BantaengEdukasiLiterasi

KOSKAR PPB dan Simpai Tradisi Literasi

Menyata di acara pembukaan Latihan Kepemimpinan Dasar (LKD), diselenggarakan oleh sekaum anak muda, sungguh satu kejadian menyenangkan bagi saya, kala usia tidak muda lagi. Kenyataan itu membawa saya kembali ke titik masa, ketika saya masih muda belia. Saya pun hadir, dikarenakan masih didapuk sebagai salah seorang anggota Dewan Konsultatif (DK) perkumpulan tersebut. Saking kuatnya magnit pelatihan, di hari penutupan, saya ikut bermalam di lokasi kegiatan, demi meraup kebahagiaan, karena dihidu tradisi literasi.

Rentang waktu menaklukkan masa oleh sekaum anak muda, menabalkan diri Kelompok Studi dan Karya Putra-Putri Bantaeng (KOSKAR PPB), mengakumulasikan usia 34 tahun. KOSKAR PPB dideklrasaikan pada 10 Mei 1989 di Banyorang, ibu kota Kecamatan Tompobulu. Ketika itu, saya masih kuliah di salah satu kampus Makassar. Saya tidak ikut bergabung sedari awal, sebab saya lahir dan tumbuh di wilayah Kecamatan Bantaeng. Padahal ayah dan kakek buyut saya berasal dari Kecamatan Tompobulu. Tepatnya Kampung Ereng-Ereng.

Paling tidak,  tercatat tiga orang inisiator: Abdul Wahab, Muhammad Ilyas, dan Misbahuddin. Belakangan, mereka ditabalkan  sebagai dewan perintis. Ketiganya, mahasiswa Bantaeng, berasal dari Kecamatan Tompobulu. Kala itu, pembagian Kabupaten Bantaeng masih tiga wilayah. Bantaeng barat: Kecamatan Bissappu, tengah: Kecamatan Bantaeng, dan timur: Kecamatan Tompobulu. 

Mulanya, berlatar belakang wilayah Kecamatan Tompobulu, maka namanya pun  KOSKAR PPTB. Frasa Putra-Putri Tompobulu menjadi ikon, sekaligus arena konsolidasi aktivitas, agar para mahasiswa dan pelajar meraih kesuksesan studi. Fokus kegiatan khas kelompok studi. Memberikan penguatan akademik. Tak heran, posisi kelembagaan ini, menegaskan KOSKAR PPTB menjadi bagian dari Himpunan Pelajar Mahasiswa Bantaeng (HPMB) sebagai wadah tunggal organda, bagi pelajar dan mahasiswa Bantaeng.

Memasuki tahun 1994, tatkala Firman Suli menjadi Ketua Umum KOSKAR PPTB, sekaligus menjadi Sekum HPMB, mulai terjadi pertumbuhan aktivitas, sekaligus orientasi. Tidak sekadar bimbingan untuk kesuksesan studi, melainkan mulai menjamah kajian-kajian keilmuan bersifat mendalam. Momen pertumbuhan terjadi, saat saya sudah menetap di Makassar, seputar kampus IAIN Alauddin. Di mukim saya, selain ada toko buku sederhana berbasis komunitas, juga ada kajian intens  soal isu-isu intelektual.

Nah, Firman Suli meminta kepada saya agar anggota KOSKAR PPTB diperkenankan ikut kajian. Mulanya ikut bergabung, tapi perkembangan berikutnya, ada kajian khusus di sekretariatnya. Lapik inilah, menjadi cikal bakal penegasan sebagai pelajar dan mahasiswa, menubuhkan diri selaku insan intelektual. Kesadaran intelektual tumbuh. Akibatnya, KOSKAR PPTB mengalami dinamika yang unik. Secara kelembagaan berbentuk organda, tapi orientasi intelektualnya memamah ke model gerakan mahasiswa ektra kampus.

Bentuk nyata penegasan orientasi, saat periode berikut, Subhan Yakub, selaku Ketua Umum KOSKAR PPTB, menyelenggarakan Latihan Kepemimpinan Dasar (LKD), bertempat di Madrasah As’Adiyah Pattiro, Desa Labbo, Kecamatan Tompobulu, Bantaeng. Aktivitas latihan kepemimpinan ini, berkonsekuensi langsung pada berubahnya watak kelembagaan, dari kelompok studi menjadi organisasi kader. Sebab, aktivitas latihan kepemimpinan berlanjut terus, tiada terhitung jumlahnya. Bahkan naik level hingga Latihan Kepemimpinan Menengah (LKM). Pun, pelatihan untuk menjadi pengader dilakukan sebagai back up terhadap penyelenggaraan perkaderan.

Buah dari perkaderan LKD angkatan pertama, mulai terasa dampaknya. Terutama saat jebolan perkaderan ini mulai memegang kendali organisasi. Salah seorang jebolannya menjadi Ketua Umum KOSKAR PPTB, Sirajuddin Umar. Di kepengurusan Sirajuddin, lumayan banyak dinamika organisasi terjadi. Mulai dari perubahan wilayah garapan, tidak lagi bercokol di Tompobulu, melainkan melebar ke seluruh wilayah Bantaeng. Nama pun ikut berubah, frasa Putra-Putri Tompobulu (PPTB) menjadi Putra-Putri Bantaeng (PPB).

Bukan itu saja, sikap kritis kader-kader KOSKAR PPB terhadap pemerintah dan institusi lain, semisal sekolah, sangat mewarnai dinamika kaum muda pelajar mahasiswa di Bantaeng. Wacana yang diusung kader-kader dinilai lebih maju, sebab isu-isu intelektualnya, berwarna pemikiran alternatif, mengikuti irama pemikiran usungan beberapa organisasi ekstra kampus: HMI-MPO, PMII, dan IMM. Bahkan, KOSKAR PPB ikut mamasok kadernya ke organisasi kemahasiswaan tersebut. Bentuk nyatanya, menjadi pemimpin tertinggi tingkat cabang Kota Makassar.

Hadirnya profil kelembagaan demikian, disebabkan oleh tumbuhnya tradisi intelektual di kalangan kader. Belakangan saya lebih suka menyebutnya tradisi literasi. Kemampuan baca-tulis kader-kader KOSKAR PPB setara dengan organisasi ekstra kampus dengan usungan wacana intelektualnya. Beberapa penanda kuatnya tradisi literasi kader, dapat dilacak pada adanya perpustakaan, media penulisan, dan penerbitan buku. Belum lagi pentolan-pentolan KOSKAR PPB punya perpustakaan pribadi yang siap diakses oleh kader-kader. Kiwari, beberapa komunitas literasi hadir, bila dilacak akar tradisi literasinya, bertumpu pada kader-kader KOSKAR PPB.

Dinamika intelektual di kalangan kader, selain menumbuhkan tradisi literasi, melahirkan pula konflik pemikiran yang berdampak pada kelembagaan KOSKAR PPB. Pengaruhnya hingga pada lesunya gairah berorganisasi di kalangan pewaris kepengurusan. Plus, konsentrasi kader makin melebar ke berbagai bidang kehidupan profesional. Bayangkan saja, pentolannya ada yang jadi birokrat, politisi, pengusaha, ASN, kepala desa, pedagang, petani, tentara, guru, dan lainnya.

Kelesuan gairah berorganisasi belakangan ini, nyaris membawa pada titik kevakuman organisasi. Memasuki usia ke-34, Dewan Kehormatan Organisasi (DKO) mengambil tindakan berdasarkan kewenangan konstitusionalnya. Sebab ketua umum sudah habis masa kepengurusannya dan sudah meletakkan jabatan, maka dewan kehormatan melakukan rapat untuk mengangkat pengurus baru. Menetapkan Udhin Afdal selakon ketua umum. Masa baktinya hanya tiga bulan, bertugas untuk menyelenggarakan kongres.

Kepengurusan ini, melakukan beberapa kegiatan menjelang kongres. Salah satunya melakukan LKD. Nah, di arena pelatihan ini, banyak pentolan KOSKAR PPB datang bercakap-cakap. Hasil percakapan akan diadakan LKM, lalu selanjutnya menyelenggarakan kongres. Bahan-bahan kongres pun sudah digodok oleh panitia pengarah di sela-sela hajatan. Hadirnya percakapan sebagai buah dari keprihatinan, tiada lain karena adanya tradisi literasi sebagai pengikat keutuhan kader.

Saya pun ikut menikmati percakapan sebagai bentuk resolusi demi moncernya KOSKAR PPB. Apatah lagi tempat bercakapnya di salah satu komunitas literasi besutan pentolan KOSKAR PPB, Firdaus Saha, Rumah Baca Panrita Nurung (RBPN). Aura tradisi literasi menghidu segenap penghadir. Tempat penyelenggaraan LKD, saya yakini sebagai medium titik balik untuk kebangkitan KOSKAR PPB. Organisasi kader ini akan menyongsong jagat baru, era milenial. Tetap berkukuh pada tradisi literasi. Dan, pucuknya akan selalu membahagiakan.

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *