BantaengLiterasi

Meraba Bantaeng Hingga 2045

Perjalanan panjang peradaban umat manusia, secara berkelompok dalam bentuk entitas sosial, baik berpola trdisional maupun moderen, selalu melakukan nubuat buat meraba masa depannya. Masyarakat Nusantara di era modern, menemukan bentuk struktur sosial pemerintahannya, berbentuk Republik Indonesia, berjenjang skala nasional (pusat), regional (provinsi), dan lokal (kabupaten/kota).

Bila masyarakat tradisional Nusantara menubuhkan nubuatnya dalam berbagai kitab suci, petuah, dongeng, cerita, atau dalam bentuk kearifan lokal, maka masyarakat moderen Indonesia mendokumentasikan dalam bentuk rancangan pembangunan masa depan. Kiwari, bentuk kontekstualnya, sering diistilahkan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) yang diturunkan menjadi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD).

Berlapik pada RPJPN disusunlah rencana pembangunan mencakup jangka panjang, menengah, dan tahunan yang diterapkan oleh semua instansi pemerintah, baik di tingkat pusat maupun di daerah, dengan melibatkan partisipasi masyarakat. RPJPN 2005-2025 akan berakhir dan akan memasuki RPJPN 2025-2045. Konsekuensinya, RPJPD pun mengekor pada tahapan perencanaan tersebut.

Ketentuan Permendagri Nomor 86 tahun 2017 pasal 18 menegaskan bahwa Rancangan Awal RPJPD, harus dilakukan paling lambat satu tahun sebelum berakhirnya periode RPJPD sebelumnya. Tujuan penyusunan dokumen RPJPD untuk memberikan pedoman dasar dalam menentukan arah dan kebijakan dan strategi pembangunan daerah selama 20 tahun ke depan.

Kabupaten Bantaeng sebagai salah satu daerah di bagian selatan Provinsi Sulawesi Selatan, pun turut merumuskan nubuatnya. Di usia ke-768 Bantaeng pada tahun 2023, memberikan gambaran bahwa pada tahun 2025, usianya sudah 770 tahun dan akan meraba nasibnya 20 tahun ke depan. Artinya, Bantaeng sudah tiba di usia 790 tahun pada 2045 nanti. Imajinasi perjalanan panjang Bantaeng sebagai Butta Toa (tanah tua), penting dihadirkan sebagai akumulasi pencapaian di era moderen.

Bertempat di Hotel Ahriani Bantaeng, Rabu, 13 September 2023, Sekretariat Daerah Bantaeng, mengundang berbagai elemen masyarakat, guna menghadiri acara Kick Off, penyusunan RPJPD Bantaeng 2025-2045. Selaku pegiat literasi, mewakili Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, saya turut diundang bersama ormas keagamaan, ormas pemuda, tokoh agama, tokoh masyarakat, pegiat seni-budaya, unsur perusahaan, pendamping bantuan modal, forum anak, dan komponen masyarakat sipil lainnya. Jumlah peserta 50 orang lebih.

Maksud hajatan tersebut, serupa sosialisasi belanja aspirasi masyarakat, sebagaimana perintah UU No. 25 tahun 2004 dan UU No. 23 tahun 2014, agar ada pelibatan masyarakat dalam penyusunan RPJPD. Strategi penjaringan berpola bottom up. Dijelaskan pula RPJPD 2005-2025 yang telah dijalani dan akan segera berakhir. Dan, bagaimana menghadapi tahun-tahun mendatang, lewat perumusan dokumen RPJPD 2025-2045. Rumusan dokumen ini, akan menjadi pijakan setiap bupati dalam menjalankan roda pemerintahannya.

Salah satu model penjaringan aspirasi, melalui kuesioner yang memuat beberapa item pertanyaan, sesuai kebutuhan perumusan dokumen. Selain berisi identitas responden, juga diminta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar evaluasi terhadap pencapaian RPJPD 2005-2045 Bantaeng. Tak ketinggalan permintaan usulan dan saran atas rancangan awal tersebut. Selain itu, helatan di hotel tersebut diharapkan bantuan setiap elemen masyarakat sipil, agar membantu dalam sosialisasi pengisian kuesioner kepada publik secara daring.

Nah, tiga bulan kemudian, Selasa 12 Desember 2023, bertempat di Ruang Pola Bupati Bantaeng, Sekertariat Daerah Bantaeng kembali mengundang penghadir yang berpartisipasi pada acara Kick Off. Tajuk acara helatan berjudul, “Forum Konsultasi Publik Rancangan Awal RPJPD Bantaeng Tahun 2025-2045”.

Rupanya, yang dikonsultasikan ke publik oleh tim ahli, serupa rumusan awal dari hasil penjaringan aspirasi via kuesioner, dari berbagai elemen masyarakat Bantaeng. Ada 567 responden, 51,59% perempuan dan 48,41% laki-laki. Tampat lahir, 71,78% di Bantaeng dan 28, 22% luar Bantaeng. Penggolongan gelombang generasi, Baby Boomers 1,23%, Gen X 48,15%, Gen Y 43,74%, dan Gen Z 6,88%. Adapun tingkat pendidikan, SMP 0,18%, SMA 15,34%, Diploma 5,29%, S1 50,62%, S2 27,87%, dan S3 0,71%.

Pesebaran domisili responden, Kec. Bantaeng 53,89%, Kec. Bissappu 16,61%, Kec. Pa’jukukang 9,54%, Kec. Gantarangkeke 3,18%, Kec. Tompobulu 6,54%, Kec. Eremerasa 4,77%, Kec. Uluere 2,65%, dan Kec. Sinoa 2,83%. Stakeholders (Pentahelix) responden menunjukkan, Swasta 6,89%, Akademisi 5,12%, Media Massa 0,35%, Masyarakat 18,73%, dan Pemerintah 68,90%.

Permasalahan yang mencuat berdasarkan kuesioner, tersaji data, belum optimalnya pemerataan pembangunan 9%, kemiskinan 10%, belum optimalnya perekonomian kerakyatan 17%, kerusakan lingkungan 20%, dan belum optimalnya kompotensi Sumber Daya Manusia (SDM) 34%.

Sementara isu yang menyeruak dari responden menabalkan pendapat, koneksivitas/infrastruktur berkelanjutan 9%, digitalisasi 13%, ketahanan pangan 15%, transformasi ekonomi berkelanjutan 17%, dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) 35%. Tampak pula 10 harapan besar responden, berupa kesehatan 2,35%, kelestarian lingkungan 3,1%, lapangan pekerjaan 4,6%, mandiri 5,7%, infrastruktur 6%, pendidikan 6,1%, kualitas SDM 9,8%, ekonomi meningkat 12,2%, sejahtera 12,4%, dan maju 13,5%.

Dari rancangan awal RPJPD Bantaeng 2025-2045 ini pula merumuskan visi “Mewujudkan Bantaeng Emas 2045 (Ekonomi Maju Sejahtera) yang Berkelanjutan, Berdaya Saing, dan Inovatif”. Bermakna, pertama, Bantaeng maju dibuktikan dengan peningkatan ekonomi yang berkualitas dan kreatif melalui pemantapan nilai tambah ekonomi kerakyatan, penguatan industri dan perdagangan serta peningkatan investasi.

Kedua, Bantaeng sejahtera tercapai dengan menurunnya angka kemiskinan yang ditopang melalui peningkatan kualitas taraf hidup masyarakat. Ketiga, berkelanjutan terwujud dengan pembangunan yang berwawasan lingkungan dan pemerataan infrastruktur. Upaya ini dilakukan dengan peningkatan kualitas infrastruktur berkelanjutan, ketahanan daerah, dan penguatan ekonomi hijau.

Keempat, berdaya saing bermakna pembangunan SDM yang berkualitas tinggi/berdaya saing didukung dengan pemenuhan akses pendidikan dan penyediaan lapangan pekerjaan. Sehingga Keberhasilan SDM yang unggul terlihat pada peningkatan IPM dan penurunan tingkat pengangguran. Kelima, Bantaeng inovatif dibuktikan dengan perwujudan SDM dan pelayanan publik yang kreatif dan inovatif berbasis digital.

Bertolak dari visi, terumuskan misi RPJPD Bantaeng 2025-2025, (1) Mewujudkan perekonomian daerah yang berkualitas, tumbuh dan berkelanjutan, (2) Mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan dan inklusif, (3) Mewujudkan Sumber Daya Manusia yang Unggul dan Berdaya Saing, (4) Mewujudkan transformasi menuju tata kelola pemerintahan yang baik dan pelayanan prima berbasis digital.

Pijakan visi dan misi mengantar pemahaman pada penjabaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), setiap lima tahun. RPJMD Bantaeng menahapkan tema, arah kebijakan, dan sasaran pokok. Lahirlah skema Tahap I (2025-2030) bertema peningkatan daya saing SDM yang unggul dan berdaya saing. Arah kebijakan, mewujudkan SDM yang cerdas, terampil dan berakhlak. Sasaran pokok seputar, meningkatnya kualitas dan kapasitas SDM, meningkatnya kualitas dan akses layanan pendidikan, terwujudnya pelayanan kesehatan yang berkualitas, dan meningkatnya kapasitas dan produktivitas tenaga kerja.

Tahap II (2030-2035) bertema peningkatan infrastruktur pembangunan yang berkeadilan dan berkualitas. Arah kebijakan, peningkatan kapasitas infrastruktur yang merata dan memadai. Sasaran pokok serupa, meningkatnya kualitas infrastruktur berkelanjutan dan terwujudnya ketahanan dan mitigasi bencana daerah.

Tahap III (2035-2040) bertema penguatan tata kelola ekonomi hijau berbasis inovasi dan inklusif. Arah kebijakan, pengembangan ekonomi unggulan daerah yang berkelanjutan dan penguatan leading sector pembangunan daerah. Sasaran pokok sebentuk, meningkatnya nilai tambah sektor ekonomi unggulan daerah, meningkatnya kualitas lingkungan hidup daerah, menguatnya kinerja ekonomi industri pengolahan, meningkatnya kapasitas perdagangan daerah, dan meningkatnya iklim investasi dalam pengembangan perekonomian daerah.

Tahap IV (2040-2045) bertema, mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang berkualitas dan berkeadilan. Arah kebijakan, perwujudan masyarakat sejahtera-berkeadilan dan peningkatan kinerja pemerintah daerah yang baik, bersih dan berorientasi pelayanan. Sasaran pokok sebangun, terwujudnya masyarakat yang hidup layak, terwujudnya peningkatan taraf hidup masyarakat dalam pembangunan, terwujudnya reformasi birokrasi pada tata kelola pemerintahan, dan terwujudnya pelayanan publik yang adaptif, kreatif dan inovatif.

Apa yang bisa direfleksikan dari rancangan awal RPJPD Bantaeng 2025-2045? Sorotan terhadap pentingnya menguatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) masih mengemuka. Pun, semestinya, rancangan awal ini dapat memicu percakapan publik di kalangan elemen masyarakat sipil. Mumpung masih berproses, tetap butuh pengayaan. Sebab, rancangan ini bakal menentukan arah nasib Bantaeng 20 tahun ke depan.

Saya mengimajinasikan ormas-ormas kemasyarakatan, bersibuk ria melakukan percakapan publik, berdasarkan latar keormasannya. Begitu juga sekotah para pegiat dan penggiat komunitas, harus ambil bagian dalam jual beli minda untuk kejayaan Bantaeng. Meskipun, tim ahli akan tetap mengayakan rancangan RPJPD dari hasil musrenbang dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS).

Di atas segalanya, RPJMD Bantaeng 2025-2045 akan menjadi rujukan bagi Bupati Bantaeng untuk menawarkan dan menjalankan programnya. Dan, bagi Bantaeng, amat penting, dikarenakan akan masuk tahun politik, pemilihan bupati pada tahun 2024. Artinya, sekotah elemen pelibat dalam rancangan dokumen ini, akan turut memperkarakan keselarasan maksud seorang calon bupati, antara program pembangunan yang ditawarkan dengan RPJMD Bantaeng 2025-2045. Perlu diingat, dokumen ini akan memangsa empat periode masa jabatan Bupati Bantaeng.

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *