BantaengNewsTrending News

Kadis Pendidikan Bantaeng: Pelatihan LemINA, Unicef, dan Jepang Bukan Kaleng-Kaleng

Bantaeng, Bonthaina – Para guru Sekolah Dasar (SD) dari 15 satuan pendidikan di Kabupaten Bantaeng mengikuti pelatihan Peningkatan Kapasitas Guru Kelas Awal dan Kepala Sekolah dalam pembelajaran Literasi dan Numerasi.

Peserta pelatihan dibagi menjadi 2 kelas, kelas A di Hotel Kirei, kelas B di Hotel Seruni dan berlangsung selama 5 hari, sejak 27 September hingga 1 Oktober 2022.

Pelatihan ini diselenggarakan melalui Kerjasama Yayasan LemINA, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Kabupaten Bantaeng, dan Unicef atas dukungan Pemerintah Jepang.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng, kalau kita menilik Undang-Undang Dasar 1945 pada bab 13, pasal 31 ayat 1, 2, 3, sampai 5, maka jelas bagi kita di Indonesia dan yang bergerak di aspek pendidikan tanggungjawab kita sangat besar, mencerdaskan kehidupan bangsa.

2,5 tahun kita lost learning karena Covid-19, untuk mengejar ketertinggalan itu, pakar-pakar pendidikan mencoba bagaimana caranya agar ada percepatan-percapatan supaya kita tidak tertinggal.

“Itulah sebabnya sampai kemudian kita semua hadir disini, pelatihan ini di backup LemINA, di backup Unicef dan dibantu Pemerintah Jepang. Jadi, bukan kaleng-kaleng pelatihan ini, bahkan asistensinya sampai bulan maret 2023,” tuturnya.

Setelah mendengar penyampaian dari peserta pelatihan yang diperkuat oleh closing statement pejabat fungsional. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk melanjutkan program ini.

“Insyaallah setelah bulan Maret tahun depan, menjadi tanggungjawab Dinas Pendidikan Bidang Ketenagaan untuk menganggarkan dan melanjutkan program ini,” jelas Muhammad Haris.

Bukan berarti kita tidak pernah melakukan itu melalui berbagai workshop, berbagai bimtek, berbagai diklat. Kita pernah melakukan itu, tetapi pendekannya yang kemudian berbeda dan kita dapati pendekatan-pendekatan yang terbaharui yang dibawa oleh para fasilitator.

Hal inilah yang menyebabkan transformasi pengetahuan dari kita sebagai fasilitator atau guru kepada siswa diyakini lebih baik dan lebih sampai dibanding dengan metode-metode yang lain.

“Itu yang terasa selama 5 hari pelatihan,” ujarnya.

Walaupun hanya 15 sekolah yang terkafer untuk tahun ini, kedepannya kita berharap mampu mengkafer secara keseluruhan, secara bertahap, sesuai kemampuan anggaran daerah.

“Di tengah-tengah kita ada ibu Hj., ada Pak Ansari, ada Pak Bahar, ada Pak Sainong, sebagai pejabat fungsional Dinas Pendidikan, maka saya sampaikan kepada beliau untuk tetap mengawal kegiatan ini setiap saat supaya ada peta pengembangan mutu pendidikan di Kabupaten Bantaeng,” harapnya sebelum menutup kegiatan pelatihan.

Ahmad Ismail

Fotografer-Videografer/Jurnalis Lepas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *