Daeng Litere'

Pesta Gantarangkeke

Baru saja dua kali seruput gelas kedua kopiku, ponselku bunyi. Ada pesan masuk. Ternyata, japri dari Daeng Litere. Padahal, kami berdepan-depan, meski dengan pikiran masing-masing. Ada-ada saja ulahnya, pikirku. Kutarik napas panjang, lalu kubuka japrinya. Ommale, Daeng Litere mengirimkan hasil ulikan lanjutan dari disertasi Sabbara. Kali ini, ia sodorkan catatannya tentang pesta di Gantarangkeke sebagai puncak ritus, sebagai kelanjutan dari ritus Pajukukang.

Lalu, apa inti terdalam dari pesta Gantarangkeke, sebagai pucuk hajatan? Aku salinkan saja catatan Daeng Litere terhadap pendarasan disertasi Sabbara.

Acara puncak pesta Gantarangkeke berlangsung di pusat lokasi adat, Balla’ Lompoa selaku ranah dan ruang hajatan. Setelah melakukan ritual tiga hari di Pajukukang dan dua hari di Korong Batu. Pesta Gantarangkeke, bertujuan langsung buat penghormatan kepada Karaeng Loe, baik sebagai ungkapan amanah dari Sawerigading pada Dala, bila anaknya lahir, maupun sebagai raja pertama di Kerajaan Gantarangkeke.

Selama dua hari pesta adat, terdapat perbedaan acara antara malam dan siang. Acara malam, penuh dengan ritus, sementara siangnya lebih bernuansa kegembiraan. Ritus di malam hari, merupakan penggalian dunia dalam diri, aspek mikrokosmos, dimensi batin. Sementara di siang hari, penuh dengan pesta, perwujudan pandangan makrokosmos, gatra lahir. Ritus malam hari diatas Balla Lompoa, pesta siang hari di halamannya.

Malam pertama, ditunaikan ritus angnganre to balla’na. Secara simbolis, Angnganre to balla’na, merupakan acara makan bersama masyarakat, makan-makan bagi rakyat. Acara ini dihadiri oleh segenap pemangku adat dan berlangsung secara tertutup. Dimulai selepas Isa, walaupun persiapannya sejak Magrib. Pemangku adat mempersiapkan kelengkapan ritus, seperti kaloli dan lauk-pauk, alat bunyi-bunyian berupa ganrang dan ana’ baccing.

Selain itu, dinyalakan kanjoli sebanyak 40 buah bersama 40 buah kaloli. Dupa dibakar pada satu wadah, asap meliuk-liuk dan bau harum menghidu ruangan. Lampu dimatikan, yang menerangi hanya sinar kanjoli di tengah ruangan. Beberapa pemangku adat, dipimpin oleh puanna mengelilingi cahaya kanjoli dan kaloli. Anrong guru menabuh ganrang, ritual pun dimulai. Pinati merapal mantra-mantra berbahasa lokal, terdengar mirip nyanyian, diiringi tabuhan ganrang dan ana’ baccing. Pinati memanjatkan doa buat kesejahteraan dan keselamatan masyarakat Gantarangkeke, juga semua manusia.

Ritus angnganre to balla’na ini memangsa waktu lebih dari 15 menit. Masyarakat adat Gantarangkeke, baik yang ada di sekitar lokasi maupun di luar, tidak boleh makan, sejak Magrib hingga ritus selesai. Selesai ritus, barulah diadakan acara makan-makan kaloli dan lauk-pauk. Masyarakat pun sudah boleh makan.

Malam berikutnya, angnganre Karaeng Loe. Ritual ini merupakan pucuk dari sekotah rangkaian ritual, sebagai penghormatan kepada Karaeng Loe. Makanan diletakkan di tengah rumah dan di satu kamar dalam Balla’ Lompoa. Pelaksanaannya secara tertutup, masyarakat sekitar Balla’ Lompoa diwajibkan menjaga keheningan. Ketika suasana benar-benar hening, ganrang pun ditabuh dan pinati mulai merapal mantranya.

Pinati merapal mantra dalam bahasa Makassar klasik, penuh nada batin. Boleh dibilang, ritus inilah paling sakral bin haru. Pembacaan mantra di dalam kamar, terang pelita ditiadakan, hanya cahaya kanjoli menyinari ruangan. Hajatan berlangsung, lebih dari 30 menit. Ritual ditutup dengan saling bersalaman dalam suasana penuh haru. Kemudian, dilanjutkan makan-makan kaloli berjemaah, sekaligus menandai acara makan bersama seluruh masyarakat.

Kedua ritus tersebut, penampakan artikulasinya hanya angnganre, bermakna makan-makan, tapi sesungguhnya ada pesan kuat atas buana dalam masyarakat adat Gantarangkeke. Makna filosofis dari dua rangkaian angnganre, acara makan-makan, memilki pengertian hubungan antara pemimpin dan masyarakat, karaeng dan rakyat. Dalam satu pemerintahan, rakyatlah yang harus didahulukan makan, lebih diutamakan kesejahteraannya. Seorang pemimpin, mestilah orang yang paling pertama merasakan lapar dan paling terakhir kenyang.

Itulah sebabnya, acara angnganre to ball’na lebih didahulukan tinimbang hajatan angnganre Karaeng Loe. Seorang pemimpin harus lebih mengutamakan rakyatnya, ketimbang diri dan keluarganya. Tatkala angnganre Karaeng Loe dihelat, semua masyarakat harus tenang dan khidmat, demi menghormati sang pemimpin.

Secara simbolik, bermakna penghormatan kepada pemimpin, sebab telah memberikan perlindungan dan kesejahteraan. Maksud terdalam dua rangkaian acara angnganre ini, rakyat tenang karena pemimpinnya telah menunaikan hak rakyatnya. Sebaliknya, rakyat akan menghormati pemimpin sebagai bentuk ketaatan.

Bagaimana dengan siang hari? Nuansanya benar-benar penuh hiburan, riang gembira. Pengunjung berdatangan dari berbagai pelosok negeri. Ada yang datang sekadar berkunjung, turut ramai, tapi ada pula yang melepaskan nazar, mengharapkan berkah. Di antara mereka, ada yang menyempatkan diri naik ke Balla’ Lompoa, menyerahkan persembahan dan minta didoakan oleh pinati. Lalu, pinati melakukan ritual a’tilili, mengusapkan minnya bau’, serupa minyak harum ke beberapa bagian wajah.

Pertunjukan hiburan beraneka rupanya. Mulai dari yang trdisional hingga kontemporer. Semisal, pertunjukan tari pakarena paolle, a’manca (pencak silat), pakampe sapiri (memecahkan kemiri), dan hiburan electon. Tak ketinggalan pasar dadakan di sekitar area pesta adat. Betul-betul pestra rakyat di hari terakhir. Dan, puncak helatan pesta rakyat ini, sering dihadiri oleh pemerintah Kabupaten Bantaeng.

Balla’ Lompoa adalah bangunan rumah kayu sangat bersahaja. Bagian dalamnya hanya ada satu kamar dan bilik tengah, tanpa teras. Hanya ada satu tiang yang menjadi tiang utama, terletak di tengah-tengah rumah. Benda-benda pusaka dan perlengkapan upacara adat tersimpan di dalam kamar.

Meski Balla’ Lompoa berarti rumah besar secara fisik, tapi makna Balla’ Lompoa pada masyarakat adat Gantarangkeke, sebentuk rumah kecil dan sangat sederhana. Namun, perlu dicatat, di rumah sederhana inilah pandangan dunia masyarakat adat Gantarangkeke berpusar. Pusarannya mengendalikan semesta lahir (makrokosmos) dan jagat batin (mikrokosmos). Ranahnya di dalam, ruangnya di halaman rumah. Di atas rumah, dunia dalam dicicil spirit guna berbahagia. Di pekarangan rumah, dunia luar dijajal semangat buat bergembira.

Tuntaslah sudah kueja catatan Daeng Litere. “Tarimakasi lompo siana.” Tuturku cuman disambut dengan memicingkan matanya, sembari berkata, “Paccappuki kopinnu, nakkepa ambayaraki.”

Usai ia membayar semuanya, aku pulang berbarengan. Tiada lagi percakapan. Waima, aku tetap menanti ulikan-ulikan selanjutnya dari Daeng Litere. Apatah lagi, aku sudah membekalinya pertanyaan, “Bagaimana hubungan ritus dan pesta ini dengan ajaran Islam, khususnya penyambutan bulan suci Ramadan?  Adakah?”

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *