BantaengBudayaGaya HidupLiterasiSejarah

Motor Peradaban

Masih ingat atau pernah baca tulisanku berjudul, “Hore, Presidenku Datang” di Bonthaina.com? Bila belum, sebaiknya dieja. Pasalnya, terkait langsung dengan apa yang akan kutorehkan. Di tulisan itu, saya bercerita, bagaimana seorang Nirwan Arsuka, pendiri Pustaka Bergerak Indonesia (PBI), bertandang ke Bantaeng, mampir beberapa jam, sebelum melanjutkan safarinya ke Bira Bulukumba, guna mengetes Perahu Pustaka dan Budaya Anugerah Ilahi. Perahu pustaka ini, akan berlayar akhir Mei hingga Oktober, sebagai bentuk dukungan terhadap PKD (Pekan Kebudayaan Daeran) dan PKN (Pekan Kebudayaan Nasional).

Sang presiden, sebagaimana kami warga Pustaka Bergerak sering menyapa Nirwan, ketika melakukan perjalanan balik ke Makassar, mampir lagi di Bantaeng. Tidak lama, hanya beberapa puluh menit, tapi bobot perjumpaan sangat berarti. Apa gerangan? Nirwan meresmikan, tepatnya meluncurkan penggunaan Motor Literasi, sebentuk hibah dari Pustaka Bergerak Indonesia kepada Masyarakat Literasi Bantaeng (MLB), via Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, kupanjatkan syukur tiada bertepi.

Sebenarnya, antekamua caritanna, bagaimana muasal ceritanya, sehingga motor pustaka ini mewujud Motor Literasi? Baiklah kisanak-nyisanak, kuceritakan saja saja, biar lebih elok.

Syahdan, di bulan suci Ramadan, persisnya 30 Maret 2023, Nirwan menjapriku berisi pesan, “Salam bos, semoga sehat walafiat. Kalau kawan-kawan Bantaeng ditawari bantuan untuk bikin mobil pustaka, kira-kira masuk akal tidak ya? Mobilnya tentu tidak harus baru, tapi mobil bekas saya yang dimodif. Pokoknya bisa dipkai untuk bergerak dan mengajak warga membaca di ruang-ruang publik yang menarik?”

“Mobilnya bisa dibuat seperti ini misalnya. Bisa juga yang lain, sesuai kreativitas kawan-kawan saja.” Nirwan menyertakan beberapa contoh gambar.

“Saya coba bicarakan dengan kawan-kawan.”

“Sip. Bisa kasih kabar malam ini? Paling lambat besoklah.” Nirwan berharap kepastian.

“Saya akan berkabar. Insyaallah.”

Sebelum Nirwan menutup percakapan, ia menulis pesan, “Oya, dana yang bisa kita bantu 50jt. Semoga itu cukup.”

Berlapik percakapan dengan Nirwan, kujapri beberapa kawan pegiat literasi, sekaligus menyertakan rekaman layar percakapan. Respon kawan-kawan pun menyetujui. Akan dipikirkan bagaimana mengupayakan permintaan yang dimaksud Nirwan.

Malam makin larut, perpindahan hari dan tanggal terjadi. Nirwan kembali mengirim pesan, bermaksud mengonfirmasi hasil pembicaraan. Ia menanyakan, “Bagaimana hasil obrolan dengan kawan2?”

“Pada dasarnya sangat respon dan setuju. Dengan dana tersebut akan disesuaikan dengan mobilnya.” Lalu kulanjutkan dengan pertanyaan, “Boleh nanya, bagaimana pertanggungjawaban amanah tersebut?”

Dibalasnya dengan lugas “Yang jelas, mobilnya harus dipakai untuk bergerak menyebar pengetahuan dan membangun kekuatan warga. Kalau mobilnya bisa membuat warga jadi makin kreatif secara artistik dan kultural, itu akan lebih baik.”

Nirman kemudian membenderangkan lebih terang maksud bantuan, “Dana bantuan ini hasil kerjasama PBI dengan Ditjenbud, Dana Indonesiana dan LPDP. Jika tak keberatan, di sejumlah kegiatan yang menyertakan mobil ini, dapat didokumentasi (foto atau video) untuk publikasi sosmed, dan menyertakan barisan logo mitra kita itu. Logo Boetta Ilmu, atau logo kawan-kawan Bantaeng yang disepakati, tentu juga perlu dipasang di barisan logo itu. Tujuannya agar mitra kita bisa melihat dampak poitif bantuan ini, sehingga kerjasama bisa diperpanjang, dan dapat membantu kawan-kawan lain yang membutuhkan. Ini memang ada unsur pembangkitan gerakan warga. Itu saja.”

“Oke. Akan saya obrolkan lagi dengan kawan-kawan. Soal mekanisme amanah ini. Pastinya, insyaallah kawan-kawan menyambut kemitraan ini.”

Belum sempat tarik napas panjang, Nirwan kembali menjapri, “Baik, tolong bagi no rek ya, agar bisa kita percepat administrasinya.”

Aku pun mengirimkan nomor rekening. Sembari menyatakan, “Mohon maaf ndak punya rekening komunitas.”

Tangkas tuntas Nirwan menandaskan, “Nda masalah.”

Esoknya, tatkala baskara telah tergelincir, merintis jalan pulang, pesan japri Nirwan masuk di ponselku, “Sudah transfer ya 50jt untuk mobil pustaka bantaeng, semoga berkah buat semua.” Tak lupa, ia menyertakan bukti transfer.

Langsung saja kusambar dengan kata-kata, “ Iye. Terima kasih. Akan kami gunakan sesuai peruntukannya.”

Jujur, awal-awal percakapan, aku agak gamang. Kenapa? Kukira modus tipu-tipu baru ala penipuan selama ini, yang sudah mulai kadaluarsa metodenya. Bahkan, aku penasaran, jangan sampai nomor kontak Nirwan dibajak. Aku tidak langsung bertanya balik ke Nirwan, perihal keraguanku, tapi kutelusuri beranda medsos, kalau saja ada konfirmasi, bahwa nomor kontaknya dibajak. Nanti benar-benar tertransfer baru kepercayaan itu menyata.

Nah, masalahnya aku malah mulai dumba-dumba, deg-degan, bagaimana menunaikan amanah ini dengan baik. Pertanggungjawaban setiap rupiahnya, malah lebih berat, sebab lebih berdasar pada trust personality, kepercayaan personal. Agar aku tidak kacau pikir dan risau hati, mulai kuajak kawan-kawan membicarakannya. Sekaligus sebagai pemberitahuan awal, bukti transfer Nirwan kusertakan, buat menguatkan kawan-kawan, tentang keseriusan kerja-kerja literasi ini.

Dua tiga kali kami bersamuh dengan kawan-kawan. Tidak sedikit sawala berkelompok maupun perorangan tercipta. Namun, dikarenakan bulan suci Ramadan makin memucuk, akhirnya diputuskan agar pascalebaran saja dipercakapkan kembali. Dan, kesimpulan ini pun aku uritakan ke Nirwan. Ia pun oke saja.

Di hari lebaran, kujapri Nirwan. “Salam wa rahmah.. Selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin.Terkait dengan pengadaan mobil pustaka. Progresnya, kami hingga kini masih mencari yang pas, antara harga, ongkos modifikasi dengan budget yang tersedia. Kami bersepakat, setelah lebaran barulah mau intens bergerak untuk mewujudkannya.Sekadar bertanya, apakah ada batas waktu yang ditetapkan untuk perwujudan mobil pustaka tersebut?”

Nirwan membalas, “Salam, terima kasih. Mohon maaf juga lahir batin. Soal ‘tenggat’: diharapkan mobil pustaka sudah terwujud paling lambat 20 Mei.Titip salam buat kawan-kawan Bantaeng.”

“Iye. InsyaAllah.”

Kepastian tenggat waktu dari Nirwan, kami tindak lanjuti dengan sawala maraton. Kami tiba pada simpai simpulan, bila membeli mobil bekas, dengan anggaran yang ada, plus biaya modifikasinya, rasa-rasanya kurang streategis. Apatah lagi, kami bakal dihantui oleh biaya perawatan dan ongkos opreasional yang tinggi. Akhirnya, kami bersepakat agar membeli saja motor roda tiga. Pilihannya model Viar. Kesimpulan ini aku teruskan ke Nirwan. Hal ini sangat penting. Perkaranya ada perubahan dari roda empat menjadi roda tiga.

Selaku pehabe, penghubung yang bertanggung jawab, kujapri Nirwan perkara kesimpulan kawan-kawan,“Apa boleh model motor begini atau harus mobil?” Kusertakan gambar motor Viar.

Alhamdulillah, Nirwan bertutur via japri, “Bisa juga, yang penting berfungsi ganda: bukan hanya untuk menyebar buku, tapi juga jadi pendukung kegiatan seni dan budaya. Mungkin jadi semacam bioskop keliling misalnya.”

Jawaban Nirwan membuat kami lega. Mulailah kami berburu Viar. Tentu kami akan membeli yang baru, bukan Viar bekas, apalagi bekas Viar. Bertepatan dengan Jumat, 5 Mei 2023, aku bersama Rahman Ramlan menempuh perjalanan ke Makassar, guna membeli motor Viar. Senin, 7 Mei 2023, pagi diguyur hujan, motor Viar sudah tiba di Bantaeng via ekspedisi, langsung diantar ke markas Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan. Esok harinya, kami langsung bawa ke bengkel untuk proses modifikasi. Baknya diubah menjadi box. Pengerjaannya kurang lebih sepekan.

Arkian, proses berlanjut untuk di-branding, sesuai dengan petunjuk awal, terkait dengan pemasangan logo-logo mitra dan pemberian nama. Tatkala Nirwan,  presidenku datang, mampir di Bantaeng, ia sudah melihat motor pustaka, tapi belum ter-branding. Begitu Nirwan ke Bira, Bulukumba, kami lanjutkan pros branding. Hari itu juga selesai. Aku tak lupa berkabar kepada Nirwan, branding sudah purna, berharap bila balik ke Makssar mampir meresmikan motor pustaka.

Kamis, 18 Mei 2023, tanggal mereah, bertepatan libur Hari Kenaikan Isa Al-Masih, sekira pukul 09.00, Nirwan mampir lagi di Bantaeng. Bertempat di teras Boetta Ilmoe-Rumah Penegtahuan, kami bercakap-cakap dengan beberapa kawan. Dilalah-nya, Kajari Bantaeng ikut merapat karena ada urusan dengan Rahman Ramlan, terkait proses pendampingan Latpimnya. Sawala berkembang begitu rupa, banyak rencana kolaborasi antara kami di Boetta Ilmoe via Motor Literasi dengan Kejaksaan Negeri Bantaeng untuk turba bersama.

Di sela percakapan bersama kawan-kawan di markas Boetta Ilmoe, Nirwan menabalkan agar motor pustaka ini tidak sekadar mengantar buku-buku bacaan, tetapi harus menjadi bagian dari pusat kebudayaan. Yah, serupa motor pustaka dan budaya. Akhirnya, kami semua meresmikan penggunaan Motor Literasi secara sederhana. Tiada gunting pita, atau sejenis peluncuran formal ala orang kantoran. Sekotahnya berlapik tradisi komunitas.

Nirwan pamit pulang ke Makassar. Baru saja dua tiga langkah, sebelum naik mobil, ia tengok box Motor Literasi. Ada satu kata yang menggodanya, kata “Peradaban” yang tertulis di bagian bawah box, “Literasi untuk Peradaban”. Nirwan bertutur, peradaban dari kata adab. Motor kita sangat elok didapuk sebagai Motor Peradaban.

Selepas Nirwan berangkat, aku membatinkan kembali pikiran lama, puncak kebudayaan adalah peradaban. Motor Literasi hadir melata, guna berfungsi sebagai motor pustaka dan budaya. Motor penggerak literasi untuk peradaban.

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *