BantaengBudayaEdukasiInovasiKesehatan

Asa Mengangkasa, Bakti Membumi

Cilik-cilik bernyanyi riang gembira, sembari melakukan gerakan-gerakan atraktif khas bocah. Para penghadir ikut berbahagia menyaksikan anak usia dini bertingkah tanpa beban. Para Bunda PAUD, guru PAUD-SD, dan perwakilan OPD lingkup Bantaeng, serta segenap panitia penyelenggara, kelihatan takjub melihat salah satu penanda hajatan di Tribun Lapangan Pantai Seruni Bantaeng, pada Rabu, 31 Agustus 2022.

Penanda lainnya, pemukulan gong oleh Bunda PAUD Bantaeng, sambutan-sambutan dari perwakilan UNICEF dan Lemina, serta Pemerintah Kabupaten Bantaeng, yang berpucuk pada pelepasan balon keudara. Balon yang terbang membawa satu spanduk ukuran sedang, serupa kick off, bertuliskan, “PAUD HOLISTIK INTEGRATIF (HI) untuk Bantaeng Baik. PAUD HI Bangkit!”

Jujur, sejujur-jujurnya saya haturkan pada diri sendiri, kala ikut hadir sebagai undangan mewakili pegiat literasi dari Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, haru dan bahagia menghidu sekujur jiwa saya. Betapa tidak sambutan dari perwakilan UNICEF wilayah Sulawesi-Maluku dengan seperangkat data keterpurukan dan sambutan hangat Bunda PAUD Bantaeng serta Pemkab Bantaeng yang siap menyukseskan program mulia ini. Begitu pun juga, ungkapan kesiapan lembaga mitra Lemina akan mendampingi pencapain tujuan.

Segera saja naluri jurnalistik saya moncer berburu minda, khususnya dari perwakilan UNICEF dan Bunda PAUD Bantaeng. Saya tidak melakukan wawancara, tapi memburu naskah sambutannya. Saya ingin menyelami narasinya lebih khusyuk, buat menegakkan satu tujuan, hadirnya esai yang mungkin saja berguna bagi khalayak.

Coba simak kutipan panjang dari sambutan Sitti Eliza Mukti representasi UNICEF. Saya sadurkan secara bebas. Amat disayangkan, masih ada anak-anak usia dini yang belum mengikuti layanan PAUD.  Secara nasional, APK PAUD (Kemendikbudristek 2021) baru sekitar 39.96 %, Sulawesi Selatan  di bawah APK nasional yaitu 34%.  Rendahnya angka partisipasi karena banyak faktor, di antaranya orang tua yang tidak memahami pentingnya PAUD, tidak adanya layanan PAUD ataupun layanan PAUD yang ada masih kurang berkualitas (karena kurangnya penganggaran dan SDM yang berkualitas), sehingga orangtua pun enggan untuk memasukkan anaknya ke PAUD.  

Pandemi COVID-19 turut memperparah kondisi layanan PAUD dan memengaruhi pendidikan serta perkembangan anak. Penutupan PAUD selama 2 tahun terakhir, berpotensi menimbulkan dampak negatif berkepanjangan.  Banyak aspek perkembangan anak terganggu, semisal kesempatan untuk belajar sejak dini, akses ke layanan kesehatan yang memadai (air, sanitasi, kebersihan, dan perlindungan).

 Pandemi Covid 19 juga memengaruhi kesiapan anak memasuki sekolah dasar. Satu  penelitian menunjukkan terjadinya ketertinggalan dalam pembelajaran.  Di masa pandemi, temuan Puslitjak, Kemendikbudristek (didukung oleh Inovasi) mendedahkan bahwa learning lose untuk literasi setara dengan 6 bulan belajar, sedangkan penurunan capaian belajar numerasi setara dengan 5 bulan belajar. Dan, Rapor Pendidikan terkini (2021), Asesmen Nasional tahun memperlihatkan, kurang dari 50% siswa di Sulawesi Selatan memiliki kompetensi dasar literasi dan numerasi.

UNICEF menyambut baik komitmen Pemerintah Sulawesi Selatan untuk Percepatan Pelaksanaan Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif di Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Sulawesi Selatan dan penguatan literasi. Didukung oleh Pemerintah Jepang, UNICEF bersama mitra pelaksana LemiNA, Yayasan Indonesia Mengabdi dan Jenewa Madani, akan melakukan serangkaian intervensi yang terintegrasi untuk mendukung pemerintah daerah dan satuan pendidikan dalam membantu anak-anak (khususnya usia 5-8 thn) mendapatkan layanan PAUD yang berkualitas,  pulih dari ketertinggalan pembelajaran dan menjadi lebih siap untuk masuk ke jenjang sekolah dasar.

Di Sulawesi Selatan, Kabupaten Bantaeng dan Kabupaten Bone merupakan dua kabupaten yang menjadi lokus intervensi program. Program akan berfokus pada peningkatan akses terhadap pembelajaran yang berkualitas, ketersediaan air bersih, sanitasi dan layanan kebersihan diri, juga layanan kesehatan dan perlindungan anak yang esensial.  Program kerjasama untuk PAUD HI ini akan dilakukan di 30 PAUD di Bantaeng. Guna memperkuat masa transisi dan mendukung pemulihan pembelajaran (khususnya dalam ketrampilan literasi dan numerasi), 15 SD yang dekat dengan lokasi PAUD, akan diberikan penguatan kapasitas pada guru/kepsek buat meningkatkan keterampilan literasi dan numerasi siswa.

Ungkapan-ungkapan dari Eliza, langsung disambar oleh Bunda PAUD Bantaeng, Sri Dewi Yanti. Hadirnya program ini, selaras upaya pengembangan anak usia dini, dilakukan untuk memenuhi kebutuhan esensial anak yang beragam dan saling terkait secara simultan, sistematis, dan terintegrasi.

Ketika pandemi Covid-19 menyerbu, tantangan dan ujian bagi kelangsungan proses pembelajaran maupun eksistensi PAUD tidaklah mudah. Peserta didik PAUD belum mampu dan belum saatnya mengoperasikan gawai/smartphone sebagai alat pembelajaran jarak jauh. Proses pembelajaran PAUD yang harusnya bertatap muka dengan penuh kegembiraan, keakraban, kasih sayang, dan keharmonisan lainnya, tidak diperbolehkan. Mereka harus belajar dari rumah dengan pendampingan orangtua.

Kenyataannya dapat dilihat dari hasil Penilaian Kebutuhan Cepat (Rapid Need Assessment) yang dilakukan Save the Children Indonesia,  April 2020, menyajikan angka 25 persen orangtua tidak memiliki alat dan bahan ajar memadai, 40 persen orangtua melihat motivasi anak menurun, dan hampir 30 persen guru membutuhkan materi pembelajaran jarak jauh. Kemungkinan kondisi asli di lapangan jauh lebih besar dari persentase kajian ini.

Selain itu, peran organisasi masyarakat sangat strategis dalam mendukung dan mendampingi penyelenggaraan PAUD HI, salah satunya adalah Kelompok Kerja (Pokja) Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), mulai dari tingkat nasional hingga desa/kelurahan. Bunda PAUD Bantaeng mengajak pemerintah kecamatan untuk melakukan akselerasi perwujudan PAUD HI. Membuat satu percontohan di setiap desa/kelurahan, sehingga menjadi window shopping bagi seluruh pengelola PAUD.

Waima peran Bunda PAUD Bantaeng melekat pada indikator pendidikan, tapi pelayanan holistik integratif, khususnya bidang kesehatan, gizi, perawatan, pengasuhan, perlindungan, dan kesejahteraan, menjadi ukuran layanan minimal di satuan PAUD. Makin beragam intervensi yang diintegrasikan oleh lembaga pemerintah dan non pemerintah di Satuan PAUD, tentunya makin holistik stimulasi yang diperoleh oleh peserta didik dalam mengisi masa golden age.

Ketika Bunda PAUD Bantaeng ingin menegakkan muruah program welas asih ini, harus bekerjasama dengan berbagai lembaga, baik OPD maupun Lembaga Non-Pemerintah, media massa, kampus, dan dunia usaha (lewat Corporate Social Responsibility-CSR). Termasuk organisasi keagamaan, lembaga/organisasi di bidang seni dan budaya, legislatif, dan BUMN/BUMD.

Satuan PAUD di Kabupaten Bantaeng masih sangat perlu diintervensi lintas sektor agar meningkat menjadi layanan berkualitas holistik integratif. Semoga hal tersebut dapat mengubah pandangan dan perilaku masyarakat, tentang pentingnya anak usia dini melalui jenjang pendidikan sebelum ke jenjang pendidikan dasar. Masyarakat dan orangtua mesti memahami, pemberian rangsangan pendidikan dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak usia dini memiliki kesiapan tatkala memasuki pendidikan dasar.

Mengeja untaian minda dari Eliza dan Bunda Sri, saya tiba pada simpai simpulan, inilah proyek kemanusiaan yang berbasis penguatan sumberdaya manusia Bantaeng. Tampak tali kasih dan seutas welas asih. Melambungkan asa anak usia dini, guna melintasi kedisinian menuju  kedisanaan, masa depan lebih baik.

Seolah menegaskan kembali prinsip seorang bijak bestari di masa silam, bila keperluanmu selamanya, maka didiklah manusia. Literasi dan numerasi serta program PAUD HI, merupakan upaya mencicil kebutuhan masa depan generasi lebih baik. Jadi, jangan dulu ditagih hasilnya besok atau lusa. Namun, tunggulah para cilik ini, ketika tiba waktunya menorehkan bakti buat negerinya.

Pukulan gong Bunda Sri menggema ke semesta Bantaeng. Balon pun dilepas. Warna-warni balon, terhimpun dalam satu ikatan, membawa terbang sehelai spanduk penanda kick off, merupakan simbol dari asa bersama. Beragam warna balon mencerminkan keragaman, terintegrasi secara holistik dalam satu kesatuan. Seutas balon mengangkasa ke langit, tapi bakti tetap di bumi, menabalkan pesan, “Literasi dan numerasi serta PAUD HI, satu program tali kasih berlapik welas asih”.  

Sumber foto: Yosi Adelia Chaniago

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *