Daeng Litere'Jurnalisme Warga

Dari Relawan Kemanusiaan Menjadi Pustakawan

Mental kita terbangun dari proses pendidikan dan pengetahuan. Hal itu sangat memengaruhi kesadaran, sikap, dan perbuatan kita. Cara pandang yang sempit dan setengah-setengah, akan melahirkan kesadaran yang minim dan rendah. Sikap acuh tak acuh, setengah hati, dan perbuatan tidak tepat guna, karena dilakukan tanpa pe­ngetahuan dengan ke­mauannya sendiri, masih menyelimuti sebagian besar ma­syarakat kita.

Seringkali kita mengetahui kehadiran suatu bencana, justru setelah bencana itu terjadi. Padahal jauh sebelum itu, alam telah memberi isyarat kepada kita. Maka seharusnya kita bisa menanggulanginya dengan baik, jika kita tahu siklus terjadinya bencana. Mengingat di masa berjuang dengan misi kemanusiaan, sesekali saya pernah rasakan, bagaimana membuat masyarakat bisa mengetahui berbagai titik evakuasi yang aman, dan menghindar ketika terjadi suatu bencana. Ini ibarat cinta. Bencana juga memiliki sebuah siklus sendiri, yaitu dimulai dari pencegahan, penanganan sampai pengobatan. Jadi kita penting mengetahui, hal-hal serius yang perlu kita kenali lebih dalam.

Siklus bencana mempunyai tiga kata cinta. Pertama, pra bencana, yaitu masa normal di mana bencana belum terjadi. Di sinilah manusia sangat berperan penting, untuk melakukan pencegahan, mitigasi dalam mewujudkan upaya kesiap siagaan dini dalam menghadapi suatu bencana.

Kedua, tanggap darurat, yaitu ketika terjadi bencana apa yang harus kita lakukan. Bencana tidak bisa diprediksi oleh akal manusia itu sendiri. Ketika terjadi bencana, kita harus tahu ke mana kita mengungsi dan apakah semua harta benda kita bisa selamatkan. Ketika terjadi bencana, kita mesti tahu siapa yang berperang langsung di lapangan. Kalau bukan tetangga kita, pemerintah setempat, mulai RT/RW. Merekalah yang memberikan informasi, dan dapat mengevakuasi ke tempat yang aman. Kita harus berkoordinasi dengan kepala desa/kelurahan. Selanjutnya pemerintah desa/kelurahan, berkoordinasi ke kecamatan, kecamatan ke kabupaten. Begitulah seterusnya hingga informasi sampai ke pusat. Setelah kordinasi ke semua pihak, maka berbagai organisasi turun ke lokasi. Baik dari Dinsos, Tagana, BPBD, SAR, PMI, TNI, ASN, bahkan seluruh elemen masyarakat, untuk membantu dalam penanganan bencana. Maka terjadi berbagai aksi kegiatan yakni, assesmen (pendataan korban bencana), evakuasi, restoring family link (layanan pemulihan keluarga), logistik, dapur umum, psikologi, wash, dan sanitasi, serta berbagai aksi nyata kerelawanan dalam memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak bencana.

Ketiga, setelah bencana atau pasca bencana. Sebuah proses yang sangat membutuhkan waktu lama dalam pemenuhan kebutuhan pokok atau recovery. Kemudian dilanjut dengan pemulihan yang bersifat sementara, dan dituntaskan dengan pemulihan yang sifatnya permanen. Hal terpenting adalah rehabilitasi dan rekonstruksi, bagaimana memulihkan keadaan masyarakat.

Ketiga siklus cinta bencana ini, harus kita jadikan pedoman dalam menghadapi sebuah bencana. Ini adalah memori yang masih ter-save dan alur kisah cinta dalam sebuah bencana. Serta peran ketika pada waktu itu sebagai pejuang misi kemanusiaan, sebelum kembali ke dunia perpustakaan (pustakawan).

Sebelum kejadian bencana banjir bandang pada malam Sabtu, waktu itu, tepat di hari Jumat. Disampaikan kepada seluruh petugas layanan perpustakaan umum daerah, dengan ucapan yang sederhana kepada teman-teman. Insyaallah pada hari Senin, kita akan kerja bakti dan membersihkan layanan perpustakaan. Untuk perencanaan membuka kembali perpustakaan di era new normal. Namun, alam berkehendak lain. Tepat malam Sabtu, siklus air naik di sekitar perkampungan Garegea, di belakang layanan perpustakaan umum menuju Jalan Elang. Sehingga banjir menyebar luas di perkotaan Bantaeng.

Kita diberikan sebuah nikmat yang tidak ada tandingannya. Dapat pula disadari bahwa bencana itu Allah Swt., yang menetukan. Kita tidak bisa mengetahuinya. Selama ini, kita sering melihat berbagai bencana melalui media, akhirnya Allah memberikan kenyataan seperti apa yang kita lihat dan rasakan saat itu. Kadang manusia lebih pintar untuk mencegah bencana, tapi Allah lebih di atas segalanya. Bisa menghancurkan jika manusianya tidak bertanggung jawab.  Sebagaimana firman Allah Swt., dalam Q.S Ar-Rum ayat 41, yang artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut, itu disebabkan karena ulah manusia sendir.” Ini sudah nyata bahwa tidak akan terjadi sesuatu jika bukan dari kita sendiri.

Melihat dari kejadian ini, berbagai relawan tampak memberikan pelayanan. Seperti evakuasi, assesmen, dapur umum, logistik, psikologi, relif distribusi, wash, dan sanitasi kepada masyarakat. Tujuannya untuk meringankan penderitaan masyarakat yang terkena dampak bencana.

Salah satu yang paling menyakitkan hati, ketika sebuah gedung atau tempat rekreasi (wisata baca), untuk berbagi pengetahuan dan informasi, juga berdampak banjir pada malam itu. Cerita singkat, setelah salat subuh, niat ingin berkunjung ke rumah orangtua di Sinjai. Tetapi dari dalam hati mengatakan, “Ketika hatimu ingin menangis datanglah melihatku, jika engkau tidak mencintaiku maka pergilah ke tujuan utamamu.”

Saat itu juga, saya berubah pikiran, dan mengambil sebuah jas hujan menuju ke arah tempat kejadian tersebut. Setelah sampai di sebuah tempat, tidak lain apa yang dirasakan pada saat di rumah. Itu yang dirasakan pada saat melihat gedung itu. Gedung yang dimaksud adalah Layanan Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bantaeng, yang juga terkena dampak banjir bandang.

Mengingat masa lalu, ketika terjadi bencana di daerah, semua tim relawan dipersiapkan untuk ke lokasi bencana melakukan asesmen, mendata korban bencana. Hal ini menarik karena bukan lagi manusia yang diselamatkan dan didata, tapi berbagai sarana dan prasarana yang diassesmen.

Lanjut kata, akhirnya saya berusaha masuk ke dalam ruangan, menuju ke arah saklar untuk menerangi isi gedung. Tetapi tidak bisa menampakan cahayanya (mati lampu). Dalam hati berkata, “Melangkahlah di atas lumpur dengan menggunakan cahayamu sendiri. Agar engkau bisa melihat benda yang penuh dengan lumpur.” Tetap di dalam kegelapan, saya mencoba menggunakan cahaya sendiri (senter HP). Melangkahkan kaki pelan-pelan, melihat semua titik yang penuh dengan lumpur tanpa terkecuali. Hal yang paling menyedihkan adalah, pelbagai koleksi buku yang informasinya selalu digunakan oleh pemustaka, penuh dengan lumpur.

Nah, bagaimana langkah untuk mengatasi dan menyelamatkan nilai informasi tersebut? Selaku pustakawan, saya memberikan sedikit tips agar koleksi yang terkena lumpur atau air, agar tetap terjaga nilai informasinya. Pada saat membersihkan bahan pustaka (buku) yang terkena lumpur, harus menggunakan spons (alat cuci piring) dan alkohol supaya lumpurnya cepat hilang. Lalu dianginkan dengan menggunakan kipas anging. Tidak dibolehkan mengeringkan dengan panas matahari, karena nilai informasinya akan hilang dan mudah robek. Dalam bahasa perpustakaan, penyelamatan bahan pustaka (buku) yang nilai informasinya masih utuh, serta masih bisa diselamatkan, maka dilakukan restorasi (perbaikan).

Restorasi adalah kegiatan perbaikan bahan pustaka (buku) yang sudah rusak. Agar koleksi dapat dikembalikan dalam keadaan lengkap seperti semula. Sehingga dapat digunakan lagi oleh pemustaka. Kita ketahui bersama, bahwa buku jika terkena percikan air, pasti akan mengalami kerusakan dan nilai infomasinya akan hilang. Nilai informasi koleksi tetap utuh jika terendam air. Maka dalam proses output sebuah dokumen, baik berupa SK (Surat Keputusan), buku dan dokumen lainnya, bisa menggunakan tinta asli, agar nilai informasinya tetap awet dan tidak mudah pudar.

Oleh karena itu, bencana  adalah sebuah proses untuk mengubah paradigma ke arah yang lebih baik. Jadikan bencana ini sebuah kenangan yang tak terlupakan. Melihat bencana bukan hanya memberikan kerugian material, tetapi juga mem­­bawa kerugian yang sifatnya non material. Seperti kerawanan so­­­sial, wabah penyakit, me­nu­­­­run­nya kenyamanan ling­ku­­­ngan, serta menurunnya ke­­se­jah­teraan masyarakat. Aki­­batnya, ke­giatan pere­ko­no­mi­an akan terhambat.

Untuk itu, kita me­­mer­lu­kan sikap bijak da­lam meng­ha­dapi bencana. Sikap bi­jak itu meru­pa­kan bagian in­te­gral dari jati di­ri kita se­ba­gai makhluk sosial, reli­gius, serta me­­miliki daya intelektualitas. Karenanya, kita bukan hanya membutuhkan mitigasi struktural dan non struktural, akan tetapi juga harus mempunyai mitigasi spiritual. Agar har­moni ke­sadaran tentang Tu­han, ma­nusia dan bencana te­tap ter­jaga. Sehingga kehidupan ber­­jalan da­lam ranah keba­i­kan yang le­bih bermanfaat.

Adhi (Pustakawan)

Tulisan ini terdapat dalam buku Empati Untuk Kebaikan Baru. Buku ini bisa diperoleh di Boetta Ilmoe – Rumah Pengetahuan Bantaeng atau menghubungi Sulhan Yusuf di nomer 0813-4265-6597

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *