Daeng Litere'Jurnalisme Warga

Musibah/Bencana; Adakah Nilai Lebih yang Bisa Dipetik?

Cuaca sedikit mendung. Sentuhan gerimis sesekali datang menyapa. Angin sepoi menyemilirkan sentuhannya. Udara adem, seolah bercanda menemani. Semuanya terasa baik-baik saja. Kurang lebih, demikianlah suasana batin saya di tempat rutinitas, sore hari menjelang malam, di saat hendak bergegas pulang ke rumah, Jumat, 12 Juni 2020.

Seperti biasa, ketika sampai di rumah, hanya membuka android sejenak saja, sekadar mengecek info penting yang patut dan mendesak. Namun, yang saya buka, bukan Facebookatau Instagram atau medsos lainnya. Satu-satunya medsos yang saya buka ketika pertama sampai di rumah adalah WhatsApp, itu pun untuk chat-ingan, dan grup yang berhubungan langsung dengan tugas pokok dan fungsi saya (maklum grup WhatsApp di android saya, terhitung sudah tidak sedikit, setidaknya untuk ukuran saya).

Seperti malam-malam sebelumnya, saya membuka android, ketika usai menunaikan salat, dan ketika anak-anak selesai dituntun untuk mengaji. Terinfokanlah berita terkini melalui Facebook dan WhatsApptentang apa yang terjadi dengan tanah kelahiran saya. Bertubi-tubi infomasi tentang banjir. Ada yang melalui tulisan, foto, video bahkan dengan siaran langsung.

Duka menghampiri, menyelimuti saya, di saat masyarakat dan pemerintah berjuang mempertahankan diri – dengan capaian yang tidak jelek-jelek amat – dari serangan Covid-19 (setidaknya sampai waktu itu), musibah datang “menjenguk”. Sapuan banjir menghantam tanah kelahiran. Saya simaklah berbagai macam perkembangan informasi, tentang peristiwa yang terjadi. Di saat bersamaan, bersileweran pula berbagai respon dan tanggapan netizen. Empati, simpati, peduli, kritikan, saling menyalahkan, semuanya bercampur aduk.

Saya mengambil sikap untuk tidak berdiri di barisan saling menyalahkan terlebih dahulu. Tetapi mengambil jalan bagaimana saudara-saudara saya merasa tenang, tidak panik, kuat, sabar, dan segera mengambil tindakan yang bisa dilakukan untuk selamat dan pulih, baik dari segi fisiologis, maupun psikologis. Untuk kritikan dan saling menyalahkan, saya parkir terlebih dahulu. Dalam kondisi yang sedang “semrawut” waktu itu, menyalakan lilin, lebih saya utamakan daripada mengutuk kegelapan. Toh, nanti ada ruang yang bisa digunakan menyalurkan kritikan dan masukan dalam upaya penangann dan pencegahan, agar peristiwa yang sama bisa diminamilisir berikutnya.

***

Musibah/bencana, baik bencana alam seperti banjir, atau bencana non alam seperti wabah penyakit – sependek sepengetahuan saya – pada umumnya (biasanya), selalu datang berulang. Ada waktunya, zamannya, momennya, atau boleh dibilang, ada siklusnya. Yang membedakan hanya bentuknya, jenisnya, dan bahkan intensitasnya. Sebutlah wabah penyakit. Di setiap waktu, untuk beberapa jarak dan kurun waktu tertentu, selalu datang menyapa.

Hal ini sudah dikabarkan sejak dahulu. Bahkan pada masa kenabian sebelum Nabi Muhammad pun, kabar tentang adanya wabah penyakit sudah kita dengar. Karena itulah sampai ada hadis Nabi, yang memerintahkan agar menghindari penyakit-wabah. Dengan memberikan petunjuk, bahwa jika di suatu daerah-wilayah-komunitas, terjangkit suatu penyakit yang sifatnya mewabah, agar tidak mendatanginya. Dan bagi penduduk yang berada pada wilayah yang sedang terkena wabah salah satu jenis penyakit, agar menahan diri untuk tidak berkeluyuran. Mungkin ini dimaksudkan dan bertujuan supaya individu-individu tersebut dapat meminimalisir efek dan dampak yang ditimbulkannya, serta tidak menjadi “distributor” penyakit.

Demikian pula dengan bencana alam, semisal banjir. Dari dulu kita sering mendengar cerita atau pengabaran dari orang-orang terdahulu, tentang peristiwa banjir yang pernah terjadi beberapa kali pada masa lalu, tak terkecuali di Bantaeng.

Lalu, apakah musibah/bencana yang datang berkali-kali itu, adalah sesuatu yang “automaticly”, sesuatu yang inheren dalam kehidupan, sesuatu yang memang sudah pasti dan mesti terjadi? Jawabannya iya. Sepanjang syarat dan penyebabnya terpenuhi. Jadi, musibah/bencana yang datang itu, tidaklah datang serta merta begitu saja. Ada hal/unsur yang menyebabkan ia datang.

Untuk setiap musibah/bencana yang datang, Tuhan tidak mendatangkannya begitu saja tanpa sebab. Karena, logika umum selalu berlaku, Tuhan itu Mahabaik. Tuhan tidak mungkin menzalimi hamba-Nya. Tuhan itu Mahaadil. Lalu, dari mana datangnya sebuah ketidakbaikan? Itu karena diundang oleh manusia.

Karena itulah, Tuhan menciptakan alam ini dalam keadaan seimbang. Tuhan telah menciptakan ruang hidup untuk manusia, ruang hidup untuk air, ruang hidup untuk angin, ruang hidup untuk tanah, ruang hidup untuk pohon, ruang hidup untuk batu, dan seterusnya. Semuanya sudah harmonis, sesuai takaran dengan habitat dan ekosistemnya masing-masing. Semuanya sudah seimbang.

Ambillah perumpamaan pada tubuh manusia sebagai bagian dari miniatur bumi ini. Mengapa Tuhan menciptakan tumbuhnya bulu di atas mata yang disebut alis? Mengapa Tuhan menciptakan tumbuhnya bulu di kepala yang disebut rambut? Mengapa Tuhan menciptakan tumbuhnya bulu di sekitar mata yang disebut bulu mata? Itu semua ada maksudnya. Menjaga harmonisasi fungsi-fungsinya agar tetap memberikan kesimbangan dan kenyamanan.

Demikian pula pada bumi ini. Gerangan apa Tuhan menciptakan banyak pepohonan di daerah ketinggian-pegunungan. Gerangan apa Tuhan telah menyediakan aliran-aliran sungai yang begitu indah. Gerangan apa Tuhan membentuk bumi ini dalam berbagai kontur tanah yang bervariasi? Ada yang berpantai, ada yang dataran, ada pegunungan. Semuanya tertata dengan baik.

Tatanan alam inilah, yang ketika diganggu maka dia akan “mengamuk”. Mengapa air meluap, mengapa banjir melanda, mengapa longsor menerkam? Itu karena ada yang mengganggu ekosistemnya. Ada yang merusak habitatnya. Ada yang merongrong kenyamanannya. Aliran sungai yang dari dulu sudah menjadi habitatnya yang sudah menjadi “jalan hidupnya”, diganggu. Salah satunya, mungkin dengan disempitkan atau dijadikan tempat (pembuangan) sampah atau air yang sebelumnya memiliki persinggahan-persinggahannya sebagai wadah untuk beristirahat, dibabat habis. Bahkan mungkin resapannya di wilayah tertentu dieksploitasi oleh tangan-tangan manusia. Intinya, alam itu selalu bersahabat dengan manusia. Hanya manusialah yang mengambil jarak dengannya, bahkan mengeksploitasinya dengan tidak menjaga keseimbangannya.

Nah, dengan datangnya setiap musibah/bencana, bagaimana meresponya? Ada beberapa bentuk respon yang bisa menjadi pilihan. Pertama, sebagai bentuk murka dan marah Tuhan, karena banyaknya perilaku manusia yang berbuat dosa kepada-Nya. Mungkin karena sudah banyak yang lalai. Banyak yang tidak ingat kepada-Nya. Atau banyak yang sudah merusak alam.

Kedua, sebagai bentuk teguran Tuhan kepada hamba-Nya yang tidak mengelola dan mengolah alam dengan menjaga keharmonisannya. Bagi hamba yang ada di lingkaran kekuasaan-pemerintahan, mungkin Tuhan hendak menunjukkan pesan bahwa dalam mengambil kebijakan pembangunan, agar dilakukan evaluasi, jangan sampai terjadi ketimpangan harmonisasi. Dan ini pula yang dikehendaki oleh warga.

Ketiga,sebagai bentuk ujian Tuhan kepada hambanya untuk menguji keyakinan-keimanannya, masihkah ia beriman ketika dalam kondisi kesusahan atau tertimpa musibah/bencana?

Keempat,sebagai bentuk kasih sayang Tuhan bahwa dengan begitu ia memanggil hamba-Nya agar tidak semakin jauh dari-Nya dalam menjalani hidupnya, dan semakin mendekat kepada-Nya. Alternatif respon lainnya tentu masih beragam, tergantung dari sudut pandang kita masing-masing.

Tanpa mengabaikan beberapa alternatif yang ada, saya ingin menangkap pesan, bahwa di tengah sikap hidup yang individualistik, sikap hidup yang nafsi-nafsi, sikap hidup yang ogah-ogahan dengan nasib sesama, ternyata dengan adanya kiriman Tuhan ini, solidaritas, kesetiakawanan, ke-simpatian, keempatian dan kepedulian, dapat terlihat dan terajut kembali.

Saya hendak berprasangka baik kepada Tuhan, bahwa Tuhan itu Mahabijaksana dan Mahabaik. Manusialah yang selalu melekatkan label negatif kepada-Nya. Lalu kenapa Tuhan mendatangkan musibah/bencana? Karena dengan cara demikianlah, manusia sebagai khalifah di muka bumi, dapat melakukan introspeksi diri secara internal dan eksternal. Mungkin Tuhan hendak berkata, silahkan bangun apa yang bisa membuatmu maju dan berkembang, tetapi jangan lupa jaga keseimbangan alam. Sebelum datanganya musibah/bencana yang lebih besar dari apa yang sudah terjadi akibat dari tangan-tangan manusia itu sendiri, maka dengan adanya musibah/bencana ini adalah alarm tersendiri bagi manusia.

Bahkan dengan adanya musibah/bencana ini – dan saya lebih menggunakan pandangan ini dalam memandang musibah/bencana yang terjadi ini – Tuhan menunjukkan kepada manusia, bahwa kita ini adalah komunitas-warga-bangsa yang masih kuat. Di tengah mainstream pikiran yang berkembang di otak manusia, bahwa hidup zaman sekarang dianggapnya sebagai hidup yang individualistik, saling cuek, acuh tak acuh, hilangnya solidaritas dan kesetiakawanan sosial, ternyata itu tidak sepenuhnya benar. Buktinya, di saat orang-orang kota terkena musibah, orang-orang desa pun sibuk bergerak menjalankan misi kemanusiaan, tanpa perintah, tanpa komando, tanpa arahan. Kita bisa melihat, bagaimana simpati, empati dan kepedulian dari orang-orang yang berasal dari wilayah lain,dari komunitas lain, dari warga lain, dari kelompok lain, dengan aneka ragam latar belakang, berbondong-berbondong ikut ambil bagian dalam meringankan beban warga yang terdampak musibah/bencana, baik dalam bentuk moril, tenaga dan harta benda.

Ini menandakan bahwa Tuhan ingin menumbuhkan optimisme kepada kita semua, agar tidak berputus asa dalam pandangan hidup sosial yang negatif. Susungguhnya, kita ini bangsa yang besar. Bangsa yang kuat. Bangsa yang bersatu. Dengan kiriman musibah/bencana inilah, sebagai bagian dari “ayat-ayat” Tuhan yang ditunjukkan kepada manusia untuk menumbuhkan optimisme dalam berwarga negara dan bermasyarakat. Bahwa “sejahat-jahatnya” zaman sekarang, selalu ada orang-orang ikhlas yang menjadi penopang tegaknya hidup bermasyarakat.

Demikianlah kekuasaan Tuhan. Musibah/bencana pun, adalah titisan kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya untuk merawat dirinya dalam menjalani kehidupannya.

Tulisan ini terdapat dalam buku Empati Untuk Kebaikan Baru. Buku ini bisa diperoleh di Boetta Ilmoe – Rumah Pengetahuan Bantaeng atau menghubungi Sulhan Yusuf di nomer 0813-4265-6597

Hamzar Hamna.

Lahir di Bantaeng, 23 Nopember 2020.Tinggal di Dampang Kel. Gantarangkeke Kec. Gantarangkeke Bantaeng.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *