Daeng Litere'

Runako, Konijiwa, dan Tamara

Keseringan mangkal di warkop tua, menyebabkan terungku kenangan selalu saja memberikan semangat muda. Waima, usia tidak muda lagi. Demikianlah rutinitas kami akhir-akhir ini, sejak kedatangan kembali Daeng Gappa, buat appalappasa nakku, melepas rindu. Baik pada kampung halamannya, terlebih lagi pada kawan-kawan sejawatnya yang tergabung dalam grup WA, “Empat Sekawan”.

Setelah seahad Daeng Gappa menyata di kampung, ia merasa pikiran dan hatinya campur aduk melihat berbagai realitas pertumbuhan negerinya. Terutama di kehidupan malam.

Daeng Dunding bisa membaca keresahan Daeng Gappa. Memang kami harus akui, ketajaman batin Daeng Dunding untuk meraba rasa setiap dari kami cukup memadai diandalkan. Mungkin karena ada karakter dasarnya yang cukup kuat: suka berempati.

Entah apa motif Daeng Dunding, sehingga ia menulis di grup, agar berkumpul di warkop langganan, Toko Bone Bantaeng, guna menyahuti resah-resahnya Daeng Gappa.

“Oke sianak semua, mari merapat kembali di tempat biasa. Waktunya, seperti biasa. Harinya, sambarangmo, karena kita semua bagai laskar tak baguna.” Daeng Litere mulai menunaikan tugasnya sebagai kepala suku grup.

Kesepakatan hari sudah bulat. Empat sekawan berkumpul, kayak mau menggelar rapat kabinet ala pengurus negeri. Pelengkap percakapan masih seperti sediakala. Kopi, peganan, telur setengah matang, dan air sappang hangat.

“Saya merasa kehidupan malam di Bantaeng makin panjang. Waktu kita kanak-kanak, remaja, hingga jelang dewasa, waktu malam agak cepat larut. Sekira pukul sepuluh, sudah sangat sepi.” Daeng Gappa memancing percakapan.

“Betul sianak, apatah lagi kala masih kanak-kanak di tahun 70-an, kalau kita pulang nonton layar tancap atau acara keramaian lainnya. Jika sudah pukul sebelas baru pulang, maka suasana sunyi mencekam. Kadang-kadang dilema, pulang dari keramaian Lapangan Lompoa atau Caddia, mau lewat Jalan Merpati, ada anjingnya IPEDA yang siap memburu, sementara kalau lewat Jalan Pemuda, lebih seram lagi, ada pekuburan.” Daeng Dunding mulai mengungkit kenangan yang kurang elok. Maklum saja, aku penakut.

Di tengah khusyuknya percakapan, aku mengusulkan bagaimana kalau kita telusuri saja kehidupan malam di Bantaeng. Reken-reken menghadirkan semangat muda di usia tak muda lagi.

“Mumpung Daeng Gappa masih penasaran dengan kehidupan malam,” Daeng Dunding menguatkan usulku.

“Begini saja, yang atur agendanya, Daeng Dunding. Pasalnya, dia punya pengalaman kehidupan malam,” usul Daeng Litere.

Langsung saja disambar oleh Daeng Dunding, “Kali ini kita menelusuri kafe yang ada live music-nya.”

Aku pun langsung setuju. Kita siapkan waktu sepekan, berburu kafe yang dimaksud Daeng Dunding. Tolong atoroki jadwalnya. Setelah rampung percakapan, kami sisa menunggu jadwal dari Daeng Dunding.

“Runako, Konijiwa, dan Tamara.” Daeng Dunding melempar jadwal di grup.

Langsung disambut oleh Daeng Litere selaku kepala suku, “Yang jadi bandar perburuan Daeng Gappa. Kapalaji dompekna. Tak elok bila sekelompok lelaki tak muda lagi, bayar ceka-ceka, bayar sendiri-sendiri laik ABG zaman now. Hehehe.”

Tibalah perburuan. Malam Ahad, kami ke Kafe Tamara. Para pemusik sementara mempersiapkan penampilannya. Pramusaji datang menawarkan menu. Dari daftar yang ada, banyak jenis minuman dan makanan yang kami tidak mengerti. Meskipun pengelompokan utamanya, kopi, jus, dan cemilan, serta makanan cepat saji.

Untung Daeng Dunding memandu kami, menjelaskan selintas jenis kuliner itu. Kami pun memesan minuman dan cemilan yang beda-beda. Mengikuti selera anak milenial. Namun, aku tetap konsisten, kopi nirmanis.

Malam-malam berikutnya, kami mengada di Kafe Konijiwa. Seperti di kafe sebelumnya, pramusaji menawarkan menu yang mirip-mirip. Seterusnya ke Kafe Runako, menunya nyaris sama. Mungkin bagi kami, menu-menu itu sama saja, tapi bagi indera perasa anak muda milenial kekinian, pasti mampu membedakannya dengan maknyus. Pokoknya, selama sepekan, malam-malam kami taklukkan di kafe-kafe yang khusus menyajikan live music.

Hari Ahad kami berkumpul kembali di warkop langganan. Tiada percakapan serius. Hanya menertawakan ulah, tingkah, dan laku kami yang cenderung gagap dan gugup tatkala menyata di kafe-kafe yang didominasi anak muda milenial itu.

Daeng Gappa misalnya, berusaha menikmati sajian musik, tapi merasa asing dengan lagu-lagu itu. Walau kepalanya sesekali bergoyang dan kakinya menghentak perlahan. Beda Daeng Dunding, yang selera seninya bagus, segera bisa menikmati musiknya. Aku mah bisa menikmati juga, bahkan sesekali ikut melantunkan bagian-bagian tertentu dari lagu.

Nah, yang unik dari kami, tingkahnya Daeng Litere. Sesekali ia meninggalkan meja kami. Kukira awalnya sering ke toilet. Ternyata ia mengamati lebih jauh suasana kafe. Kadang ia bercakap-cakap dengan seseorang, memotret, dan berbincang singkat dengan pengunjung.

Apa nubayu kau, naliara kamuako ri kapea,” Daeng Gappa menohok ke Daeng Litere menanyakan keliaran dia di kafe-kafe itu.

Tayammi sianak. Liputanku nanti di grup.” Rupanya, naluri selaku pegiat literasi dari Daeng Litere muncul saat berkafe ria. Dan, meminta kepada kami untuk menanti liputannya.

Betul tawwa Daeng Litere, janjinya dilunaskan. Catatan kehidupan malam ia kirim ke grup. Tulisannya amat ringkas tapi padat. Cukup memadai sebagai petunjuk awal, bila ada yang ingin melakukan riset lebih dalam tentang aktivitas di kafe yang menyajikan live music.

Daeng Litere mendedahkan hasil pengamatannya. Kehidupan malam, mulai memnajang waktunya seiring dengan pertumbuhan Bantaeng menjadi kota. Tanda-tanda itu muncul sejak Nurdin Abdullah menjadi Bupati Bantaeng. Pembangunan infra struktur, menghadirkan ruang publik bagi masyarakat Bantaeng, berkonsekuensi langsung pada dinamisnya kehidupan masyarakat.

Tak bisa dimungkiri, hadirnya kawasan Pantai Seruni menjadi sentra pemantik hadirnya kehidupan kota di Bantaeng. Rumah sakit, tribun, lapangan, pusat olah raga, masjid, dan sarana bermain anak-anak, merupakan sederet wadah yang menggandeng hadirnya sentra kuliner. Warung dan kafe tumbuh menerungku kawasan Pantai Seruni.

Dari sekian banyak kafe, ada beberapa yang memberikan hiburan berupa musik berjenis karaoke. Namun, ada dua kafe yang menyajikan live music secara reguler. Kafe Tamara, terletak di samping tribun, setiap malam Minggu menampilkan Tamarakuistik sebagai home band. Malam-malam lainnya, biasa diisi dengan solo musik akuistik.

Di sudut lain Pantai Seruni, diapit antara lapangan dan masjid, terdapat Kafe Konijiwa. Selain itu, ada juga Konijiwa dekat Stadion Mini Lamalaka. Sajian live music setiap malam Kamis, Sabtu, dan Minggu, secara bergantian diisi oleh band-band, Bertiga Project, Melancholia, dan JZY band.

Ada satu lagi kafe di Jalan Elang, depan Sekretariat KNPI Bantaeng, namanya Runako. Sajian live music setiap malam. Malam Minggu, AR music. Senin, Banirank feat Ishal. Selasa, Indra Tamar, Rabu, Oliv & friends. Kamis, Banirank feat Kiki. Jumat, Banirank feat Ishal, dan Sabtu, Oliv & friends.

Band-band yang tampil itu, sederetan anak muda Bantaeng, tumbuh dengan bakat bermusik yang bagus dan mendapatkan fasilitas, buat menyalurkan potensinya. Tentu, kehadiran mereka perlu dipahami sebagai cara kaum muda mengonsolidasikan diri pada bidang kehidupan seni musik.

Mereka mengisi malam-malam di kafe, hingga menaklukkan waktu, rata-rata pukul 24.00. Di bagian lain, sejumlah kafe pun buka hingga selarut pergantian hari. Patut diduga, inilah pemantik kehidupan malam, mengapa malam terasa makin panjang di Bantaeng.

Catatan Daeng Litere di grup langsung kusambut dengan ujar, “terjawab sudah rasa penasaran Daeng Gappa,” sembari mencoleknya, @Daeng Gappa.

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *