EdukasiJurnalisme WargaKareba

Membela Anak di Hari Pertama Sekolah

Sudah lebih sepekan anak-anak baru masuk sekolah, pakai rok merah, rambutnya ekor kuda. Seperti yang lalu lalu, hari pertama sekolah seperti pelangi setelah hujan: warna warni. Hari itu, anak-anak yang masih mungil digandeng orangtuanya. Mereka malu-malu menjejakkan kaki di kelasnya yang baru, tersipu-sipu saat disapa ibu/bapak guru, juga masih kikuk saat duduk bersisian dengan kawan baru.

Di luar, di balik tembok kelas, bapaknya mengintip dari kaca jendela, dengan sarung yang masih terlilit di pinggang, ia mengode anaknya agar duduk diam memperhatikan guru menjelaskan. Yang lain, berdiri di sisi pintu, supaya si anak bisa melihatnya dengan jelas, memastikan bahwa ibunya masih di sana, menunggu.

Tahun kemarin, di sekolah kami, SDN 48 Kaloling, Bantaeng, seorang anak harus didampingi keluarganya selama beberapa pekan, jika tidak melihat salah satu anggota keluarganya, maka ia akan menangis dan meminta pulang. Akhirnya, selama beberapa pekan keluarganya bergantian menungguinya di luar kelas, hingga jam pulang tiba. Itu pun beberapa kali ia akan menengok keluar, memastikan bahwa ia tidak ditinggal.

Drama seperti itu kita saksikan saban tahun ajaran baru. Jamak anak-anak yang rewel dan menangis di hari pertama sekolah. Tak sedikit pula orangtua yang menanggapinya dengan marah-marah, mungkin malu dengan sikap anaknya yang tetiba berubah. Padahal, bagi si anak, sekolah hari pertama adalah momok menakutkan: lingkungan baru, orang-orang asing, dan berpisah dari orangtua.

Anak mengalami “culture shock”, karena tiba-tiba di suatu pagi yang dingin, ia dibangunkan, dimandikan ibunya, kemudian dibedaki banyak-banyak, lalu diantar ke tempat baru yang tak pernah ia jamah sebelumnya. Apatahlagi jika sekolahnya jauh dari rumah.

Ponakan saya, yang baru masuk PAUD tahun ini, ketika di rumah sangat aktif dan cerewet, pada akhirnya kala tiba di sekolah, langsung menjadi anak pendiam dan pemalu. Ketika ditanya kenapa bersikap demikian, dengan polos ia membela diri, “Karena masih baru, Mama. Kalau sudah lama, tidak mi itu.”

Tak ada yang salah dengan sikap mereka, bahkan temuan observasi awal Aslam Tamisa di Jurnal Psikis menunjukkan bahwa pada minggu-minggu pertama anak memasuki prasekolah, beberapa anak menangis, karena harus berpisah dari orangtuanya, tidak ingin ditinggal orangtuanya, sering pergi ke kamar mandi. Anak juga menjadi pendiam dan pemalu, anak datang ke sekolah dengan wajah murung. Bahkan ada anak yang sering ke kamar mandi dengan alasan buang air kecil atau besar, serta keinginan untuk muntah, itu berlangsung setiap hari selama 3 minggu.

Dalam buku Hari Pertamaku di Sekolah karangan Ery, Sumarti, dan Setryorini dibilangkan bahwa, “Anak-anak seringkali mengalami ketakutan yang berlebihan, terutama bila berada di tempat asing, termasuk sekolah. Mereka membutuhkan adaptasi untuk meredakan ketakutannya itu.”

Lebih jauh, dijelaskan bahwa masuk sekolah bagi sebagian anak merupakan hal mengerikan. Jadi tidak realistis rasanya jika mengharapkan anak secara spontan memiliki kemampuan dan strategi yang dibutuhkan untuk menyesuaikan diri dengan sekolah. Anak-anak, katanya, membutuhkan saran, dukungan, dan penerimaan dari orang-orang di sekitarnya, terutama ibu. Tujuannya untuk meyakinkan bahwa sekolah merupakan tempat yang menyenangkan, bukan sebaliknya.

Lalu, apa yang bisa dilakukan orangtua dan sekolah untuk mengatasi hal tersebut? Menarik membaca catatan seorang ibu, Ratih D. Adiputri dalam bukunya Sistem Pendidikan Finlandia, Ratih mendakukan bahwa UU Pendidikan di sana menjamin pendidikan yang didapatkan anak harus membuat anak tersebut nyaman, aman, dan berada sedekat mungkin dengan lingkungan rumah.

Biasanya, setelah diketahui anak akan bersekolah di mana, orangtua dan calon murid yang bersangkutan akan diundang untuk melihat-lihat sekolah. Mereka berkumpul dan berbincang dengan kepala sekolah dan guru yang akan mendidik anak-anak saat tahun ajaran baru dimulai. Kadang-kadang, saat masih TK pun, guru TK mengajak murid-muridnya melihat sekolah SD terdekat dan melihat bagaimana kondisi dan suasana di calon sekolah mereka. “Jadi anak-anak tidak kaget lagi saat mereka masuk ke sekolah baru,” jelas Ratih. Saya kira, cara-cara Finlandia ini patut kita coba.

Jika tidak sempat, ada tips dalam buku Hari Pertamaku di Sekolah. Pertama, orangtua perlu membangun rasa aman dalam diri anak, jika mereka bertanya apa yang akan mereka kerjakan di sekolah, jangan berikan jawaban abstrak, seperti, “Nanti kamu bisa bermain dan belajar di sekolah.” Lebih baik, berikan jawaban yang spesifik, “Pertama-tama, anak-anak akan melepaskan tasnya, menyimpannya, berbaris di lapangan, dan membaca doa. Pada hari tertentu, ibu guru akan memeriksa kuku. Setelah itu, anak-anak masuk ke kelas masing-masing, dan seterusnya.”

“Orangtua bisa menggunakan informasi ini untuk menolong anak melakukan role play—“pura-pura) melakukan serangkaian kegiatan, mulai dari berangkat sampai pulang sekolah.” Ungkapnya lebih dalam.

Kedua, mengurangi rasa takut anak terhadap sekolah. Cara anak mengekspresikan ketakutannya berbeda-beda. Seperti kisah murid saya di atas salah satunya, ada pula yang merengek, minta digendong, bahkan menangis sambil berguling-guling. Jika hal tersebut terjadi pada anak, orangtua harus menerimanya sebagai salah satu upaya anak mengatasi perubahan dalam hidupnya. Tetaplah pada rutinitas disiplin setiap hari. “Cobalah untuk bersabar sambil terus menyampaikan gambaran positif tentang sekolah.”

Tidak kalah penting adalah menemukan hal yang ditakuti anak. Beberapa anak memilki ketakutan “khusus”. Jika orangtua bisa menanyakan kepada anak hal yang ditakutinya, dan anak bisa menjawabnya dengan jelas, maka orangtua bisa membantunya mengatasi hal tersebut.

Ketakutannya seperti, “Bagaimana jika aku mau kencing? Aku tidak tahu di mana kamar mandinya.”

Bagaimana jika aku tidak menemukan kelasku?

Bagaimana jika ini dan itu?

Jadi, jika misalnya anak takut tidak bisa menemukan kamar mandi, rasa takutnya tidak akan berkurang dengan kata-kata, sebab kata-kata tidak bisa ditempati untuk kencing. Sebaiknya, bawalah anak ke sekolah dan langsung tunjukkan kamar mandinya. Biarkan anak melihat. Tunjukkan bagaiamana anak bisa pergi sendiri ke kamar mandi dari kelasnya.

Anak dan sekolah adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, keduanya saling membutuhkan agar bisa “survive”, jadi sudah sepantasnya sekolah, anak, dan orangtua berkolaborasi mengatasi ketakutan akibat ketidaktahuan anak tentang sekolah. Kata Michelle Obama, anak-anak kita harus tetap sekolah, karena satu hal yang tidak bisa direnggut orang lain adalah pendidikanmu.

Sumber Gambar: Antara Foto/Fathulrahman

Ikbal Haming

Guru PJOK SD Negeri 48 Kaloling, pustakawan di Rumah Baca Panrita Nurung, Dusun Borong Ganjeng, Desa Tombolo. Menulis buku kumpulan esai "Jika Kucing Bisa Bicara" (2021).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *