Daeng Litere'

Mempercakapkan Bantaeng

Awalnya, aku ingin memenuhi ajakan bercakap-cakap di perlagaan pikiran secara senyap. Bagai gawai yang disenyapkan. Khususnya, kepada Daeng Gappa. Perkaranya, sederhana saja. Ia sementara wara-wiri menaklukan negerinya, Bantaeng, lewat ajang silaturahmi secara konsisten dan persisten. Ditemani Daeng Dunding, menandangi keluarga dan kawan-kawan lamanya. Masih sebatas appalappasa nakku, memecahkan celengan rindu.

Namun, tidak dengan Daeng Litere. Ia melengket laik perangko pada diriku. Mungkin karena perwujudan lahir batin nyaris identik. Sehingga ia begitu mudah mencium rencana-rencanaku. Maka ketika ia menjapriku soal jadi tidaknya menunaikan undangan persilatan minda, aku langsung saja mengajaknya. Namun, sederet syarat kuajukan. Aku minta ia mengendalikan motor dan menulis satu esai sebagai penanda buah perlagaan gagasan.

Daeng Litere pun setuju dengan permintaanku. Satu bentuk transaksi yang boleh jadi, garib bagi sebagian orang.

Aku bagai bos, difasilitasi oleh Daeng Litere hingga di tempat tujuan. Saat tiba di lokasi, aku iseng bertanya, mengapa dikau rela memenuhi sederet syarat yang kuajukan? Dijawabnya dengan enteng, “Sebab bung adalah CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan.”  Aku hanya manggut-manggut, sembari membatin, sejauh itukah pentingnya kedudukan yang tak ber-SK ini?

***

 Bergerak dari sudut kota, Tombologani-Bissampole,  menuju pucuk kota, Pantai Marina Korong Batu Bantaeng. Jarak tempuh sekira 17-18 km. Bila dikonversi ke waktu, memangsa sekitar 30 menit. Maklum saja, motornya sudah tua, seiring dengan saya yang semakin menua.

Bau khas jemuran rumput laut, hampir sepanjang bahu jalan, ketika lokasi makin dekat, menghidu farfum saya. Sang CEO Boetta Ilmoe-Rumah Penegatahuan, Sulhan Yusuf, duduk di boncengan tak pernah sekalipun mengucapkan kata. Tertidurkah? Berpikirkah? Mencerap pemandangankah ia? Entahlah. Hanya ia dan sari dirinya yang tahu.

Tiba di area Pantai Marina, ada plang pembatas masuk. Tempat membeli karcis. Namun, saya menyatakan akan ke acaranya Himpunan Pelajar Mahasiswa Bantaeng (HPMB) Raya, penjaga portal langsung menyilakan dengan santun. Gratis pula pemirsa.

Saya langsung saja ke Aula Karaeng Latippa, arena hajatan. Dari spanduk helatan, tertulis dengan tegas maksud acara, Latihan Kepemimpinan Tingkat II HPMB Raya. Temanya, “Menata Integritas Kebangsaan Guna Memetakan Peradaban dan Memformulasikan Gagasan dalam Lingkup Organisasi”. Berlangsung dari, 27-31 Juli 2022.

Melihat keakraban antara penyelenggara dan Sulhan Yusuf selaku narasumber, saya hanya bisa membatin. Pantas saja ia menyenyapkan kehadirannya di pelatihan ini kepada Daeng Gappa. Sepertinya, ia menjaga kemurnian training. Perkaranya, kehadiran Daeng Gappa bisa saja mengeruhkan suasana. Bukankah Daeng Gappa, makin sering pulang kampung? Tergolong orang baru, rajin silaturahmi,  dan lumayan berdompet tebal. Bisa-bisa, Sulhan dianggap membawa caleg, bersosialisasi di arena percakapan minda. Pasti runyam jadinya.

Tak butuh waktu lama, percakapan pelatihan dimulai. Namun, sebelumnya pihak penyelenggara sudah mengonfirmasi, bakal datang juga Bupati Bantaeng, Ilham Azikin, memperkaya percakapan. Jadi, ada dua narasumber, bertindak sebagai panelis, berbagi waktu, dari pukul 09.30 hingga jelang salat Jumat.

Pemandu latihan menyilakan Sulhan Yusuf untuk mendedahkan mindanya. Ruang lingkup percakapan seputar, kebudayaan sebagai dasar pembentukan masyarakat. Sebelumnya, pemandu mengenalkan narasumber sebagai seorang penulis dan pegiat literasi.

Berbicaralah Sulhan Yusuf. Ia seperti menari di hadapan peserta yang berjumlah 14 orang, hasil seleksi ketat dari serangkum persyaratan, diikuti calon peserta 40 orang. Artinya, peserta LK II ini bobotnya bukan peserta kaleng-kaleng.

Sulhan Yusuf kayak Muhammad Ali di atas ring tinju, terbang menari semirip kupu-kupu. Sulhan menarikan buah pikiran, dengan sodokan maksim literasi budaya, bagaimana kebudayaan membaca kita, dan bagaimana pula kita mengeja kebudayaan.

Peserta diajak untuk mengimajinasikan bagaimana kebudayaan Bantaeng sejak ribuan tahun lalu. Persisnya, saat manusia paling awal tiba di Bantaeng. Dijuluki Orang Toala, berciri fisik Australomelanesid atau Melanesoid, 4.700 tahun silam, di Gua Batu Ejaya, dengan tinggalan tata cara hidup dan kehidupannya.

Lalu, kedatangan Ras Austronesia, 3.500 tahun silam. Awalnya, hidup berdampingan, tapi dialektika budaya menghasilkan terdesaknya Orang Toala, hingga ke Papua. Nah, Ras Austronesia inilah yang mewariskan tata cara hidup dan kehidupan, sampai terbentuknya tatanan kakaraengan, Kerajaan Bantaeng, sekitar tahun 1250-an.

Arkian, Bantaeng memasuki masa kolonial, melatai alam kemerdekaan, Orla, Orba, kemudian Orde Reformasi, hingga kini. Sulhan mengajak untuk mengimajinasikan tatanan akumulasi kebudayaan itu, guna membaca manusia Bantaeng, atau sebaliknya, manusia Bantaeng di era kiwari mengeja dialektika simpaian tinggalan budaya itu. Pucuk maksudnya, mempertanyakan seperti apa orang Bantaeng?

Sulhan Yusuf hanya menegaskan, yang diperlukan bukanlah pewarisan budaya, apatah lagi sebatas artkulasi materialnya. Sebab, hanya akan menampakkan ruang budaya. Semestinya, bagimana memajukan strategi kebudayaan, dengan mengedapankan dialektika budaya yang bertumpu pada ranah budaya. Singkatnya, yang dibutuhkan sebagai tindakan cara mengeja akumulasi budaya, strategi kebudayaan sehingga melahirkan ketahanan budaya, sekaligus kemandirian budaya.

Nyaris bersamaan dengan berakhirnya sesi Sulhan Yusuf, Bupati Bantaeng, Ilham Azikin sudah menyata di arena pelatihan. Ada jedah sedikit, sekitar 5-10 menit, pemandu latihan menjembatani antara sesi Sulhan yang sudah berakhir dan akan dilanjutkan oleh Ilham Azikin, selaku panelis berikutnya.

Oleh pemandu, Ilham Azikin, diminta untuk mempercakapkan perubahan sosial dari sudut pandang pemerintah Kabupaten Bantaeng.

Ada yang mencuri perhatian saya, tatkala Ilham Azikin menubuhkan gagasannya di hadapan peserta. Ilham memperlihatkan jati dirinya sebagai sosok orang yang berpikir. Sehingga, kadang ia mengemukakan pikirannya sebagai seorang bupati, saat lain mengajukan idenya selaku akademisi, dan di waktu tertentu, tampil seperti aktivis pemuda.

Perubahan sosial harus dipahami dalam bingkai kepastian, tegas Ilham. Masalahnya, apakah kita yang menggulirkan perubahan, atau kita yang digilir perubahan. Posisi mengubah atau diubah, following atau follower, yang diikuti atau pengikut, sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya.

Ke depan, perubahan yang dicitakan, bermuara kepada peran masyarakat makin kuat, sehingga meminimalisir campur tangan pemerintah. Pemerintah nyaris hanya menjadi administrator dalam regulasi.

Ada tawaran sekaligus tantangan buat peserta dari Ilham, agar mendalami era kekinian yang diterungku oleh cara pandang  Post Truth. Nah, diajukan pula olehnya agar mempelajari Transformasi Struktural, dalam kaitannya pemerintah mengambil kebijakan. Dua tema ajakan ini, diajukan Ilham, agar percakapan berlanjut di momentum lain, demi Bantaeng yang lebih baik.

Sesi Ilham berakhir. Lanjut tanya jawab dengan peserta, berintikan penegasan gagasan-gagasan percakapan awal tentang Bantaeng di masa lalu, kini, dan futur. Lalu, Sulhan menyela percakapan, bermaksud menguatkan jalan pikir ilham. Menurutnya, secara akademik, ada dua model perubahan: reformasi dan transformasi.

Reformasi mirip proses ular ganti kulit. Ular makan sekenyang-kenyangnya, lalu tidur panjang ganti kulit, sehingga ular seolah lahir kembali dengan bugar. Sementara, transformasi seperti ulat. Ia makan sekuat-kuatnya, lalu mengepompong, setelah itu lahir kupu-kupu, terbang begitu indah.

Ilham telah memulai tindakan reformasi, dengan memilih membangun sumber daya manusia Bantaeng. Ini pilihan kurang populis. Tentu tidak bisa leluasa melakukan tranformasi, sebab kaidah-kaidah sebagai pengurus negeri, terlalu banyak terungkunya. Namun, tindakan reformasi ini, sesungguhnya mempersiapkan tranformasi. Dan, inilah yang harus disambut oleh kaum muda, semisal HPMB Raya.  

Di ujung percakapan, Ilham benar-benar mengulangi ajakannya sebagai sosok orang yang berpikir. Ingin mempercakapkan, post truth, transformasi struktural, dan tambahan dari Sulhan, matinya kepakaran.

Saya pun takjub. Sebab, bakal ada percakapan yang lebih khusyuk lagi tentang topik-topik intelektual, untuk menghidu Bantaeng.  Waima, entah kapan jadwalnya. Bergantung pada penyelenggara, HPMB Raya.

***

Akhirnya, Napattilleangi tulisanna Daeng Litere padaku. Ia memperlihatkan esainya sembari minta judul, sebelum ia kirim ke Bonthaina.com, salah satu media online tempat mendedahkan mindanya. Aku usul, “Mempercakapkan Bantaeng”.  Aku setuju seribu persen. Harap maklum, tulisan tersebut penuh pencitraan tentang diriku.

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *