Daeng Litere'

Appa’ruwa(?)

Bulan suci Ramadan tinggal beberapa hari. Salah satu kebiasaanku, melakukan ziarah kubur. Baik kepada kedua orangtua, sanak famili, serta waliullah. Di salah satu area pekuburan dekat mukimku di Tombologani-Bissampole, terdapat Taman Purbakala Kompleks Makam Latenri Ruwa dan Raja-raja Bantaeng. Jarak dari rumah orangtuaku, sekaligus mukimku tatkala di Bantaeng, hanya diselai jalan poros. Bila saya duduk-duduk di lego-lego rumah, maka kompleks itu amat benderang penampakannya.

Ada tiga makam paling sering saya ziarahi. Syekh Sayyid Abdullah Al-Hasani, Syekh Abdul Gani, dan Latenri Ruwa. Dua sosok syekh, hingga kini belum memadai narasi historinya. Sementara Latenri Ruwa, sejarahnya cukup lengkap, sebab sumber-sumber literaturnya mudah ditemukan. La Tenri Ruwa, Raja Bone yang pertama kali menerima ajaran Islam, dimakzulkan dari tahtanya, lalu ke Gowa memperdalam ajaran Islam, seterusnya ke Bantaeng berdakwah.

Namun, aku tak hendak bercerita tentang ketiga persona tersebut. Aku hanya mau berlama-lama di kompleks, menikmati suasana taman pekuburan dengan fasilitas dua gazebo. Jumat, selepas tunaikan Subuh, biasanya aku berziarah. Termasuk Jumat jelang Ramadan. Entah karena tarikan apa, sehingga kali ini, aku lebih lama di kompleks, rebahan di Gazebo. Bahkan, baskara sudah semenjana teriknya. Bayu pun tak ketinggalan menyapa dengan sepoinya.

Rebahanku menerawang liar tak bertepi, tapi dalam sekejap lintasan kala, ingatanku tertuju pada Daeng Litere. Mungkin akan lebih bagus kalau kuajak ia ke taman pekuburan. Sekalian menagih catatannya, terkait ritus Pajukukang dan pesta Gantarangkeke dalam kaitannya dengan ajaran Islam. Sebagaimana pertanyaanku, sesaat setelah meninggalkan warkop langganan kami, tempo hari.

“Bisa ke taman purbakala? Mumpung cuaca bersahabat. Jangan lupa bawa kopi nirmanis. Sekalian beli buroncong di sudut pasar lama, langganan kita. Lebih penting lagi, bawa catatan jawabanmu atas pertanyaanku tempo hari. Kita sawalakan di gazebo taman, rampi’na poko’ cambayya.” Japri lumayan panjang kulayangkan pada Daeng Litere.

Okeh boscu. Kupakintaki dulu beberapa halaman bacaanku atas disertasi Sabbara. Insya Allah, siap meluncur.”

Imajinasiku makin liar tak terkendali. Mungkin suasana taman pekuburan dan amboinya rebahan di gazebo. Lintasan-lintasan jarak hidup dan mati melilitiku. Seolah aku berada dalam satu terungku hidup dan mati. Sesaat aku lelap. Mati kecil. Terbangun seketika, tatkala salam sapa dari jauh terdengar. Setengah sadar, aku mengira sudah berada di alam lain dan malaikat pemeriksa amal menyapa. Eh, ternyata salam persuaan dari Daeng Litere.

Segera saja Daeng Litere menjabat tanganku, lalu menepuk-nepuk bahuku. Ia tahu, aku masih setengah sadar. Barulah saat ia mengeluarkan kopi dan kue buruncong pesananku, kesadaranku benar-benar pulih. Ternyata, kualitas kesadaran diriku begitu rendah, masih ditentukan oleh kopi dan buroncong.

Aku mulai berdepan-depan dengan Daeng Litere. Ia mulai menuangkan kopi dari tumbler ke wadah bekas tempat selei, yang sering kami jadikan gelas. Segera kutenggak lalu kusambar satu buroncong, buat mematangkan kesadaranku. Setelahnya, Daeng Litere mengeluarkan isi ransel hitamnya. Laptop, disertasi Sabbara, dan beberapa lembar catatan.

Bagaimana dengan pertanyaanku tempo hari? “Adami jawabannya boscu. Saya tetap merujuk pada hasil riset Sabbara, disertasi itu bro.”   

“Ini simpai simpulannya.” Tegasnya padaku, sembari menyodorkan lembaran tulisan tangannya.

Hasratku, hendak langsung menggandakan catatan tulisan tangan Daeng Litere. Biar setiap orang yang aku temui, kalau bertanya tentang pandangan kaum muslimin terhadap ritus Pajukukang dan pesta Gantarangkeke, sudah cukup sebagai jawaban. Kehendak kuurungkan. Maklum saja, tulisan tangannya sebelas duabelas dengan tulisan tangan resep dokter, hanya dimengerti oleh apoteker. Aku bisa pastikan, hanya aku yang mampu membaca dengan cermat tulisannya.

Arkian, aku ketik di ponselku catatan itu. Susah payah aku mengetik. Untunglah di sela-selanya, seruput kopi dan mengunyah buroncong, menjadi pendukung utama kesuksesan mengetik lewat ponsel. Dan inilah yang akan kubagikan kepada kisanak dan nyisanak. Diminta atau tidak, karena kusebarkan lewat medsos.

Ritus Pajukukang dan pesta Gantarangke merupakan tradisi pra-Islam dan berlanjut hingga agama Islam masuk di Gantarangkeke. Eloknya, karena masyarakat adat yang menyelenggarakan tradisi, semuanya beragama Islam. Tanggapan terhadap laku ritus, pun beragam. Perbuatan syirik menjadi stigma terdepan, khususnya bagi umat Islam yang tidak setuju dengan ritus tersebut. Appa’ruwa, bermakna menduakan Tuhan, appa’ruwa karaeng Allah Taala.

 Riset Sabbara dalam disertasinya menarik dikedepankan. Bagaimana tanggapan tokoh agama di Bantaeng? Sabbara menemui tiga orang, sebagai representasi pandangan keagamaan. KH. Muin Jufri, mewakili organisasi Nahdatul Ulama (NU), KH. Arbiah Karib, dari Muhammadiyah, dan Prof. Dr. Muhammad Ghalib selaku akademisi UIN Alauddin Makassar asal Bantaeng.

Ketiganya sepakat bahwa dalam prakteknya tradisi masyarakat Gantarangkeke masih mengandung unsur yang bertentangan dengan ajaran Islam. Namun, ketiganya sepakat pula, tradisi tersebut perlu dilestarikan sebagai warisan budaya lokal Bantaeng. Pelestarian tradisi, tentu saja memperhatikan aspek ajaran Islam sebagai postulatnya.

Pada konteks inilah perjumpaan tradisi lokal dengan ajaran Islam mengalami dinamika berbagi ruang kontestasi. Menurut ketiga tokoh agama tersebut, dakwah yang harus dilakukan, bentuknya mesti persuasif. Tidak hitam-putih. Wajah dakwah bersifat kultural. Kehadiran dakwah Islam bukan untuk menghilangkan tradisi, melainkan bagaimana mengkontekstualisasikan tradisi itu, agar selaras dengan ajaran Islam. Singkatnya, perjumpaan tradisi lokal dan pemahaman keislaman, harus menimbang konten, kontes, dan konteks.

Wujud perjumpaan itu sudah berlangsung. Penetapan waktu di bulan Syakban jelang Ramadan, bukan tanpa sebab. Semacam siasat kultural, sehingga seolah bagian dari cara menyambut Ramadan. Ruang berbagi mengemuka, khususnya dalam merapal mantra. Panjatan syukur kepada Allah Swt., salawat kepada Nabi Muhammad saw.

Bahkan, seorang pinati, bergelar Pun Juku, ketika ditemui oleh Sabbara, menuturkan, “Upacara adat dilakukan, tiada lain sebagai penyampaian rasa syukur kepada Allah Swt. Tidak ada niat untuk menduakan Allah, sebagaimana dituduhkan oleh orang-orang. Upacara ini dilakukan demi menghormati tradisi leluhur, sekaligus sebagai ungkapan syukur kepada Allah Swt.”

Owow…, jari anre kulle niponnis tu appa’ruwa di?” Jadi tidak boleh divonis sebagai orang menduakan Allah ya? Begitu pertanyaanku pada Daeng Litere, setelah semua catatan tulisan tangannya kuketik di ponselku.

Daeng Litere hanya diam. Tak menjawab tanyaku. Matanya menerawang kubur para penghuni keabadian di taman pekuburan. Mungkin ia bakal mengalami apa yang kualami sebelum kedatangannya. Khusyuk dalam terungku hidup-mati. Pasalnya, berada di dekat kubur, rasanya tipis sekali batas orang hidup dan mati. Apatah lagi, penghuni kubur, sungguh tidak mati, hanya berpindah ke alam lain.

Masih dalam diamnya Daeng Litere, aku membatin, bagaimana nasib tradisi ini di masa depan? Soalnya, tidak sedikit yang ingin menghilangkannya secara total, sebab sentral appa’ruwa, pusat kesyirikan. Namun, yang lebih mengkhwatirkanku, jikalau tradisi ini dijadikan sebagai objek wisata. Komersialisasi ritus, kapitalisasi tradisi. Uang menjadi motif segalanya. Pemuja cuan berjaya. Inilah sesungguhnya appa’ruwa.

Sumber  gambar: suaralidik.com

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *