BantaengEdukasiInovasi

Kembang Literasi dari Desa Barua

Baskara tergelincir, satu penanda alamiah, makin jarang digunakan, meski segelintir orang masih setia menjadikan rujukan maksud. Dukungan suara toa masjid bersahutan, menginterupsi umat agar jeda buat salat Duhur. Ponsel cerdas menunjukkan pukul 12.00 lewat. Cukuplah tiga penanda waktu, baik selaku warisan pengetahuan lama maupun kekinian,  sebagai isyarat awal untuk menegaskan ingatan pada hajatan.

Berlaksa detik sebelum tiba di hari Ahad, 27 Agustus 2022, saya sudah mengiyakan satu helatan bertajuk, “Diskusi dan Launching Buku Sebuah Cerita Panjang dari Wanita yang Ingin Pulih.  Buku anggitan Kasmawati S, seorang bidan di RSUD Prof. Dr. H. Anwar Makkatutu Bantaeng, dipercakapkan di Aula Kantor Desa Barua, Kecematan Eremerasa, Bantaeng.

Rahman Ramlan menemani saya meluncur ke arena sawala buku tersebut. Sekira lima belas menit perjalanan dari Kota Bantaeng. Tiba di lokasi, sudah lewat pukul 13.00. Penyelenggara segera mematok mula acara dimulai pukul 14.00.

Lima orang berderet di meja panelis. Ikbal Haming (moderator), Mursalim Bang Jalal (Kades Barua), plus tiga pembicara: Kasmawati, Ade Sulmi Indrajat, dan saya. Ikbal memberikan seutas pengantar, mengutip tutur bajik nan bijak, “Seseorang berubah karena dua hal, pikirannya terbuka atau hatinya terluka.” Lalu menyilakan Mursalim, selaku kades sekaligus tuan rumah. Mursalim bangga dengan warganya yang menulis tatkala tiada aktivitas literasi di desanya. Lewat momentum helatan literasi ini, ia menabalkan sederet program berkaitan literasi.

Selaku penulis buku, Kasmawati, lebih sering disapa Kasma, menyajikan latar belakang curhatan di medsosnya, lalu disatukan menjadi buku, terdiri dari dua bagian: cerita dan sajak. Cerita, diikat membentuk bagian pertama, Sebuah Cerita Panjang dari Wanita yang Ingin Pulih dan sajak disimpai menjadi bagian kedua, Sebuah Sajak dari Wanita yang Ingin Pulih.

Kasma mendedahkan bukunya penuh haru dan bahagia. Sesekali suaranya bergetar, bukan karena gugup, apalagi gagap, melainkan hadirnya terungku rasa yang menghidu seluruh jiwanya. Apatah lagi, ketika ia tiba pada penegasan, selama ia menuliskan rasa-rasanya lewat curhatan, sesungguhnya ia dalam keadaan terluka. Ada luka jiwa yang melilitnya. Saya menduga dalam batin, ia seperti kembang mekar dari Desa Barua, lalu difertilisasi seekor kumbang, tapi tak berujung pada buah kehidupan.

Menyatalah tragedi kehidupan. Kumbang terbang, kembang layu tak lagi berseri lagi. Hidup dan kehidupan makin tiada arti. Godaan akhir kehidupan senantiasa sunyata menawarkan keterpurukan baru, mengakhiri hidup. Beruntungnya Kasma, sebab ia mengubah haluan, menampik godaan akhir kehidupan. Media sosial miliknya menjadi sarana penyembuh luka-lukanya. Kasma menorehkan sederet curhatan berbentuk cerita dan sajak. Kiwari, ia sudah merasa pulih dari luka. Dan, saya pun melihatnya demikian, laiknya kembang berseri, kembang mekar berkat sentuhan literasi.

Arkian, Ikbal mempersilakan Ade Sulmi Indrajat untuk menguarkan perspektifnya. Ade selaku penyunting buku Kasma, terlebih dahulu bercerita seputar penyuntingan naskah dari curhatan diproses menjadi buku. Tatkala Ade bertutur lebih dalam tentang isi buku, rupanya ia merasa punya kesamaan dengan Kasma.

Ade pun pernah mengalami luka jiwa. Saya hanya bisa mengimajinasikan lukanya, seperti seekor kumbang yang tertusuk duri kembang berbisa. Ia limbung bak layangan putus. Ia tetap menjadi kumbang gagah perkasa, tapi terbang tak punya arah. Hingga tiba pada satu titik tak bisa terbang lagi, bukan karena bobot badan makin berat atau sayapnya patah.

Nasib baik menghampiri, Ade pun mengalami epiphany, dalam perjalanan melatai hidup dan kehidupan, hingga ia tiba pula dalam satu episode untuk pulih. Dan, dunia literasi menawarkan keindahan untuk memulihkannya. Hasilnya? Ia pulih dan beberapa buku hasil anggitannya telah lahir. Tak ada anak biologis, tapi punya anak-anak ruhani: buku.

Selaku pembicara terakhir, saya ikut unjuk rasa. Menabalkan minda. Saya pun meminjam tuah kata bijak dari sosok spiritualis,  Guruji Gede Prama, “Menjadi penyembuh bagi diri sendiri: Menulis adalah salah satu media mengekspresikan perasaan. Ketika menulis, dekap setiap perasaan yang datang. Tanpa penolakan, tanpa penghakiman. Sambil ingat untuk berbagi senyuman.”

Umpan dari Gede Prama, saya langsung sambar dengan sepenggal kisah, terdapat dalam buku saya, Pesona Sari Diri, bercerita tentang persona ternama, presiden ke-3 Republik Indonesia, Baharuddin Jusuf Habibie. Alkisah, sepeninggal isterinya, Hasri Ainun, Habibie mengalami guncangan jiwa, hidupnya terasa hampa. Disebutkannya, suatu hari Habibie, sekitar pukul 02.30 dini hari, Habibie masih menggunakan pakaian tidurnya berjalan-jalan keliling rumah sambil menangis tersedu-sedu, seperti layaknya seorang anak yang mencari-cari ibunya.

Walhasil, melalui analisa dokter keluarga, Habibie kala itu mengalami apa yang disebut psychomatic malignant, suatu istilah bagi orang-orang yang terlalu tenggelam dalam kesedihannya. Jika tak segera dirawat, besar kemungkinan Habibie akan segera menyusul Ainun.

Menurut cerita Habibie, akhirnya tim dokter pun memberi empat saran. Pertama, dirawat di rumah sakit jiwa. Kedua, tetap tinggal di rumah dengan tim dokter dari Indonesia dan Jerman guna merawatnya. Ketiga, curhat kepada orang-orang yang dekat dengannya dan Ainun. Keempat, menulis.

Simpulannya, Habibie memilih anjuran yang keempat, yaitu menulis sebagai suatu refleksi diri. Dan, tulisannya kemudian jadi buku dengan judul: Habibie & Ainun. Buku ini merefleksikan kesedihan terdalam dari Habibie. Hebatnya lagi, buku ini menjadi best seller, sekaligus menjadi dasar pembuatan film, dengan judul yang sama, mengular antrian dan menyemut pula penontonnya.

Nah, saat saya mempercakapkan konten buku, saya mengajukan bingkai pembahasan. Buku Kasma, secara umum bertemakan cinta. Maka, akan terasa elok bila saya ajukan pengetahuan umum tentang tingkatan-tingkatan cinta, bertolak pada para bijak bestari terdahulu. Tingkatan cinta, berundak tiga: eros, philia, dan agape.

Cinta eros, berwajah material dan bersifat birahi. Hasrat-hasrat duniawi paling dominan dalam menjalin ikatan. Sementara, cinta philia tidak bersifat material, tapi berupa persahabatan dan kasih saying. Sisi manusiawi menjadi pilar utama sebagai utasnya. Dan, cinta agape, seraut cinta ilahi, memandang segalanya dengan sudut pandang ilahi. Sekotah realitas merupakan manifestasi ilahi. Wajah ilahi tercermin pada ciptaannya sebagai citra ilahi.

Pergumulan di tingkatan cinta eros, penuh potensi luka. Dilukai atau melukai. Mirip seperti buah strowbewry, cantik penampakan, tapi mudah lecet kulitnya. Apa yang dialami Kasma, seperti tercermin dari tulisannya, baik berupa cerita maupun sajak, sungguh mencerminkan luka jiwa, karena berada di buaian cinta eros. Gagal mengendalikan hasrat-hasrat eros, awal begitu suka, tapi berujung duka. Untungnya, Kasma segera mengaktuilkan cinta philia. Ia kembali ke pertahanan primordial: keluarga.

Keluarga telah memulihkannya dari luka-luka jiwa. Menjadi sangat wajar, sebab dibawah naungan cinta philia, sisi manusiawi lebih menawarkan kedamaian. Harmoni kehidupan menyata. Kedua orangtua, saudara, dan sahabat mencintai sepenuh jiwa, tiada motif-motif duniawi. Dan, Kasma pun menumbuhkan cintanya kepada mereka. Saling mencintai sebagai sesama manusia, sekakek Adam dan senenek Hawa.

 Jadi, Kasma telah mengikuti jejak Habibie dalam melatai hidup dan kehidupan. Menulis selaku terapi jiwa. Pulih lewat tindakan menulis. Menemukan kembali jalan hidup dan kehidupan. Kasma kembali tersenyum. Persis seperti kembang yang lagi mekar. Sunyata berseri dalam buaian jagat literasi. Kasma telah mewujud seumpama kembang literasi dari Desa Barua.

 

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *