BantaengEdukasiGaya HidupLiterasiSejarah

Suluk Tiao

Kamis, di rentang Magrib dan Isa. Setengah lelah, menyandarkan diri di dinding depan ruko. Kursi panjang berpasangan meja. Kuangkat kaki, selonjoran di atas meja. Sesekali tenggak kopi nirmanis. Mengintip pinggir Pantai Lamalaka Bantaeng, gulita malam merintis safar. Mataku tertumbuk benda baru di depan pelataran markas Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan. Satu kendaraan berkelamin roda tiga, Motor Literasi (Molit) Peradaban.

Usia Molit, belum cukup dua pekan. Hebatnya, hanya beberapa hari setelah diluncurkan, Molit sudah melapak di Taman Bermain Anak Pantai Seruni Bantaeng. Sehari setelahnya, Molit sudah diajak berkencan, melapak ke pelosok, tepatnya di satu kampung, Tanah Loe. Lima hari Molit berkelana di sana. Kiwari, aku berdepan-depan Molit di selasar Boetta Ilmoe, sesudah melakukan kencan pertamanya.

Entah lelah campur kantuk, samar tampaknya. Makin lama saya tatap Molit, semakin bercahaya adanya. Ia seperti tersenyum kepadaku, atau menertawaiku karena kelayuanku. Tiba-tiba ia bertutur, “Rilekskan raga, tenangkan pikiran, beningkan hati Pak Tua Sinting!”

Lelah dan kantukku melayang. Loyoku terbang, berganti bugar jasmani dan segar ruhani. Aku mulai merasa aneh di tengah kesadaran dunia lain. Batinku mulai memetik kata-kata, jangan-jangan ini pengaruh malam Jumat. Pasalnya, sepi nian di selasar Boetta Ilmoe. Tetangga ruko tiada hadir batang hidungnya. Molit mulai ikut-ikutan mengataiku Pak Tua Sinting, sebagaimana pendapukan Ikbal Haming di pengantar buku terbaruku, Gemuruh Literasi.

Sangka baik kutujukan pada Molit. Wajar, sebab ia hadir di acara peluncuran dan percakapan buku Gemuruh Literasi, bertepatan dengan lapak pertamanya. Selonjoran kakiku di atas meja kuturunkan. Berganti posisi setengah duduk sila. Molit  seperti merapatkan kepalanya dekat meja. Di raihnya botol kopiku. Setenggak ditunaikan. Lalu berucap, “Penasarangka mae ri kampong Tanah Loe. Apalagi komunitas literasi yang mengajak kencan pertama. Inai injo.”  

Rupanya, Molit penasaran dengan kencan pertamanya di Tanah Loe. Kayaknya ia mengajak bercakap-cakap lebih intim, kala mula malam Jumat ini. Kukatakan padanya, Tanah Loe itu, meski di pelosok, statusnya sudah kelurahan. Molit rada tidak percaya, sebab suasana kebatinan masyarakatnya, laik kampung, tapi tidak kampungan.

Ajaib, aku makin larut dalam terungku sari diri Molit. Aku malah merasai Molit semirip dengan remaja. Mengalami pubertas, sehingga terkesan mulai jatuh cinta pada kencan pertama. Sebagai Pak Tua Sinting, apa yang dialami Molit, sudah pernah kurasakan. Maka dengan enteng kutabalkan ujar, “Ah, kamu mulai jatuh cinta pada monyet. Istilah zaman dulu, ‘Cinta Monyet’, satu tahapan cara bercinta anak ingusan.”

Molit mulai mendesakkan inginnya dalam percakapan. “Ayolah Pak Tua Sinting, siapa sesungguhnya  yang mengajak saya berkencan? Saya baru tahu seupil, hanya sebatas kenal nama, Suluk Tiao.”

Molit benar-benar ingin mengetahui teman kencannya. Lalu kuingatkan kala salah seorang pegiatnya, Andi Sultan,  menjelaskan maksud kata “suluk”. Bukankah Molit mendengarkan saat hari pertama hajatan di komunitas itu?

“Betul, tapi samar-samar. Pasalnya, saya tidak ikut di dalam ruangan, tapi parkir di depan, walau tiada pembatas ruangan. Lagi pula penjelesannya berbau sufi, sehingga tangkapan saya tidak maksimal. Apalagi kata “Tiao”, sama sekali tidak ada uraian, waima Pak Kamaruddin sudah diminta menerangkan.”

Munurut Andi Sultan, kata suluk itu berarti jalan. Dalam konteks berkomunitas, suluk bisa bermakna perjalanan jiwa maupun raga. Perjalanan jiwa akan mengantar pada semakin matangnya kualitas keruhanian, sementara perjalanan raga bisa mengonsolidasikan masyarakat di mana komunitas ini eksis.

Kalakian, bagaimana dengan penjelasan kata “Tiao”? Memang Pak Kamaruddin belum benderang menjelaskan di persamuhan. Namun, beberapa hari lalu, kujapri beliau, menanyakan kejelasan maksud kata tersebut. Nah, beliau mengirimkan hasil japrian bersama salah seorang tokoh masyarakat, Muhammad Ilyas.

Begini saja, sila baca sendiri hasil japri itu yang diteruskan kepadaku.

“Menurut yg saya ingat penjelasan dari orang orang tua dulu. Tiao itu nama cina atau portugis. Konon katanya byk orang cina dan portugis datang ke gantarangkeke. Membeli rempah rempah hsl bumi di seputaran gantarangkeke termasuk  mungkin juga kunyit.”

“Kalau dlm arti bhs portu kata tio itu artinya paman atau laki laki.”

“Lalu ada juga suku cina yg paling suka merantau namanya suku tiaochiu. Mungkin juga krn byk orang cina datang ke gantarangkeke lalu dipanggil mereka dgn kata tiao.”

“Itu sekelumit yg sy tahu.”

“Tiao yg sebenarnya kampung borongkalukua”

“Dulu….lalu seiring waktu berubah menjadi kmpng borongkalukua krn dulu byk pohon klp sepanjang pinggir jln.”

“Tapi arti tiao yg sebenarnya. Msh perlu dikaji lbh jauh ken dlm bhs tionghoa tiao itu berupa sejumlah uang yg besarannya tergantung dimana daerah itu berada dan periode kapan.”

“Oh iya sy ingat percakapan nenek alm tata ;Nafi makdusdnya pak Hanafi…mantan ketua legiun veteran bantaeng…nenek. dia bilang kampung ini dari dulu selalu menjadi lirikan tamu tamu penting…termsh dai atau ustas…byk yg datang berceramah…khatib jumat. Dianggap kampung baik. Mungkin orang cina menyebutnya tiao artinya baik atau kampung tiao.”

“Kata tiao bisa berarti  baik..laki laki…paman atau kampung yang baik yg bernilai uang atau yg punya harga diri. Kampung yg punya harga diri dan terhormat…ini yg paling cocok.”

Hening dalam kebeningan. Kupecahkan suasana dengan bertanya ke Molit, “Mengertimako?”. Maksudnya, sudah mengerti?

Dasar anak muda yang masih bercintanya seperti anak ingusan, cinta monyet. Manggut-manggut, tapi bertanya kembali, “Bagaimana jalan ceritanya sehingga diawetkan menjadi nama komunitas literasi?”

Wah, bagian ini biar saja aku yang jawab, sebab ikut terlibat dalam pendirian komunitas ini.

6 Agustus 2017, sekelompok pemuda, pelajar, dan mahasiswa Tanah Loe berkumpul mendirikan komunitas literasi. Mereka bersepakat menamakan “Rumah Baca Suluk Tiao”. Mereka ingin bergerak, jiwa dan raga. Lalu mengawetkan nama kampung Tiao yang sudah tidak lagi populer, sebab sudah berganti menjadi Borong Kalukua, bahkan Tanah Loe.

Padahal, Kampung Tiao punya nilai stori dan histori. Mungkin, dengan cara mengaktualkan nama lewat komunitas, maka dengan serta merta ada upaya literasi untuk menjayakan kembali Tiao sebagai kampung tua. Akarnya menghujam jauh di masa silam, tatkala masih eksis Kerajaan Gantarangkeke.

Rumah Baca Suluk Tiao, sudah tiga kali pindah tempat. Seiring dengan aktif dan vakumnya komunitas. Tempat kencan pertama Molit, merupakan lokasi ketiga markasnya. Dan, kehadiran Molit ikut mengaktivasi kembali Suluk Tiao. Jadi, percayalah Molit, cintamu tak bertepuk sebelah tangan.

Allahu Akbar… Allahu Akbar, toa masjid melantangkan suara panggilan salat Isa. Kesadaran eksistensialku pulih. Molit kembali ke posisi semula, tempat tertumbuk mataku. Kutenggak sisa kopi. Beranjak dari selasar Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, menerobos gulita, merintis suluk di mistisnya malam Jumat.  

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *