BantaengBudayaEdukasiGaya HidupInovasiKulinerWisata

Sepetak Surga Buat Anak

Pergeseran satu pusat menyenangkan pribadi ke sentral memanjakan persona di suatu zona, suatu keniscayaan. Hanya membutuhkan rasa nyaman dan aman. Apatah lagi, jika publik sudah bersepakat mengakhiri pekannya secara berjemaah, tunailah sudah hasrat.

Dan, makin elok adanya, tatkala ranah publik yang bernuansa imajinatif, mampu dibumikan ke ruang publik. Tampaknya, sederhana saja, manakala ruang publik sudah mewadahi hasrat ranah publik, bahagilah persona yang melintas-lintas di antara ranah dan ruang publik.

Pergeseran realitas itulah yang terjadi di Bantaeng, satu di antara kabupaten dalam Provinsi Sulawesi Selatan, bagian selatan. Sering diistilahkan Selatan-Selatan.

Dulu, kira-kira dua puluh tahun lalu, pusat menyenangkan diri di Bantaeng, berputar di area Jalan Manggis-Jalan Mangga. Kawasan Pecinan plus Pasar Sentral Bantaeng. Setiap pribadi melunaskan hasrat dirinya hingga sekira pukul 22.00.

Kiwari, sentral memanjakan persona, wilayahnya terletak di zona Pantai Seruni Bantaeng. Boleh dibilang, di sini pada kekinian, pocci buttana Butta Toa, pusar hidup dan kehidupan dinamika Bantaeng, terutama di akhir pekan. Sabtu pagi-hingga Minggu malam, tembus pergantian hari.

Ruang publik Pantai Seruni di tandai oleh beberapa titik kumpul: anjungan, rumah sakit, tribun-lapangan, masjid, taman bermain anak, dan sarana olah raga. Pun, ratusan kafe mengulari zona selera pemirsa maknyus, bermanja-manja penuh pesona segenap persona.

Nah, menurut saya, ada satu petak surga buat anak. Satu taman bermain diperuntukkan anak-anak. Letak persisnya, diapit oleh Tribun-Lapangan Seruni dan Lapangan Hitam. Taman bermain anak satu zona dengan sarana olah raga.

Bila di Tribun-Lapangan Seruni  sebagai tempat menggelar berbagai acara resmi, maka Lapangan Hitam sebentuk lokasi menggelar acara hiburan skala besar, menjadi pusat belanja pakain cakar. Sepanjang jalan melingkar, dikitari kafe-kafe dengan aneka sajian menu dan rupa hiburan. Live music dan karaoke, sila dinikmati sesuai pilihan.

Taman bermain anak sebagai tempat khusus memanjakannya, punya banyak cara. Mulai dari perkara memenuhi tuntutan raga hingga jiwanya. Tersedia mobil mainan, mandi bola, melukis, membuat sesuatu dari pasta. Belum lagi sarana permanen untuk bermain luncuran, ayunan dan sederet fasilitas bermain khas bocah.

Setiap Sabtu sore, sudah lima pekan terakhir, disediakan sarana wisata literasi oleh Darma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Bantaeng. Napas dari wisata literasi bakal lumayan panjang, hingga Desember 2022. Dan, hebatnya lagi, secara bergilir DWP di Organisasi Pemerintahan Daerah (OPD) atau sederajat,  akan bergilir menjadi penanggungjawab di lapangan.

Wisata literasi hajatan DWP Bantaeng didukung oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Bantaeng. Mobil perpustakaan dan sarana literasi lainnya selalu siap setiap Sabtu sore, untuk menopang hajatan literasi. Pun, di pekan kelima, kolaborator lain sudah bertambah, hadirnya Forum Anak Butta Toa (FABT) ikut mendinamisir acara. Setelah sebelumnya, beberapa pegiat literasi, ikut menubuh di helatan ini.

Pekan-pekan sebelumnya, dinamika di wisata literasi lebih banyak diorkestrasi oleh ibu-ibu DWP. Namun, sejak hadirnya FABT, sepertinya akan lebih pas interaksinya. Konsep konselor sebaya bakal menemukan ruang aktualisasinya. Sebab, seperti yang saya saksikan di pekan kelima, anak-anak dari FABT begitu mahir berinteraksi dengan anak-anak usia dini (PAUD dan SD).

Ketua FABT, Arjuna Pahlevi, ketika saya minta tanggapannya, berujar, “Alhamdulillah, sore tadi telah dilaksanakan kegiatan literasi  bersama, melalui program kerja dari DWP Kab. Bantaeng bekerjasama  Dinas perpustakaan, dan berkolaborasi dengan Forum Anak Butta Toa melalui kegiatan wisata literasi. Kegiatan ini juga sejalan dengan program ‘Lapak Baca’ yang biasanya dilaksanakan oleh FABT.”

Lebih jauh Arjuna berucap, ”Saya selaku ketua Forum Anak Butta Toa, sangat berterima kasih kepada pihak terkait, yang telah menyediakan segala fasilitas dan kebutuhan selama pelaksanaan kegiatan. Dengan banyaknya kontribusi yang telah diberikan oleh pihak lainnya, dapat membantu dalam pemenuhan hak anak di Kab. Bantaeng.”

Arjuna kemudian mengedepankan asa, “Harapan saya semoga kegiatan ini dapat terus menjadi kegiatan rutin, dilaksanakan dan tempat pelaksanaannya lebih luas lagi, agar penyebaran minat baca pada anak di Kab. Bantaeng dapat merata hingga ke pelosok desa. Sebab, slogan ‘Kita Anak Kita Penting’ mesti ditegakkan. “

Di pucuk sore, usai menghidu diri dengan terungku wisata literasi, saya berjumpa dengan seorang pemerhati anak, Ahriani. Saya berbasa-basi laiknya satu persuaan, sembari meminta mindanya tentang semesta dunia anak di zona taman bermain anak.

Ahriani kelihatan bahagia, sembari mengawasi buah hatinya yang sementara main mobilan, bertutur, “Sabtu sore menjadi pilihan  sebagai orang tua, untuk memanjakan buah hati, mengajaknya ke pusat kota. Menikmati  aneka permainan anak yang ada, setelah seminggu bergelut dengan berbagai aktivas. Sehingga, waktu bersama sang anak berkurang, walau di rumah mereka juga tetap bermain dengan permainan tradisonal.”

Lalu, Ahriani menabalkan, “Taman Bermain Seruni menjadi pilihan, beraneka permainan yang disediakan, sehingga mereka bebas memilih sesui keinginan dan menikmatinya dengan hati riang gembira. Dari raut wajahnya yang polos, anak-anak memancarkan kecerian, tentunya juga menjadi kebahagiaan orangtua. Sebab,  keceriaan anak adalah kebahagian orangtua. Bermain bagi anak merupakan salah satu haknya yang harus terpenuhi.”

Lebih jauh Ahriani berpendapat, “Di sisi lain, dekat gerbang taman bermain ada penampilan  yang sangat menarik, yaitu wisata literasi, sebagai tindak lanjut program kerja DPW Bantaeng bekerjasama Dinas Perpustakaan Bantaeng. Hal mana, pekan ini yang menjadi panitia adalah DWP BKPSDM, dengan tema, buku adalah gerbang dunia dan membaca adalah kuncinya.”

Tatkala percakapan saya akan akhiri, saya masih sempat minta penegasan Ahriani. Ia bercakap lirih, “Dengan berbagai aktivitas anak-anak di taman bermain, rimbun karena dinaungi pepohonan hijau, tapi masih ada beberapa pengunjung yang dengan santai, tanpa rasa bersalah mnyebarkan asap rokok, yang tentunya berdampak pada kesehatan anak-anak.”

Ucap lirih Ahriani berpungkas, ” Di ruang-ruang  publik, sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bantaeng Nomor 1 tahun 2016, tentang Kawasan Tanpa Rokok, sudah terpampang jelas zonanya. Harus bebas asap yang dapat mengganggu kesehatan.  Dibutuhkan sedikit peringatan dengan menjalankan sanksi yang ada.”

Jadi, sepetak surga buat anak, buah dari keniscayaan pergeseran hasrat, mesti dirawat bersama, secara berjemaah. Anak-anak adalah magnet bagi siapa saja. Semua makhluk tertarik padanya. Kenapa? Karena mereka makhluk suci tak berdosa, sebentuk little angels, malaikat-malaikat kecil. Anak-anak serupa makhluk surgawi, maka butuh surga, waima sepetak saja.

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *