BantaengEdukasiTrending News

Muharram Bukan Bulan Pembawa Sial

Bantaeng, Bonthaina – Sekretaris Pokjaluh Kemenag Bantaeng menekankan bahwa bulan Muharram bukanlah bulan yang membawa sial, tetapi bulan mulia untuk memperbanyak ibadah. Umat islam khususnya yang ada disini, sudah harus mulai merubah mindset dan image mengenai bulan Muharram. Jangan takut untuk berbuat baik atau melakukan perbuatan baik seperti perkawinan, sunatan, aqiqahan, dan lainnya dalam bulan Muharram. Sudah waktunya untuk mengurangi kebiasaan berbelanja peralatan rumah tangga pada tanggal 10 Muharram, tetapi isilah dengan berpuasa dan bersedekah.

Ustaz Saharuddin menyampaikan itu dalam tausiahnya pada pengajian rutin Majelis Taklim yang digelar setiap tanggal 3 bulan berjalan di Aula Kantor Desa Bonto-Bontoa, Tompobulu, Rabu kemarin (3/8/2022).

“Hari, bulan dan tahun yang Allah ciptakan semuanya baik, tidak ada yang sial atau naas. Sesungguhnya kesialan, kecelakaan adalah bagian dari takdir Allah, yang tidak diketahui hamba-Nya, kecuali setelah terjadi. Allah bisa menimpakan kesialan atau kenaasan kepada siapapun, dimanapun dan kapanpun, bila Allah menghendakinya,” kata ustaz Saharuudin.

Selain bulan yang mulia dan termasuk dalam golongan 4 bulan istimewa, ustaz Saharuddin menyebutkan keutamaan bulan Muharram dengan mengutip surah At Taubah ayat 36.

Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.

Sekurang-kurangnya ada tiga keistimewaan bulan Muharram bagi umat muslim. Pertama, bulan yang mulia dan termasuk dalam golongan 4 bulan istimewa yang diharamkan Allah. Kedua, peningkatan kualitas takwa berbeda dengan bulan-bulan pada umumnya. Pada asyhurul hurum, setiap muslim dituntut untuk lebih meningkatkan kualitas takwa, kata dia, sebab, orang yang melakukan maksiat pada keempat bulan tersebut akan mendapat balasan dosa lebih besar.

Saharuddin mengungkapkan, bulan Muharram adalah bulan perdamaian. Pada zaman Rasulullah saw, perang menjadi salah satu instrumen dakwah dengan beberapa ketentuan. Hanya, ketika memasuki bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab, Allah memerintahkan mereka untuk melakukan gencatan senjata. Kecuali jika pihak musuh yang memulai peperangan, maka umat Islam saat itu boleh membalasnya kendati berada di asyhurul hurum.

“Perlu diketahui pula bahwa mengkambinghitamkan waktu sebagai penyebab kesialan suatu usaha, sejatinya merupakan mitos masyarakat Arab Jahiliyah. Mereka sering berkumpul di berbagai kesempatan untuk berbincang-bincang tentang berbagai hal dan terkadang dalam perbincangan mereka terlontar ucapan-ucapan yang mempermasalahkan waktu sebagai penyebab kesialan usaha mereka, atau manakala mereka ditimpa berbagai musibah lainnya,” ucap ustaz Saharuddin.

Dalam membersamai bulan Muharram, ustaz Saharuddin mengatakan amalan yang dapat dilakukan adalah, memperbanyak salat sunnah, berpuasa sunnah, menyambung silaturahim, bersedekah, mandi, memakai celak mata, berziarah kepada ulama baik yang hidup maupun yang meninggal, menjenguk orang sakit, menambah nafkah keluarga, memotong kuku, mengusap kepala anak yatim dan membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak 1000 kali. Disunnahkan pula untuk memperbanyak puasa sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam.

“Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah bulan Allah; Muharram. Dan shalat paling utama sesudah shalat fardhu adalah shalat malam”. HR. Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah, katanya lagi.Diakhir materinya, Saharuddin mengingatkan bahwa karena ini masih dalam suasana tahun baru 1344 H, maka idealnya umat Islam harus banyak merekeng-rekeng diri, atas amal dan dosa setahun yang lalu, kemudian bertekad untuk memperbaikinya di masa depan.

Sesuai perintah Allah, dalam firmannya “Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan” (QS. Al-Hasyr (59): 18),” kata ustaz Saharuddin.

Kepala Desa Bonto-Bontoa, M.Ridwan menjelaskan, pemerintah Desa Bonto-Bontoa telah memprogramkan bantuan baju seragam untuk seluruh anggota Majelis Taklim di Desa Bonto-Bontoa sekaligus mengundang anggota Majelis Taklim untuk hadir di rembuk Desa yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat dan menyampaikan aspirasinya untuk dianggarkan di tahun anggaran 2023.

“Seperti yang tampak hari ini bantuan Kitab suci Al qu’ran dan talkum untuk masjid-masjid, dan akan ditingkatkan ditahun yang akan datang,” M. Ridwan.

Ahmad Ismail

Fotografer-Videografer/Jurnalis Lepas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *