BantaengEdukasiSejarah

HPMB: Kakak Tertua, tapi Miskin Literasi(?)

Kerlap-kerlip aneka warna lampu sorot, berkilau tajam di atas panggung. Tata pencahayaan lampu sesekali menyorot ke arah penghadir. Dukungan perangkat suara tergolong mewah, untuk satu helatan perkumpulan pelajar mahasiswa, meskipun sesekali macet suaranya. Duet pembawa acara, putra-putri berkostum merah menyala, memandu hajatan penuh gairah muda milenial, waima dua tiga kali okkots. Tawa dan teriakan penonton campur baur, tak jelas maksud apresiasinya.

Sederet mata acara terdedahkan, mulai dari acara sambutan-sambutan, hiburan, dan pengumuman hasil ragam lomba olah raga dan olah jiwa. Sejumlah pejabat hadir, bupati, segenap OPD,  dan sejumlah camat. Anggota DPR, tokoh masyarakat dan tokoh agama, fungsionaris organisasi pemuda dan kemasyarakatan. Para mantan ketua, pengurus, anggota dan senior himpunan hingga penonton yang datang membawa diri tanpa jabatan.

Begitulah potret sekilas puncak acara Milad ke-70 Himpunan Pelajar Mahasiswa Bantaeng (HPMB), yang lahir pada 24 Agustus 1952. Slogan milad menegaskan, “HPMB Progresif Bantaeng Bangkit”. Slogan ini dihadirkan, sebagaimana sambutan Mabrur Pratama, Ketua Pengurus Pusat HPMB, sebagai upaya membangkitkan kembali hasrat hidup, dari terungku pandemi pagebluk Covid-19, kurang lebih dua tahun.

Bupati Bantaeng, Ilham Azikin, menabalkan seutas poin penting dalam sambutannya, “Saya melihat HPMB senantiasa mampu menjadi magnet yang menghadirkan ruang interaksi. Ini adalah keberhimpunan yang menjaga ruang interaksi, karena dalam interaksi selalu hadir kebersamaan dan kepedulian.”

Guliran hajatan makin larut dalam ingar bingar hiburan, seiring hujan mulai merintik. Jika penghelat acara memakai jasa pawang hujan, maka malam itu tak berdaya menghalau hujan, yang membuyarkan sekaligus membubarkan tata indah kemeriahan milad. Lapangan Hitam Pantai Seruni Bantaeng, sebagai tempat bermilad, hanya diam membisu menyaksikan para penghadir berhimpitan di tenda-tenda seadanya.

Sebelum hujan merintik, saya duduk berdekatan, selingkar meja dengan salah seorang mantan Ketua HPMB-Juju Nurfajri, mantan Ketua KNPI-Muhammad Lutfi, dan Kadis Sosial Bantaeng-Syamsir, kadang terlibat percakapan ringan, mengomentari hajatan milad. Dan, tak lama kemudian, ikut bergabung pula Alim Bahri, mantan Ketua HPMB.

Tiba-tiba Alim mengajukan komentar, “Sayangnya tidak ada ulasan sejarah singkat perjalanan HPMB, hingga usia ke-70.” Saya langsung menyahut, apakah ini menandakan miskin literasi? Dan, saya pun minta izin pada Alim, akan memakai pernyataannya. Ia pun terkekeh.

Terus terang, sepulang dari hajatan milad, bukan saja basah kuyup, tapi tambakoa ikut basah, basamami. Tiada rasa kesal, cuma sedikit terusik dengan tutur Alim di Lapangan Hitam. Tinta hitam tak tertorehkan di atas kertas, walau hanya secarik, buat ulasan singkat perjalanan panjang HPMB yang makin menua. Ibarat umur manusia, sudah mulai renta, tergolong lansia.

Betulkah HPMB organda pelajar mahasiswa tertua di Bantaeng miskin literasi? Saya kembali bertanya pada diri sendiri. Sebagai pegiat literasi di kekinian dan pernah menjadi sekretaris umum di HPMB, untuk satu periode yang amat singkat, cukup terganggu dengan lintasan-lintasan imajinasi penuh duga tak bertepi.

Lalu, ibu jari saya memanjat layar datar ponsel cerdas, membaca kembali percakapan semi debat di grup WA, “ Alumni HPMB se-Indonesia”. Awal mula kesemrawutan informasi dipicu oleh unggahan Mabrur Pratama, “Ijin kanda arahanta semua kami di hpmb masih buta dengan beberpaa sejarah di hpmb bahkan ada beberap  mantan ketua kami belum tau 🙏 mohon arahta siapa2 mantan ketua Hpmb🙏🙏”

Saya sengaja kutip langsung unggahan Ketua HPMB terkini, supaya lebih akurat. Unggahan Mabrur memancing beberapa alumni unjuk ingatan. Terjadilah perdebatan soal-soal seputar urutan ketua-ketua HPMB dari periode ke periode. Muncullah beberapa versi urutan, ada yang terbolak-balik, ada juga yang sebenarnya tidak pernah jadi ketua, tapi nongol pula namanya.

Bukan itu saja, beberapa alumni ikut mempertanyakan foto bendera sebagai latar logo HPMB yang menyerupai bendera negera tertentu di daratan Eropa. Bahkan, lebih dahsyat lagi, percakapan menukik ke masa paling silam, memperkarakan kelahiran HPMB, apa betul tahun 1952?

Belum lagi ada unggahan dari seorang alumni, Baso Amran Amir, menuliskan kemirisannya, “Sangat disayangkan arsif dan berkas dokumen HPMB Pusat Makassar dan KKB Pusat Makassar habis ludes dibakar di Asrama Putra HPMB Talasalapang (2007) oleh adik-adik HPMB yang bersenggolan karena beda kepentingan atas pemilihan Ketum HPMB Pusat Makassar dll masalah. Sekiranya arsif dokumen HPMB KKB masih ada, paling kita bisa jadikan bikti petunjuk untuk mengetahui perjalanan panjang kedua organisasi daerah tersebut. Semoga : kita saling memahami soal perbedaan tahun lahir HPMB. Perbedaan itu adalah hikmah. Ndik. Tq.”

Apa yang ada di imajinasi kisanak-nyisanak, baik sebagai alumni dan selaku anggota HPMB? Tatkala menghadapi kesemrautan narasi perjalanan HPMB? Padahal eksistensi HPMB tidak hadir di zaman prasejarah?

Kalau boleh saya duga, ini perkara literasi. Abai terhadap pe-literasi-an HPMB. Mungkin kita semua sibuk menyoal lemotarasi. Bila dugaan saya benar adanya, maka sudah saatnya HPMB dan sekotah alumni menghimpun diri dalam naungan rumah besar ke-Bantaeng-an. Menyelesaikan perkara kemiskinan literasi ini, sebagai tanggung jawab sejarah dan sekaligus menegaskan HPMB dan alumninya adalah aset Bantaeng, paling tidak menjadi pemasok sumberdaya manusia di Bantaeng.

Kiwari, di usia ke-70 HPMB, ia bukan lagi wadah tunggal berorganisasi buat pelajar mahasiswa Bantaeng. Bila usia jadi patokan, maka telah lahir adik-adiknya. Sederet organisasi itu di antaranya: Kelompok Studi dan Karya (KOSKAR), Forum Mahasiswa Butta Toa (FMBT), HPMB Raya, Forum Komunikasi Mahasiswa Butta Toa (FKMBT), dan sejumlah wadah perkumpulan berbasis komunitas.

Bolekah saya ajukan seutas simpulan dalam bentuk pernyataan atau tanya? Kalau begitu, HPMB sebagai kakak tertua, tapi miskin literasi(?)

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *