BudayaJurnalisme WargaKareba

Attompolok Beja-Beja

Tepatnya Jum’at 18 Agustus 2023, sehari setelah perayaan kemerdekaan, putri kami, Shanum Asyura Macca yang lahir 21 hari sebelumnya akhirnya diakikah. Akikah memang sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari umat Islam, sebagai bentuk rasa syukur atas karunia-Nya. Konon, tradisi akikah sudah ada sejak zaman jahiliyah, orang-orang sebelum Nabi Muhammad SAW., memiliki tradisi menyembelih kambing, lalu darahnya yang kesumba itu dilumuri ke kepala bayi laki-laki dengan maksud tertentu.

Ketika Islam datang, Nabi Muhammad saw., mengubah tradisi menjadi lebih manusiawi, entah bayinya laki-laki atau perempuan, rambut kepalanya akan dipotong, darah merah sembelihan diganti minyak wangi, sedang daging akikah dimasak lalu disedekahkan kepada kaum papa.

Ajaran Islam lalu menyebar ke seluruh pelosok bumi, melebur ke dalam banyak kebudayaan, akikah pun mengalami akulturasi. Setiap masa, saban tempat memiliki tata caranya tersendiri.

Di tempat saya, Desa Tombolo, Kec. Gantarangekeke, Bantaeng. Akikah biasanya dirangkaikan dengan tradisi attompolok. Attompolok adalah menaruh dedaunan yang sudah dihaluskan di ubun-ubun bayi. Saya sempat menanyakan ke tetua yang menyiapkan pattompolok, tapi beliau masih enggan menjawab daun dan rempah apa saja yang digunakan. Selain tetua, pattompolok biasanya juga disiapkan sendiri oleh sanro (dukun) bayi.

Attompolok ternyata juga dilakukan di daerah lainnya, Mustika sari dan Andi Agussalim dalam jurnalnya “Analisis Makna Simbolik Attompolok pada Masyarakat Makassar di Polongbangkeng Selatan Kabupaten Takalar”, menjelaskan bahwa attompolok adalah menaruh di ubun-ubun bayi daun sirih yang sudah dikunyah oleh orang tua bayi.

Sari dan Agussalim juga menemukan fakta adanya pergeseran tata cara attompolok, mengingat keluarga tidak mau lagi menyediakan bahan-bahan yang sudah sangat susah didapatkan sekarang. Dahulu ada tiga tahap yang dilakukan saat memasuki acara inti attompolok, yaitu langirik (memandikan kambing), akcaru-caru (memberikan seserahan kepada penjaga bumi). dan attompolok (menaruh pada ubun-ubun bayi).

Pada saat langirik, maka akan disediakan air, minyak, batang pagar jarak, dan kunyit. Saat akcaru-caru maka yang disediakan itu adalah kanre patanrupa na bayao, leko baru, dan dupa. Sedang saat attompolok disediakan pattompolok, kapparak (kue dan lauk), kaluku na golla, umba-umba na lawarak kadea, pakdupang, serta berasak na taibani.

Di keluarga kami, attomopolo didahului dengan assuro maca, yaitu kegiatan meminta orang lain untuk membacakan doa keselamatan dan kesyukuran, serta doa untuk orang meninggal dunia. Meminta orang lain memohonkan doa didorong adanya kesadaran seseorang atas kurang dalamnya ilmu agama yang dimiliki dan ketaatan yang masih dirasa kurang. Biasanya orang yang diminta a’baca-baca adalah yang dianggap punya ilmu agama yang dalam, rajin menjalankan syariat, serta punya hubungan sosial yang baik.

Setelah assuro maca, bayi dan orang tuanya diminta duduk di hadapan sanro. Di kamar, di atas nampan, diletakkan penganan tradisional yang sering hadir saat acara-acara sakral, seperti baje’ yang berarti baik, agar bayi dan orang tua selalu dilingkupi kebaikan. Ada pula cucuru te’ne, yang memiliki arti semoga bayi dan orang tuanya senantiasa a’rannu-rannu (berbahagia), laiknya kata te’ne yang bermakna manis. Terakhir umba-umba, kue ini ketika dimasak akan tenggelam, lalu setelah matang muncul ke atas, harapannya, semoga kehidupan bayi dan orang tuanya juga demikian, masalah boleh datang silih berganti menenggelamkan, tapi ingat untuk selalu bangkit dan tidak berputus asa.

 Pattompolok laludikeluarkan, permukaan kuku telunjuk dan jari manis ibu dan ayahnya akan diserut sedikit oleh sanro, lalu ditambahkan ke dalam pattompolo. Jari telunjuk dipilih, dengan harapan agar si anak akan mengikuti setiap petunjuk dan nasihat dari orang tuanya. Jika orang tua menunjuk ke kanan, maka anak akan ke kanan, bukan sebaliknya. Menjelma anak manis yang senantiasa berbakti.

Setelahnya, beberapa ritus dilakukan, doa-doa lalu dipanjatkan, di tengah-tengah pattompolok  oleh sanro diselipkan cincin emas pernikahan orang tua bayi. Dalam masyarakat kita, emas senantiasa diasosiasikan dengan kebaikan dan kemuliaan. Semoga kelak si bayi, bisa memiliki pa’mae (perangai) laiknya emas yang membawa banyak kebermanfaatan bagi kehidupan.

Syahdan, dengan didahului doa, pattompolok kemudian ditaruh di ubun-ubun bayi hingga menempel dengan baik. Menurut sanro, tidak ada ketentuan waktu khusus berapa lama pattompolo harus menempel, biasanya ia akan lepas dengan sendirinya.

Bayi kemudian dibawa keluar, untuk bersiap menjalani pemotongan rambut. Prosesi ini dimulai dengan pembacaan Barazanji pada umumnya, bedanya saat mahhallul qiyam (berdiri), bayi yang sudah ditaruh di atas nampan akan dibawa berkeliling oleh ayahnya, diikuti oleh ibunya yang membawa kelapa yang sudah dilubangi bagian atasnya, dan gunting.

Tamu yang paling dihormati (biasanya pemimpin Barazanji) mengawali pemotongan rambut disertai doa-doa bagi si bayi, bagian rambut yang dipotong diambil dari tiga sisi: tengah, kanan, dan kiri. Satu per satu pabarazanji akan diminta memotong secara simbolis, lalu beralih ke keluarga bayi yang lain. Setiap helai rambut yang dipotong, dimasukkan ke dalam kelapa. Kelapa dipilih karena merupakan tanaman yang semua bagiannya bisa memberikan manfaat bagi orang-orang. Ini sebentuk doa agar si bayi pun kelak bisa memberikan sumbangsih bagi kehidupan orang-orang di sekitarnya. Prosesi kemudian diakhiri dengan acara makan bersama.

Attompolok memang kaya akan makna simbolik yang positif. Masyarakat biasa menyebut prosesi dan penganan yang disiapkan khusus sebagai sara’-sara’ (syarat-syarat), yang oleh masyarakat kita diyakini bahwa rioloi sara’-sara’ ka na bacayya, bahwa syarat lebih dulu ada dibanding baca-baca itu sendiri. Sehingga hampir dalam setiap acara sakral, masyarakat tidak pernah meninggalkannya, dan justru meninggikannya.

Sumber gambar: dokumentasi pribadi

Ikbal Haming

Guru PJOK SD Negeri 48 Kaloling, pustakawan di Rumah Baca Panrita Nurung, Dusun Borong Ganjeng, Desa Tombolo. Menulis buku kumpulan esai "Jika Kucing Bisa Bicara" (2021).

One thought on “Attompolok Beja-Beja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *