, selain Mursyid, Anda, dan Dion, dimandat untuk menilai lomba, bakal menghasilkan pemenang Juara Harapan 3, hingga Juara 1. Keempat juri, berlatar belakang sudut pandang, selaku pegiat literasi, penulis, pendongeng, dan budayawan.

Lomba berlangsung hingga jelang pukul 15.00 WITA. Diselingi rehat, salat, dan makan siang. Di sela-sela jeda dan menunggu rekap nilai lomba, aku teringat dengan satu esai yang pernah kutulis beberapa tahun lalu, sudah termuat dalam buku, Pesona Sari Diri, berjudul, “Membaca Natisha Bersama Pinkola dan Campbell”. Dalam esai itu, aku meminjam penabalan seorang budayawan, Alwy Rachman.

Alwy mengulik pikiran seorang psikolog, Clarissa Pinkola Estes, lalu mendaku, kisah tak pernah mati, ibarat sungai yang terus mengalir, memberi asupan pada sang jiwa. Kisah serupa dengan “tulang” yang memungkinkan “otot spritualitas” manusia dapat bergerak. Dengan “kisah sebagai tulang dan “otot spiritualitas”, manusia mampu menegakkan kepedulian dan keberanian untuk menghadirkan dirinya secara utuh. Bersama “tulang” dan “otot”, manusia bergerak dari satu episode masa lalu ke episode kehidupan mitosnya di masa depan.

Nah, aku memadankan “kisah” serupa dengan “cerita”, dalam bahasa Makassar “carita”, bahasa Inggrisnya: “story” . Jadi, berkisah sama dengan bercerita, semakna accarita. Setujuan dengan story telling dalam bahasa Inggris.

Meskipun hajatan Accarita sebatas lomba, paling tidak menurutku ada upaya untuk memberi asupan pada sang jiwa, guna menguatkan tulang dan otot spiritualitas. Apatah lagi, kisah-kisah atau cerita yang didedahkan oleh anak-anak peserta lomba, sekotahnya bermuatan penguatan jiwa. Secara sederhana, kesemua sajian cerita bermakna pada pilihan antara kebaikan dan keburukan. Bukankah perkara baik dan buruk adalah urusan jiwa?

Arkian, segenap carita sajian anak-anak peserta lomba, pun mengandung unsur-unsur kepahlawanan, mengawal perkara kebenaran dan kejahatan. Pada konteks ini, patut pula aku kedepankan pikiran Joseph Campbell, melalui  pendakuan Alwy. Akan halnya dengan Campbell, seorang antroplog, yang meneliti ribuan kisah, mitos-mitos kepahlawanan, dari era ke era, simpai pada simpulan bahwa seorang pahlawan adalah sosok pejalan.

Didakukannya bahwa perjalanan seorang pahlawan melalu enam tahap. Tahapan itu dimulai dengan Innocens, setangga posisi sebagai orang biasa saja. Berikutnya, memasuki kondisi The Call, keterpanggilan akan penghadapan pada soal kehidupan, yang tidak bisa ditolak. Lalu, Initiation, suatu suasana yang diliputi banyak cobaan berat. Pun, setelahnya memasuki alam Allies, yakni adanya kawan-kawan setia yang menemani dalam menjalani cobaan, untuk melakukan Breaktrough, pencapaian terobosan, guna mewujudkan Celebration, keberhasilan.

Carita-Carita yang nacarita anak-anak sebagai pacarita, sungguh merupakan kumpulan kisah dan mitos. Menceritakan enam tahap perjalanan. Sebagai misal, carita bertajuk  “Nenek Pakande”. Pacarita berkisah, di suatu kampung yang semula adem, tiba-tiba terjadi kekacauan. Pasalnya, ada seorang nenek yang suka menculik anak-anak buat makanannya. Nama pun disematkan padanya sebagai Nenek Pakande. Si Nenek hanya takut pada sosok raksasa. Masalahnya, si Raksasa sudah lama menghilang.

Bermusyawaralah warga kampung. Seorang anak muda mengusulkan cara jitu menaklukkan si Nenek. Si Anak Muda awalnya disepelekan, tapi usulannya agar diambil tindakan menyerupai raksasa, menyebabkan warga menyetujui usulan tersebut. Dengan bantuan warga, si Anak Muda yang menyerupai raksasa, menghadapi si Nenek Pakande. Akhirnya, si Nenek Pakande kalah dan lari tunggang langgang. Kampung kembali adem, berkat kecerdikan si Anak Muda. Warga merayakan kemenangan dan menobatkan si Anak Muda sebagai pahlawan mereka.

Carita “Nenek Pakande” sebagai salah satu cerita yang ikut lomba, diceritakan oleh Dhiya Zahra Islami, siswi SD Neg. 5 Lembang Cina Bantaeng, menjadi Juara 1. Carita  lainnya, “Raja yang Kikir dari Bissappu”, Anji Malika SDIT Wahdah, Juara 2. ”La Upa dan Ibu Tiri”, Qonita Anshar, SD. Inpres Tappanjeng, Juara 3. “Si Kikkri dan Buah Erasa”, Retno Widya Ningrum, SD. Inpres Tala-Tala, Juara Harapan 1. ”I Kikkiri Gallang na Pokok Erasa”, A. Amalia Khaerunnisa Noor, SD Neg. 5 Lembang Cina, Juara Harapan 2. Dan, “Puang Kalasang”, Rika Amanda SD. Inpres Teladan Merpati, Juara Harapan 3.

Wajah tampak tua menyerupai nenek, karena riasan muka dan tata busana, padahal usianya masih kanak-kanak, sungguh mengelabuiku. Awalnya memancing keherananku, mengapa ada anak kecil menyerupai nenek tua. Ternyata, antara carita dan pacarita, padu padan ketika tampil di atas panggung, accarita “Nenek Pakande”. Si Pacarita memukau para juri dan penghadir. Paling tidak, telah menyihirku, karena mengingatkan kembali segumpal buah pikir tentang, carita sebagai asupan jiwa, guna memperkuat tulang dan otot spiritualitas. Dan,sekotah  pacarita telah mewujud sebagai pahlawan di hajatan Accarita.  

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *