Literasi

Motor Literasi: Ketika Pengetahuan Bertemu Kegembiraan

Siang itu mega sedikit kelabu, di sudut taman bermain, dekat pohon trembesi, terparkir dengan gagah motor literasi. Kursi dan meja kafe masih bertumpuk, motor masih dihitung jari, orang yang lalu lalang juga masih sedikit, tapi motor literasi sudah di sana, sendirian, menjadi yang pertama. Tak lama, sang juru kunci tiba, boksnya dibuka dari belakang, lalu yang kiri dan kanan terangkat laiknya sayap pesawat. Karpet jingga, kursi plastik, lemari kayu kecil, dan buku-buku langsung diturunkan, ditata bersisian dengan motor literasi.

Di sisi taman lain, dekat boks kontainer yang disulap jadi kafe, terpampang dua spanduk bertajuk “Sawala Buku Gemuruh Literasi” dan “Motor Literasi Masyarakat Literasi Bantaeng”. Dalam acara bincang buku ini, motor literasi turut hadir guna menuntaskan misi: melapak perdana, Sabtu 20 Mei 2023.

Karpet plastik yang masih baru dihampar, di atasnya buku-buku disebar acak laiknya pakaian bekas di pasar malam. Bersama kawan lain, saya duduk memilah buku yang menarik minat anak-anak, seraya mata saya liar mencari anak-anak untuk diajak duduk bersama. Saya mengangkat buku-buku, memperlihatkan isinya, seperti penjual ikan yang sedang menawarkan dagangan.

Tak berselang lama, tiga anak mengamati dari jauh, orangtuanya berjualan di sekitar taman bermain, mereka sedikit malu mendekat, alasannya sederhana, mereka belum bisa membaca, akunya. Dua di antaranya sudah sekolah di Taman Kanak-Kanak (TK), sedang yang paling kecil belum bersekolah. Saya bilang tak apa, pegang saja bukunya dulu, tengoklah gambarnya, tak harus pandai membaca untuk berkenalan dengan buku. Lalu sendal mereka lepas, motor literasi akhirnya menemukan kawan pertamanya.

Sebagai tanda pertemanan, saya serahkan pada mereka jenis buku “unik”, paginanya tebal laiknya hardcover sehingga tidak mudah rusak, gambarnya besar dan teksnya sedikit saja, beberapa paruh buku dilengkapi bagian sensori yang bisa membikin anak senang mengelus-elusnya. Buku lainnya tak kalah menarik, sebab ujung halamannya bisa ditarik, yang mengubah gambar pada halaman bukunya. Buku ini terbitan Rabbit Hole, harganya mencapai ratusan ribu, yang didonasikan ke Bank Buku Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan oleh dermawan.

Meski belum bisa membaca, melihat buku-buku ini anak-anak sungguh antusias. Mereka asyik membolak-balik halaman, mengamati gambar, seraya mencoba mengingat-ingat huruf yang tertulis di sana. Saya dan teman-teman khyusuk mendampingi mereka dengan riang gembira.

Sumber: Dokumentasi pribadi

Melihatnya, saya lalu ingat kata-kata Nirwan Arsuka—pendiri Pustaka Bergerak Indonesia—kala berjumpa dua hari sebelumnya. “Pengetahuan”, katanya, seringkali disebarkan tanpa kegembiraan, di saat yang sama, kegembiraan disebarkan tanpa pengetahuan. Kita ingin aktivitas literasi menghadirkan keduanya, pengetahuan yang disebarkan dengan riang gembira. Dari sana akan lahir manusia-manusia berbudaya, sebab dalam prosesnya dilakukan dengan cara-cara beradab.

Hal ini menjadi penting, sebab kata Agus M. Irkham dalam salah satu esainya dalam Gempa Literasi membeberkan, bahwa salah satu sebab rendahnya minat baca anak Indonesia disebabkan oleh pengalaman pra-membaca, membaca, dan perkenalan dengan buku dengan anak kurang menyenangkan, untuk tidak mengatakan buruk. Buku, kata Agus, dikenalkan kepada anak-anak dengan cara yang tidak menarik, bahkan menimbulkan trauma.

“Biasanya, buku yang pertama kali diperkenalkan kepada anak-anak adalah buku pelajaran yang tebal menurut ukuran mereka. Isinya melulu tulisan, tidak bergambar, dan hurufnya pun kecil. Tentu saja keharusan membaca buku seperti itu laksana menyuruh anak membenci buku secara berjamaah.” Tegas Agus.

Di saat yang sama, sependek pengamatan saya, proses belajar membaca anak juga tak kalah traumatik. Orang dewasa yang mengajari kesabarannya kadang hanya setipis tisu, anak dibentak ketika salah, dimarahi, dikatai dongok, dan sebagainya. Akhirnya anak-anak malas belajar, sebab membaca seperti orang uji nyali. Padahal bagi anak, belajar membaca adalah belajar bahasa baru, laiknya orang dewasa yang diperhadapkan pada huruf Kanji, anak pun demikian kala mereka mereka melihat huruf-huruf.

Lebih jauh, Agus juga menyayangkan ketika anak-anak sudah mulai menyukai buku dalam bentuk komik dan cerita bergambar, orangtua malah melarang keras, bahkan disertai ancaman. Orangtua mengira bahwa membaca komik dan cerita bergambar adalah perbuatan sia-sia belaka, hanya akan membuat anak malas dan bodoh. Padahal, komik bisa meluaskan cakrawala berpikir dan imajinasi anak, juga bisa menjadi pintu masuk kecintaan awal mereka terhadap buku. Tak perlu khawatir, karena tentu saja bacaan anak akan menyesuaikan dengan perkembangan wawasan, cara berpikir, dan kebutuhannya. Jadi, makin bertambah usia seseorang, bacaannya akan bertambah “berat” pula.

Anak-anak memang harus berpengetahuan, sebagaimana mereka juga mesti berbahagia. Itu sebabnya, motor literasi direncanakan selain mengangkut buku-buku, juga bakal diisi dengan permainan tradisional dan edukatif. Tujuannya sederhana, mengajak sebanyak mungkin anak meletakkan gawainya sejenak, mengakrabkannya dengan aktivitas literasi, dan secara perlahan menghapus memori buruk mereka terhadap buku—dan orang dewasa. Hingga di suatu titimangsa, mereka tiba pada suatu simpulan, bahwa ada kegembiraan lain yang melampaui layar di geggamannya, kesenangan yang tak hanya memanjakan mata, tapi juga melebarkan senyumnya dan menambah isi kepala.

Siang menjelma sore, lalu senja datang, langit perlahan gelap, buku-buku dikemas kembali, dimasukkan ke dalam boks motor literasi. Anak-anak masih hadir membersamai, mereka kadang pergi sejenak lalu kembali, pergi lagi, lalu datang lagi. Hingga ketika akhirnya motor literasi pulang, mereka hanya mengangkat tangan dan tersenyum, “Datang malam Minggu, banyak anak-anak.” Teriak salah satunya.

Ikbal Haming

Guru PJOK SD Negeri 48 Kaloling, pustakawan di Rumah Baca Panrita Nurung, Dusun Borong Ganjeng, Desa Tombolo. Menulis buku kumpulan esai "Jika Kucing Bisa Bicara" (2021).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *