EdukasiJurnalisme Warga

Membangun Budaya Positif di Sekolah: Sebuah Catatan KKG

Tujuan pendidikan, kata Ki Hajar Dewantara, adalah, “Menuntun segala kodrat yang ada pada anak untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.” Itulah kalimat pembuka yang disitir oleh Guru Arfah, alumni Guru Penggerak, selaku pemateri dalam kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) PJOK Tompobulu lama di SD Negeri 72 Bonto Marannu, Selasa 19 September 2023.

KKG adalah wadah guru berbagi pengetahuan dan praktik baik pembelajaran. Setidaknya, kegiatan ini terlaksana setiap sebulan sekali, menjadi tempat berkumpul puluhan guru PJOK dari tiga kecamatan: Tompobulu, Gantarangkeke, dan Pa’jukukang.

Laiknya agenda di undangan, materinya adalah “Pengimbasan Budaya Positif”. Dalam slide-nya, Guru Arfah mendakukan budaya positif meliputi 6 hal: Perubahan paradigma stimulus respon, konsep disiplin positif, keyakinan kelas, pemenuhan lima kebutuhan dasar manusia, lima posisi kontrol, dan segitiga restisusi.Tulisan ini hadir coba merekam kilatan pikiran-pikiran guru dalam perhelatan itu.

Membuka persamuhan, Guru Arfah mengajukan pertanyaan retoris, “Apa itu budaya positif?” yang kemudian disambar oleh kawan guru lain, baginya redaksi budaya positif digunakan, sebab selama ini kultur yang terbangun di sekolah adalah budaya negatif. Hadirnya budaya positif diharapkan, mampu menegasi budaya negatif yang selama ini mengakar di sekolah. Benarkah demikian? Silakan pembaca merefleksikannya.

Lalu, apa budaya positif yang dimaksud Guru Arfah? Budaya positif adalah nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat, dan bertanggung jawab.

Budaya positif hadir untuk membentuk suatu lingkungan yang aman dan nyaman, sehingga memberikan kesempatan bagi murid untuk berproses, belajar, membuat kesalahan, belajar lagi sehingga mampu menerima dan menyerap suatu pembelajaran. Kita sadar betul, bahwa jika seseorang mengalami tekanan dari lingkungannya, maka proses pembelajaran akan sulit terjadi.

Contoh sederhananya yaitu kebiasaan mencontek murid itu lahir karena ia takut salah, karena kesalahan akan membuat nilainya rendah, nilai rendah akan membikin rangkingnya anjok, ranking yang anjlok membikin murid distigma dongok. Dalam konteks inilah, pembelajaran sulit terjadi sebab murid berada dalam tekanan kesempurnaan.

Itu sebabnya, penting menggeser paradigma dari stimulus-respon ke pendekatan teori kontrol Stephen R. Covey. “… bila kita ingin membuat kemajuan perlahan, sedikit demi sedikit ubahlah sikap atau perilaku Anda. Namun, bila kita ingin memperbaiki cara-cara utama kita, maka kita perlu mengubah kerangka acuan, ubahlah bagaimana Anda melihat dunia, bagaimana Anda berpikir tentang manusia, ubahlah paradigma Anda, skema pemahaman dan penjelasan aspek-aspek tertentu tentang relitas.”

Jika dalam stimulus respon kita melihat realitas (kebutuhan) kita sama, maka dalam teori kontrol realitas (kebutuhan) kita itu berbeda. Semua orang melihat hal yang sama dalam stimulus respon, maka dalam teori kontrol diyakini bahwa setiap orang memiliki gambaran berbeda. Dalam stimulus respon kita mencoba mengubah orang agar berpandangan sama denga kita, teori kontrol mengajak kita berusaha memahami pandangan orang lain tentang dunia. Jika perilaku buruk dilihat sebagai suatu kesalahan dalam stimulus respon, maka dalam teori kontrol meyakini bahwa semua perilaku memiliki tujuan. Begitulah seterusnya. Itulah budaya positif pertama.

Kedua, disiplin positif. Secara sederhana, disiplin positif adalah menerapkan disiplin kepada murid tanpa embel-embel hukuman (punishment) dan hadiah (reward). Sehingga terbangun sikap disiplin berdasar pada motivasi intrinsik. Di sekolah, kita sering menyaksikan bagaimana penerapan disiplin yang kurang tepat, sebab masih dilakukan dengan cara-cara “kolonial”. Atas nama disiplin, guru tidak segan memukul murid. Akhirnya, murid memang disiplin, tapi hanya ketika dilihat oleh guru.

Pendekatan disiplin positif bukan mengenai murid secara langsung, melainkan bagaimana cara guru memberi dampak positif bagi murid. Disiplin positif menitikberatkan pada pendekatan tanpa kekerasan, memotivasi, merefleksi kesalahan, menghargai, membangun logika, dan bersifat jangka panjang.


Ketiga, keyakinan Kelas. Sewaktu sekolah dulu, di dinding kelas kita melihat peraturan kelas. Peraturan ini biasanya dibuat oleh guru dan dilaksanakan oleh murid. Seperti yang dibilang Paulo Freire, Guru membuat aturan, murid mengikuti aturan. Hukuman pun biasanya tergantung mood guru. Kalau terlambat, guru bisa saja menghukum lari keliling lapangan. Salahnya apa, hukumannya apa. Tidak relevan. Tidak ada refleksi.

Kini, guru dikenalkan pada sistem keyakinan kelas. Sebuah sistem di mana murid dan guru duduk bersama membahas “aturan” kelas. Aturan ini biasanya berangkat dari problem yang sering dihadapi bersama. Jika kelas sering ribut, maka guru dan murid membahas terkait kondisi kelas ideal yang mereka inginkan, lalu merumuskannya ke dalam peraturan positif, yang kemudian disarikan menjadi nilai kebaikan/keyakinan kelas. Keyakinan kelas juga biasanya diiringi dengan konsekuensi, murid yang mengganggu misalnya tidak diminta lari keliling lapangan, tapi meminta maaf kepada teman yang diganggu setelah melakukan refleksi dengan guru.

Keempat, lima kebutuhan dasar manusia. Kita sepakat, bahwa seluruh tindakan kita memiliki tujuan. Semua yang dilakukan adalah upaya terbaik kita untuk memperoleh apa yang diinginkan. Ketika mendapatkan yang diinginkan, sejatinya saat itu kita sedang memenuhi satu atau lebih kebutuhan dasar kita: bertahan hidup (survival), kasih sayang dan rasa diterima (love and belonging), kebebasan (freedoom), kesenangan (fun), dan penguasaan (power).
Ketika murid di sekolah melakukan kesalahan atau melanggar aturan, sebenarnya itu disebabkan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka. Guru mesti pandai-pandai menggali kebutuhan dasar apa yang hilang dari diri murid.

Kelima, lima posisi kontrol. Diane Gossen dalam Restution-Restructuring School Discipline menjelaskan bahwa guru perlu meninjau ulang penerapan disiplin di sekolah. Apakah telah efektif, berpusat, memerdekakan, dan memandirikan murid. melalui rangkaian riset, Gossen tiba pada simpulan 5 posisi kontrol guru: penghukum, pembuat rasa bersalah, teman, pemantau, dan manajer.

Guru penghukum biasanya senang memberikan hukuman pada murid saat melakukan kesalahan, entah hukum verbal atau fisik. Guru pembuat rasa bersalah biasanya bersuara lembut, tapi menusuk. Ia senang membuat murid tenggelam dalam rasa bersalah dengan berceramah panjang lebar dan menunjukkan kekecewaan mendalam. Guru teman melakukan pendekatan persuasif kepada murid-murid, melakukan pemakluman laiknya seorang teman, sayangnya cara ini membikin murid menjadi pribadi yang lemah, bergantung, dan cenderung menunggu. Mencatat dan memantau adalah perbuatan guru pemantau. Sedang guru manajer adalah yang suka bertanya dan membuat kesepakatan, “Apa harapanmu sebenarnya?” “Apa yang bisa kamu lakukan untuk memperbaiki?” Percakapan berlangsung dua arah sehingga murid juga bisa mengemukakan pikiran dan perasaannya. Dari sini diharapkan lahir disiplin dalam diri, sebab motivasinya bersifat intrinsik.

Terakhir, segitiga restitusi. Sesuai namanya, restitusi adalah tindakan pemulihan, sebuah upaya yang dilakukan guru untuk membawa siswa menaati keyakinan kelas yang telah disepakati bersama, mengakuinya secara sadar dan terbuka ketika melakukan kesalahan, serta merasakan kenyamanan ketika sudah berperilaku jujur.

Menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan adalah segitiga restistusi. Dalam menstablikan identitas, guru biasanya mengatakan, “Setiap orang pasti pernah melakukan kesalah,” atau “Kamu bukan satu-satunya yang pernah melakukan ini.” Selanjutnya, di tahap validasi, guru menanyakan, “Kamu tentu punya alasan mengapa melakukan itu.”, lalu, “Adakah cara yang lebih efektif untuk mendapatkan apa yang kamu butuhkan?” di akhir, guru bisa menanyakan keyakinan muridnya , “Keyakinan kelas apa yang telah kita sepakati?” dan, “Kamyu ingin menjadi orang yang seperti apa?”

Dengan model segitiga restitusi, guru tidak menjadi hakim dan murid bukanlah terdakwa. Sebaliknya, murid diposisikan sebagai “korban” yang harus diberikan uluran tangan sehingga bisa kembali menemukan “yang hilang” dari dirinya.
Keenam budaya positif jika diejawantahkan oleh setiap guru di sekolah, tentu bisa membentuk iklim sekolah yang egaliter, inklusif, dan positif. Sebab semua-muanya mengedepankan dialog dan refleksi.

Sesuai agenda, pengimbasan budaya positif benar-benar menyebar ke dalam benak para guru-guru dan meresep ke dalam hati yang hadir. Ini dibuktikan dari tanggapan dan pandangan yang diuarkan oleh para peserta. Kita meyakini bahwa guru terbaik bagi guru adalah sesama guru itu sendiri. Di sinilah urgensi KKG, sebab guru yang sudah melakukan praktik baiknya, bisa berbagi dan membuka selebar-lebarnya ruang diskusi. Muaranya, KKG bisa menjadi pintu gerbang pencerahan. Dan itu mesti dimulai dari menyusun agenda KKG yang bermakna, bukan hanya penyeragaman administrasi pembelajaran.

Sumber gambar: Dokumentasi pribadi

Ikbal Haming

Guru PJOK SD Negeri 48 Kaloling, pustakawan di Rumah Baca Panrita Nurung, Dusun Borong Ganjeng, Desa Tombolo. Menulis buku kumpulan esai "Jika Kucing Bisa Bicara" (2021).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *