Jurnalisme WargaKareba

Ilham dan Pesan yang Mengilhami

Daun-daun masih basah oleh sisa embun semalam, sepoi angin laut menerpa pepohonan, mengayun-ayunkan rantingnya yang kurus. Di pagi yang masih belia itu, aku berjalan menyusuri hitamnya aspal jalan, udara disesaki bunyi klakson kendaraan orang-orang yang terburu-buru. Beberapa titik sempat macet, kendaraan diparkir kanan dan kiri, orang-orang mengular dengan baju berwarna-warni, berjalan menuju Pantai Seruni, Bantaeng.

Surya perlahan meninggi, cahanya yang hangat menerpa wajah orang-orang. Di sana, di lapangan yang sisinya dikelilingi pohon trembesi, di dekat tiang bendera merah putih yang menjulang, hadirin yang berkumpul berbanjar menghadap ke tribun, spanduk-spanduk mereka bentangkan, ucapan terima kepada Bupati dan Wakil Bupati Bantaeng berhamburan.

Di antara ribuan orang, aku berdiri mematung sejajar dengan podium. Di posisi ini, aku bisa benar-benar merasa hadir dan siap memaknai dan meresapi arahan bupati, tak peduli teriknya mentari musim kemarau. Itulah niat yang kubawa dari rumah.

Sumber: Humas Bantaeng

Dari pojok lapangan, pemimpin upacara berjalan ke depan, mengantarai hadirin dan podium pidato. Barisan disiapkan, lalu  pimpinan upacara berbalik memundaki hadirin, bupati dengan baju khaki menaiki mimbar, penghormatan diberikan.

Membuka arahan, Bupati Bantaeng, Ilham Syah Azikin, berujar bahwa hari ini adalah momentum yang memiliki makna mendalam. Bersama Wakil Bupati Bantaeng, Drs. H. Sahabuddin, ia bersyukur dapat mengakhiri masa jabatan dengan sangat baik dan penuh makna. Kehadiran kita sekalian, kata Ilham, adalah wujud kecintaan dan persaudaraan. “Kami merasa bahwa hubungan mendalam yang terjalin selama ini harus selalu terjaga, dirawat sepenuh hati, dan tidak terputus hanya karena urusan politik atau karena perbedaan kelompok.” Suaranya yang lantang menggema di udara.

Bagi Ilham, aktivitas politik hanya bagian kecil dari seluruh aktivitas kemasyarakatan, olehnya jangan pernah membiarkan yang sedikit, yang bagian kecil itu merusak tatanan besar yang telah kita bangun. Jangan sekali-kali gara-gara nila setitik, rusak susu sebelaga. Jangan karena politik, rusak hubungan dengan tetangga.

Ilham melanjutkan, “Awal dan akhir sudah digariskan. Masa waktu menjadi bupati dan wakil bupati hanyalah sementara, tetapi menjadi warga Bantaeng adalah selamanya. Besok, 26 September adalah hari terakhir kepemimpinan kami. Saya dan pak wakil bupati akan kembali menjadi warga Bantaeng yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan saudara-saudara sekalian. Terlibat memberi cinta dan dedikasi pada tanah kelahiran kita. Untuk itu hubungan persaudaraan, solidaritas, harus berlangsung lama dan tidak meninggalkan jarak. Karena kita adalah warga yang lahir, tumbuh dan bermakna di sini, di tanah kelahiran, Butta Toa.”

Selama periode kepemimpinan Ilham, banyak hal telah diraih bersama. Pembangunan infrastruktur, kualitas pendidikan yang lebih baik, fasilitas kesehatan yang memadai, kesejahteraan warga yang makin baik, serta berbagai program lainnya yang telah terealisasi demi kemajuan dan kesejahteraan warga. “Namun, yang lebih penting dari itu semua,” jelas Ilham, “adalah bagaimana kita bersama-sama menjaga apa yang telah kita wujudkan.”

Lebih dalam, Ilham menyampaikan ujarnya, “Kita telah membangun bukan hanya infrastruktur, tapi juga nilai-nilai tradisi dan tatanan sosial yang saling menghormati, saling membantu, dan berkomitmen untuk kesejahteraan bersama, jangan biarkan pilihan politik mengaburkan pandangan kita. Sekali lagi, politik itu hanya bagian kecil dari aktivitas sosial, tatanan yang lebih besar, yaitu persaudaraan, kebersamaan, harus senantiasa kita jaga dan lestarikan.”

Matahari mulai meninggi, bulir-bulir keringat jatuh menuju pipiku yang resah. Ilham lalu mengajak semuanya untuk menjadi penjaga dan pelindung nilai-nilai baik yang telah  dibangun selama ini, jangan mudah terjebak dan terprovokasi oleh isu sektarian atau hal yang dapat memecah belah persaudaraan. Kekuatan kita sebagai warga Bantaeng terletak pada kebersamaan, bukan pengelompokan. Silakan kembali bekerja sesuai dengan bidang profesi masing-masing dan memberikan pelayanan yang terbaik bagi seluruh warga Bantaeng yang kita cintai.

Sumber: Humas Bantaeng

Kepada para pelayan masyarakat, Ilham juga menitip pesan, apa pun tugas hidup Anda, lakukanlah dengan sebaik-baiknya. Seseorang semestinya melakukan pekerjaan sedemikian baik, sehingga mereka yang masih hidup, yang sudah mati, dan belum lahir tidak mampu melakukannya lebih baik lagi. Jangan pernah takut mengambil satu langkah besar inovasi bila memang itu dibutuhkan. Anda tidak akan pernah melompati sebuah jurang hanya dengan dua lompatan kecil.

Ilham menatap kertas yang ada di tangannya, suaranya tertahan agak lama, perasaannya mungkin bergemuruh, ia butuh waktu mengembalikan kata-kata pada tempatnya, “Kami akan segera meletakkan jabatan dan tidak lagi berada di garis depan pembangunan. Namun, kami tetap berkomitmen untuk berkontribusi dalam kapasitas kami sebagai warga Bantaeng. Kami juga berharap saudara-saudaraku sekalian, semua tetap mendukung dan bekerjasama dengan pemimpin yang akan datang, demi kemajuan daerah yang  kita cintai.”

Kertas kecil di tangannya ia lipat, matanya yang mungkin sudah lembab itu menyapu seluruh hadirin, menatapnya lekat-lekat satu per satu, keheningan melingkupi semua. Ia ingin menyampaikan sesuatu yang tak tertulis di kertas, tapi terukir di balik pikiran dan di bilik hatinya.

Ke depan kita akan memasuki momentum politik, kata Ilham membalas keheningan,  kita akan menghadapi perhelatan demokrasi yang mungkin akan menghadirkan friksi di antara kita. Jikalah kami ditakdirkan untuk menjadi bagian dari kontestasi demokrasi ke depan, kami mohon sebesar-besarnya, bahwa apa pun itu, mari utamakan persaudaraan, silaturahmi, dan nilai kebersamaan yang telah kita bangun.

Seolah ingin menegaskan, bahwa kata-katanya bukan buah bibir semata, Ilham mengulangi pesannya, “Sekali lagi, kalaulah kami ditakdirkan untuk menjadi bagian dari proses itu, izinkan kami memohon sedalam-dalamnya, mari kita kedepankan persaudaraan dan kebersamaan. Kalau pada akhirnya proses itu akan merusak tatanan persaudaraan, silaturahmi di antara bapak/ibu bersaudara, maka kami mohon tinggalkan Ilham Azikin dan H. Sahabuddin, junjung tinggi persaudaraan dan nilai yang telah kita bangun selama ini.” Tepuk tangan hadiri menggema. Aku hanya terpaku mendengarnya, jatuh cinta pada pilihan kata-katanya, seperti anak muda yang dimabuk asmara.

Bagiku, pesannya ini akan mengilhami banyak orang, menjadikannya jimat dalam mengarungi deras dan dalamnya samudera politik. Pesan yang merefleksikan bahwa ia bukan hanya seorang politisi, Ilham juga seorang intelektual yang berjiwa besar, yang mengutamakan persaudaraan di atas segala-galanya. Seperti yang pernah juga diujarkan Gus Dur, yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.  “Demokrasi adalah sistem yang sifatnya periodik, tetapi persahabatan dan silaturahmi tidak akan lekang oleh waktu.” Ilham mengakhiri arahannya, melangkah pelan meninggalkan podium dan hadirin dalam terungku rasa haru.

Syahdan, tanpa komando, hadirin tetiba berhamburan, berlari menuju tribun hendak menyalami dan memeluk bupati mereka. Protokol mengingatkan bahwa masih ada acara tambahan, tapi urung dihiraukan, bukan karena panasnya matahari, bukan pula karena lapar, tapi karena cinta meluap pada pemimpinnya.

Ikbal Haming

Guru PJOK SD Negeri 48 Kaloling, pustakawan di Rumah Baca Panrita Nurung, Dusun Borong Ganjeng, Desa Tombolo. Menulis buku kumpulan esai "Jika Kucing Bisa Bicara" (2021).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *