BantaengBudayaEdukasiInovasiSejarah

Mengeja Masyarakat Literasi Bantaeng

Kiwari, umur Kabupaten Bantaeng, telah memangsa waktu 768 tahun. Suatu perjalanan usia yang sudah lumayan tua, tinimbang beberapa kabupaten/kota di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Rujukan usia ini, ditambatkan pada hasil Mubes KKB Nomor 12/MubesKKB/VII/1999, tanggal 4 Juli 1999, tentang penetapan Hari Jadi Bantaeng. Juga diikatkan kepada kesepakatan Anggota DPRD Tingkat II Bantaeng, menetapkan tanggal 7 Desember 1254, lalu dikuatkan dengan Perda Nomor 28 tahun 1999.

Ketuaan Bantaeng, dapat dilacak pada jejak-jejak arkeologi. Wilayah Bantaeng telah ada manusia yang menghuninya, meninggalkan jejak, hingga kini masih bisa dikenali. Temuan arkeologi menunjukkan sisa-sisa peninggalan Manusia Toala, berupa dua lukisan di Situs Gua Batu Ejaya dan beberapa perhiasan. Manusia Toala tiba di Bantaeng sekira 4700 tahun silam, lalu pergi sekitar 2200 tahun silam. Setelahnya, dilanjutkan rumpun Manusia Austronesia, yang meninggalkan jejak budaya Megalitik. Dan, dari rumpun Austronesia inilah tradisi berlanjut, hingga periode berikutnya.

Masa berikutnya, tatkala Bantaeng tertulis dalam buku Negarakertagama, karangan Mpu Prapanca, tahun 1365, atau abad ke-14 Masehi. Disebutkan, bahwa salah satu wilayah terpenting adalah Bantayan (Bantaeng). Ada banyak perspektif yang bisa dikembangkan dari informasi ini. Namun, satu hal bisa dipastikan, Bantaeng kala itu sudah terhubung dengan dunia luar, lewat perdagangan, kekuasaan politik, dan pola budaya, khususnya Kerajaan Majapahit.

Selanjutnya, memasuki periode pengaruh agama Islam. Meskipun agama Islam lebih lambat masuk ke Bantaeng, dibanding daerah lain, seperti Gowa, Bulukumba, dan Luwuk, tetapi pengaruh agama Islam terhadap keberadaan Kerajaan Bantaeng, tetap tertancap kuat. Agama Islam masuk ke Bantaeng, setelah periode Tiga Datuk. Tidak sedikit pendekatan yang bisa diajukan untuk membahas masuk dan pengaruh Islam terhadap Bantaeng, baik secara kultural maupun struktural. Pastinya, hingga kini, kehadiran agama Islam di Bantaeng, amat menentukan tatanan sosial di Bantaeng.

Setiap perkembangan wilayah Nusantara, ketika Nusantara dijajah oleh Belanda, maka Bantaeng pun tak lepas dari kolonialisme tersebut. Belanda menyebut Bantaeng dengan nama Bonthain dan menjadikan sebagai Afdeeling, salah satu pusat pemerintahan. Bukti-bukti sejarah soal ini, dapat didaras pada berbagai macam sumber bacaan. Begitu pun juga, peninggalan berupa bangunan masih bisa disaksikan. Bangunan perkantoran, sampai kompleks pekuburan Belanda masih ada.

Ketika wilayah Nusantara menyatakan kemerdekaannya, membentuk Republik Indonesia, memasuki periode kemerdekaan, Bantaeng pun tetap dianggap sebagai wilayah strategis. Setidaknya, Bantaeng menjadi pusat pendidikan di bagian selatan provinsi Sulawesi Selatan, kemudian dikenal dengan pusat Selatan-Selatan. Sekotah penanda itu, mula era pra sejarah sampai kemerdekaan, sudah cukup memadai, untuk menabalkan Bantaeng dengan julukan Butta Toa, bermakna tanah tua.

Kini, apa pendapat terdepan, paling tidak sepuluh tahun terakhir, sebagai kelanjutan itu? Nurdin Abdullah sebagai Bupati Bantaeng, menjabat dua periode, 2008–2018, telah menunjukkan Bantaeng sebagai The New Bantaeng. Perspektif yang dibangun Nurdin, tetap melihat akumulasi kemajuan yang telah dicapai oleh bupati-bupati sebelumnya. Dari lapik itulah, Nurdin membangun visinya untuk menjayakan Bantaeng. Sederet prestasi diraih oleh Bantaeng. Dunia luar kembali melirik Bantaeng. Nurdin berkukuh pada prinsip, menjadikan Bantaeng sebagai pusat pertumbuhan di Selatan-Selatan.

Lalu apa penanda terkini yang bisa diajukan? Bupati Bantaeng, Ilham Azikin, periode 2018–2024, telah menegaskan akan fokus membangun Sumber Daya Manusia (SDM) Bantaeng. Di setiap sambutan dan diskusi, Ilham Azikin selalu mengulang penegasan akan arah kebijakan ini. Dan, dalam beberapa kesempatan menabalkan pentingnya menggalakkan tradisi literasi, agar lahir budaya literasi, sehingga menjadi pilar pembangunan SDM Bantaeng.

Pada konteks inilah, amat patut saya mengedepankan potret gerakan literasi di Bantaeng, sebagai penanda dukungan terhadap arah kebijakan peningkatan SDM Bantaeng. Gerakan literasi di Bantaeng, cukup memadai untuk diajukan buat dipahami geliatnya.

Bolehlah  saya utaskan pada satu momentum, tatkala berdirinya satu komunitas literasi, Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan. Bukan berarti sebelumnya tidak ada geliat gerakan literasi, tetapi yang fokus melembagakan diri, bisa dirujukkan pada kelahirannya, 1 Maret 2010. Boetta Ilmoe sendiri, telah terduplikasi dan diduplikasi, menginspirasi dan mengadaptasi, sehingga banyak lahir komunitas-komunitas literasi.

Ada puluhan komunitas literasi saat ini hadir. Meskipun tidak ada semacam forum resmi untuk mewadahinya. Namun, sinergi dan kolaborasi di antara komunitas-komunitas itu terjalin sangat kuat. Para pegiatnya, saling bahu membahu menggerakkan tradisi literasi, dengan segala macam varian bentuk dan artikulasinya. Bergerak secara kultural. Gerakan kultural inilah, menjadi cikal bakal lahirnya masyarakat literasi di Bantaeng, Masyarakat Literasi Bantaeng.

Sebagai wadah bersifat kultural, dengan keragaman model komunitas, akan ikut berkontribusi buat menguatkan SDM. Turut menyumbangkan penuntasan terhadap kebutuhan dasar di bidang literasi. Para pegiat komunitas literasi, akan bergumul, mendorong selesainya literasi dasar di bidang: Baca-tulis, Numerasi, Sains, Finansial, Digital-Informasi, dan Budaya-Kewargaan.

Geliat gerakan literasi yang tumbuh di masyarakat, lewat para pegiat literasi di sejumlah komunitas literasi, ikut merangsang Pemerintah Daerah Bantaeng untuk bersinergi dan berkolaborasi. Geliat terkini menunjukkan, beberapa dinas terkait telah ikut menggeliatkan gerakan literasi. Jajaran pemerintah kecamatan, desa dan kelurahan, pun tak ketinggalan dukungannya, walaupun belum merata. Setidaknya, sudah ada beberapa pemerintah desa memberi perhatian serius pada gerakan literasi ini.

Moncernya gerakan literasi di Bantaeng, dapat diraba pada makin masifnya kegiatan-kegiatan literasi. Mulai dari peristiwa setiap pekan, bulanan, hingga agenda tahunan. Bahkan, di beberapa komunitas, aktivitas literasi, khususnya literasi baca-tulis dan turunannya, sudah merupakan laku sehari-hari.

Masyarakat literasi Bantaeng, yang sudah terdedahkan fondasinya dengan dukungan masyarakat secara kultural, dikuatkan oleh pemerintah kabupaten hingga desa secara struktural, bukan tidak mungkin masyarakat literasi itu mewujud adanya. Apatah lagi, sudah tergodok Ranperda di DPRD Kabubapaten Bantaeng, bakal lahir Perda Literasi, buat mengantar Bantaeng menjadi kabupaten literasi. Dari masyarakat literasi untuk kabupaten literasi Bantaeng.

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *