BantaengEdukasiLiterasi

Poros Literasi Pa’jukukang-Gantarangkeke

Awal tahun 2023, saya lumayan sering ke salah satu kompleks perumahan di bilangan Tanetea, bernama Bumi Tanetea Mas, Desa Nipa-Nipa, Kecamatan Pa’jukukang. Pasalnya, putri sulung saya, setelah menikah memutuskan pindah dari Makassar ke Bantaeng, lalu menetap di Tanetea. Intensitas kunjungan saya, selain membesuk pasutri baru tersebut, juga ingin lebih intim mempercakapkan penerbitan buku saya. Maklum saja, saya memohon kepada keduanya, Nurul Aqilah Muslihah dan Ikbal Haming, untuk menjadi bidan kelahiran buku, bertindak selaku pemeriksa aksara dan penyunting.

Bertemulah saya dengan beberapa sahabat yang juga mukim di kompleks. Namun, ada yang tak saya duga sebelumnya, karena di dalam kompleks ada satu komunitas relawan menakamakan diri Pasukan Amal Sholeh (Paskas) Bantaeng. Mereka menggalang donasi untuk kebutuhan sembako buat warga kurang mampu atau tatkala terjadi bencana kemanusiaan, khususnya di Kabupaten Bantaeng. Keberadaan markas Paskas Bantaeng saya dapatkan keterangannya dari anak-mantu saya. Ternyata, sekretariatnya tidak jauh dari masjid kompleks. Saya pun langsung menandanginya, tapi para relawan lagi tidak berada di tempat. Hanya ada beberapa santri yang saya jumpai. Bahkan, menyempatkan diri masuk ke ruang tamu. Nah, ada satu lemari, berisi beberapa kitab dan buku. Sejumlah 50-an saya kenali, sebab dipunggungnya tertulis: Bank Buku Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan.

Ingatan saya segera melayang ke dunia maya. Mencari secercah jejak di akun facebook saya. Rupanya, ada seutas catatan pernah saya tuliskan, “Rabu jelang sore, 2 Nopember 2022, dua orang perempuan pegiat sosial dari Pasukan Amal Shaleh (Paskas) Bantaeng, Fadhilah Mona Ramadhani Hamid dan Erny Asyir,  bertandang ke Bank Buku Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan. Mereka telah membikin sudut baca di markasnya. Dan, kedatangannya bermaksud meminjam buku. Alhamdulillah, deal terjadi. Mereka telah membawa sekardus buku buat mendukung koleksi di sudut bacanya.Hadirnya sudut baca ini, menjadi salah satu penanda makin moncernya gerakan literasi di Bantaeng. Jayalah gerakan literasi Bantaeng.”

***

Kami ucapkan terima kasih kpda Bpk. Sulhan Yusuf (Pegiat Literasi SulSel/CEO Boetta Ilmoe Banataeng) yg telah meresmikan dan mensupport Rumah Baca Ambo Nai pda hari Selasa, 29 Maret 2022, dan terima kasih kpd Bpk. Abd. Haris yg telah memberikan petunjuk dlm gagasan pendirian rumah baca ini yg insyaAllah akan menjadi wadah/pusat literasi khususnya di daerah kami untk mengambil bagian dlm mencerdaskan anak bangsa..Terima kasih pula kpd Pemerintah Desa Nipa-Nipa, Kanda Hamzah, Pak Abd. Halid yg telah membantu dlm kelancaran acara launching literasi pakampong “Rumah Baca Ambo Nai”. Terima kasih juga kpd warga, anak”, remaja yg sdh antusias dlm peresmian rumah baca Ambo Nai. Smga kedepan akan semakin berkembang Amiiin…Terima kasih Wassalam Penanggung Jawab IDHAM, S.E.I.”

Saya sengaja nukilkan secara utuh dan apa adanya unggahan dari Ust. Idham, seorang Imam Desa Nipa-Nipa, tatkala ia menulis di akun facebook Rumah Baca Ambo Nai. Ia sendiri tidak punya akun pribadi, melainkan lebur dalam akun rumah baca. Betul adanya, saya merasa terhormat untuk meresmikan rumah baca tersebut. Sungguh, saya amat kurang percaya diri, sebab untuk pertama kalinya ada peresmian secara formal. Biasanya, setiap komunitas lahir, kalau tidak diresmikan oleh petinggi setempat, maka ia hadir tanpa peresmian. Namun, saya menganggapnya sebagai satu keunikan.

Rumah Baca Ambo Nai mendapat dukungan penuh dari Bank Buku Boetta Ilmoe. Perkaranya, sewaktu mau dibikin, inisiatornya tak punya bahan bacaan. Jadi, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, lewat bank bukunya, saya pinjamkan buku sejumlah 100 eks. Beragam jenis buku, mulai katagori anak-anak, remaja, hingga dewasa. Buku-buku tersebut akan ditukar manakala sudah maksimal fungsinya di rumah baca. Saat peresmian, saya iseng bertanya, mengapa namanya Ambo Nai. Dijawab dengan tangkas oleh Ust. Idham, nama itu merupakan nama kakek saya, tetua di kampung ini. Kami adalah anak keturunannya, ingin mengabadikannya dalam balutan literasi. Kiwari, saya sering bertandang ke ranah maya facebooknya, ada geliat literasi, terutama sekaum anak-anak. Sebab, bertetangga dengan rumah mengaji. Sesekali pula saya sidak, tatkala melewati jalan poros Pa’jukukang.

***

Kelas Menulis Esai Rumah Baca Panrita Nurung bekerjasama Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, angkatan ke-5, sudah berakhir pada Ahad, 11 Desember 2022. Kapan angkatan selanjutnya? Tunggu momentumnya. Kelas menulis hanyalah salah aktivitas rutin. Selain terdapat gazebo baca, kegiatan lain, berbentuk suluk literasi di setiap bulan Ramadan. Lalu, biasanya dilanjutkan dengan program literasi pertanian. Tak ketinggalan mempersembahkan even-even literasi di sela hajatan rutin. Jadi gerakan literasi di komunitas ini, sudah sangat maju. Perspektif literasinya sudah menjalar ke berbagai bidang kehidupan.

Capaian kemajuan bukan tanpa fondasi literasi. Jauh sebelum berubah menjadi Rumah Baca Panrita Nurung, sudah terkonsolidasi dalam komunitas Rumah Baca Nusantara. Praktik baiknya, diinisiasi sejak Firdaus menjadi mahasiswa di Makassar, sekira tahun 90-an. Sejak mula, saya sudah terlibat dalam pergumulan literasi mereka. Mulai dari Makassar, hingga Firdaus menetap di Bantaeng. Persisnya, Dusun Borong Ganjeng, Desa Tombolo, Kecamatan Gantarangkeke. Firdaus sendiri, punya seabrek aktivitas, selain mengawal komunitas, ia bertani, menjadi dosen, dan Imam Dusun Borong Ganjeng.

Pegiat di Rumah Baca Panrita lebih didominasi kaum muda. Apatah lagi sering berkolaborasi dengan Karang Taruna Desa Tombolo. Meskipun belakangan ini agak menurun sisi kolaborasinya. Sangat boleh saya berpendapat, Rumah Baca Nusantara bermetamorfosis menjadi Rumah Baca Panrita Nurung, merupakan komunitas literasi yang punya tradisi berkomunitas paling mutakhir, sebab telah menerjemahkan literasi sebagai laku hidup keseharian, buat menyangga kehidupan.

***

Seorang aktivis perempuan, sering disapa Sira, tapi lebih dikenal lewat akun facebooknya, Perempuan Pedalaman. Entah apa di pikirannya, sehingga mendapuk diri sebagai seorang perempuan dari pedalaman. Saya mengenalnya, tatkala ia ikut pada salah satu even literasi di Rumah Baca Panrita Nurung. Kejadian persisnya, saya sudah lupa. Maklum saja, tumpukan kegiatan saya di Rumah Baca Panrita Nurung lumayan menggunung. Momen persuaan ini, mengenalkan saya pada satu komunitas anak muda bergiat dalam dunia kesenian dan pecinta alam. Komunitas mereka bernama Wahana Kreativitas Seni (Wakesi). Berdiri sejak 2011, bermarkas di Ujung Pangi, Kelurahan Gantarangkeke, Kecamatan Gantarangkeke. Wakesi  tertidur selama 3 tahun terakhir, sebelum saya bersua dengan mereka, tahun 2019.

Saya mencatat perjumpaan itu di linimasa facebook, “Pagi jelang siang, Ahad 19 Januari 2019, bertandang ke Dusun Ujung Pangi, Gantarangkeke, Bantaeng. Silaturahmi ini sebagai tindak lanjut dari keinginan sekaum warga, ingin mewujudkan komunitas literasi. Menurut Sira-Perempuan Pedalaman, ruang baca ini merupakan lini baru dari komunitas seni, Wakesi, berdiri sejak 2011. Hadirnya lini literasi ini akan menguatkan komunitas secara keseluruhan. Saya pun meminjamkan buku dari Bank Buku Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, sebagai langkah penguatan. Insyaallah, pekan depan akan ada persuaan lagi, guna mempercakapkan keberadaan suatu komunitas literasi, beserta inisiasi aktivitasnya. Dan, sekaligus sebagai penanda dibukanya ruang baca tersebut. Jayalah Gerakan Literasi Bantaeng.”

Benar adanya, pekan berikutnya saya sudah menyata di markas Wakesi, ditemani Firdaus, pengelola Rumah Baca Panrita Nurung. Minda penguatan komunitas saya dedahkan. Tak lupa pula pelatihan literasi saya sajikan. Seharian penuh persamuhannya. Penghadir didominasi kaum muda. Dan, disepakati pula nama lini literasinya, “Literasi Liku Labbu”. Saya sendiri agak sulit menerjemahkan namanya, tapi kira-kira bermakna pusaran sungai yang panjang. Sejak kehadiran lini literasi Wakesi, sederet kegiatan digelar, baik di markasnya maupun berkolaborasi dengan pihak lain.

***

Seorang ASN Kemenag, Firman Suli, warga Bantaeng, tapi masih mengabdi di Kabupaten Selayar, telah merelakan semadya rumahnya di Dampang, Kecamatan Gantarangkeke, buat menjadi markas sekaum penyuluh Kemenag Kabupaten Bantaeng. Para penyuluh sepakat berkomunitas dalam wadah Balla Bicara: Literasi Keagamaan dan Budaya, bersemboyan “Bersama kita bisa, kita bisa bersama.” Peresmiannya berlangsung pada Sabtu, 10 September 2022, oleh Ketua Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Ashabul Kahfi.

Sebelum peresmian, Kamis, 08 September 2022, diadakan semacam orientasi bersama. Kakan Kemenag Bantaeng, Muhammad Jaelani, memberi penguatan kepada para penyuluh, agar tempat ini menjadi suluh buat menebar kebaikan untuk masyarakat. Firman suli berharap, Balla Bicara bisa dijadikan arena peningkatan kinerja penyuluh Agama Islam dalam melayani masyarakat, juga sebagai tempat mengembangkan moderasi beragama dan budaya. Sebagai pegiat literasi, saya pun unjuk minda, memaparkan pentingnya penuntasan 6 literasi dasar, salah satunya, literasi budaya dan keagamaan. Guna menguatkan literasi para penyuluh, dihadirkan pojok baca dan bimtek tentang kepenulisan.

Empat titik komunitas literasi, berada sepanjang jalan poros Kecamatan Pa’jukukang dan Gantarangkeke. Deretan kumunitas literasi tersebut, masing-masing punya keunikan. Baik latar pendirian maupun orientasinya. Begitu juga dengan para penyokong, berasal dari relawan kemanusiaan, aktivis sosial, kaum muda, dan pendakwah-penyuluh. Pun, basis komunitasnya cukup beragam, tapi satu ikatan dalam simpul tali literasi. Tiada keliru, jikalau saya menandaskan poros sepanjang jalan dua kecamatan, Pa’jukukang-Gantarangkeke, sebagai poros literasi.

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *