Daeng Litere'

Ritus Pajukukang

Lumayan kali, aku khusyuk dalam percakapan dengan seorang kawan, Sabbara Nuruddin, tatkala ia hendak menyelesaikan program doktornya di Universitas Islam Alauddin Makassar. Selain kopi dan rokok –maklum ia seorang pecandu nikotin dan kafein—juga, satu sosok setia lainnya, Daeng Litere. Ia berencana menulis satu topik bahasan, tentang fenomenologi agama, tapi belum ketemu objek penelitian. Hasratku moncer, maka kutawarkan satu ritus keberagamaan di Bantaeng, tepatnya di Gantarangkeke.

Sua demi sua kami suntuk dalam percakapan. Aku pun memberikan peta awal mengenai siklus tradisi masyarakat adat Gantarangkeke, dengan tiga titik fokus: Pajukukang, Korong Batu, dan Gantarangkeke. Uniknya lagi, siklus ini berlangsung di bulan Syakban. Sabbara pun mengokekan. Langsung saja Daeng Litere sumringah, menawarkan diri terlibat. Siap menjadi kawan pengiring. Bahkan, ia menawarkan Botta Ilmoe-Rumah Pengetahuan sebagai markas.

Sekotah momen-momen konsolidasi pengetahuan itu terjadi di tahun 2017. Akumulasi kenangan terkuak kembali, setiap menjelang bulan puasa. Begitu pun tahun ini, aku teringat dengan ritus Pakjukukang. Terlebih lagi Daeng Litere, ada keinginan untuk menapaktilasinya. Ia membujukku agar memenuhi inginnya. Aku pun bersedia, tapi dengan syarat, baca dulu hasil disertasi Sabbara, biar lebih komplit. Tanpa kata iye darinya, aku sodorkan kopian desertasi setebal 347 halaman, berjudul, Perjumpaan Islam dan Tradisi Lokal pada Masyarakat Adat Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng: Pendekatan Fenomenologi Agama.

Aku yakin seyakin-yakinnya, pasti Daeng Litere mengejanya dengan sepenuh jiwa. Betul saja, dua hari kemudian ia mengajakku untuk nginung kopi bareng di warkop tua langganan kami. Oke kataku.

Dasar Daeng Litere pegiat literasi, ia datang dengan membawa ransel hitamnya, berisi laptop, kopian desertasi, dan beberapa lembar kertas hasil catatannya atas desertasi Sabbara. Aku berinisiatif pesan kopi nirgula dua gelas, empat butir telur ayam kampung setengah matang, dan beberapa kue tradisional. Ia sibuk mengeluarkan isi ranselnya. Kulihat kopian desertasi sudah diberi penanda, baik pembatas halaman maupun coretan stabilo warna pink kesukaannya. Lima lembar hasil cetak catatannya, ia sodorkan padaku. Setelah itu, hening tak ada percakapan. Ia sibuk mengeja desertasi, sesekali mengetik di laptopnya.

Tiada jeda, aku segera membaca lembaran tersebut. Rupanya, barulah tentang ritus Pajukukang. Mungkin kisanak dan nyisanak penasaran dengan catatan itu. Baiklah, sebelum ada yang meminta, aku dedahkan saja hasil pembacaanku atas lembaran Daeng Litere itu.

Paling tidak, merujuk desertasi Sabbara, ada tiga versi cerita mitologis pembentuk ritus Pajukukang. Pertama, cerita yang menghubungkan pernikahan antara putri Gantarangkeke dengan penguasa dari Luwu atau Cina. Kedua, legenda tujuh bersaudara sebagai cikal-bakal pemukim di Kerajaan Gantarangkeke. Ketiga, narasi terkait dengan Tomanurung ri Gantarangkeke. Namun, entah kenapa, Daeng Litere lebih tertarik pada salah satu cerita saja. Mungkin karena ada romantisisme di dalamnya.

Dikisahkan, suatu ketika, Sawerigading, berasal dari Luwu mengunjungi Bantaeng, berlabuh di Nipa-Nipa, Pantai Pajukukang. Pada hari keempat, Sawerigading naik ke Gantarangkeke. Selanjutnya, Sawerigading menikahi putri setempat, bernama Dala. Kisah lain menuturkan, Dala dinikahi oleh seorang pangeran dari Cina. Hasil pernikahan ini, lahirlah putra dinamai Karaeng Loe, yang merupakan cikal-bakal raja-raja di Kerajaan Gantarangkeke.

Saat Dala dalam keadaan hamil, Sawerigading atau pangeran dari Cina, pulang ke Luwu. Cerita berlanjut, Dala kemudian pergi ke Luwu mencari suaminya. Mereka bertemu, lalu Dala mengajak suaminya untuk kembali ke Gantarangkeke. Sang suami tidak ikut pulang, tapi berjanji akan menyusul, sekaligus memberikan tenggat waktu akan kedatangannya. Pesan sang suami, agar mendirikan dinasti di Kerajaan Gantarangkeke.

Tibalah waktu yang dijanjikan. Dala ke pantai di Pajukukang. Selama tiga hari menanti pujaan hati. Sang suami tak kunjung datang jua. Dala lalu pergi ke satu lokasi yang lebih tinggi di Labuang Korong. Tempatnya di Korong Batu, buat melihat dari ketinggian. Keesokan harinya, belum ada tanda-tanda kedatangan pujaan yang ditunggu. Akhirnya, Dala kembali ke Gantarangkeke.

Dalam proses penantian itu, teringat pesan Sawerigading atau Pangeran Cina, bila kelak anaknya lahir, agar dipestakan. Nah, dari momen-momen kunjungan, pertemuan, pernikahan, hamil, pulang ke Luwu, menyusul-mencari ke Luwu, ajakan kembali, penantian, kelahiran anak, hingga pesta merupakan rangkaian pembentuk ritus di Pajukukang.

Adanya cerita sosok berbeda, antara Sawerigading dan Pangeran Cina, menurut Sabbara, sungguh ada titik temunya. Penguasa dari Luwu atau pangeran dari Cina merupakan sosok yang sama. Sosok yang dimaksud adalah La Galigo yang tiada lain keturunan dari Sawerigading yang menikah dengan putri dari Cina. Dapat pula diasumsikan, Sawerigading sendiri yang baru saja datang dari Cina setelah menikah dengan salah seorang putri dari sana.

Tampaknya, melalui narasi ini, masyarakat Gantarangkeke menghubungkan akar tradisi mereka dengan tokoh utama dalam epik klosal, Sawerigading atau La Galigo. Lewat bentangan cerita ini pula, seolah masyarakat Gantarangkeke ingin menegaskan historisitas mereka sebagai salah satu wilayah tua, sebab tersambung langsung dengan sejarah kuno: Sawerigading atau La Galigo.

Bagaimana dengan dua versi lainnya? Silakan cari dan  baca sendiri desertasi Sabbara. Supaya lebih lengkap. Daeng Litere sendiri yang sedari tadi sibuk dengan ulikan desertasi dan laptopnya, secara spontan berkata, “Sebaiknya memang begitu, seperti yang saya lakukan.”

Bagaimana mengakses desertasi ini? Sebab, tidak semua orang punya kopiannya? Sergapku pada Daeng Litere.

Amat tangkas ia menangkis seranganku. “Minta tolong dong pada purinayya, paman goggle. Melalui mesin pencari, ketik judul desertasi itu, akan bertemu dengan satu alamat penyimpanan di dunia maya, http://repositori.uin-alauddin.ac.id/251/”

Tanpa kuduga, serangan balik dari Daeng Litere, serupa tanya berbau tuntutan sekaligus perintah, “Tidak bisakah Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan menerbitkannya dalam bentuk buku? Masa’ tambang pengetahuan dalam desertasi itu dibiarkan begitu saja, tak diolah? Terbitkanlah dalam bentuk buku yang lebih populer bahasanya, agar masyarakat bisa menikmati kelezatan pengetahuan itu!”

Aku terdiam di depan gelas kosong bekas kopi dan telur. Namun, tohokan Daeng Litere ini memaksaku minta segelas kopi nirmanis lagi.

Sumber gambar: Dokumentasi pribadi Sabbara Nuruddin.

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *