Daeng Litere'Jurnalisme Warga

“Sampah Masa Lalu, Tapi Bukan Kenangan” Eaaakk.. Eaakkk 🤣🤣🤣

Tulisan ini bakalan panjang. Saya sarankan yang mau membaca supaya makan dulu yang cukup. Soalnya membaca tulisan ini bisa menguras 1300 kalori Anda. Tapi ini bagus loh buat yang sedang diet. Hehehehe.

Tangan saya beberapa kali mencoba masuk terus ke dalam timbunan sampah, dan menarik sampah yang saya temukan. Sampah berupa tali tambang, kantong plastik, karung bekas, baju, dan lain-lain. Semuanya memanjang masuk ke dalam tanah. Kalau diukur kebawah lapisan tanah lagi, kira-kira sampah ini sudah memiliki ketebalan setengah sampai satu meter lebih.

Pada kerja bakti kali ini — kerja bakti pascabanjir — para relawan dengan alat yang terbatas hanya bisa membersihkan sampah di permukaan, sisanya seperti butuh sedikit sentuhan alat berat. Sampah-sampah ini adalah hasil akumulasi dari sampah banjir dan sampah masa lalu – tapi bukan kenangan, eaakkkkk!

Dibanding daerah lain, bagi saya pribadi, Bantaeng termasuk salah satu daerah yang manajemen persampahannya lumayan baik. Kalau mau dipersentase kan, 95% sampah sudah terkelola dengan baik, khususnya di wilayah perkotaan. Yang jadi masalah, ya sisa yang 5% ini. Sayangnya 5% ini adalah sampah yang mengendap di beberapa titik pesisir pantai. Dan bila tak ditangani, puluhan tahun ke depan akan menjelma menjadi masalah ekologis yang serius.

Mungkin kita semua sudah tahu, atau kalau belum tahu, ya sekalian saya kasih tahu di sini. Kalau Anda mengira bahwa sampah-sampah plastik yang Anda buang itu, hanya akan menjadi sampah dan merusak pemandangan, atau paling parah menyebabkan banjir dan lain-lain, maka mungkin kita perlu meng-upgrade sedikit perspektif ini.

Jadi gini loh! Sampah-sampah yang ada di pesisir dan laut ini, bila tidak dibersihkan, beberapa tahun kedepan akan hancur menjadi serpihan-serpihan kecil berukuran mikroskopis (sangat sangat sangat kecil), yang boleh jadi akan dimakan oleh plankton-plankton. Plankton ini akan jadi makanan ikan-ikan kecil di laut. Kemudian, ikan-ikan kecil ini dimakan lagi sama teman-temannya yang lebih besar, and in the end, ikan-ikan yg lebih besar ini kita tahu ujungnya ada di mana. Ya, bisa jadi di meja makan dan perut kita. Mungkin bukan perut kita, karena sekarang sampahnya masih utuh. Tapi mungkin 10 dan 20 tahun kedepan akan nongkrong di perut anak cucu kita.

Jadi kalau selama ini pemahaman mainstream kita tentang dosa, hanya seputaran salat, bucok saat puasa, ngeghibah, dan lain-lain. Sebenarnya dosa lingkungan dan membuang sampah sembarangan, juga bisa jadi dosa yang jauh lebih besar. Karena kita sedang on the way menganiaya, menzalimi, bahkan membunuh anak cucu kita di masa depan, dengan sampah plastik yang kita buang sembarangan di masa sekarang.

Kembali ke tempat kerja bakti saya kali ini, saya juga melihat (mohon dikoreksi bila saya salah) memang tidak ada tempat sampah yang memadai. Tempat sampah mungkin ada, tapi dari segi jumlah, akses dan ukuran tidak terlalu mendukung. Sudah tahu kan ini kampung nelayan yang padat penduduk, volume sampahnya pasti banyak dan jenis serta ukuran sampah kemungkinan didominasi plastik.

Jadi saran saya, untuk tahap awal, coba deh sampah-sampahnya di keruk dulu dengan alat berat. Setelah itu, pantai yang sudah lumayan bersih, lalu ditata rapi dengan dijadikan area publik dan sebagainya. Setelah itu, pastikan kita menyediakan tempat sampah yang “masuk akal” secara ukuran dan akses. Mungkin tempat sampah besar, berupa bak mobil truk. Itu bisa dikatakan masuk akal, untuk ukuran sebuah kampung nelayan. Dan ingat, harus mudah diakses. Jangan kampungnya di sini, bak sampahnya satu kilometer di ujung sana. Udah tempat sampahnya jauh, cuman sebiji pula.

Kenapa penyediaan sarana persampahan itu jauh lebih penting, karena saya selalu percaya bahwa sistem persampahan yang baik jauh lebih efektif daripada sosialisasi dan penyuluhan kebersihan bertahun-tahun. Mau penyuluhan sampai kiamat kurang sehari pun, tidak akan terlalu “ngefek”. Bila sistem dan akses pembuangan sampah yang memadai, tidak kita sediakan.

Mari saya ceritakan tentang sistem di Barat yang membentuk perilaku masyarakatnya. Orang-orang Amerika dikenal sangat tepat waktu, bukan karena mereka rajin, mereka dalam banyak hal juga mageran kok. Tapi, mereka tahu betul, telat sedikit saja, bisa dipecat. Pada kasus yang lain, teman saya di Amerika pernah membuat janji, untuk pemeriksaan dengan seorang dokter. Hari dan waktu telah ditentukan. Pas hari H, teman saya telat, apa yang terjadi? Dia tidak dilayani lagi, karena dokter sudah punya janji dengan pasien lain dan surprisingly, dia tetap harus membayar biaya konsul dengan dokter. Bagaimana kira-kira, kalau praktek dokter di Bantaeng kayak begini? Hehehehe.

Orang-orang Amrik itu tahu betul konsekuensi dari istilah “time is money”. Kapan Anda ambil waktu mereka, ya sama saja mengambil uang mereka. Apalagi, sistem pengupahan di sana memakai sistem jam, yang artinya kamu dibayar perjam di sana, bukan perbulan seperti di sini. Jadi sejam yang terbuang sia-sia itu sangat berharga, karena standarnya, mereka bisa dapat 9 sampai 15 dolar dari waktu sejam itu.

Sebagai tambahan, kenapa juga di negara-negara maju seperti Amerika, tingkat kepatuhan lalu lintas lumayan tinggi? Karena di banyak ruas jalan, kamera pengawas selalu ada. Kalau ada rambu-rambu yang bilang speed limit 40 Mph (batas kecepatan 80 km/jam), maka jangan coba-coba melewatinya. Kapan anda melewati batasnya, ya sudah, surat tilangnya dikirim via email. Ini juga didukung dengan sistem identitas dan kepemilikan kendaraan yang ketat. Jadi mereka taat, bukan karena mereka taat sepenuhnya. Tapi sistem yang ketat dan terintegrasi mengawasi mereka. Tapi kebalikannya, coba lihat di Bali, ada banyak juga kan bule yang jarang memakai helm dan melanggar lampu merah saat berkendaraan?  Kenapa? Ya karena sistemnya belum seketat di negara mereka. Jadi mereka itu aslinya bandel juga kok.

Nah, apakah contoh dari luar negeri terlalu jauh? Mari kita mengambil contoh yang dekat, di Pantai Seruni. Karena areanya yang tertata rapi, pengawasan yang ketat, dan akses tempat sampah yang cukup memadai, kita jadi segan membuang sampah sembarangan. Coba kalau seandainya Seruni tidak ditata rapi. Pedagang bebas mendirikan tenda di mana saja, bahkan di dalam lapangan. Pengamen dan pengemis bertebaran di mana-mana. Lalu lintas boleh dari berbagai arah. Tidak ada Satpol PP dan Dishub yang mengawasi, plus akses tempat sampah yang terbatas. Bisa dibayangkan kan, bagaimana jadinya Seruni? Kemungkinan karena sudah semrawut begitu, orang-orang pun tidak akan segan lagi membuang sampah sembarangan. Ya, karena emang sudah kotor juga kan?

Jadi menciptakan sistem itu adalah sebuah kewajiban. Keteraturan dan sistem itu saling mengikat. Jangan harap ada yang bisa tertib dan teratur kalau sistemnya payah. Saking pentingnya sebuah sistem, bahkan 1400 tahun yang lalu, sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib ra., pun sudah pernah bilang, “Kejahatan yang terorganisir/tersistem akan menang melawan kebaikan yang tidak terorganisir/tersistem”.

Tabe’…

Ade Sulmi Indrajat.
Kelahiran Bantaeng, 5 Nopember 1991. anggota Satpol PP Kab. Bantaeng yang juga merupakan alumnus dari program Fellowship CCIP di NOVA Community College, Amerika Serikat. Dia juga aktif menjadi penulis di beberapa media dan sudah menerbitkan dua bukunya yang berjudul, Sawah dan Kebun Kurma di Tengah Laut (Kumpulan Esai, 2020) dan Mengikat Rindu di Ranting Rapuh (Kumpulan Puisi, 2020)

Tulisan ini terdapat dalam buku Empati Untuk Kebaikan Baru. Buku ini bisa diperoleh di Boetta Ilmoe – Rumah Pengetahuan Bantaeng atau menghubungi Sulhan Yusuf di nomer 0813-4265-6597

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *