BantaengEdukasiSejarah

Jalan Panjang Menuju Ranperda Literasi Bantaeng

Akhirnya, tibalah jua di tempo mutakhir. Dua konsep telah purna, tapi masih akan disempurnakan. Naskah Akademik (NA) dan Rancangan Peraruran Daerah (Ranperda) Penyelenggaran Gerakan Literasi Bantaeng. NA dan Ranperda merupakan hasil rumusan tim penyusun dari Bonthain Institute yang merupakan mitra dari Bapemperda DPRD Kabupaten Bantaeng.

Tim penyusun yang dimandatir oleh Bonthain Institute beranggotakan tiga orang: Mahbub Ali Muhyar, Rahman Ramlan, dan Sulhan Yusuf. Tim ini sekaligus menjadi pemandu serangkaian percakapan literasi, baik komunitas maupun di jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Bantaeng, khususnya tiga bulan terakhir, sebelum NA-Ranperda Penyelenggaran Gerakan Literasi Bantaeng diuji publik pada Senin, 19 September 2022, bertempat di Ruang Aspirasi DPRD Bantaeng.

Beberapa OPD terkait diajak dalam forum percakapan, khususnya yang terkait dengan enam dimensi literasi dasar: baca-tulis, numerasi, sains, informasi digital, keuangan, dan budaya-kewargaan. Model percakapan memilih pola institusional, berupa sawala intens di kantor OPD bersangkutan semisal, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Bantaeng. Tujuannya, menyerap aspirasi sedetail kebutuhan.

Adapun model persentuhan dengan komunitas-komunitas literasi, selain bertandang ke titik-titik basisnya, diefektifkan pula dalam satu ruang percakapan bernama Masyarakat Literasi Bantaeng (MLB).  Wadah perkumpulan ini bersifat nonstruktural dan cair. Isinya, para pegiat dan penggiat komunitas literasi di Bantaeng. Beberapa kali membikin percakapan, tapi puncaknya berpucuk pada lahirnya komite pengusul Ranperda Literasi Bantaeng. Dan, usulan inilah yang menjadi Ranperda inisiatif DPRD Bantaeng.

Pola percakapan lainnya berbasis desa. Satu even strategis tercipta di Desa Bonto Jai, Kecamatan Bissappu, Bantaeng.Digelar hajatan diskusi publik. Tema besarnya, menuju Perda Literasi Bantaeng.  Konsentrasi percakapan mengarah pada pembumian Gerakan Literasi Nasional.

Percakapan publik dipantik oleh tiga pegiat literasi dengan latar belakang yang berbeda. Kamaruddin mengulik Gerakan Literasi Sekolah (GLS), Agusliadi Massere membahas Gerakan Literasi Keluarga (GLK), dan Ikbal Haming mendedahkan Gerakan Literasi Masyarakat (GLM).

Para pelibat di helatan diskusi publik sangat beragam. Unsur OPD, kecamatan, kelurahan dan desa. Tak ketinggalan tokoh agama dan masyarakat, aktivis perempuan, ormas keagamaan dan pemuda, pelajar dan mahasiswa, Bapemperda DPRD Bantaeng, dan pegiat maupun penggiat komunitas literasi. Bahkan di pucuk percakapan publik, Bupati Bantaeng, Ilham Azikin, hadir memungkasi hajatan publik  dengan satu penegasan, diskusi ini merupakan arena penguatan sumberdaya manusia.

Kebutan tiga bulan terakhir percakapan literasi di ranah dan ruang publik, tidak hadir begitu saja. Fondasinya jauh ke masa silam. Saya coba efektifkan saja dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Ada satu tugu ingatan untuk memudahkan peta aktivitas literasi di Bantaeng. Tugu itu bernama Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, didirikan pada 1 Maret 2010. Awalnya, hanyalah komunitas kecil, bermarkas di garasi rumah-toko.

Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan hadir dengan tiga devisi. Toko buku, insitut, dan komunitas. Tokonya menjalankan bisnis perbukuan dikepalai oleh Saenal Asri. Insitutnya, diketuai Kamaruddin, dan komunitasnya digawangi oleh Dion Syaef Saen. Lalu, Sulhan Yusuf sebagai pendiri menjadi CEO (Chief Executif Officer).

Lima tahun berjalan, 2015 toko buku tutup dan berubah menjadi Bank Buku Boetta Ilmoe. Insitutnya ikut berubah menjadi Bonthain Institute, dan komunitasnya tetap berjalan, lebih menajamkan diri sebagai komunitas literasi yang selnya telah membelah diri. Sehingga, diduplikasi maupun terduplikasi menjadi puluhan komunitas literasi dengan para pegiat dan penggiatnya, tanpa ada garis sentral struktural. Mereka inilah yang bermetamorfosis menjadi Masyarakat Literasi Bantaeng, sang komite pengusul dan pengusung Ranperda.

Bila Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan menjadi tugu gerakan literasi di Bantaeng, maka alur gerakannya pun mengalami pertumbuhan jangkauan aktivitas. Ini tercermin dari slogan yang dikawal. Tiga tahun pertama, berbunyi, “Hadir untuk Pencerahan Intelektual-Spiritual”. Tatkala komunitas literasinya mulai berkembang, berubah pula oritensi penegeasan slogan, “Dari Komunitas Menuju Masyarakat Literasi Bantaeng”. Dan, ketika memasuki tahap paling kiwari, slogannya menabalkan, “Masyarakat Literasi Bantaeng”.

Perjalanan panjang lebih sepuluh tahun bergerak, tetap terkonsolidasi dengan baik. Para pegiat di Boetta Ilome-Rumah Pengetahuan, beragam latar belakangnya. Mulai pelajar hingga mahasiswa. Pegawai ASN maupun non-ASN. Pengurus negeri, dari level dusun hingga kantor bupati. Politisinya ada di berbagai partai. Pekerja sosialnya, tersebar di seantero lembaga pemberdayaan masyarakat.

Pokoknya, seluruh lini kehidupan dirambah. Meskipun keragaman itu begitu nyata, tapi satu ikatan yang pasti, asas kerelawanan atas welas asih, menjadi lapiknya dan geliat literasi cerminannya.

Lebih dari itu, kini Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, telah menjadi milik masyarakat Bantaeng, meskipun awalnya bersifat personal.

Lalu, apakah aktivitas literasi sebelum Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan hadir tidak ada? Jawabannya, jelas ada. Cuma belum terkonsolidasi dalam satu gerakan yang holistik, menyasar seluruh eleman masyarakat. Baik para pegiat maupun komunitasnya. Terlebih lagi rancangan programnya. Waima Boetta Ilmoe-Rumah Penegtahuan sendiri tidak pernah menetapkan secara baku dan kaku bentuk-bentuk programnya.

Awalnya, aktivitas literasi sebelum saya dirikan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, semesta literasi saya cangkokkan ke beberapa elemen gerakan sosial, terutama yang berbasis mahasiswa dan pemuda. Sebab, waktu itu, saya sering berkelana dikantong-kantong gerakan pemuda-mahasiswa, memompakan semangat literasi.

Walaupun istilahnya, saya tidak kemas dengan tajuk literasi, tapi pencerahan intelektual-spiritual. Mulai dari kajian, hingga pendirian perpustakaan di organisasi pelajar-kemahasiswaan berbasis daerah: Organda.

Jadi, akar gerakan literasi di Bantaeng yang berawal dari sebelum ada Boeta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, dalam pengertian substansinya. Namun, sejak adanya tugu Boetta Ilmoe-Rumah Penegathuan, substansi dan artikulasi aktivitas literasi, terkonsolidasi dalam semesta gerakan literasi. Pucuknya, bakal lahir Ranperda Penyelenggaraan Gerakan Literasi Bantaeng. Perjalanan panjang membawa jeda sejenak.

Kredit ilustrasi: IDN Times

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *