BantaengBudayaEdukasiSejarah

Letta: Segumpal Kenangan Penentu

Kembali ke setelan pabrik. Satu pernyataan sering diungkapkan, tatkala suatu produk ingin direorientasi, sebagai akibat dari perjalanan orientasi. Baik sesuai harapan, maupun melenceng dari tujuan. Lima tahun pertama perjalanan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, sejak 1 Maret 2010, bermarkas di Letta. Di rumah pengetahuan ini, fondasi gerakan literasi disetel. Semacam laboratorium gerakan, ada eksplorasi intelektual-spiritual, dikontekskan lewat uji coba program. Akumulasi selama lima tahun, menjadi pelabur Boetta Ilmoe menapaki gerakan selanjutnya, seiring dengan pindahnya markas ke Lamalaka.

Markas gerakan berbentuk rumah tinggal, milik seorang pelaut, tiada lain kakak saya sendiri. Meskipun kepunyaan saudara, saya tetap kontrak, tentu dengan harga turikale, famili. Tindakan pertama saya lakukan, mendirikan toko buku, sebagai cabang dari Toko Buku Paradigma Ilmu Makassar. Tidak butuh waktu lama bersosialisasi, kawan-kawan lama, para aktivis di Bantaeng merapat, Sering terjadi diskusi. Arkian, saya inisiasi comunity (komunitas) dan institute (institut), mengikuti pola Toko Buku Paradigma Ilmu dan Toko Buku Papirus Makassar. Sehingga terwujud Paradigma Group.

Sesarinya, setiap saya mendirikan toko buku, maka ciri utamanya, selalu ada komuitas dan institut. Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, selain toko buku, hadir pula komunitas dan institut. Pengelola toko buku dan rumah baca, saya tunjuk Saenal Asri. Kepala suku komunitas, saya ajak Dion Syaif Saen. Sedangkan penanggung jawab institut, saya percayakan ke Kamaruddin. Sebagai pengikat secara keseluruhan, saya mendapuk diri selaku CEO (Chief Executive Officer).

Kelembagaan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan dengan tiga kaki, mulai mengarsiteki gerakan literasi di Bantaeng. Bisnisnya (toko buku dan rumah baca)  dikelola secara kewirausahaan sosial (terinspirasi minda Muhammad Yunus, pemenang hadiah Nobel, lewat bukunya, Bisnis Sosial). Komunitas menyasar remaja-pelajar. Institut berjibaku dengan para aktivis.

Ibarat tim sepak bola, Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, memasang tiga striker (toko buku-rumah baca, institut, dan komunitas). Bak senjata, serupa trisula. Atau seperti cerita sebuah novel anggitan Alexandre Dumas, kemudian difilemkan, The Three Musketeers, (Tiga Pendekar).

Sewaktu toko buku dan rumah baca saya sandingkan, tidak sedikit penilaian sebagai tindakan gila. Padahal, sederhana saja motifnya, agar tidak ada lagi alasan bagi warga Bantaeng untuk malas baca buku. Bila tak punya duit untuk beli buku, ada rumah baca sebagai perpustakaan gratis. Pasutri, Saenal dan Hijrah, sangat lihai mengawal toko buku dan rumah baca, sekaligus berfungsi sebagai kepala sekretariat.

Begitu institutnya mulai beroperasi, berbentuk program kajian, diskusi beragam tema (filsafat, sosial-politik, budaya, pendidikan, dan agama). Narasumbernya berasal dari dan luar Bantaeng. Waktunya mingguan, kadang bulanan. Sebagai salah satu pusat kajian, berkonsekuensi pula menjadi dapur pemikiran. Berkat dukungan dari para aktivis, program-program institut menggairahkan tagline awal Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, “Hadir untuk Pencerahan Intelektual-Spiritual”. Kamaruddin sebagai kordinator program berhasil menggairahkan diskrsus intelektual-spiritual. Apatah lagi ia sendiri berlatar aktivis, mantan Ketua Umum Koskar PPB dan Ketua Umum HMI-MPO Cabang Makassar.

Komunitas tak ketinggalan gerbong. Lewat tangan Dion, berlatar seniman, cukup mahir memukau para remaja dan pelajar. Mereka digodok terlebih dahulu lewat program Quntum Training (Learning, Reading, dan Writing). Quantum Learning mengarahkan bagaimana belajar menyenangkan, Quantum Reading mengantar ke tradisi baca mengasyikkan, dan Quantum Writing menumbuhkan semangat menulis buat terapi jiwa. Berlapik pelatihan kuantum, berikutnya disuntikkan cara hidup berkomunitas, lewat berkesenian atau lainnya. Komunitas eksis, karena sekaum remaja-pelajar telah menjadikan Boetta Ilmoe sebagai rumah keduanya.

Komunitas makin bertumbuh, meskipun tidak ada syarat formal untuk bergabung. Cuman, ada tiga pintu buat berinteraksi dan menjadi bagian dari komunitas. Melalui interaksi di toko buku-rumah baca, kajian-diskusi di institut, dan rekrutmen langsung lewat pelatihan di komunitas. Akhirnya, komunitas berisi beragam latar belakang: usia, pendidikan, dan profesi, Rumah besarnya, Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan.

Dari rumah besar komunitas seluruh aktivitas dibentangkan. Tagline ikut berubah menjadi, “Dari Komunitas untuk Masyarakat Literasi Bantaeng”. Beragam momen dijadikan lahan bercocok tanam kegiatan. Ketika tiba tanggal cantik, 11-11-2011, Boetta Ilmoe-Rumah Penegetahuan belum cukup usia setahun, sudah melakukan pentas akbar di Gedung Pertiwi. Sebelumnya, pentas tak kalah serunya, digawangi oleh sekaum pelajar hasil pelatihan kuantum di pelataran Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan.

Pentas Milad ke-2, 1 Maret 2012, menegaskan tema, “Mencipta Karya Menuju Gerbang Ilmu Pengetahuan”. Pementasan didukung oleh teater dari sekaum pelajar, Hitam Putih, hasil asuhan komunitas. Pementasan dalam rangka Milad ke-3 digelar, menyodorkan tema, “Merajut Bingkai Literasi di Butta Toa”. Memasuki usia keempat tahun, Milad ke-4, dihelat pada 15 Maret 2014, menyuguhkan tema, “Literasi: Cinta di Ambang Sejarah”.

Penerbitan buku semasa markas di Letta, mencapai sepuluh judul, beraneka tema, latar penulis. Baik ditulis secara perorangan maupun berjemaah. Dan, setiap buku terbit, pasti dirayakan dan dipentaskan. Sekadar menyebut saja, Narasi Cinta dan Kemanusiaan, anggitan Dion Anak Zaman, dirayakan pementasannya, 7 Juli 2012. Dari 12 Menjadi 127, diluncurkan pada 12 Desember 2012. Helatan ini sekaligus sebagai persembahan hari jadi Bantaeng ke-758. Putih Abu-Abu, diluncurkan dan dipentaskan pada 28 September 2013. Titisan Cinta Leluhur, 19 Januari 2014, selain pementasan musikalisasi puisi, juga dirangkaikan dengan workshop literasi.

Sekotah peluncuran dan pementasan, berpusat di Gedung Pertiwi. Kecuali, Milad ke-5, 28 Maret 2015, dirangkaian launching buku AirMataDarah, disertai monolog, bertempat di halaman Balla Lompoa Letta, Sayangnya, Gedung Pertiwi sudah beralih fungsi, menjadi ruang pameran potensi Bantaeng. Sederet pementasan hadir, baik untuk urusan milad maupun launching buku, selalu dikemas berwajah literasi.

Akumulasi pengalaman selama lima tahun di Letta, menjadi fondasi gerakan pada tahun-tahun berikutnya. Kerangka gerakan sudah terbentuk. Menjadi pijakan strategi buat melanjutkan napas gerakan berikutnya. Boleh jadi, telah terbentuk semacam vision la monde, sisa diterjemahkan dalam bentuk-bentuk artikulasi sesuai medan kejuangan berikutnya. Setelan pabrik ala Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, ada pada vision la monde-nya, serupa pandangan dunia. Kasarnya, sebentuk pedoman ideologis untuk kembali.

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *