BantaengDaeng Litere'EdukasiJurnalisme WargaLiterasiNewsTrending News

Pelatihan Literasi dan Numerasi Bikin Gagal Move On

Bantaeng, Bonthaina – Pelatihan Peningkatan Kapasitas Guru Kelas Awal dan Kepala Sekolah dalam Pembelajaran Literasi dan Numerasi merupakan program yang dirilis melalui Kerja Sama Yayasan LemINA, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Kabupaten Bantaeng, dan UNICEF atas dukungan Pemerintah Jepang.

Terdapat 2 kabupaten dan 1 kota di Provinsi Sulawesi Selatan yang menjadi daerah sasaran program, di antaranya, Kabupaten Bone, Kabupaten Bantaeng, serta Kota Makassar.

Sebagai salah satu daerah sasaran program, Pemerintah Kabupaten Bantaeng melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memaksimalkan para guru dan kepala sekolah dari 15 satuan pendidikan yang ada di Kabupaten Bantaeng untuk mengikuti pelatihan. Peserta dibagi menjadi 2 kelas, lalu kemudian disatukan saat acara penutupan.

“Walaupun hanya 15 sekolah yang terkover untuk tahun ini, kedepannya kita berharap mampu mengover secara keseluruhan, secara bertahap, sesuai kemampuan anggaran daerah,” ungkap Muhammad Haris, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng saat didapuk menutup pelatihan di Hotel Seruni pada Sabtu, 1 Oktober lalu.

Pelatihan yang berjalan hingga menyeberang bulan ini, sejak 27 September hingga 1 Oktober 2022 justru dianggap tidak terasa oleh peserta, seharusnya ditambah lagi.

“Tua-tua begini, SK pensiun sudah ada, tapi masih bisa, aaahh,” paparan Sukaeni, peserta pelatihan dari kelas A memicu tawa seluruh hadirin.

Dalam agenda penutupan pelatihan itu, ia juga mengklaim telah menjadi guru sejak tahun 1982. Namun, baru kali ini mendapatkan banyak pengalaman-pengalaman berbeda selama pelatihan.

Pelatihan, pelatihan, pelatihan, pelatihan, tetapi tidak begitu berkesan, karena setelah pelatihan biasanya tidak ditindaklanjuti, kata Sukaeni, kalau ini insyaallah ditindaklanjuti selama 6 bulan kedepan.

“Kesan saya, pelatihan ini sangat luar biasa. Saya berterima kasih kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng dan LemINA. Good bye, i see you,” tambahnya dengan raut wajah berseri-seri.

Tidak hanya Sukaeni yang berpendapat demikian, Muhammad Nasir, perwakilan kelas B malah gagal move on, sebab seluruh fasilitator pelatihan dinilai menjadi motivator paling terdepan dalam mendorong peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Bantaeng.

“Kami sangat bersyukur dilibatkan dalam pelatihan ini, ilmu yang kami dapatkan dari fasilitator lewat LemINA sangat luar biasa, kami tidak bisa lupakan itu,” tutur Nasir.

Selain itu, ia juga berharap program ini dapat menjadi sebuah program yang utuh di sekolah dasar.

“Kalau di kelas A ingin berkelanjutan, maka kami ingin program ini menjadi program yang utuh di sekolah dasar,” harapnya.

Ahmad Ismail

Fotografer-Videografer/Jurnalis Lepas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *