BantaengEdukasiInovasiKesehatanLiterasi

Klik Baik: Literasi untuk Tradisi Inovasi

“Hormat dan bangga untuk semua inovasi yang lahir dari orang-orang baik yang tulus mengabdi untuk Bantaeng.” (Ilham Azikin)

Tradisi, apa pun objeknya, akan hadir menyata, jikalau ada aktivitas yang menggeliat secara konsisten dan persisten. Geliat bersifat konsisten dan persisten itu bisa hadir, manakala ada sebentuk wadah perawatan, baik bersifat formal maupun non-formal. Klik Baik, serupa laboratorium atau klinik inovasi di Dinas Kesehatan Bantaeng, dibentuk sebagai upaya untuk merawat tradisi inovasi kesehatan. Berikutnya, bila tradisi ini sudah langgeng, maka muaranya akan lahir budaya inovasi. Dan, salah satu pilar penyangga Klik Baik, kapasitas literasi inovasi akan senantiasa menghidunya.

Sebelum Klik Baik (Klinik Inovasi Kesehatan Bantaeng Inspiratif Kolaboratif) diresmikan, bukan berarti tak ada inovasi di lingkungan Dinkes Bantaeng. Justeru menggelindingnya beberapa inovasi di lingkup Dinkes Bantaeng, memicu lahirnya Klik Baik. Lalu dari Klik Baik akan memacu laju inovasi berikutnya.

Sekadar menghangatkan ingatan. Tahun 2020, ada satu inovasi dari Puskesmas Sinoa Bantaeng, bertajuk “Bendera Saskia”. Prestasi inovasi ini bukan kaleng-kaleng. Meraih penghargaan Top 45 Inovasi Pelayanan Publik (SINOVIK. Penghargaan ini merupakan hasil kompetisi tertinggi di tingkat nasional dari Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB). Inovatornya, H. Iwan Setiawan sekaligus menjabat kepala Puskesmas Sinoa kala itu.

Entah karena capaian itu, akhirnya H. Iwan Setiawan diberi amanah selaku Kepala Bidang Promosi Kesehatan (Kabid Promkes) Dinkes Bantaeng. Terkini, beliau ditunjuk selaku pelaksana tugas sekretaris Dinkes Bantaeng, sebab pejabat sebelumnya, dr Bambang, pindah ke Sumatera.

Aura prestasi inovasi Bendera Saskia ikut menghidu Dinkes Bantaeng secara keseluruhan. Selaian penghargaan, juga mendapat dana insentif. Dari dana inilah dibangun gedung inovasi. Klik Baik ikut bertumbuh di gedung ini. Apatah lagi makin elok jadinya, sebab dapat dukungan dari Kadis Kesehatan Bantaeng, dr. Andi Ihsan. Bahkan, saat peresmian gedung, Bupati Bantaeng, Ilham Azikin, menyambangi ruang Klik Baik dan membubuhkan mantra buat para inovator. Seperti yang saya tuliskan di mula esai ini.

Mantra Bupati Bantaeng di Ruang Klik Baik

Klik Baik diketuai oleh H. Iwan Setiawan. Didukung oleh satu tim, berisi tenaga ahli inovasi: Rahman Ramlan, literasi: Sulhan Yusuf, media dan dokumentasi: Dedy Al-Islami, Ahmad Ismail, Muhammad Rezky, Muhammad Takdir, Ikhsan Ariyanto, dan sekretariat: Dewi.

Dari klinik ini, manajemen pelayanan kesekretriatan dikelola. Bentuknya, pengelolaan pelatihan, asistensi, dan konsultasi. Selain itu, pengelolaan even-kegiatan, media sosial, monitoring dan evaluasi. Termasuk mekanisme pengaduan.

Klik Baik diresmikan tahun lalu oleh H. Sahabuddin, Wakil Bupati Bantaeng. Persisnya, 30 Desember 2021, saat berlangsung Pameran Inovasi Dinas Kesehatan Bantaeng. Waktu peresmian, selaku ketua, H. Iwan Setiawan, kurang lebih bertutur, “Alhamdulillah, Klik Baik sendiri sudah hadir kurang lebih 10 bulan lalu. Telah membina 50 inovasi. Beberapa penghargaan telah diraih. Aspek kolaboratif yang kami hadirkan, menjadi mata rantai teman-teman melakukan inovasi, baik Dinkes, puskesmas, maupun di UPTD.”

Sejak diresmikan setahun lalu, Klik Baik sebagai laboratorium inovasi, telah berbuah manis. Buah-buah manis itu, dapat disaksikan saat Pameran Inovasi Dinas Kesehatan Bantaeng, bertempat di Balai Kartini Bantaeng, pada Selasa, 27 Desember 2022. Sebagai orang yang terlibat dalam tim Klik Baik, saya mengunjungi satu persatu stand pameran. Selain sebagai juri lomba stand 3 ter: inovatif, inspiratif, dan pavorit.

Tim Klik Baik

Setiap stand yang saya sambangi, melakukan percakapan dengan para penjaga stand, sembari mengimajinasikan berbagai pajangan di area setiap puskesmas dan UPTD. Sungguh, salah satu misi saya, ingin mengecek dinamika inovasi, khususnya inovasi terbaru dari setiap stand, lalu menggumamkan satu pertanyaan dalam pikiran, apakah dimensi literasi ikut mendinamisir sekotah inovasi tersebut?

Maklum saja pemirsa, saya ikut bergabung di tim Klik Baik sebagai tenaga ahli di bidang literasi. Mengapa? Karena literasi sangat berperan untuk memicu dan memacu moncernya inovasi. Ada keyakinan kami di tim, literasi mengaktual di inovasi dan inovasi sangat bergantung pada kapasitas literasi. Itulah literasi inovasi atau inovasi berlapik literasi.

Takjub bin hebat nuansanya. Perkaranya, selain inovasi dari pegawai lama puskesmas dan UPTD, inovasi datang dari ASN baru, berjumlah 93 orang, terserap masuk ke tempat tugas mereka. Lalu dari mana muasal 93 ide inovasi dan sudah berjalan, paling tidak dua bulan terakhir? Lebih dari itu, Bupati Bantaeng, Ilham Azikin, telah me-launching-nya di arena pameran.

Bupati Bantaeng, Ilham Azikin saat membuka acara Pameran Inovasi Kesehatan Bantaeng

Saya ingin mengajak ke lorong waktu, beberapa bulan lalu. Muncul ide dari H. Iwan Setiawan, saat persamuhan di tim Klik Baik. Ia ingin, 93 orang ASN baru itu, dihidu spirit berinovasi. Gagasan tersebut direstui Kadis Kesehatan Bantaeng, dr. Andi Ihsan. Mereka pun dikumpulkan dalam Aula Gedung Inovasi.

Tim Klik Baik all out  menyuntikkan virus inovasi. Mereka bagai divaksin  sebanyak dua kali pertemuan. Ketika sawala inovasi dibentangkan, literasi untuk inovasi disuntikkan sebagai vaksin pertama. Lalu, bagaimana merancang proposal ide inovasi selaku vaksin kedua. Targetnya, muncul kekebalan tekad untuk berinovasi.

Agar benderang ide inovasinya, maka mereka diminta karya peruntukan Latsar, menjadi bahan baku untuk dijadikan minda inovasi. Pertemuan kedua, tim Klik Baik mengecek kembali segenap minda inovasi, sudah dalam bentuk proposal inovasi. Tim Klik Baik mengulik minda tersebut. Anggaplah pengulikan ini semacam vaksin ketiga, buat kekebalan berinovasi guna mencegah kebebalan tiada inovasi.

Hasil tiga kali vaksin inovasi inilah yang saya cek di pameran. Haru bin bahagia rasanya, menyaksikan 93 inovasi itu dipajang melalui stand banner, menjemput Bupati Bantaeng, Ilham Azikin, ketika memasuki arena pameran. Penyambutan 93 inovasi dari Dinkes Bantaeng, menunjukkan telah berfungsinya Klik Baik sebagai laboratoum inovasi. Penegasan dari Ilham Azikin pun menguar saat sambutan, agar apa yang dilakukan oleh Dinkes Bantaeng menjalar virusnya ke OPD lain.

Inovasi hadir sebagai jawaban atas berbagai kebutuhan bertumbuh di lembaga formal maupun non-formal. 93 inovasi dari ASN baru lingkup Dinkes Bantaeng, serupa upaya menjawab kebutuhan. Sekotah inovasi hadir, didahului oleh studi dari mereka terhadap tempat pengabdiannya. Inovasi pun sementara berjalan. Apatah lagi didukung oleh pimpinan setiap puskesmas dan UPTD.

Dari percakapan yang saya tangkap saat bertandang di stand pameran, ada simbiosis mutualisma. Jajaran pegawai lama, khususnya kepala puskesmas, terbantu dengan inovasi tersebut. Sedangkan ASN baru, merasa ada penerimaan di ruang pengabdian.

Nah, Klik Baik sebagai laboratorium inovasi, telah merawat bibit-bibit inovasi, lengkap dengan vaksinnya. Sudah ditanam di berbagai puskesmas dan UPTD. Tim Klik Baik akan ikut merawatnya. Dan, bila ada yang mau dikompetisikan, maka laboratorium siap mengawal. Klik Baik akan menjaga tradisi inovasi, lewat literasi inovasi.

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *