BantaengBudayaDaeng Litere'EdukasiJurnalisme WargaNewsSejarahTrending News

Salu’ Barania dan Cara Kita Mencintai Alam

Oleh: Wahyu Hidayat

Setiap daerah pada dasanya memiliki cerita dan sejarahnya tersendiri. Cerita tersebut sering kita kenal dengan istilah cerita rakyat atau folklor. Cerita rakyat adalah cerita yang terlahir dari rakyat dan berkembang dari mulut ke mulut dari rakyat itu sendiri.

Cerita-cerita tersebut pada akhirnya tersimpan menjadi kisah yang abadi, hingga menjadi kekayaan budaya dan sejarah. Salah satunya cerita yang berasal dari masyarakat Desa Bonto-Bontoa, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, yaitu kisah tentang “Salu’ Barania”.

Salu’ Barania adalah sebuah cerita turun temurun di kalangan masyarakat Desa Bonto-Bontoa, Salu’ Barania berasal dari dua akar kata yaitu Salu’ dan Barania, keduanya adalah istilah yang berasal dari bahasa daerah Makassar.

Konon dahulu kala, sekitar ratusan tahun yang lalu daerah Bonto-Bontoa adalah daerah yang memiliki keterbatasan dalam hal sumber daya air. Tak banyak pilihan bagi masyarakat untuk mendapatkan serta memanfaatkan air untuk sekadar keperluan sehari-hari. Warga masyarakat di sana mengalami kesulitan untuk mendapatkan air, sebab hanya terdapat satu sumber mata air yang tersedia. Di tempat itulah masyarakat desa Bonto-Bontoa dapat peroleh air bersih.

Mata air tersebut terletak di bagian pedalaman (kini tak jauh di belakang sekolah SD Inpres Taricco), itulah tempat yang menjadi harapan satu-satunya oleh masyarakat Bonto-Bontoa untuk mendapatkan air bersih. Mata air yang akhirnya menjadi tumpuan oleh masyarakat dalam memperoleh air untuk dimanfaatkan dalam aktivitas sehari-hari.

Selanjutnya, untuk memudahkan masyarakat dalam mengambil air untuk di masukkan ke dalam wadah yang ditentengnya atau sekadar memanfaatnya di tempat, maka mereka bersama-sama membuatkan saluran yang mampu mengangkat air dari sumbernya tersebut. Metode tersebutlah yang digunakan untuk lebih memudahkan, di mana itulah kira-kira yang disebut salu’ dalam bahasa daerah Makassar.

Tapi ceritanya tidak sampai di situ, seiring berjalannya waktu, hadir sebuah mitos dan kepercayaan masyarakat bahwa di sekitar area mata air tersebut kerap muncul sesosok makhluk tak kasat mata. Makhluk tersebut digambarkan oleh masyarakat setempat seperti sosok hewan yaitu sapi dengan ukuran yang sangat besar. Entah berawal kapan dan bagaimana kepercayaan tersebut tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat, yang jelas hal tersebut begitu diyakini keberadaannya.

Menurut Ibu Sapiah pada Senin, 22 November 2021, “Dulu, kawasan ini adalah hutan yang lebat, dan di sekitar hutan ini biasa muncul sosok penampakan seperti sapi yang sangat besar dan hal-hal aneh lainnya” pungkasnya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Beliau adalah penduduk asli daerah tersebut, yang juga memiliki kebun yang dekat dengan lokasi salu’ barania. Beliau juga dianggap mengetahui banyak tentang hal ini.

Masyarakat desa Bonto-Bontoa pada akhirnya menjadi dilematis, sebab mereka sangat membutuhkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, baik untuk memasak, mencuci, hingga mandi pada satu sisi. Namun di sisi yang lain mitos tersebut tentu memunculkan rasa takut kepada masyarakat yang hendak mengunjungi tempat tersebut.

Namun karena tak ada pilihan lain, akhirnya masyarakat berusaha melawan rasa takutnya. Mengesampingkan mitos yang dipercaya oleh mayoritas masyarakat setempat, demi mendapatkan air bersih untuk keperluan rumah tangga. Nah pada sisi inilah kata “barania” itu berangkat.

Penampakan makhluk itu dianggap sebagai penjaga tempat tersebut. Lebih lanjut Ibu Sapiah menambahkan, bahwa “karena tidak ada sumber mata air yang lain, akhirnya kita memberanikan diri ke tempat tersebut, makanya disebut salu’ barania”.

Jadi, salu’ barania adalah penggunaan istilah yang berasal pada aktivitas masyarakat desa Bonto-Bontoa yang melawan rasa takut dan memberanikan diri mengunjungi sumber mata air yang terletak di dalam hutan itu. Agar bisa mendapatkan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Walau diyakini bahwa di sekitar area tersebut terdapat makhluk tak kasat mata yang menjaga tempat tersebut. Namun karena air sangat penting artinya bagi masyarakat akhirnya mereka memberanikan diri untuk datang ke tempat tersebut.

Pada perjalanannya, masyarakat dengan kepercayaannya memberi tafsiran tersendiri pada fenomena ini. Maka datanglah masyarakat setempat membawa sesajen yang disebut dengan istilah appanaung ri ere. Yang mana pada prosesi itu, sesajen yang di dalamnya berisi lawara jangang atau lawar ayam, nasi dan sebagainya yang diletakkan di sekitar mata air seraya melayangkan doa.

Hal tersebut masih dapat kita jumpai, di mana masyarakat masih kerap membawa sesajen ke tempat tersebut. Ritus itu masih dilaksanakan sampai hari ini pada waktu-waktu tertentu, setidaknya oleh kalangan orang tua. Walau mata air tersebut kini tidak lagi menjadi tempat satu-satunya bagi masyarakat Desa Bonto-Bontoa untuk mendapatkan air bersih.

Mungkin saja kebiasaan-kebiasaan itu memunculkan pro dan kontra, tapi di sisi yang lain saya selalu terpukau dengan cara orang dulu dalam menjaga alam. Kumpulan masyarakat yang dengan caranya mampu untuk hidup berdampingan dengan alam, saling melengkapi dan tidak mengeksploitasi. Ketika manusia menjaga alam maka alam pun akan menjaga manusia.

Wahyu Hidayat, lahir di Bantaeng pada 23 Juli 1999. Berasal dan tinggal di Banyorang, Kec. Tompobulu, Kabupaten Bantaeng. Alumni Universitas Negeri Makassar tepatnya di Fakultas Ilmu Keolahragaan, menyelesaikan studi di bulan Desember tahun 2021.

Ahmad Ismail

Fotografer-Videografer/Jurnalis Lepas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *