Daeng Litere'

Negeri Kata-Kata dan Togel

Beberapa hari setelah Pemilu 2024. Sederet kata-kata, serupa judul-judul tulisan, disusun rapi. Selain tertulis di layar gawai, juga ditulis ulang dalam lembaran-lembaran kertas. Setiap penggalan kata-kata dimasukkan ke dalam amplop. Dipadankan dengan nama-nama tertentu. Ternyata, nama-nama tersebut merupakan caleg, mulai dari kabupaten sampai pusat. Begitulah aktivitas terkini Daeng Litere.

Bagi orang banyak, sepekan sesudah pemilu, pesta demokrasi berakhir. Namun, bagi tim sukses capres-cawapres dan caleg, justru pertarungan babak baru dimulai. Ibarat permainan sepak bola, memasuki babak kedua. Termasuk Daeng Litere, ia memasuki aktivitas babak kedua dengan dunianya sendiri.

Semula kukira Daeng Litere bakal menyusun satu buku. Paling tidak sekumpulan narasi, seperti yang biasa ia lakukan. Wah, bakal ramai lagi jagat persilatan pikiran, sebab akan lahir satu buku, lalu diluncurkan seperti biasanya.

Alamak, aku keliru sekeliru tingkat dungu. Mengapa? Nyatanya amplop kata-kata itu, Daeng Litere akan menyerahkannya ke Daeng Pacekkeng dan Daeng Parumusu.

Siapa Daeng Pacekkeng dan Daeng Parumusu? Baiklah, aku kenalkan dulu selintas, supaya muruah pepatah, “Tak kenal maka tak sayang,” tegak adanya. Maklum saja, kedua daeng ini nyaris menganggur sekira enam bulan sebelum pemilu. Ia melebur menjadi tim sukses, baik capres-cawapres maupun caleg.

Daeng Pacekkeng, hanyalah nama gelar yang ditujukan kepada seseorang di kampungku. Semacam jabatan, bertugas mengecek peserta pabotoro (penjudi},yang akan berjudi lewat fasilitas togel daring. Serupa calo yang mempertemukan penjudi dan bandar, tapi secara senyap.

Riwayat pacekkeng setua dengan model judi terselubung. Dulu, waktu zaman judi Lotto, ada pacekkeng-nya. Bahkan, sewaktu model judi berkedok sumbangan sosial, SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah) dan Porkas (Pekan Olah Raga dan Ketangkasan) di era Orba, ia tetap eksis.

Kini, lewat judi togel, keberadaannya makin bergengsi. Sebab, ia menjadi jembatan online, menggunakan fasilitas digital, via ponsel cerdas, menjelajah pusat-pusat togel di dalam dan luar negeri. Sementara para peserta judi, sebagian besarnya masih awam teknologi botoro digital. Selain itu, pacekkeng juga bertindak selaku juru bayar.

Lalu, siapa Daeng Parumusu? Sama seperti halnya Daeng Pacekkeng, juga sebentuk jabatan yang disandang oleh seorang perumus, yang akan menebak kata-kata untuk dikonversi menjadi satuan angka-angka, buat memasang pilihan angka-angka. Sejak dari era Lotto, SDSB, Porkas, dan togel, sekotahnya menggunakan angka yang diundi.

Jadi, tugas Daeng Parumusu, sang perumus ini, cukup canggih, selain lantip memaknai kata-kata, juga dianggap punya ketajaman mata batin, melihat peluang angka yang akan naik. Sosok Daeng Parumusu, bukan kaleng-kaleng. Sebab, ia mengkuantifikasi sesuatu yang bersifat kualitatif. Miriplah pekerjaan para peneliti, mengubah sesuatu yang bersifat kualitatif menjadi kuantitatif. Keren bukan?

Cerita tentang Daeng Parumusu sudah menjadi legenda. Di waktu lalu, pernah hidup seorang Haji Sulaemana, yang dianggap sebagai sosok yang sering memberi isyarat bagi Daeng Parumusu, agar memecahkan kata-katanya.

Maksudnya, ia mengeluarkan satu kalimat. Tentulah kalimatnya tidak harus memenuhi standar kebakuan bahasa seperti pelajaran bahasa Indonesia, SPOK (Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan). Makin “kacau” kalimatnya, semakin misterius untuk dirumus, berarti sangat spekulatif angka-angkanya.

Daeng Parumusu juga sering bertindak seperti intel. Di kampungku ada seorang ulama, kiyai besar, dijuluki Puang Lompo. Bak intel yang memata-matai, nyaris lengket kayak perangko, Daeng Parumusu sering mendempeti Puang Lompo. Tujuannya hanya satu, mendapatkan sejumlah kata-kata berbentuk kalimat.

Misalnya, Puang Lompo memberikan pengajian di Masjid dekat rumahku, Daeng Parumusu’ ikut bermajelis. Atau sekadar menguping lewat pelantang suara: toa masjid.

Belum lagi, manakala Puang Lompo ke pasar, atau ke mana saja, Daeng Parumusu’ membuntutinya. Demi sepenggal kata-kata bertuah, dalam satu ikatan kalimat.

Bukan itu saja, mimpi seseorang pun, kadang menjadi sumber referensi Daeng Parumusu untuk melakukan proses kuantifikasi, dari bunga tidur yang bersifat kualitatif.

Paling gila dari tindakan Daeng Parumusu, karena sudah berhubungan juga dengan beberapa orang gila di kampungku. Paling tidak ada empat tipe. Pertama, pendiam, kerjanya duduk-duduk bakar sampah atau sejenisnya.

Kedua, berjalan ke sana-sini, tanpa bicara. Ketiga, punya tempat tinggal, tapi sering keluyuran, sesekali bicara seperti orang normal. Keempat, seperti orator. Tidak kenal waktu seperti orang orasi. Kalau ia bicara, kalah para jurkam. Sebab, mulutnya sulit dikontrol.

Semua tingkah dan ocehan orang gila, diselami dengan khusyuk oleh Daeng Parumusu. Untuk apa? Tiada lain, lahirnya segumpal kata-kata dalam simpai kalimat, guna diubah menjadi angka-angka bertuah.

Kalimat-kalimat atau sederet kata-kata misterius bin spekulatif, akan menyelematkan Daeng Parumusu dari dakwaan ketidaktepatan tebakan. Pasalnya, angka-angka yang disodorkan Daeng Parmusu ke pabotoro, sering pula meleset.

Anehnya, ia selalu punya penjelasan kalau meleset. Bahkan, ia kadang bikin majelis terbatas, guna mempertanggung-jawabkan kemelesetan itu. Daeng Parumusu menerangkan muasal seikat kata-kata berbentuk kalimat, lalu dirumus menjadi angka-angka, pun urutan peluang angkanya. Pabotoro pun jadi maklum, sekaligus jadi makmum.

Mumpung Daeng Parumusu masih jeda aktivitasnya. Keterlibatannya menjadi tim sukses, menyebabkan ia dapat gaji bulanan selama enam bulan selaku peluncur. Bila calegnya berhasil duduk menjadi anggota dewan, otomatis pamornya ikut naik. Daeng Litere ingin mengubah cara merumus kata-kata Daeng Parumusu.

Sederet kata-kata dari caleg jelang pemilu, utamanya yang terpampang di baliho-baliho atau sejenisnya di dunia nyata, maupun pamflet di jagat maya, ia akan sodorkan kepada Daeng Parumusu. Tak lupa, ia akan mengajari pula metodologi ilmu peluang ala para peneliti, termasuk ilmunya lembaga-lembaga survei.

Daeng Pacekkeng pun dapat kata-kata. Sebab, tidak sedikit parumusu minta jasa kata-kata darinya. Rumusan janji dari para caleg dalam sebuah amplop. Isinya, “Andalan Indonesia, Kita bersama Anak Rakyat, Cepat Senyap Tepat,  Bantu Rakyat, Untuk Indonesia Maju, Bersama untuk Kebaikan, Amanah Peduli Akkareso, Politik Kemanusiaan, Lanjutkan Pengabdian, Menang Itu Perjuangan, Perjuangan adalah Pelaksanaan Kata-Kata, Hadir untuk Harapan-ta, Siap Bergerak, Bekerja Setulus Hati, Milenial Lebih Baik, dan Kami Perintis Bukan Pewaris.”

Sudah barang tentu bukan saja satu amplop yang disediakan Daeng Litere. Bayangkan saja, berapa jumlah caleg beserta janjinya? Itulah yang diamplopkan Daeng Litere. Amplop untuk Daeng Pacekkeng, itu hanya contoh saja.

Ketika kutanya apa motifnya ikut menceburkan diri dalam dunia pabotoro online? Daeng Litere dengan enteng menjawab, “Demi mengakrabkan mereka pada literasi.”

“Bukankah urusan perjudian togel via online, dekat sekali dengan 6 literasi dasar: baca-tulis, numerasi, informasi digital, sains, keuangan, dan budaya-kewargaan?”

“Bukankah para peneliti, saintis, dan surveyor adalah para spekulan di bidangnya, untuk tidak mengatakan berjudi menuju kepastian hasil?”

Ulah aneh Daeng Litere kuunggah ke dalam group WA, “Empat Sekawan”, sembari kuberi caption, “Beginilah kawan kita sang pegiat literasi, mulai menggarap pabotoro.

“Ha? Maklumi saja, Daeng Litere kena imbas dari brutalnya Pemilu 2024. Dia belum move on dari satirannnya tentang Taipa Gibrang dan Taipa Wowo. Sepasang taipa pallo dan taipa jappo,” tegas Daeng Gappa dari kejauhan di negeri seberang.

Lima emoticon love warna merah diunggah Daeng Dunding. Tanda cinta tiada bertepi buat anggota group.

Kalakian, kupungkasi ajakan di grup, “@Daeng Litere dan @Daeng Dunding, yuks merapat di Warkop Bone. Mari kita percakapkan, siapa sekarang yang jadi pacekkeng dan parumusu?”

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *