BantaengBudayaDaeng Litere'EdukasiJurnalisme WargaNewsSejarahTrending News

Maarif Lasepang: Tua dan Bertuah

Oleh: Sitti Zuhraeni

Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama (LP Maarif NU) merupakan aparat departemen di lingkungan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Lembaga ini dibentuk bertujuan untuk mewujudkan cita-cita pendidikan NU. Bagi NU, pendidikan merupakan pilar utama yang harus ditegakkan demi mewujudkan masyarakat yang mandiri.

Sejak tahun berdirinya (1926), NU secara aktif melibatkan diri dalam gerakan-gerakan sosial-keagamaan untuk memberdayakan umat. Dalam rangka membuat lini organisasi yang efektif dan mampu merepresentasikan cita-cita NU, maka dibentuklah lembaga-lembaga dan lajnah di berbagai bidang. Ada lembaga dakwah, lembaga pendidikan, lembaga kesehatan, lembaga sosial, lembaga pengembangan pertanian, dan lembaga lainnya.

Merujuk Arifin Junaidi, lewat tulisannya, “LP Maarif NU dari Masa ke Masa,” di maarifnujatim.or.id, tiga tahun setelah berdirinya organisasi NU, LP Maarif NU pun terbentuk. Pada awal September 1929, tiga tokoh NU mengadakan pertemuan di kantor Hoof Bestur Nahdlatul Oelama (HBNO) di Jl. Bubutan Kawatan Surabaya. Mereka adalah Wahid Hasyim, Mahfudz Shiddiq, dan Abdullah Ubaid. Hasil pertemuan tersebut menyatakan perlunya dibentuk lembaga atau bagian di HBNO yang khusus mengurusi pendidikan, yang diberi nama Maarif.

LP. Maarif NU resmi dibentuk pada tanggal 19 September 1929 M dalam Muktamar NU yang keempat di Semarang. Sebagai lembaga yang diberi kewenangan untuk mengelola pendidikan di lingkungan NU, LP Maarif mempunyai visi dan misi yang selalu diperjuangkan demi meningkatkan kualitas pendidikan.

Sumber resmi dari LP Maarif NU, mengungkapkan lembaga ini berfungsi sebagai pelaksana kebijakan-kebijakan pendidikan Nahdlatul Ulama. Lembaga ini memiliki struktur organisasi yang sejalan dengan struktur NU. Mulai dari Pengurus Besar (LP Maarif PBNU) di tingkat Pusat, Pengurus Wilayah (PW LP Maarif NU) di tingkat propinsi, Pengurus Cabang (PC LP Maarif NU) di tingkat kabupaten, Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC LP Maarif NU) di tingkat kecamatan, dan Pengurus Maarif di tingkat madrasah/sekolah/pondok pesantren.

Mengacu pada struktur organisasi yang diatur dalam Peraturan Dasar/Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) di LP. Maarif NU, maka terbentuklah susunan kepengurusan pada tingkat yang lebih dekat dengan masyarakat di daerah-daerah. Termasuk di wilayah kabupaten yang ada di Propinsi Sulawesi Selatan.

Menurut Dr. Abd. Latif, sejarawan Universitas Hasanuddin, dalam artikelnya, “Sejarah NU Sulsel dari 1930-an hingga Era Milenial” di Tribun-Timur.com. 22 Oktober 2018, menuliskan keberadaan NU di Sulawesi Selatan secara kelembagaan dan organisasi bermula pada masa tahun 1950-an (setelah Kemerdekaan Republik Indonesia). Namun, paham Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Aswaja) yang identik dengan NU sudah berkembang di Sulawesi Selatan (Sulsel) jauh sebelum itu. Bahkan embrio lahirnya NU di Sulsel sudah ada sejak tahun 1930-an. Selain itu, beberapa sumber mengungkapkan bahwa NU baru mulai diperkenalkan secara intens dan terbuka di Sulsel pada tahun 1950-an. Ini dilakukan oleh pengurus-pengurus NU di Jawa untuk memperluas jangkauan organisasi ke daerah-daerah di luar Jawa.

Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Lasepang Kabupaten Bantaeng merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua di kabupaten Bantaeng. Sebuah lembaga pendidikan yang dibentuk oleh pengurus masjid Nurussa’adah Lasepang Kabupaten Bantaeng bekerjasama dengan pengurus Cabang NU Kabupaten Bantaeng. Hal ini diperkuat dengan adanya tulisan dari seorang sejarawan bernama Drs. Daeng Mapata. Dalam bukunya yang berjudul Siri’ Na Pacce dan Feodalisme Manusia Makassar.

Daeng Mapata menyebutkan, pendidikan Islam secara formal yang diperkirakan berdiri pada tahun 1960-an adalah Muallimin yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU). Pada mulanya, lembaga pendidikan ini hanya berbentuk kelompok halaqah (pengajian umum) bagi masyarakat di kampung Lasepang Kabupaten Bantaeng. Pengajian ini diasuh oleh seorang ulama yang bernama Kyai Haji Andi Mukhtar yang lebih dikenal dengan nama Puang Mukhtar.

Penelusuran saya dari beberapa sumber lisan, Puang Mukhtar tinggal di kampung Lasepang sejak menikah dengan Puttiri, adik dari Ustadz Abdul Kadir Pataba sekitar tahun 1950-an. Sebelumnya, beliau datang ke kampung Lasepang hanya sekadar untuk berdagang dan sekaligus menyebarkan ajaran agama Islam.

Adapun Ustadz Abdul Kadir Pataba merupakan menantu dari Puang Patellongi, salah satu tokoh agama keturunan suku Bugis di Kampung Lasepang yang berasal dari Bone. Beliau menikahi adik dari Ustadz Abdul Djabbar yang bernama Sitti Badariah. Hubungan kekerabatan antara Puang Mukhtar dengan Ustadz Abdul Kadir Pataba semakin erat setelah pernikahannya yang kedua dan ketiga. Istri kedua Puang Mukhtar adalah adik sepupu dari Ustadz Abdul Kadir Pataba yang bernama Hajrah. Sedangkan istri ketiganya adalah putri sulung dari Ustadz Abdul Kadir Pataba yang bernama Hafsah.

Selain Ustadz Abdul Kadir Pataba, ada lagi dua saudara laki-lakinya yang juga sangat pro-aktif dalam proses terbentuknya LP Maarif NU Lasepang. Mereka adalah Ustadz Syuaib Pataba dan Ustadz Mubarak Pataba. Kedua tokoh LP Maarif NU Lasepang ini memegang peranan penting dalam kepengurusan NU di Kabupaten Bantaeng pada saat itu.

Ustadz Syuaib Pataba pada masa awal berdirinya LP Maarif NU Lasepang memiliki beberapa jabatan strategis, yakni: a) Ketua PC. Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama Kabupaten Bantaeng, b) Ketua PC. Lembaga Pendidikan Maarif NU Kabupaten Bantaeng, c) Pegawai Negeri Sipil di Kantor Departemen Agama (Depag) Kabupaten Bantaeng, d) Anggota DPRD Tingkat II Kabupaten Bantaeng dari Partai NU hasil Pemilu I tahun 1955 bersama tiga orang lainnya, yakni H. Muh. Saleh, Yusuf Hamjal, dan Andi Ahmad Maddaremmeng.

Sedangkan Ustadz Mubarak Pataba adalah Ketua Pengurus Cabang Ikatan Putra Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Bantaeng yang pertama. Belasan tahun kemudian beliau pindah domisili ke Ujung Pandang. Dalam perjalanan karirnya sebagai Pegawai Negeri Sipil di Kantor Departemen Agama (Depag) di Ujung Pandang, beliau pernah menjabat sebagai Kepala Balai Diklat Keagamaan Departemen Agama Propinsi Sulawesi Selatan. Beliau dijuluki sebagai tenaga penggerak LP Maarif NU Lasepang sebab hamper semua kegiatan siswa di Maarif NU Lasepang selalu difasilitasi olehnya.

Kedatangan Puang Mukhtar di kampung Lasepang diterima dengan baik oleh seluruh warga. Selain karena mereka sudah sering melakukan transaksi dalam perdagangan, beliau juga sudah menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Lasepang. Warga kampung yang sebagian besar adalah keturunan dari suku Bugis (Bone) pada masa itu sudah menganut ajaran Islam yang berpaham Ahlussunnah Wal Jama’ah atau Aswaja. Mereka sangat terbuka menerima kedatangan Puang Mukhtar yang secara rutin mengadakan pengajian agama di masjid.

Atas kesepakatan para pengurus masjid Nurussa’adah Lasepang dengan pengurus NU Kabupaten Bantaeng, halaqah atau kelompok pengajian yang dibina oleh Puang Mukhtar diubah bentuknya menjadi pendidikan formal. Proses kegiatan pendidikan pun direncanakan akan pindah ke lokasi baru dengan menggunakan fasilitas belajar ala kadarnya. Seiring berjalannya waktu, para tokoh agama dan tokoh masyarakat di kampung Lasepang sepakat agar kelompok pengajian yang bentuknya non-formal ini diubah menjadi pendidikan formal.

Mu’allimin adalah nama pertama dari lembaga pendidikan ini. Setelah beberapa tahun berlalu, namanya berganti menjadi Pendidikan Guru Agama (PGA) 4 tahun dan Pendidikan Guru Agama (PGA) 6 Tahun. Perubahan nama ini berdasarkan kebijakan pemerintah di bidang pendidikan pada waktu itu. Hingga akhirnya berubah menjadi Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Maarif NU Lasepang Kabupaten Bantaeng.

Menurut beberapa sumber tutur, sejak berubahnya bentuk dan nama pendidikan ini menjadi Muallimin, tempat belajarnya pun dipindahkan ke lokasi yang lebih strategis. Tempat belajar yang awalnya berada di tengah-tengah kampung Lasepang lalu beralih ke bagian utara kampung yang berdekatan dengan jalan poros propinsi Sulawesi Selatan. Di sinilah Lembaga Pendidikan Maarif NU Lasepang Kabupaten Bantaeng berlokasi hingga sekarang.

Sejak tahun 1958, lembaga ini telah menamatkan ribuan alumni yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, bahkan ada yang sekarang bertugas di luar negeri. Profesi para alumni LP. Ma’arif NU Lasepang pun beragam. Ada yang jadi polisi, dokter, perawat, guru (tenaga pendidik), TNI, arsitek, politisi, muballigh, pengusaha, dan sebagainya.

Saya pun menemui, Anwar Tabrani, Ketua Ikatan Alumni (IKA) Maarif NU Lasepang Kabupaten Bantaeng, guna menguatkan tuah dari Maarif Lasepang. Ia menegaskan, “Kurang lebih 92% guru agama senior yang ada di Kabupaten Bantaeng saat ini adalah alumni dari Pendidikan Guru Agama di Lembaga Pendidikan Maarif NU Lasepang.

Saya meyakini bahwa ada keistimewaan tersendiri pada lembaga pendidikan Islam ini. Ada hal yang menarik untuk ditelusuri dan dikaji mengenai lembaga ini didirikan sehingga dalam perkembangannya sampai saat ini jumlah peserta didiknya masih berada di posisi pertama terbanyak se-Kabupaten Bantaeng. Posisi ini bahkan mampu mengungguli jumlah peserta didik di madrasah negeri.

Sitti Zuhraeni. Lahir di Bantaeng, 15 Mei 1982. Buah hati kesebelas dari pasangan Kyai Abdul Djabbar dan Sitti Rohani. Aktif sebagai tenaga pendidik di MAS. Ma’arif NU Lasepang Bantaeng sejak tahun 2004 hingga sekarang.

Ahmad Ismail

Fotografer-Videografer/Jurnalis Lepas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *