Daeng Litere'Jurnalisme Warga

Dua Cobaan Menguji; Kita Hadapi Bersama

Ternyata di luar kediaman kami, banyak yang terdampak banjir. Saya terlalu sibuk sehari ini mengatasi masalah sendiri.

Sibuk memantau banjir di rumah dan di sekitar kompleks, turut membantu  kerabat membersihkan lumpur, mencari air karena aliran PDAM terhenti. Menyesuaikan diri dengan mati lampu.

Duh, saya merasa abai.

Semoga semua saudara-saudara kami yang terdampak, dapat melalui masa sulit yang memang sudah sulit ini.

Bantaeng kuat, saya yakin itu.

***

Catatan ini saya posting di dinding facebook saya sehari setelah banjir bandang melanda Bantaeng. Saya belum tahu pasti bagaimana keadaan di luar lingkungan saya. Informasi beredar: tanggul Balang Sikuyu jebol.

Cekdam penangkal banjir yang dibangun 10 tahun silam itu, tak kuat menahan arus deras akibat curah hujan yang tinggi, serta bersamaan di gunung dan di kota. Cekdam kecil Sasayya yang tak jauh di kompleks perumahan saya juga jebol. Pemakaman dan dapur beberapa rumah di sekitar tanggul ikut terbawa arus. Bukan hanya dapurnya, tetapi tanah tempatnya berdiri ikut tersapu. Dahsyat.

Jadilah lokasi perumahan kami terdampak limpahan air bercampur lumpur yang cukup deras. Sempat reda usai magrib, air kembali mengepung lebih deras setelah Isya. Banyak rumah tergenang. Kediamanku yang sedikit agak tinggi hanya menggenangi bagian teras. Alhamdulillah.

Walau tidak sempat memasuki bahagian rumah, tetap rasa khawatir ini memuncak saat melihat rumah tetangga satu-persatu kemasukan air.

Panik, terdengar di ujung telepon Bu Istri. Mertua dan ipar saya hampir terjebak banjir di seputaran kota. Hanya sepelemparan batu dari rumah jabatan Bupati.

Ternyata, bahkan rumah jabatan pun tergenang.

Tiba-tiba mati lampu. Lengkap sudah penderitaan. Tanpa wifi, tanpa pulsa data, saya tertutup informasi dari luar. Lelah usai bantu-bantu tetangga, segera saya masuk rumah. Mengangkat barang ke tempat lebih tinggi. Khawatir ada banjir susulan.

Gerimis masih berlangsung. Saya tertidur. HP juga terlelap. Listrik tak menyuplai baterainya.

Ternyata, banyak keluarga dan sahabat menelpon. Paginya, saya membantu keluarga bersihkan lumpur. Tidak sempat bermedsos. HP tetap saya lelapkan. Sebelum surut, Air di kediaman mertua tingginya sepinggang. Terlihat tanda genangan di dinding tembok.

Sekitar 4 jam bersih-bersih, saya berpindah ke rumah Ipar di BTN Labandu. Air PDAM tak mengalir. Air got sisa banjir jadi solusi. Setidaknya, untuk membersihkan lumpur.

Sibuk dengan diri sendiri. Ternyata, begitu banyak warga yang terdampak lebih parah. Saya mengetahuinya setelah mengaktifkan HP. Informasi terkait keparahan banjir berseliweran di media sosial. Tanggapan berbagai macam. Mulai dari duka, kepedulian bahkan terdapat yang memilih untuk menyentil peran pemerintah.

Saya memilih untuk peduli. Memilih mengambil hikmah.

Bencana datang tak bisa diprediksi walau tentu, bisa diantisipasi. Antisipasi tidak selamanya jitu, tidak selamanya kokoh. Sebab Sang Maha Pencipta adalah sebaik-baiknya rencana. Nampak di dinding media sosial saya Pemerintah kita sigap mengkoordinir penanganan bencana. Semua bergerak cepat.

Mitigasi dilakukan. Dapur umum disiapkan. Kendaraan berat, armada pemadam dan  mobil air bersih terlihat terus bergerak. Mungkin belum cukup, masih ada yang merasa terabaikan, tapi Insya Allah akan teratasi. Pemerintah hadir, para relawan hadir. Bergerak menyatu, membangun spirit, seolah berkata: “KITA HADAPI BERSAMA”

Salut dan hormat kami.

Banjir bantuan berdatangan. Dikoordinir pemerintah dan relawan. Penanganan banjir ditempatkan satu posko dengan percepatan penanganan covid-19.

Kami berkuat menghadapai dua bencana menimpa, dua cobaan yang menguji. Alam dan non alam. Banjir dan pandemi. Yakinlah, musibah ini diberikan oleh-Nya, karena kita dianggap mampu bersabar menghadapinya. Kuat menyatu saling membantu.

Betapa peduli itu serasa memberi semangat, bahwa kita semua sama terdampak, walau tidak semua merasakan kesulitan yang sama. Bahkan dari luar Bantaeng pun turut merasa bahagian dari bencana ini.

Demi memberi kabar keselamatan, saya mengabarkan kepada keluarga, kerabat dan sahabat-sahabat saya tentang keadaan baik saya. Perhatian, kepedulian dan semangat membanjiri dinding facebook saya.

Terimakasih. Terimakasih
Terimakasih banyak.

Alhamdulillah Lilin penerang yang sinarnya menari-nari itu, cukup baik membantu menyelesaikan catatan kecil ini. Yah, Kata saya, ke saya: Nyalakan lilin, dan berhentilah mengutuk kegelapan.

Bantaeng, 13 Juli 2020

Andi Harianto.

Pekerjaan: Wiraswasta. Pengalaman pekerjaan: Anggota KPU Bantaeng Periode 2008-2014 dan 2014-2019. Pegiat literasi.

Tulisan ini terdapat dalam buku Empati Untuk Kebaikan Baru. Buku ini bisa diperoleh di Boetta Ilmoe – Rumah Pengetahuan Bantaeng atau menghubungi Sulhan Yusuf di nomer 0813-4265-6597

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *