BantaengEdukasiInovasiLiterasi

Kronik Percakapan Berpucuk NA-Ranperda Literasi

Paling tidak, sepeluh tahun terakhir ini, geliat lietrasi di Bantaeng makin moncer. Lahirnya beberapa komunitas literasi dan makin banyaknya pegiat maupun penggiat literasi menubuhkan diri dalam aktivitas literasi, layak dituju sebagai indikator dari kebangkitan gerakan litaeri. Penanda lain, bisa dilihat dari terbitnya puluhan buku, ditulis oleh warga Bantaeng, baik secara personal maupun komunal.

Para aktivis literasi beserta komunitas literasi, mengonsolidasikan diri agar semakin rapih berliterasi. Muncullah pemikiran, diperlukan payung hukum sebagai patokan kebijakan di bidang literasi, yang mempertautkan aktivitas literasi di jalur struktural dan kultural.

Aktivitas literasi bersifat struktural, dimaksudkan sebagai aktivitas yang dilakukan oleh jajaran pemerintah, khusususnya OPD terkait, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bantaeng. Sementara jalur kultural, segala macam bentuk kegiatan lieterasi digagas oleh masyarakat maupun keluarga.

Pertimbangan tersebut menyata, tatkala saya selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengethaun, mengundang para pegiat, penggiat, dan komunitas literasi berkumpul di Sekretariat Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan sebagai tuan rumah, pada tanggal 12 Juli 2021.

Hasil musyawarah mufakat, terbentuklah wadah bernama Masyarakat Literasi Bantaeng. Wadah ini kemudian sekaligus berfungsi selaku Komite Pengusul Perda Literasi Bantaeng. Selembar kertas pernyataan sikap, ditanda tangani bersama, sebagai bukti keseriusan dan kekompakan.

Dari persamuhan ini pula, disusun peta jalan menuju pembentukan Ranperda Literasi Bantaeng. Langkah pertama, pembentukan komite pengsusul. Tindakan ini sebentuk kick off, dan penyediaan ruang percakapan publik, guna melakukan sosialisasi nilai-nilai dan gagasan.

Kedua, melakukan penyusunan usulan dan perumusan agenda kebijakan lieterasi. Menciptakan momen dialog atau FGD terkait kebijakan literasi daerah, penyediaan naskah rujukan atau literatur terkait kebijakan literasi daerah, dan penyusunan pokok-pokok materi muatan kebijakan atau naskah awal Naskah Akademik (NA) dan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda).

Ketiga, Berkomunikasi dengan DPRD atau Pemkab Bantaeng. Melakukan audensi, mengajukan usulan pokok-pokok materi muatan kebijakan, ditetapkan sebagai agenda kebijakan daerah yang tertuang dalam PROLEGDA. Tiga tahapan, sebagai lapik mula bergerak di komandani Mahbub Ali Muhyar sebagai penanggung jawab.

Tahapan ketiga langkah tersebut sudah direspon oleh DPRD Kabupaten Bantaeng, sebagai bagian dari komitmen legislatif untuk menjadikan Perda litereasi sebagai perda inisiatif DPRD Bantaeng. Semulanya, dijadwalkan selesai menjadi perda di tahun 2021, tetapi karena kendala yang tak terkendali, akhirnya dijadikan sebagai agenda perioritas di tahun 2022.

Maret 2022,  DPRD Bantaeng lewat Bapemperda, mengundang perwakilan Masyarakat Literasi Bantaeng, untuk menjadwal kembali perda inisiatif tersebut. Persepakatan pun muncul, bahwa tahun 2022 Perda Literasi Bantaeng akan lahir sebagai perda inisiatif legislatif.

Kesepakatan lainnya, menunjuk Bonthain Institute sebagai mitra Bapemperda untuk menyusun NA-Ranperda Penyelenggaraan Literasi di Bantaeng. Dan, Rahman Ramlan selaku Direktur Bonthain Institute, mengatur seluruh jadwal percakapan.

Bonthain Institute sebagai mitra Bapemperda DPRD Bantaeng, lalu memandatir Tim Penyusun NA- Ranperda, masing-masing: Mahbub Ali Muhyar, Rahman Ramlan, Ikbal Haming, Kamaruddin, Agusliadi, dan Sulhan Yusuf. Tim ini, selain menjadi penyusun naskah, juga terlibat langsung dalam menggelar berbagai percakapan literasi, baik diselenggarakan secara formal, informal, maupun non-formal.

Kamaruddin didaulat menjadi pengendali percakapan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Banyak momen terselenggara sekaitan dengan percakapan GLS, kemudian dirumuskan dalam satu naskah, lalu akan dipresentasikan di percakapan formal.

Demikian pula dengan Ikbal Haming, ditugaskan untuk mengonsolidasikan gagasan-gagasan terkait dengan Gerakan Literasi Masyarakat (GLM), sedangkan Adusliadi Massere dipercayakan untuk mengawal ide-ide seputar Gerakan Literasi Keluarga (GLK).

Tim juga bekerja secara intens melakukan FGD dengan OPD terkait. Pada tanggal 27 Mei 2022, bertandang ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bantaeng, guna curah pendapat terkait gerakan literasi dalam kaitannya dengan institusi pendidikan. Sama halnya dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bantaeng, pada tanggal 31 Mei 2022.

Selain itu, Saya acapkali melakukan anjang sana ke beberapa titik komunitas literasi, guna melakukan tukar pendapat dan pengalaman terkait aktivitas literasi. Juga ke beberapa desa, baik yang sudah ramah dengan aktivitas literasi, maupun yang masih tertinggal geliat literasinya.

Tak kalah intensnya, saya ditemani beberapa kawan melakukan percakapan nonformal dan informal dengan berbagai pihak, tokoh masyarakat dan agama, serta para pegiat dan penggiat literasi.

Semua dinamika percakapan tersebut di atas, lalu diselenggarakan percakapan publik di Desa Bonto Jai, pada tanggal 5 Juni 2022. Salah satu rangkaian percakapan publik, dilaksanakan pula sawala dan launching buku, Menulis Desa Membangun Indonesia, mencanangkan Desa Bonto Jai sebagai Desa Literasi.

Seluruh elemen masyarakat hadir mempercakapkan jagat literasi yang bakal bermuara pada Perda Literasi Bantaeng. Bupati Bantaeng, Ilham Azikin, beserta beberapa kepala OPD, camat, lurah, dan kepala desa hadir. Aktivis pemuda, mahasiswa, dan pelajar tak ketinggalan. Tokoh perempuan, tokoh agama, dan tokoh masyarakat menyata di arena. Aktivis pemberdayaan masyarakat, hingga masyarakat umum tampak membersamai percakapan publik.

Berlapik pada kronologi percakapan dan gagasan-gagasan yang diserap dengan berbagai macam cara, itulah yang mendasari penyusunan NA-Ranperda Penyelenggaraan Gerakan Literasi di Bantaeng. Tim penyusun merangkum semua pikiran-pikiran yang lahir dari momen-momen curah pendapat.

Arkian, akumulasi serangkaian percakapan berpucuk pada rumusan NA-Ranperda tersebut, diserahkan kepada Bapemperda DPRD Kabupaten Bantaeng untuk ditindaklanjuti. Akhirnya, Senin, 19 September 2022, bertempat di Ruang Aspirasi DPRD Bantaeng, Bapemperda DPRD Bantaeng mengadakan konsultasi publik.

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *