BantaengLiterasi

Hore, Presidenku Datang

Menikmati pucuk akhir pekan, sembari memastikan satu hajatan. “Salam. Sekadar konfirmasi, bagaimana rencana ke Makassar-Bantaeng?” Begitulah pesan japri kulayangkan di hari Ahad, 14 Mei 2023.

Deretan kata-kata menyapaku sebagai balasan, “Salam, selasa 16 Mei ke Bantaeng, mungkin sekitar jam 11 – 12 siang. Ketemu di mana yg asyik? Tolong bagi alamat boss.”

Lalu kujawab, “Bisa di Boetta Ilmoe saja dulu, baru bergeser ke tempat yang asyik.”

“Mantap”, jawabnya.

Agar kepastian waktu tiada keraguan, aku bertanya lagi, “Jam 11-12 siang berangkat dari Makassar?”

“Berangkat pagi, jam 7 – 8. Waktu tempuh sekitar 5 jam kan?” Ia melayangkan balasan. Jadi, aku membatin, ia akan berangkat pagi dari Makassar, tiba di Bantaeng siang.

Esoknya, kujapri lagi, “Salam. Kalau boleh tahu, rencana berapa lama jadwal di Bantaeng? Sebab, mau juga bikin semacam silaturahmi dengan kawan- kawan simpul pustaka.”

“Yg tgl 16 ini mungkin hanya 2 – 3 jam, dan akan terus ke Bira untuk tes perahu. 18 siang sdh harus di mkssr. 8 – 11 Juni akan ke Mkssr lagi, untuk MIWF. Tentu bisa ke Bantaeng lagi.” Makin benderang maksud kedatangannya.

Selasa, 16 Mei 2023. Mentari baru saja merintis safarnya, sekira pukul 08.30 lebih, ponselku berbunyi. Ada pesan masuk, “Sdh di Limbung cez.”

Langsung kubalas, “Berkabar kalau sudah di perbatasan Bantaeng.”

Sekitar pukul 11.00, di layar ponselku tertulis, “Sdh masuk perbatasan.”

Aku pun memastikan lokasi perjumpaan, “Letak Boetta Ilmoe di depan Pantai Lamalaka sebelum kantor bupati. Nanti saya berdiri di pinggir jalan.” Pun saya minta bantuan sang mahatahu, paman Goggle, agar memudahkan lewat serlok.

Sekotah percakapanku dengan dia, pasti ada bumbu-bumbu tanda emoticon. Khas percakapan WA. Pun, kutipan dialog kusalin seperti aslinya.

Kalakian, siapa sebenarnya yang kutemani berjapri ria? Dia adalah seorang presiden, bernama Nirwan Ahmad Arsuka, pendiri Pustaka Bergerak Indonesia. Sudah terbayang bukan? Sejenis negara apa yang diurus?

Bagi kami di dunia literasi, khususnya di negara Pustaka Bergerak, Nirwan amat akrab disapa oleh warga Pustaka Bergerak selaku presiden. Pengangkatannya tanpa melalui pemilihan raya. Pengukuhannya tanpa perayaan kemenangan. Nirwan mewujud presiden Pustaka Bergerak Indonesia, didapuk oleh warganya, berlapik sederet “tanpa” yang berkebalikan dengan proses pemilihan presiden laik Indonesia.

Nirwan memandu Pustaka Bergerak penuh keunikan. Tiada struktur kekuasaan ala pengurus negeri di suatu negara. Simpul-simpul pustaka di seluruh Nusantara, tidak diikat oleh struktur kekuasaan pusat dan daerah. Setiap simpul, eksis dengan keunikannya masing-masing. Tumbuh bersama keelokan yang dimilikinya. Nirwan mengunjungi negeri-negeri simpul pustaka, baik di dunia nyata maupun jagat maya. Tiada protokoler berbelit, seperti ketika seorang pejabat berkunjung ke daerah.

Sebentuk amsal, kala Nirwan bertandang ke Bantaeng, menyapa kami di simpul pustaka. Kedatangan Nirwan tidak merepotkan warganya. Padahal, seharusnya kami dumba-dumba, deg-degan, sebab akan melihat secara langsung hasil pengerjaan kendaraan pustaka, dari dana hibah via Pustaka Bergerak. Kami memperlihatkan proses apa adanya, tiada ada apanya. Semuanya mengalir, penuh canda ala komunitas literasi.

Meskipun Nirwan hanya mampir sambil lalu di Bantaeng, memangsa waktu selingkung 3 jam, tapi bobot persamuhan begitu berarti. Mengemuka percakapan saling dukung. Berbagi pengalaman tentang daerah-daerah yang ditandanginya. Kami pun dari kandang Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, mengandangnya dengan kisah-kisah pergumulan di gerakan literasi Bantaeng. Sejak kami mendirikan komunitas 13 tahun lalu, hingga terwujudnya Perda Penyelenggaraan Gerakan Literasi di Bantaeng.

Guna mengawetkan persuaan, aku menyerahkan tiga buku terbitan Boetta Ilmoe. Termasuk buku terbaru, Gemuruh Literasi. Satu buku yang merekam perjalanan gerakan literasi di Bantaeng selama 13 tahun. Sejak Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan didirikan hingga lahir Perda Literasi Bantaeng. Pun, tak kalah pentingnya, Nirwan menyambangi proses pengerjaan Motor Literasi yang jelang rampung. Alhamdulillah,  setelah Nirwan melanjutkan perjalanan, kami telah menuntaskan pengerjaan Motor Literasi Pustaka Bergerak. Berharap, bila saja Nirwan balik ke Makassar, sudi mampir lagi, walau sejenak, untuk melihat motor literasi yang sudah rampung.

Nirwan ditabalkan sebagai presiden oleh warga Pustaka Bergerak secara kulural. Artinya, penubuhan ini tiada akhir masa baktinya. Tak mengenal periodesasi seperti model berpresiden di tanah air. Jadi, jikalau rakyat Indonesia dipusingi oleh calon-calon presiden yang bertebaran tebar pesona, warga Pustaka Bergerak sudah punya presiden sendiri.

Dengan memiliki presiden sendiri, bermakna warga Pustaka Bergerak tak perlu terlibat saling benci dalam arena kompetisi pilpres, penuh trik dan intrik. Pasalnya, tahapan awal pilpres telah menimbulkan kekacauan hidup dan kehidupan. Hoax (berita bohong), fake news (berita bohong), dan hate speech (ujar kebencian), merajalela. Persetubuhan berita bohong dan palsu, melahirkan anak berupa ujar kebencian.

Masyarakat literasi tak akan beternak masalah dengan memelihara kebencian sesama warga bangsa, hanya karena beda pilihan presiden. Makanya, kedatangan Nirwan selaku presiden, menguatkan kami di warga simpul pustaka Masyarakat Literasi Bantaeng, agar memelihara kewarasan. Hore, presidenku datang, perseteruan calan presiden tunggang langgang.

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *