BantaengEdukasiLiterasi

Duta Anak dan Gemuruh Literasi

Entah apa yang menerungku jagat pikiran sekaum anak remaja, terhimpun  dalam  Forum Anak Butta Toa (FABT). Sehingga, mereka memenjara saya dalam satu tim juri, bersama Dion Syaif Saen (pegiat budaya), dan Ashabul Kahfi (mantan pengurus FABT), guna memilih Duta Anak Kabupaten Bantaeng. Tim juri, diharapkan memilih duta anak mewakili Kabupaten Bantaeng, ke jenjang pemilihan berikutnya, tingkat provinsi Sulawesi Selatan.

Jundi Ahmad Avatar, selaku Ketua FABT, menjapri saya, “Mohon maaf  mengganggu kak. Sehubungan dengan akan dilaksanakan Pemilihan Duta Anak  Kab. Bantaeng, kami mengundang kakak untuk hadir dan bersedia menjadi juri grand final.“

Sebelum mengokekan, saya meminta petunjuk penjurian, sebentuk format penilaian, sebagai lapik dalam memilih calon duta anak. Sederet poin diajukan, terkait keterampilan kaidah penulisan, keunikan mini project, penguasaan materi, cara menyelesaikan masalah, dan kemampuan presentasi.

Bertempat di Aula Bhayangkari Bantaeng, Sabtu, 17 Juni 2023, hajatan pemilihan duta anak digelar. Asisten I, H. Hartawan Zainuddin, mewakili Bupati Bantaeng membuka acara. Para penghadir cukup beragam, baik dari sisi usia, jenis kelamin, dan jabatan. Sederhananya, ada unsur OPD, anggota DPR, pembina FABT, dan anak remaja. Pun forum anak kabupaten tetangga, Panrita Lopi Bulukumba dan Turatea Jeneponto, ikut menyata sebagai undangan.

Baskara baru semenjana teriknya, gong perlagaan dimulai. Anak remaja terbagi dalam beberapa kelompok. Mereka tergabung dalam tim. Tehnik penilaian didasarkan pada komponen kelompok dan perorangan. Setiap kelompok melakukan presentasi hasil riset atau survei mini project. Nilai kelompok sama rata untuk setiap anggota. Aktivitas dalam presentasi, ketika berbicara, menanggapi, dan wawasan, menjadi alas penilian individu. Jadi, selain berlaga antar kelompok, juga bertarung secara perorangan.

Ada enam kelompok tampil. Mini project (proyek mini) mereka paparkan. Temanya beragam, tapi ada yang mengikat mereka, aspek literasi. Selain kualitas tulisan presentasi, sekotah kelompok  tidak keluar dari aspek  ketertinggalan enam literasi dasar: baca-tulis, numerasi, sains, informasi digital, keuangan, dan budaya-kewargaan.

Ah, saya sodorkan saja  objek proyek mini setiap kelompok. Pengusung gagasan, Nur Ahriani Zaenudin, Alief Akbar, dan Sitti Alfiah tergabung dalam Kelompok 1, mengedepankan perkara Gerakan Literasi Anak Bantaeng (Gemilang). Mereka berpendapat, literasi merupakan kemampuan membaca dan menulis. Perkara ini diajukan karena tingkat melek huruf Indonesia sudah mencapai 96,3%, tapi minat baca masyarakat Indonesia masih memprihatinkan, bila merujuk pada beberapa hasil riset.

Kelompok 2 mengajukan proyek mini, berjudul Kumau Bintangku (Aku dan Kamu Bersama Capai Pintaku). Muh. Azwir, Nadine Esa, dan Wihdatul Umma, menyoal pendidikan dalam kaitannya dengan anak-anak putus sekolah. Selain itu, masih ada anak yang tidak tahu membaca, menulis, dan berhitung. Padahal, di masa depan Indonesia akan memasuki gerbang generasi emas, berupa bonus demografi.

Literasi Bersama Anak (Liberan) merupakan proyek mini dari Kelompok 3, beranggotakan  Sri Ayu Arista, Radiansari, dan Widya Wulandari. Hubungan anak dan orangtua menjadi penentu tumbuhnya literasi dalam keluarga. Namun, banyak orangtua yang abai, karena kesibukan. Hadirnya Liberan, membantu anak mengekspresikan diri dan perasaannya melalui karya tulis (puisi) dan gambar, lalu diberikan kepada orang tua masing-masing. Harapannya, dengan medium produk literasi tersebut, muncul kedekatan antara orangtua dan anak.

Mencegah Cacingan dan Diare (MCD) dipersoalkan Kelompok 4. Beberan Muh. Aiman, Sinta, dan Sitti Nurhaliza, berasumsi MCD kerap sekali dialami oleh anak-anak di usia TK/SD. MCD terkait langsung dengan perilaku terhadap lingkungan. Pemberian edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan, mengingatkan kepedulian terhadap lingkungan, dan menjaga kebersihan, serta diharapkan anak-anak menjaga kesehatan secara mandiri.

Proyek mini Kelompok 5 memaparkan, Anak Mengekspresikan Pendapat (Aneka). Beranggotakan Gita Krisnanda dan Isma, mengajukan latar belakang permasalahan bullying (perundungan), terutama di sekolah. Kerap terjadi yang berdampak pada korban, pelaku, maupun saksi. Perundungan lahir karena ada rasa benci, dendam, atau tidak suka pada korban. Bentuknya bisa berwujud kekerasan fisik maupun mental, berupa serangan verbal. Maka, perlu sejak dini anak-anak diajarkan tentang perundungan serta kebebasan mengajukan pendapat.

Arnita, Sahlan Ramadan, dan Muhammad Haikal merupakan personil Kelompok 6. Mereka menyajikan proyek mini bertopik, Kekerasan Terhadap Anak di Lingkungan Keluarga. Menurut mereka, kekerasan dalam keluarga dapat merusak mental dan fisik anak. Sehingga si anak terkadang mencari pelarian pada hal-hal buruk.

Seiring dengan berakhirnya perhelatan, barulah saya sadar akan terungku sekaum anak remaja FABT. Mereka memenjara saya dalam tim juri, sebab mereka menganggap saya sebagai pegiat literasi. Dan, memang begitulah adanya, sari diri saya, masih menegaskan diri selaku pegiat literasi.

Duta Anak Kab. Bantaeng terpilih, mulai dari juara satu hingga empat, masing-masing: Gita Krisnanda, Muh. Azwir, Nur Ahriani Zainuddin, dan Muh. Aiman. Plus juara pavorit putra: Alief Akbar dan putri: Nadine Esa Putri. Usai pemberian piala,  Ramlah Hamsah, selaku pembina FABT menutup acara, sembari berpesan via sambutannya, agar sekaum anak remaja, khususnya para duta anak,  menjaga muruah FABT.

Saya ikut nimbrung mengapresiasi mereka, menghadiahkan buku terbaru saya, Gemuruh Literasi. Reken-reken serupa penabalan minda, agar merawat tradisi literasinya. Paling tidak, tradisi membaca. Syukur kalau sudah tertarik melangkah lebih jauh untuk menulis. Apatah lagi, pertanyaan bebas saya terhadap mereka, terkait jumlah waktu yang digunakan membaca dalam sehari dan buku yang sementera dieja sepekan terakhir.

Permintaan pungkas saya, agar mereka membaca Gemuruh Literasi. Dilalah-nya, seorang pembina FABT, Ahriani Azzahra, langsung menyambar umpan saya, ia langsung mendapuk empat  duta anak tersebut, supaya bersedia menjadi pembedah buku, bila kelak ada sawala buku. Saya pun membatin, keempat duta anak itu, berhasil saya terungku dalam simpai Gemuruh Literasi. Ya atau tidak? Entah. 

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *