BantaengEdukasiLiterasi

Percakapan Buku untuk Negeri Ramah Penulis

Baskara tergelincir, saya segera merapat ke Pantai Seruni Bantaeng, guna memastikan dua banner yang dibawa becak, dari markas Boetta Ilmoe Rumah Pengetahuan di Lamalaka. Banner tiba, saya simpan sejenak di depan Kafe Tamara Food Truck, samping Tribun Pantai Seruni. Beberapa orang bertanya, waima mereka sudah melihat banner, tapi saya tetap menjelaskan, akan ada hajatan percakapan buku, 30 Tahun Sebuah Rahasia, anggitan Sri Rahmi.

Banner saya benderangkan posisinya, meskipun perlengkapan acara belum terpasang. Maklum, kafe yang semestinya saya harap buka pukul 14.00, sedikit bergeser selaksa detik. Kehadiran banner paling tidak, menjadi penanda bagi calon penghadir, buat memastikan acara. Sebab, di undangan tercantum helatan akan dimulai pada pukul 14.00-17.00 WITA.

Pamflet yang saya tayangkan di medsos, sekaligus menjadi banner. Terpancar informasi pelibat percakapan buku, Sri Rahmi selaku penulis, sementara pembincangnya didapuk Rosdalifah Lebong (guru bahasa dan sastra Indonesia, Nurul Aqilah Muslihah (pegiat literasi dan praktisi homeschooling), dan dipandu oleh Sunarti (Ketua Karang Taruna Desa Bonto Jai). Meskipun pembincang terakhir berhalangan hadir, karena sakit. Selain itu, tampak pula penghibur, sekaum pelajar menamakan diri, Putih Abu-Abu Band.

Sebelum percakapan buku dimulai, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, saya mendedahkan seuntai penggalan kalimat, terkait terlaksananya persamuhan. Mewakili Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan sebagai penyelenggara, saya membentangkan maksud, adanya keinginan di tahun 2023, untuk membikin sebanyak mungkin peristiwa perbukuan: mempercakapkan buku.

Percakapan buku setiap bulan, tidak harus Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan selaku pelaksananya. Terpenting, hadirnya peristiwa buku, entah itu penerbitan, sawala, dan publikasi buku. Intinya, bagaimana mernghadirkan buku agar dekat ke warga. Siapa pun penghelatnya. Serupa tindakan memasyarakatkan buku.

Saya mengajak penghadir untuk berimajinasi. Di masa depan, berharap agar Bantaeng dikenal sebagai negeri para penulis. Namun, bila ingin tiba di kenyataan tersebut, diperlukan tindakan mencicil aktivitas berkaitan dunia kepenulisan, khususnya jagat buku dan penulisnya. Para penulis, mesti diselebrasi kehadirannya bagai selebriti.

Sesarinya, sejak mula kehadiran Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, sudah menjadikan buku sebagai sari dirinya. Industri perbukuan dikawal dengan menghadiran toko buku, walaupun sudah tutup secara nyata, tapi masih bergiat di jagat maya. Dari luring ke daring. Mendirikan rumah baca, lalu berkembang menjadi bank buku. Menggiatkan penerbitan buku berbasis penulis warga Bantaeng, baik per individu maupun berjemaah.

Percakapan buku pun demikian. Masih belia usia Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, sederet percakapan buku digelar. Baik mendatangkan penulisnya, maupun dibahas oleh pembincang dari dalam dan luar Bantaeng. Dampaknya, Bantaeng dikunjungi oleh beberapa penulis. Sambutan warga terhadap para penulis, cukup antusias.

Dua bentuk perjumpaan penulis, dengan masyarakat Bantaeng. Bertemu fisik dan lewat tulisannya. Buku sebagai representasi penulis, mesti dipercakapkan secara konsisten dan persisten. Bisa diselebrasi secara terbuka, boleh pula disawalakan secara sederhana di ruang-ruang baca, atau tempat-tempat lainnya.

Boetta Ilmoe-Rumah pengetahuan telah merancang jejaring bersama komunitas dan pegiat literasi, agar senantiasa menjaga bara api percakapan buku. Mendorong tradisi baca buku, sekaligus kebiasaan menulis. Kelas literasi akan dilipatgandakan helatannya. Kelas menulis reguler menjadi tumpuan melahirkan para penulis.

Penerbitan buku oleh Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, selama ini sudah jalan, mesti dicitrakan sebagai tindakan mudah dan murah untuk diwujudkan. Ada dua bentuk, pertama buku diterbitkan oleh sekumpulan penulis yang tidak lahir dari kelas menulis. Artinya, buku diterbitkan untuk kepentingan kelembagaan. Kedua, buku diterbitkan dari hasil kelas menulis. Maksudnya, buku dilahirkan oleh alumni kelas menulis, baik secara individu maupun berkelompok.

Dua bentuk penerbitan diharapkan akan menjadi juru bicara idealitas kepenulisan, sebab mereka sudah terlibat menjadi penulis. Apa pun motifnya. Segenap penulis yang melahirkan buku secara berjememaah, akan diarahkan untuk melahirkan buku tersendiri. Sungguh, obsesi ini bukan isapan jempol, sebab telah ada persona demikian.

Menariknya, penerbitan buku selain Boetta Ilmoe, pun mulai menggeliat. Baik diterbitkan secara perorangan maupun berjemaah dalam satu intitusi. Satu dekade terakhir, penerbitan dan percakapan buku telah terdedahkan, meskipun tidak dikonsolidasikan dengan matang. Saya sendiri tak cukup kuat ingatan untuk mereken jumlah helatan.

Tahun 2023 sejenis tonggak pencanangan percakapan buku setiap bulannya, sebagai upaya menselebrasi buah pikir para penulis, telah menemukan penanda moncernya. Pada awal tahun, di Desa Bonto Jai telah terjadi percakapan buku sebanyak dua kali. Filosofi Teras dipercakapkan oleh sekaum anak muda, tergabung dalam HPMB Raya Cabang Jalarambang dan bincang buku Menulis Desa Membangun Indonesia, di arena Camp Literacy dalam rangkan hari jadi Desa Jadi Bonto Jai.

Masih di bulan Januari 2023, tepatnya pada tanggal 28, Madrasah Aliyah (MA) Ma’arif Lasepang, merilis buku berjudul, Memoar Tentang Ibu, ditulis oleh 20 penulis, baik dari guru maupun siswa. Buku ini merupakan buku kedua dan telah menjadi bagian dari program Ma’arif menulis. Mereka bertekad untuk menjadikan sekolahnya sebagai madrasah literasi. Dan, Sri Rahmi datang kembali mempercakapkan bukunya, 30 Tahun Sebuah Rahasia, Sabtu, 4 Februari 2023, setelah sebelumnya, tahun 2022 menyata dengan sawala buku, Mawar Jingga.

Mengimajinasikan Bantaeng sebagai negeri para penulis kelak, entah kapan persisnya, saya belum bisa memantapkannya. Namun, upaya mencicil, lewat pencanangan sebagai negeri ramah terhadap penulis, melalui tindakan salah satunya: percakapan buku. Mempercakapkan buku berarti memperkarakan penulis. Manakala penulis diperkarakan karyanya, sama saja telah ada upaya selebrasi penulis. Merayakan keberadaan penulis, merupakan sunyatanya keramahan. Meniti jalan menuju Bantaeng sebagai negeri para penulis, syarat mutlaknya ada pada: ramah terhadap penulis.

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *