BantaengEdukasiInovasiLiterasi

Literasi Digital untuk Penguatan Desa

Pemakaian media digital dan penggunaan media sosial, oleh masyarakat maupun pemerintah desa, masih kurang dimanfaatkan. Padahal, sangat memengaruhi keseharian masyarakat, sekaligus sebagai sarana dalam penyampaian berbagai informasi penting mengenai program dan juga potensi desa. Begitupun banyaknya informasi yang beredar, terutama penyebaran hoaks. Jika tidak dibarengi dengan kemampuan menyaring informasi positif, maka bisa menjadi media penyebaran propaganda negatif, dapat menyesatkan masyarakat.

Lapik pertimbangan di atas, menjadi alas utama dari Kemitraan Bagi Pembaruan Tata Pemerintahan Program Penguatan Pemerintahan dan Pembangunan Desa. Sub Komponen 2B: Peningkatan Kapasitas Masyarakat dan Sistem Akuntabilitas Sosial, mengadakan sekolah lapang, bertajuk “Penguatan Literasi Digital Bagi Kelompok Rentan dan Marginal di Desa”.

Menurut koordinator tim teknis program, Sri Wahyuni, program kemitraan memilih empat desa di Kabupaten Bantaeng. Parangloe, Bontomajannang, Bontobontoa, dan Bontobulaeng. Peserta sekolah lapang di setiap desa, menghampiri 50 orang. Terdiri dari, tenaga ahli P3MD Bantaeng, kepala desa, BMD, aparat desa, kepala dusun, pendamping dan pendamping lokal desa, kader desa inklusi, kelompok perempuan, dan pemuda desa. Plus 2 narasumber, Dion Syaif Saen dan Sulhan Yusuf, terkait literasi digital.

Irfan Tawakkal, salah seorang pendamping desa di Bantaeng, dalam tulisannya di https://gerakliterasidesa.blogspot.com/, berjudul “Cerita Kancil: Sekolah Lapang Literasi Desa”, mendedahkan potret kemitraan ini. Sekolah lapang yang diinisiasi oleh kader-kader pemberdayaan desa (kader inklusi desa}, merupakan kerjasama program penguatan pemerintah dan pembangunan desa (P3PD) oleh Kementerian Desa PDTT, sedangkan Kabupaten Bantaeng menjadi daerah pilot proyek keberadaan desa inklusi dan desa cerdas.

Lebih jauh Irfan menulis, secara historis, ekosistem inklusivitas pembangunan desa di Bantaeng telah berlangsung lama. Semisal, munculnya kesadaran warga desa, untuk terlibat aktif pada setiap tahapan pembangunan desa. Puncaknya, pemerintah Bantaeng telah membuatkan perundangan memuat inklusivitas desa. Berangkat dari kesadaran warga desa, memosisikan diri sebagai pelaku pembangunan desa, maka dianggap perlu warga memiliki pengetahuan dan kapasitas tentang literasi.

Sebagai salah seorang narasumber, saya menandangi Desa Bontobontoa, Sabtu, 25 Nopember 2023 dan Desa Bontobulaeng, Kamis, 21 Desember 2023. Kedua helatan berpusat di aula kantor desa masing-masing. Sajian minda saya sodorkan pokok percakapan, “Literasi Digital untuk Penguatan Desa”, sebagai adaptasi terhadap tajuk hajatan dari penyelenggara.

Sebagai pemanasan sajian topik percakapan, saya ajak penghadir untuk melambungkan imajinasi tentang negeri yang terpuruk literasinya, sekaligus mengemukakan rupa indah desa literasi. Tak lupa, saya sajikan pengertian dasar dari literasi menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, 2017. “Literasi adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan berbicara   .”

Lalu, saya tohokkan secara defenitif maksud literasi digital, “Pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.”

Kalakian, saya tabalkan makna penting literasi digital, “Literasi digital menjadi semakin penting ketika teknologi digital mendominasi hampir semua aspek kehidupan seperti saat ini. Dengan literasi digital yang baik, kita memiliki keunggulan dalam menghadapi tantangan dan peluang yang datang bersamaan dengan perkembangan teknologi informasi. Literasi digital juga membantu kita dalam menjaga keamanan dan privasi dalam dunia digital yang semakin kompleks.”

Berikutnya, saya bertanya, apa tantangan dari literasi digital? Namun, saya jawab sendiri, bahwa keberlimpahan informasi, konten negatif, hoax (berita bohong), fake news (berita palsu), dan hate speech (ujar kebencian), serta matinya kepakaran, merupakan perkara nyata yang harus dilawan dengan kapasiatas literasi digital.

Selain itu, saya tuturkan pula manfaat literasi digital bagi pemerintah desa. Di antaranya, desa dapat mempromosikan segala potensi, media digital dapat menjadi pusat informasi jejaring desa, pemerintah desa dapat mengedukasi warga lewat media digital, dan melakukan pencerahan agar bijak dalam bermedia digital, serta menyediakan layanan secara daring.

Sedangkan bagi warga desa, sebentuk sarana mengadvokasi kelompok rentan, pemuda, dan perempuan. Pun, warga desa diajak untuk bermedia sosial secara cedas, mencegah agar pencetan jari tidak lebih cepat dari pikiran, menjadikan media sosial sebagai pengembangan diri, dan menumbuhkan tradisi literasi agar bisa mengenali hoaks.

Di sela-sela hajatan sekolah lapang, saya bercakap-cakap dengan seorang lelaki muda, Thamrin, Kades Bontobulaeng, tentang perlunya ditindaklanjuti program kemitraan ini secara lebih taktis. Saya menawarkan serupa pelatihan literasi, fokusnya pada peningkatan kemampuan warga untuk menjadi pewarta bagi desanya. Mungkin berbentuk pelatihan citizen reporter, jurnalisme warga, agar lintasan-lintasan informasi cukup standar.

Namun, sebelumnya penting sekali untuk membekali kapasitas literasi paling dasar. Menubuhkan ke warga dan pemerintah desa, nenek-kakek moyangnya literasi, berupa kemampuan baca-tulis agar menjadi tradisi membaca dan menulis.

Selaku kades baru terpilih, tampaknya Thamrin tertarik dengan percakapan dan usulan saya. Cuman, ada masalah mendasar di Desa Bontobulaeng, khususnya di sekitaran kantor desa. Apa itu? “Tiada jaringan internet,” tegas Tamrin.

Rupanya, harus segera berhubungan dengan Kominfo Bantaeng atau pihak terkait lainnya.

Sepulang dari hajatan sekolah lapang, saya bercakap-cakap dengan Irfan Tawakkal, sang pendamping desa. Maklum, Irfan selalu memberikan tumpangan selama menandangi dua desa. Waima waktunya berlainan. Satu hal, saya bilang ke Irfan, bagaimana kalau program kemitraan ini merata helatannya di sekotah desa Kabupaten Bantaeng. Apatah lagi, bila desa-desa tersebut menghelatnya secara mandiri.

Saya mengimajinasikan, serentang waktu ke depan, apa yang menjadi lapik penyelenggaraan sekolah lapang oleh program kemitraan, mungkin dapat teratasi. Paling tidak, kanalisasi laju pertumbuhan jagat digital dengan segala konsekuensinya dapat diatasi. Media digital dan media sosial makin ramai kendalanya, tapi terkendali di tangan warga dan pemerintah desa. 

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *