Wisata

Mengenal Balla Lompoa, Wisata Dekat Bantaeng yang Kaya Sejarah

Kabupaten Bantaeng berada di Provinsi Sulawesi Selatan. Jika Anda ingin berkunjung ke Bantaeng, kamu bisa singgah di Balla Lompoa, yang lokasinya tak jauh dari Makassar ibukota propinsi Sulsel. Berwisata ke sini tidak hanya untuk refreshing saja, namun juga untuk menambah edukasi tentang sejarah salah kerajaan besar nusantara.

Sebelumnya, mari kita simak informasi mengenai Balla Lompoa berikut ini.

Sejarah Balla Lompoa

Balla Lompoa memiliki arti rumah kebesaran, dimana bangunan tersebut biasa dihuni oleh raja. Balla Lompoa berlokasi di Jl. Sultan Hasanuddin No. 48, Kota Sungguminasa, Sulawesi Selatan.

Balla Lompoa sendiri berada di kawasan situs budaya yang memiliki luas sekitar 3 hektar. Jika Anda berkunjung ke Balla Lompoa tentu saja Anda akan lebih mudah berjalan-jalan ke tempat wisata lain yang masih dalam satu kawasan tersebut. Di samping bangunan Balla Lompoa, terdapat Istana Tamalat. Istana ini dibangun pada tahun 1980-an.

Balla Lompoa didirikan pada tahun 1936, pada masa pemerintahan Raja Gowa XXXV I Mangimangi Daeng Matutu, Karaeng Bontonompo, dengan gelar Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin. Pusat pemerintahan sebelumnya berlokasi di Kantor Kontrolir Onder Afdeling, yang tidak jauh lokaskinya di Balla Lompoa.

Balla Lompoa salah satu peninggalan dari Kerajaan Gowa yang kini berfungsi sebagai museum.

Perubahan fungsi Balla Lompoa dari istana kerajaan menjadi museum wisata Gowa sendiri terjadi pada tahun 1973.

Akses menuju Balla Lompoa

Dari Makassar, bangunan ini berjarak sekitar 11 km. Anda tidak perlu khawatir karena lokasinya dekat dan mudah diakses dengan kendaraan umum. Anda bisa menggunakan pete-pete (angkutan umum) yang tersedia. Ini karena arah Balla Lompoa dilalui oleh kendaraan umum tersebut.

Balla Lompoa memiliki lokasi di empat persimpangan jalan. Jadi, museum ini dapat diakses dari empat pintu gerbang.  Empat pintu tersebut berada di Jl. KH. Wahid Hasyim, Jl. Andi Mallombassang, Jl A. Baso Erang, dan Jl. Habibu Daeng Kulle.

Peninggalan dalam Museum Balla Lompoa

Arsitektur Museum Balla Lompoa sendiri adalah arsitektur tradisional, dengan gaya rumah khas orang Bugis. Terdapat jendela-jendela dengan ukuran masing-masingnya adalah 0,5 m x 0,5 m. Museum tersebut berupa rumah panggung, dengan material utama kayu ulin atau kayu besi.

Bangunan ini dikeliling oleh pagar tinggi. Adapun bangunn terdiri dari dua bagian saja, yaitu ruang utama dengan luas 60 m x 40 m, dan ruang teras dengan luas adalah 40 m x 4,5 m.

Pada ruang utama tersebut adalah tempat dimana terdapat kamar pribadi raja, bilik kerajaan (masing-masing bilik berukuran 6 m x 5 m), dan tempat penyimpanan benda-benda bersejarah. dengan luas masing-masing.

Apa yang terdapat dalam Museum Balla Lompoa?

Dala Museum Balla Lompoa terdapat peninggalan benda-benda kerajaan yang masih terawat dengan baik, di antaranya adalah sebagai berikut:

·         saloka (mahkota Raja Gowa)

·         ponto janga-jangaya (gelang naga melingkar yang terbuat dari emas 985,5 gram)

·         rante kalompoang (kalung kebesaran terbuat dari emas 2.182 gram)

·         subang (anting-anting terbuat dari emas murni beratnya 287 gram)

·         kolara (kalung emas beratnya 270 gram untuk upacara)

·         tamadakkaya (mata tombak tiga buah)

·         penning emas (dari Kerajaan Inggris)

·         pedang sudanga (peninggalan Karaeng Bayo)

·         tatarapang (keris yang bersarung emas), kancing gauka (perlengkapan kerajaan)

·         medali emas

·         cincin gaukang (terbuat dari emas)

Hingga saat ini, Museum Balla Lompoa masih berfungsi sebagai tempat pelaksanaan upacara adat, di antaranya adalah accera kalompoang. Acara tersebut adalah pencucian benda-benda pusaka yang terdapat dalam museum. Biasanya, kegiatan berlangsung saat bulan Dzulhijah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *