BantaengBudayaLiterasiSejarah

Literasi Budaya Demi Pemajuan Budaya

Seorang karib, Haedir Thumpaka, bertanya via telepon pintar, di mana keberadayaan saya? Saya pun menjawab, sementara di mukim: Makassar. Lalu, ia menegaskan, sekiranya saya ada di Bantaeng. Saya pun menyatakan, sejak banjir menyerbu Makassar, saya balik ke mukim. Dan, masih di Makassar, sebab BMKG kembali merilis bakal adanya cuaca ekstrim, 20-23 Februari 2023. Sebagai warga Kota Makassar, rasa cemas menerungku, akibat rilis itu. Meskipun saya mukim di Makassar, tapi aktivitas di tanah kelahiran Bantaeng, satu dasawarsa terakhir lumayan padat, mengawal gerakan literasi. Sehingga, saya sebagai anak negeri, main dua kaki, antara Makassar-Banateng.

Haedir pun berharap, saya bisa hadir di hajatan Dialog Budaya, pada Jumat, 24 Februari 2023, 13.30-16.00 WITA, bertempat di Café D’Taman. Temanya: Pemajuan Kebudayaan Menuju Indonesia Emas 2045. Percakapan dihelat dalam rangka Kongres Kebudayaan Sulawesi Selatan Tahun 2023. Penyelenggara, kolaborasi Yayasan Sulapa Eppae Makassar dengan Karang Taruna Bantaeng. Di undangan acara termaktub sub tema: Gerakan Literasi untuk Pemajuan Budaya Makassar. Foto undangan kiriman Haedir, membuat saya langsung bergairah dan spontan menyatakan kesiapan hadir.     

Patokan waktu hajatan saya penuhi, mengada persis jadwal yang ditandaskan. Jumlah penghadir masih sejumlah jari tangan kanan saya. Duduk santai sembari membatin. Menangkap keliaran risau pikir, mengikat dalam kalimat, mempercakapkan budaya tiada matinya, walau pengabaian terhadap budaya menjadi lakon biasa. Lalu teringat dengan defenisi dari penabalan Gerakan Literasi Nasional (GLS), “Literasi budaya adalah pengetahuan dan kecakapan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa.”

Lintasan-lintasan perkelahian pikiran itu, mengantar pada suasana kehangatan arena percakapan. Segenap undangan telah hadir. Lebih dari dua kali jari tangan kanan-kiri saya. Sepertinya undangan terbatas. Tak lama berselang, pemantik percakapan menyata, ternyata seorang legislator MPR-RI, Anggota DPD asal Sulawesi Selatan, Dr. H. Ajieb Padindang. Ada ramah tamah sejenak, lalu santap siang bersama. Kalakian, gong percakapan ditabuh, diantar oleh tampilan musik minimalis Komunitas Pakampong Tulen (Komplen) Bantaeng, dengan personil, Dion, Haedir, dan Daus. Lagu manis terilis, kelong mangkasara, ciptaan Udhin Pansel, “Jalarambanna Bantaeng”. Ajieb Padindang terpukau dengan tembang pengantar, diambilnya pelantang suara, bukan untuk bernyanyi, tapi mengomentari tembang dan menyawer. Satu penanda keakraban dengan personil kelompok seni pakampong.

Hiburan pengantar berlalu, doa buat kesuksesan dialog dipanjatkan sesosok ustas, Irman Nur. Percakapan dipandu langsung Ahmad Yani, Ketua Karang Taruna Bantaeng. Ajieb Padindang memantik sawala budaya. Dibeberkannya maksud persamuhan, akan dilaksanakan Kongres Kebudayaan Sulawesi Selatan Tahun 2023, maka Yayasan Sulapa Eppae yang ia dirikan dan menjadi pembina, merupakan institusi yang fokus pada upaya-upaya pemajuan kebudayaan bersama lembaga lainnya, mempersiapkan kongres dengan menggelar dialog budaya di beberapa daerah Sulawesi Selatan.

Dinamika persamuhan makin menukik ke perkara keprihatinan model pembangunan berorientasi fisik semata. Ada ungkapan miris dari seorang Ajieb Padindang atas pembangunan yang lebih mengutamakan dimensi raga dan abai terhadap jiwa negeri. Padahal, komitmen para pendiri bangsa, telah mengikatnya dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya, “bangunlah jiwanya bangunlah badannya”. Artinya, bangun dulu jiwanya, baru bangun raganya. Penegasan pembangunan jiwa, semaksud dengan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Membangun raga negeri ada batas kuantitatifnya, sementara membangun jiwa negeri tiada batas kualitatifnya.

Sodokan-sodokan minda dari Ajieb Padindang, memancing Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Drs. Muhammad Haris, M.Pd, selaku pemantik sawala kedua, ikut memadatkan persamuhan. Jikalau Ajieb Padindang datang dengan sederet gugatan, maka Muhammad Haris hadir dengan seikat gugahan. Dinyatakannya bagaimana kerumitan mengurai perkara budaya Bantaeng. Namun, telah ditelurkan berbagai kebijakan berkonotasi literasi budaya, khususnya di bidang pendidikan, guru sebagai ujung tombak pemajuan budaya Bantaeng.

Pantikan Ajieb Padindang dan Muhammad Haris, memancing penghadir ikut bersilat pikiran. Sebagai salah seorang penghadir, didapuk agar ikut bersamuh. Saya pun mengajukan penggalan-penggalan minda, terkait manusia Bantaeng dan budayanya. Yang manakah budaya Bantaeng? Sungguh pertanyaan ini saya kemukan seimajinatif mungkin, agar cakrawala persamuhan lebih mekar adanya. Coba bayangkan saja, sekira 4.700 tahun lalu , sudah ada kehidupan bermasyarakat di Bantaeng, sekumpulan Orang Toala, peninggalannya masih awet di Gua Batu Ejayya. Lalu, gelombang pemukim berikutnya, manusia Austronesia menghuni Bantaeng, bermukim dalam rentang waktu cukup lama, berjejak budaya Megalitik. Arkian, masuk periode kerajaan, ditengarai sekitar 800 tahun silam, lalu memasuki periode Islam, kolonial, kemerdekaan, dan kiwari.

Minda imajinatif demikian saya ajukan, agar sawala budaya Bantaeng, tidak berakhir di persamuhan ini. Dialog dalam rangka kongres, menjadi pintu strategis untuk selalu menghangatkan percakapan budaya, khususnya budaya orang Bantaeng. Sesi tanggapan berujung pada usulan menarik dari Ajieb Padindang, agar segera menggagas Perda Pemajuan Budaya Bantaeng. Selain Muhammad Haris sebagai Kadis Pendidikan dan Kebudayaan, para penghadir pun sangat mengapresiasi gagasan tersebut.

Di pucuk persamuhan, usai hajatan ditutup, kembali ramah tamah sejenak. Satu lagi persembahan tembang balada, ciptaan Komplen dinyanyikan, sebentuk lagu gugatan sekaligus gugahan, “Sabana”. Tatkala Ajieb Padindang hendak meninggalkan arena, saya mendekat padanya. Bercakap-cakap lebih intim. Saya pun menyampaikan, Perda Literasi sudah ada di Bantaeng. Desember 2022 diketuk, sebentuk Perda Penyelenggaraan Gerakan Litarasi di Bantaeng. Secuil lingkupnya saya dedahkan, Perda gerakan literasi tersebut merupakan derevasi dari Gerakan Literasi Nasional (GLS), menyasar enam literasi dasar, salah satunya, literasi budaya. Sederhananya, mendorong terlebih dahulu hadirnya budaya literasi, lalu literasi budaya menjadi salah satu komponen sasarannya. Sekotahnya hadir, demi pemajuan budaya.

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *