BantaengEdukasiLiterasi

Normalisasi Korupsi? Katakan Tidak!

Baskara baru saja tergelincir dari puncak teriknya. Pukul 12.30 WITA lebih. Seorang panitia penyelenggara lomba pidato, menghangatkan kembali ingatan saya, tentang mandat saya selaku dewan juri, di helatan lomba puisi dan pidato, jenjang SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA se-Kabupaten Bantaeng, dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia (HAKORDIA). Persisnya, Senin, 18 Desember 2023, bertempat di Kantor Inspektorat Bantaeng. Tema hajatan, “Sinergi Berantas Korupsi untuk Indonesia”.

Sebagai salah seorang juri untuk lomba pidato jenjang SMA/SMK/MA, saya sungguh merasa bersalah, sebab agak telat sedikit. Pasalnya, sekotah peserta dan juri lain sudah pada menyata di arena, sementara saya masih bersiap berangkat dan dua kali panggilan berbeda masuk dari penghelat kala otewe.

Rasa-rasanya, sependek ingatan saya, baru kali ini saya telat mengada di hajatan. Apatah lagi, begitu saya masuk ruangan, nyaris semua orang berpakaian pramuka. Tidak lebih lima jari saya berpakain biasa. Entah apa hubungannya antara kaum pramuka ini dengan Inspektorat Bantaeng sebagai tuan rumah perhelatan. Pikiran saya cuman satu, menunaikan tugas sebagai juri lomba.

Puluhan peserta lomba unjuk kebolehan. Menyajikan konten, menampilkan gestur, membahanakan retorika, memainkan artikulasi dan intonasi suara, dan menyelaraskan dengan tema lomba pidato.

Walhasil, lahirlah para juara. Mulai dari Juara 1 hingga 3, plus Juara Harapan. Bagi juri, cukup objektif dalam kaitannya dengan peserta. Sebab, hanya nomor undian peserta saja yang disampaikan. Nama dan asal sekolah, tidak diperkenankan. Saya pun nyaris tak kenal dengan mereka. Kalaupun kenal muka, karena mungkin pernah sua di berbagai tempat, tapi tidak tahu nama dan asal sekolah.

Begitu hasilnya diumumkan, keluarlah nomor undian 3 (tiga) sebagai juara 1. Saat sesi foto bersama dengan juri, saya setengah berbisik sambil bertanya, dari sekolah mana?

“SMA Negeri 1 Bantaeng kak,” jawabnya.

Usai acara, tak pakai lama, saya langsung pulang, tancap gas ke markas Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, guna menyelesaikan beberapa perkara literasi. Sejak saat itu, saya mulai berpikir, siapa sosok sang Juara 1 itu?

Esoknya, baskara masih semenjana teriknya. Saya coba kontak panitia, minta nomor kontak sang Juara 1. Saya ingin melakukan percakapan via daring, termasuk meminta naskah pidatonya, yang tidak sempat saya bawa pulang usai lomba. Dari berkontak ria dengannya, saya baru tahu namanya, Putri Azzahra Aulia Wael. Kelahiran Bantaeng, 11 Desember 2005, sementara duduk di Kelas XII SMA Negeri 1 Bantaeng.

Berlatar belakang orang tua sebagai wiraswasta, ayah berasal dari Ambon, sedangkan ibu dari Jeneponto. Putri sendiri menyelesaikan pendidikan SD di Bantaeng, berpesantren di Gowa, dan lanjut SMA di Bantaeng. Putri sebagai seorang pelajar, bukan saja belajar, tapi ikut pula berkegiatan di OSIS, Sanggar Seni Putih Abu-Abu, English Club, dan Ikatan Remaja Mushallah Smansa Bantaeng.

Lalu, apa yang memukau dari pidato Putri yang berjudul, “Pemuda Beraksi, Berantas Korupsi” bagi saya? Tatkala ia menohokkan satu penggalan kalimat, “Normalisasi Korupsi” yang harus dicegah, agar tidak berkembang menjadi budaya korupsi. Dan, sepertinya, gejala normalisasi korupsi mulai menggelending. Para koruptor masih leluasa melenggang kangkung, tiada rasa bersalah.

Ah, alangkah eloknya bila saya penggal-penggalkan isi pidato Putri, yang mengantarnya meraih Juara 1. Ia memulai dengan ajakan menghangatkan ingatan ke masa silam.

Putri mendedahkan, sekitar 62 tahun silam, Bapak Proklamator yang juga merupakan presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno pernah mengatakan, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Hingga hari ini, ucapan Bung Karno masih terbukti benar. Banyak sekali ketertinggalan yang kita alami hari ini disebabkan oleh bangsa kita sendiri. Di tengah ambisi kita untuk membangun negeri ini, masih ada bayangan gelap yang menghalangi langkah-langkah kita, satu di antaranya ialah bayangan korupsi. Korupsi merusak fondasi bangsa kita, menghancurkan kepercayaan rakyat, dan menghentikan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Berikutnya, putri menyodorkan fakta, berdasarkan data ICW, ada 579 kasus korupsi yang telah ditindak di Indonesia sepanjang 2022. Jumlah itu meningkat 8,63% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebanyak 533 kasus. Fakta ini sungguh sangat memprihatinkan, di mana tiap tahunnya kasus korupsi di Indonesia terus mengalami peningkatan.

Lalu ia mengajak, hari ini, kita hadir di sini bukan untuk meratapi masalah tersebut, melainkan untuk menghadapinya dengan tekad yang bulat, dengan sinergi sebagai senjata kita. Dengan mengusung tema“Sinergi Berantas Korupsi, Untuk Indonesia Maju”.

Tak lupa Putri mengingatkan, pada hari Anti Korupsi Sedunia tahun 2023, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ingin melibatkan peran serta masyarakat dan seluruh elemen bangsa, untuk meningkatkan kesadaran dalam memberantas korupsi, sehingga seluruh elemen bangsa dapat menjadi aktor utama dalam aksi pemberantasan korupsi.

Menurutnya, satu di antara elemen tersebut adalah pemuda.Pemuda merupakan kekuatan dinamis yang dapat membentuk arah masa depan negara. Pemberdayaan pemuda dalam upaya anti korupsi sangat penting untuk membangun masyarakat yang bersih dan berintegritas. Karena masa depan bangsa sangat ditentukan oleh baik atau buruknya kualitas pemuda saat ini.

Wajah Putri merona, raut mukanya amat serius, sambil berucap, sekarang pertanyaannya, “Bagaimana cara kita membentuk para pemuda untuk menjadi kekuatan nyata dalam budaya anti korupsi?” Berkaitan dengan hal ini, ada beberapa cara yang dapat dilakukan.

Pertama, Pendidikan dan Kesadaran Anti Korupsi. Memberikan pemahaman yang baik tentang arti pentingnya integritas dan bahaya korupsi melalui pendidikan formal dan informal. Pemuda dengan segala idealismenya dapat memutus mata rantai korupsi jika sejak dini telah dibekali dengan mental dan budaya anti korupsi. Mereka dapat menjadi suara yang kuat untuk mengingatkan dan menuntut transparansi dari pemerintah dan institusi lainnya. Kampanye sosialisasi dan workshop dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran pemuda terhadap dampak negatif korupsi.

Kedua, Pengembangan Keterampilan dan Kepemimpinan. Pengembangan kepemimpinan pada pemuda memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan di mana nilai-nilai anti korupsi terpatri kuat. Memberikan pelatihan keterampilan yang diperlukan untuk memahami, mencegah, dan melaporkan kasus korupsi. Ini melibatkan pembelajaran tentang tata kelola yang baik, etika, dan keberanian untuk melaporkan tindakan yang mencurigakan.

Ketiga, Inovasi Teknologi. Pemuda adalah generasi yang terhubung secara digital, dan pemuda dapat menggunakan platform digital untuk menyuarakan ketidakpuasannya terhadap korupsi. Mari kita gunakan keberanian kita untuk memaparkan tindakan korupsi dan mendorong transparansi.

Terakhir, mari kita dorong perubahan budaya. Korupsi tidak bisa diterima sebagai bagian dari budaya kita. Kita harus menciptakan budaya di mana tindakan korupsi dianggap sebagai tindakan tercela dan bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsa kita.

Tak boleh tindakan korupsi dianggap normal. Apalagi menganggap korupsi sebagai prilaku normal. Hentikan normalisasi korupsi

Putri tak lupa mengutip kata-kata bertuah, sebagaimana yang dituturkan oleh Bung Hatta, “Jangan biarkan korupsi menjadi bagian dari budaya Indonesia.”

Pucuk pidato Putri menegaskan eksistensinya sebagai bagian dari pemuda. Peran pemuda dalam aksi berantas korupsi harus kita maksimalkan. Kita tidak bisa hanya diam melihat negeri ini terpuruk dalam bayangan korupsi. Ketika kita bergerak bersama, saat itulah kekuatan kita nyata. Sinergi pemuda adalah kunci untuk menciptakan perubahan positif, membawa cahaya keadilan di tengah-tengah gelapnya korupsi.

Sebagai generasi Z dan Milenial, kamilah generasi yang akan bertanggung jawab dalam beberapa tahun kedepan atas arah yang akan diambil negara ini untuk menjadi negara yang lebih maju, moderen, sejahtera, dan tentunya terkemuka di mata dunia.Pemuda memiliki tanggung jawab untuk meneruskan tongkat estafet pembangunan, untuk mewariskan generasi yang lebih bersih dan adil.

Masih dalm suasana terungku pidato Putri, saya berimajinasi sambil membatin, anak-anak milenial di masa datang, sangat layak dipercaya untuk menjadi pengurus negeri, bilamana kualitas impian anti korupsi menubuh pada mereka. Asalkan, sejak dini kita mengatakan tidak pada normalisasi korupsi. Paling tidak, ulah keterlambatan saya menyata di helatan sebagai prilaku korup, tak layak dibudidayakan.

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

One thought on “Normalisasi Korupsi? Katakan Tidak!

  • SAKIR

    Ringan dan mudah dicerna gaya tulisan ta kanda terima kasih selalu memberikan asupan nutrisi dari literasi ta

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *