News

Belajar Membaca-Membaca untuk Belajar

Bantaeng, Bonthaina – Berbicara tentang literasi bukan hanya soal baca tulis. Bukan pula hanya sekedar belajar membaca dan menulis, tapi lebih luas dari itu–melalui membaca dan menulis, kita bisa belajar banyak sesuatu.

Pernyataan menarik tersebut dilontarkan oleh Perwakilan UNICEF untuk Indonesia Timur, Eliza Mufti pada sambutan pembukaan Pelatihan peningkatan kapasitas bagi guru dan kepala sekolah dasar dalam pembelajaran literasi dan numerasi, Selasa (24/9) di Hotel Kirei Bantaeng.

Dalam rilis Panitia dari Lembaga Mitra Ibu dan Anak (LemINA) yang disampaikan oleh Koordinator Kabupaten Bantaeng, Rahman Ramlan diketahui bahwa keterampilan dasar literasi dan numerasi merupakan pondasi anak dalam belajar. Sayangnya, tingkat kompetensi literasi dan numerasi murid Indonesia masih rendah, hal ini tercermin dari rendahnya prestasi belajar mereka. Skor Indonesia untuk PISA tahun 2018 mengalami penurunan. Indonesia merupakan salah satu dari 10 nilai terendah dari 79 negara peserta PISA 2018 (OECD, 2019).

Di Sulawesi Selatan, Rapor Pendidikan menunjukkan kurang dari 50% siswa, baik di jenjang sekolah dasar maupun sekolah menengah, mencapai batas kompetensi minimum untuk literasi membaca dan numerasi. Tantangan tersebut menjadi lebih kompleks ketika pandemi COVID-19 melanda dunia. Situasi pandemi memaksa sekolah untuk menutup dan mengadakan pembelajaran jarak jauh bagi murid. Guru mengalami tekanan yang luar biasa untuk memberikan instruksi yang efektif saat mengajar dari jarak jauh dan murid mengalami kesulitan belajar dan dimotivasi.

Penelitian Puslitjak dan INOVASI menunjukkan bahwa hilangnya kompetensi telah terjadi di kelas 1-3 (yang dianggap sebagai tahun penting untuk belajar literasi) murid SD selama periode pembelajaran jarak jauh. Murid kehilangan apa yang telah mereka pelajari sebelumnya dan pada saat yang sama kehilangan kesempatan untuk mempelajari kompetensi baru. Murid mengalami learning loss setara dengan 5-6 bulan karena belajar selama 12 bulan pembelajaran selama masa pandemi (Puslitjak & INOVASI, 2021).

Sebagai bagian dari upaya pemulihan pembelajaran yang terjadi, Kemendikbudristek resmi meluncurkan Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka memiliki beberapa keunggulan, di antaranya adalah lebih sederhana dan mendalam, lebih merdeka, dan lebih relevan dan interaktif. Kurikulum Merdeka diharapkan dapat memberi ruang seluas-luasnya bagi peserta didik dalam berkreasi dan mengembangkan diri.

Sebagai bentuk dukungan, Yayasan LemINA bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bantaeng dan didukung oleh UNICEF dan Pemerintah Jepang, melakukan Pelatihan Guru Sekolah Dasar di Kelas Awal untuk mendukung upaya Peningkatan Ketrampilan Literasi dan Numerasi Siswa Kelas Awal.

Menurut Program Manager Program PAUD HI Provinsi Sulawesi Selatan, Hendra Saltra, Pelatihan pembelajaran literasi dan numerasi merupakan salah satu rangkaian Program Pengembangan Anak Usia Dini yang Holistik dan Integratif (PAUD HI) di Kabupaten Bantaeng, di mana sebelumnya telah diluncurkan oleh Bunda PAUD Bantaeng pada 31 Agustus 2022. Program ini akan memberikan pendampingan di 15 Sekolah Dasar dan 30 PAUD kurang lebih 7 bulan ke depan.

Pelatihan Literasi Numerasi

Sebanyak kurang lebih 60 orang mengikuti pelatihan tersebut yang berasal dari perwakilan Kepala Sekolah dan Guru Kelas Awal di 15 Sekolah Dasar se-Kabupaten Bantaeng mengikuti Pelatihian Peningkatan Kapasitas Guru Kelas Awal dan Kepala Sekolah Dasar dalam Pembelajaran Literasi dan Numerasi (27 September-1 Oktober 2022). Mempertimbangkan efektivitas kegiatan, Panitia membagi peserta ke dalam dua kelas. Satu kelas diselenggarakan di Hotel Kirey Banteng, dan kelas lainnya di Hotel Seruni Bantaeng. Khusus sesi pembukaan, Panitia menyiapkan link zoom sehingga peserta di tempat berbeda dapat mengikuti pelatihannya. Bertindak selaku Fasilitator-Pemandu dari alumni Pelatihan Calon Pelatih (PCP) yang telah dilatih sebelumnya yang berasal dari perwakilan Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama Bantaeng.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bantaeng, Drs. Muhammad Haris, M.Si dalam sambutan pembukaannya menyambut baik dan mengapresiasi atas terselenggaranya pelatihan tersebut. Muhammad Haris menyampaikan bahwa “Kita terus berjuang meningkatkan pelayanan pendidikan demi mempersiapkan generasi emas kita. Oleh karena itu, apa yang dilakukan hari ini dan 5 hari ke depan akan menentukan bagaimana masa depan anak-anak kita”. “Saya meminta seluruh peserta-baik yang ada di Kirey maupun yang di Seruni agar betul-betul serius dan memanfaatkan kesempatan baik ini,” harapnya.

Begitu pentingnya pelatihan literasi dan numerasi, Muhammad Haris berharap dukungan dan kerjasama dari LemINA dan UNICEF. Diakuinya pada awal program ini baru menyasar 15 SD dan 30 PAUD, namun ke depannya, Pemerintah Kabupaten Bantaeng melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan akan memprogramkan untuk melanjutkan untuk sekolah-sekolah lainnya. “Insya Allah kita akan melanjutkan program ini untuk sekolah lainnya. Mohon dukungan LemINA dan UNICEF,” pintanya.

Pernyataan keberlanjutan program bukan hanya sekali disampaikan oleh Beliau, tapi juga disampaikan pada saat penutupan pelatihan peningkatan kapasitas bagi guru dan kepala sekolah dasar di satuan PAUD, Sabtu (17/9) di Hotel Seruni.

Ahmad Ismail

Fotografer-Videografer/Jurnalis Lepas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *