BantaengDaeng Litere'EdukasiInovasiLiterasi

Dari Anak Literasi ke Literasi Anak

Sekaum anak mengecoh penghadir. Pasalnya, anak-anak belasan tahun memanggungkan beberapa penggalan lakon perjalanan aktivitas mereka dalam bentuk teaterikal. Antara suara dan gerak bibir padu padan, silih berganti dipertunjukkan. Saya baru sadar, ketika benar-benar mereka terjeda beberapa detik, akibat perpindahan gaya bertutur lipsync, beralih dialog dengan host. Ah, rupanya anak-anak remaja itu sementara mementaskan teater musikal.

Satu bentuk berkesenian, patut diajukan dua jempol, buat anak-anak yang tergabung dalam Forum Anak Butta Toa (FABT) Bantaeng, ketika memperingati Hari Anak Nasional, 21 September 2023, setelah baskara tergelincir hingga jelang senja, bertempat di Balai Kartini Bantaeng. Temanya, “Anak Terlindungi Indonesia Maju”. Para penghadir beraneka latar usia, profesi, dan jabatan. Pastinya, Bupati Bantaeng, Ilham Azikin dan Ketua Tim Penggerak PKK Bantaeng, Sri Dewi Yanti, menyata di hajatan.

Selaku pegiat literasi, saya pun mengada memenuhi undangan mewakili Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan. Boleh saya tabalkan, nyaris sekotah aktivitas FABT, diundang formal maupun nonformal, saya selalu hadir. Bahkan, tidak sedikit aktivitas terlaksana berkat sinergi dan kolaborasi antara FABT dengan Boetta Ilmoe.

Hajatan kali ini amat spesial buat saya. Sengaja duduk manis di deretan kursi depan. Bukan tanpa agenda terselubung. Saya ingin menikmati sekhusyuk mungkin, ragam sajian anak-anak belasan tahun itu. Tak bermaksud mengingat masa remaja, tapi lintasan episode tahun-tahun awal berdirinya Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, lebih 13 tahun lalu. Persisnya, 1 Maret 2010, menjadi pemicunya.

Sebelum  FABT lahir di tahun 2013, saya sering mengumpulkan para pelajar dari berbagai SMA dan sederajat di Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan. Lewat asuhan divisi komunitas, bersama kepala sukunya –istilah yang saya pakai untuk koordinator—Dion Syaif Saen, sekotah pelajar digembleng untuk berkomunitas.

Ada program khusus sebagai pintu masuk berkomunitas, melalui Quantum Training. Sejenis pelatihan berorientasi, bagaimana belajar secara menyenangkan (quantum learning), membaca sebagai pengayaan pengetahuan (quantum reading), dan menulis serupa terapi jiwa (quantum writing). Di pelatihan ini pula saya perkenalkan Multiple Intelegence, kecerdasan majemuk, guna mengenali potensi kecerdasan diri. Satu tujuan utama, kecerdasan itu beragam, bukan bertingkat. Tidak ada pelajar bodoh, setiap pelajar cerdas, cuma kecerdasannya saja yang berbeda.

Jebolan pelatihan ditindaklanjuti dengan berkomunitas secara intens. Keterampilan berorganisasi didedahkan, kecintaan pada budaya disuntikkan, dan berkesenian dipraktekkan. Seni sastra dan pertunjukan menjadi wajah terdepan anak-anak komunitas. Pementasan menjadi wajib dilakukan oleh mereka. Teater, monolog, musikalisasi puisi, dan tari, menjadi padu padan dalam pertunjukan. Entah itu acaranya berbau percakapan, peluncuran buku, maupun milad komunitas.

Dari anak-anak komunitas literasi inilah, beberapa orang menjadi inisiator dan pengurus awal FABT. Saya menyebut mereka sebagai anak-anak literasi. FABT yang bernaung dan dibina oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PMDPPPA). Kiwari, FABT dipimpin oleh Jundi Ahmad Avatar. Sejak FABT hadir, maka saya mengambil kebijakan di Boetta Ilmoe, agar semua program untuk pelajar di komunitas, saya delegasikan kepada FABT. Cukup kolaborasi dan sinergi, serta ikut mendampingi, walaupun hanya secara nonformal.

Hadirnya program lapak baca FABT, sungguh penanda kuat buah cinta literasi antara Boetta Ilmoe dan FABT. Dion Syaef Saen selaku kepala suku di komunitas literasi Boetta Ilmoe, paling rajin menyambangi arena lapak. Itu semua karena penghayatan pada titah pendelegasian program. Lebih dari itu, nyaris semua program FABT, pihak komunitas  berkontribusi. Jadi, kehadiran saya dan Dion di hajatan, rupa-rupa posisinya.

Sepuluh tahun FABT tetap bertumbuh. Di arena peringatan hari anak, berderet-deret prestasi dilantangkan. Baik tingkat lokal, regional, dan nasional. Selain itu, saya terkesima tatkala empat orang duta anak, jebolan FABT –yang penjuriannya saya ikut kawal bersama Dion dan lainnya—melantangkan suara anak Bantaeng dalam 10 pengharapan. Pertama, memohon kepada Dinas Komunikasi dan Informatika Bantaeng, agar mengoptimalkan edukasi dan penyebaran terkait Informasi Layak Anak (ILA), serta memperketat pengawasan mengenai penggunaan teknologi pada anak.

Kedua, memohon kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Bantaeng, untuk membuat regulasi mengenai wajibnya pembuatan Kartu Identitas Anak, serta pengoptimalan penggunaan Kartu Identitas Anak. Ketiga, memohon kepada Pemerintah Daerah untuk mengoptimalkan dan memperluas akses lembaga konsultasi keluarga terkait pengasuhan anak.

Keempat, mengajak Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bantaeng, bersinergi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bantaeng dalam memperluas edukasi mengenai Pernikahan Usia Anak serta mempertegas regulasi mengenai Pernikahan Usia Anak.

Kelima, memohon kepada Dinas Kesehatan Bantaeng dalam mengoptimalkan konsultasi mengenai kesehatan mental pada anak serta fasilitas kesehatan ramah anak dan gizi yang menyeluruh termasuk pada anak disabilitas.

Keenam, memohon kepada Dinas Kesehatan Bantaeng agar bersinergi dengan Dinas Pendidikan Bantaeng, mengenai penguatan regulasi pada larangan jual-beli rokok dan penggunaan NAPZA serta mengoptimalkan edukasi terhadap sektor pendidikan.

Ketujuh, FABT bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Banateng, beserta Dinas Sosial Bantaeng, dalam mewadahi anak putus sekolah, untuk melanjutkan pendidikannya minimal 12 tahun. Kedelapan, mengajak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bantaeng, dalam pengoptimalan peran perpustakaan pada pengembangan minat baca pada anak, serta pengembangan perpustakaan ramah anak.

Kesembilan, mengajak pihak kepolisian dibantu oleh Satuan Polisi Pamong Praja  agar bersinergi dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bantaeng, untuk meningkatkan pengawasan terkait kenakalan remaja, menciptakan lingkungan ramah anak, serta mempertegas regulasi mengenai segala tindak kekerasan pada anak. Dan kesepuluh, memohon kepada Lembaga Pemasyarakatan Bantaeng, dalam menyediakan Pembimbing Kemasyarakatan bagi para anak yang berhadapan dengan hukum.

Dasa harapan anak Bantaeng, lahir dari ruang percakapan melalui Musrenbang Anak Bantaeng. Jujur, saya ingin tabalkan, poin-poin pengharapan itu, mencerminkan adanya lapik tradisi literasi yang mengawal kapasitas anak. Merumuskan kepentingan dari anak, oleh anak, dan untuk anak, merupakan cermin adanya proses literasi anak dari anak-anak literasi di FABT.

Dan, hebatnya lagi, sebab Ilham Azikin separas ayahanda, siap sedia menyahuti dasa harapan itu. Ilham langsung menyebut dinas-dinas terkait, menanyai kesiapan setiap OPD. Usai mendapat jawaban pasti dari aparatusnya, Ilham pun mengakhiri sambutannya.

Pucuk acara pun tiba, semua penghadir bergembira menyanyikan lagu kerajaan forum anak, plus satu tembang manis dari band Sheila on 7, “Hari Bersamanya”, diiringi oleh band pelajar Ekskul Seni Smapat Bantaeng. Ya, anak-anak literasi, begitu lantip dalam mementaskan kepentingannya, via literasi anak.

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).