BantaengBudayaLiterasi

Kala Molit Mengenang Sang Ayah

Bila tak keberatan, aku ajak untuk mengeja kembali esaiku di Bonthaina.com, berjudul “Nirwan Menuju Nirwana”. Namun, cukup penggalan paragraf ini, sebagai pemantik ingatan, “Maret 2023, tepat di bulan suci Ramadan, ia melamarku dengan mahar sejumlah dana buat melahirkan satu jenis kendaraan pustaka bergerak. Nirwan selaku pendiri Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) menggandeng Boetta Ilmoe (BI) ke pelaminan. Kami merayakan secara sederhana perkawinan ala komunitas literasi. Dari perkawinan kami, lahirlah Motor Literasi (Molit) Peradaban. Dan, itulah kamu.”

Lalu kulanjutkan, “Jadi, PBI (Nirwan) adalah ayahmu dan BI (aku) ibumu. Molit (kamu) merupakan buah cinta persetubuhan literasi. Sebab Nirwan melihat kalimat “Literasi untuk Peradaban” di boxmu, maka ia pun menabalkan agar kata “Peradaban” ditambahkan pada kata Molit. Akhirnya, nama lengkapmu sesuai akte kelahiran, Motor Literasi (Molit) Peradaban. Waima, kami lebih nyaman memanggilmu Molit.”

Esai itu kutulis, dua hari setelah Nirwan Ahmad Arsuka wafat pada 6 Agustus 2023. Padahal, sekira tiga bulan sebelumnya, Mei 2023, Nirwan mengakikah Molit, meresmikan penggunaannya. Artinya, usia Molit sekitar tiga bulan, Nirwan, sang ayah, wafat.

Nah, 18-26 Nopember 2023, keluarga besar PBI memperingati 100 hari wafatnya Nirwan. Tentu usia Molit pun bertambah, sudah memangsa waktu enam bulan. Tajuk peringatan itu bertitel, “Sepekan Tribute to Semesta Manusia”. Beberapa simpul pustaka PBI menghelat berbagai acara, sesuai dengan kondisi masing-masing.

Di Bantaeng, Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, sang ibu Molit, tak ketinggalan menggelar hajatan In Memorium 100 Hari Nirwan Ahmad Arsuka, dengan menggandeng Molit Peradaban sebagai magnet penghadir. Boleh dibilang, hajatan Molit kali ini amat spesial, sebab mengenang sang ayah.

Kamis, 23 Nopember 2023, sore-malam, Molit Peradaban menyata di lapangan parkir Mall Pelayanan Publik Bantaeng. Tepatnya, di depan Kafe Mikop Mr. Big, asuhan duo bigger, Syamsul Kamar dan Zaenal Fauzi.

Para penghadir beragam latar belakangnya. Kaum muda, pelajar, guru, birokrat, pegiat-penggiat literasi, Komisioner KPU Bantaeng, dan aktivis pemberdayaan. Sekotah penghadir lebih dari 50 orang. Mereka beragam, tapi seragam dalam spirit: literasi.  

Hajatan dikemas sesantai mungkin. Tema helatan dipadatkan menjadi “Percakapan Hilirisasi Budaya ala Nirwan Arsuka”. Sungguh, kemasan acara ini tidak lepas dari pesan almarhum Nirwan, ketika meresmikan Molit, bahwa hendaklah Molit tidak sekadar mengantar bahan bacaan kepada publik, tapi sedapat mungkin menjadi pusaran dalam memantik hadirnya peristiwa budaya.

Deretan acara dimulai dengan sajian musik pengantar dari sekaum pelajar. Mereka menamakan diri Band Eksen Smapat Bantaeng. Ada lima sajian tembang pembuka. Lalu, pemandu acara, Kasmawati, mantan Komisioner KPU Bantaeng, menyilakan saya untuk bercuap-cuap selaku tuan rumah, CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan.

Berikutnya, pemandu acara mengajak untuk memanjatkan doa. Baik untuk kelancaran acara, sekaligus mendoakan almarhum Nirwan Arsuka. Ust. Kamaruddin memimpin doa, penuh hening dalam kebeningan hati dan kejernihan pikir setiap penghadir.

Usai panjatan doa, langsung dilanjutkan pembacaan esai oleh Ikbal Haming, sang penanggung jawab operasional Molit. Judul esai yang didedahkan, “Nirwan Menuju Nirwana”. Para penghadir larut dalam kisah berlapik bagaimana Nirwan (PBI) dan aku (BI) mengikat tali kasih, sehingga melahirkan Molit.

Kala esai itu didaras, mataku tertumbuk pada Molit yang menjadi latar belakang panggung perhelatan. Terasa ada haru dan bahagia menghiduku. Mungkin Molit merasakan hal yang sama. Begitu pun sekotah penghadir, larut dalam terungku cerita, bagai anak kecil yang didongengkan kisah dari negeri antah berantah.

Pemandu acara memecah keheningan, saat memanggil seorang pelajar, Ketua Eskul Literasi Smapat Bantaeng, Aiman, untuk membaca tiga puisi yang dipersiapkan. Puisi “Kunang Kunang” karangan Nirwan, “Metamorfosis” anggitan Sapardi Djoko Damono, dan “Perpustakaan adalah Surgaku” ciptaan Agustin Sasmitasari.

Kemeriahan hajatan semakin membahana. Pasalnya, ada dua anak muda gonrong dari pelosok ketinggian Bantaeng, pegiat literasi dari Serambi Baca Tau Macca Loka dan Bonto Lojong, Aby Pasker dan Jamal Mapia. Keduanya memberikan testimoni, tentang perjumpaan mereka dengan Nirwan. Baik ketika Nirwan menginap di mukimnya, maupun saat menjadi kawan pengiring berkuda dari kabupaten ke kabupaten lainnya di Sulawesi Selatan.

Testimoni mereka menggambarkan persona penuh pesona dari seorang Nirwan. Kesederhanaan dalam laku, sajian pikiran yang mudah dicerna, dan kehadirannya yang tidak merepotkan. Wajarlah kalau keduanya mengidolakan Nirwan sebagai seorang pejuang, sekaligus selakon inspirator dalam bergerak.

Pascatestimoni duo gonrong,  kembali musikalisasi puisi dari seorang pustakawan Perpusda Bantaeng, Ainun. Tampak keheningan menjalari persamuhan. Pasalnya, harmoni antara lontaran-lontaran diksi  Ainun dan tindisan keyboard Javid Morteza, padu padan menghanyutkan penghadir, menuju muara keindahan persetubuhan puisi dan musik.

Musik pun berlanjut. Trio Dion Syaef Sain, Haidir Thumpaka, dan Javid Morteza, bergabung dalam BIkustik Band. Sebentuk band minimalis dari Boetta Ilmoe. Mereka memanggungkan dua tembang kerajaan komunitas, “Sari Diri” dan “Membacalah-Menulislah”. Kedua tembang itu serupa lagu wajib bagi komunitas Boetta Ilmoe, tatkala menggelar hajatan.

Nah, puncak acara berpucuk pada pidato kebudayaan oleh Hamzar Hamna, mantan Ketua KPU Bantaeng. Pidatonya merupakan adaptasi dari tulisan terakhir Nirwan Arsuka di Kompas, berjudul “Hilirisasi Kebudayaan”.

Sewaktu Hamzar berpidato, aku merasakan aura Nirwan ikut menghidu perhelatan. Pikiranku menyala karena bobot pidato itu. Mataku pun berkaca-kaca, sebab tarikan aura Molit seolah menggenggam erat tanganku. Mungkin karena aku adalah ibunya. Dan, Molit merasakan kehadiran sang ayah.

Jiwaku kembali menyata di bentala. Seiring dengan berakhirnya pidato kebudayaan Hamzar. Pun, ketika Kasmawati menutup acara, sembari menyilakan band pelajar untuk manggung kembali, penanda hajatan berakhir.

Meskipun helatan resmi berakhir, para penghadir masih melanjutkan percakapan informal. Satu persatu penghadir pamit. Benar-benar persamuhan berakhir jelang pergantian hari. Dan, aku pun mendekati Molit sambil berbisik, waima ayahmu sudah mengabadi, aku sebagai ibumu akan selalu mengenang sang ayah dengan cara merawatmu.

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *