BantaengBudayaEdukasiFigurSejarah

Syekh Tuan Abdul Gani: Dari Makam ke Masjid

Di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, ada kampung tua bernama Bissampole. Ketuaan kampung ini termaktub dalam literatur yang menyebutkan, kampung yang dikepalai seorang pemimpin, istilahnya kare. Sejumlah tujuh kampung bermusyawarah, tujuh orang kare, guna mencari solusi atas permasalahan kacaunya antar kampung. Salah satunya,  Kare Bissampole ikut hadir bermajelis dan  menyepakati lahirnya cikal-bakal Kerajaan Bantaeng.

Di waktu lampau, batas-batas tradisional Kampung Bissampole, di sebelah utara persawahan ke arah Kampung Allu, di timur membentang Sungai Calendu-Kalimbaung, di barat  SPG-SMA no. 4 Bantaeng, dan di selatan kuburan Balandayya.  Di kekinian, batas-batas kampung makin tidak jelas. Pasalnya, konsep wilayah berbasis kelurahan, nyaris menganulir minda tentang kampung.

Nah, di dalam Kampung Bissampole ada lagi kampung-kampung kecil. Panranga, Lembang-Lembang, Paccengkeang, Gamaccayya, dan Tombologani.  Diperlukan sebentuk tindakan literasi guna meliterasikan nama-nama kampung ini, agar tetap menjadi khasanah pengetahuan masyarakat, khususnya warga Bantaeng. Pasalnya, tidak mungkin nama kampung tersebut, hadir begitu saja, tanpa ada semesta pengetahuan sebagai latar penamaannya.

Serupa upaya mencicil peliterasiannya, saya memilih terlebih dahulu Kampung Tombologani yang nyaris tidak begitu dikenal. Selain dari lebih populernya nama Bissampole, juga adanya perubahan-perubahan kekinian, terutama pada bergesernya cara mengenal lokasi, dari nama kampung menjadi nama-nama jalan. Nama-nama kampung  serupa mobil Panther, nyaris tak terdengar lagi.

Tombologani sendiri merupakan satu kata yang berproses. Akarnya, dari Tuan Abdul Gani, seorang syekh penyebar agama Islam di Bantaeng. Belum benderang asal-muasalnya maupun detail sepak terjang dakwahnya. Satu-satunya kepastian, dia dikuburkan dalam Taman Purbakala Kompleks  Makam La Tenri Ruwa dan Raja-Raja Bantaeng.

Diceritakan pula oleh warga Bantaeng lainnya di Kampung Be’lang,  Tuan Abdul Gani, pertama kali menginjakkan kaki di kampung tersebut. Sehingga, muncul ingatan kolektif warga terhadap sosoknya, yang berjasa pada penyebaran agama Islam.  Sebentuk penghormatan  buat dikenang, maka warga Kampung Be’lang mengusulkan satu nama jalan poros:  Jalan T.A. Gani.

Sewaktu saya masih kanak-kanak, kelas 1 di SD no. 2 Lembang Cina Bantaeng, persisnya pada 7 Juli 1973, banjir besar melanda Kabupaten Bantaeng. Kompleks makam tersebut ikut diterjang banjir dan menyisakan lumpur, menyebabkan banyak kuburan tertimbun. Nanti pada tahun 80-an, barulah diadakan pemugaran dan dijadikan sebagai cagar budaya Provinsi Sulawesi Selatan.

Ingatan saya masih samar, kala bencana banjir terjadi. Rumah orangtua saya, hanya sepelemparan batu dari jarak kompleks pekuburan. Bila saya duduk di lego-lego rumah panggung, sangat jelas kelihatan hamparan kuburan di kompleks makam. Termasuk kuburan Syekh Tuan Abdul Gani. Dulu, kuburnya punya atap dan kelambu.

Sewaktu banjir terjadi, seorang warga Bissampole, bernama Beja, meninggal karena terseret banjir dan terdampar di dalam kompleks pekuburan. Setelah ditemukan, mayatnya diletakkan di makam Syekh Tuan Abdul Gani, sebab makam tersebut tidak tergenang lumpur. Dari kejadian tersebut, berkembang imajinasi warga, makamnya bertuah, sebab ada karamah-nya.

Makam Syekh Abdul Gani,  masih sering dikunjungi oleh para peziarah, baik dari Bantaeng maupun dari luar. Berbagai macam motif para peziarah. Mulai dari ziarah biasa ke seorang wali, sampai kepada appalappasa tinja,  melepaskan nazar. Ada pula berziarah karena pertalian keluarga. Dan, dari para peziarah inilah, seringkali Syekh Tuan Abdul Gani dijuluki Karaeng Poaji.

Sekali waktu, saya bersua dengan penempuh jalan spiritual. Saya bercakap-cakap dengan sang spiritualis tentang persona Karaeng Poaji yang begitu memesona begitu banyak orang. Ia berucap dengan kata-kata bergetar, “Tarikan energinya begitu kuat. Coba ingat sepohon kelapa, tumbuh tidak menjulang tinggi, melainkan seperti leher angsa, miring seperti orang ruku, itu karena tarikan energi dari makamnya.”

Pohon kelapa itu sudah tidak ada lagi. Ia abadi dalam rukuknya ke makam Karaeng Poaji. Dan, sebagai penyaksi terhadap petunjuk alam itu, membangkitkan imajinasi saya, betapa isyarat alam bagi seorang spiritualis, mampu menangkap gejala-gejala semesta. Sebelum mendapatkan penjelasan, kala saya melihat pohon kelapa itu, hanya sebatas mampu menangkap keanehan semata.  

Sebagai orang yang memercayai barakka para waliullah, saya amat sering berziarah ke Karaeng Poaji. Baik terencana maupun spontan. Pasalnya, kompleks makam tersebut, cukup asri untuk berjalan kaki, pun nyeker. Saat mengitari kompleks, selalu saya mampir di beberapa makam, guna merapal shalawat, doa ziarah-tawassul, dan berkirim bacaan ummul kitab: Surah Al-Fatihah.

Seringkali pula saya menghabiskan waktu di dua gazebo dalam kompleks makam. Membaca buku, minum setumbler kopi, disertai dua-tiga biji kue tradisional. Sambil selonjoran, melepaskan imajinasi ke ranah tak bertepi, mensemestai ratusan makam, orang-orang terdahulu yang mendahului, tapi menanti di kepastian abadi.

Adaptasi penyebutan nama Tuan Abdul Gani, bermuara pada dua penyebutan: Tumbelgani dan Tombologani. Saya menganggap dua sebutan tersebut disebabkan pengaruh bahasa Melayu dan Makassar. Di alamat resmi tercantum Tumbelgani, semisal terpajang pada papan Madrasah Tsanawiah Maarif Tumbelgani maupun di Masjid Ruhul Amien Tumbelgani. Adapun orang-orang yang tidak lagi muda usianya, lebih popular menyebut Tombologani.  

Tumbelgani atau Tombologani, secara kasar dan kasat mata, boleh dibilang letaknya meliputi serba sebagian jalan. Sepotong Jalan Elang dan Elang Baru terdapat Masjid Ruhul Amin dan Masjid Agung Syekh Abdul Gani. Sepotong Jalan Bungung Barania terdapat Madrasah Tsnawiah Maarif Tumbelgani, dan sepotong  Jalan Pemuda terdapat kuburan Syekh Tuan Abdul Gani.

Arkian, saya ingin mengajak untuk mengingat satu hajatan penting, beberapa waktu lalu, tatkala Nahdatul Ulama (NU) Bantaeng, menggelar satu seminar tentang Islam di Bantaeng. Saya ikut serta, sekaligus diminta untuk merangkum hasilnya selaku ketua tim perumus. Salah satu rekomendasi yang dihasilkan, agar melakukan riset serius tentang Syekh Tuan Abdul Gani, mulai dari kedatangannya di Bantaeng hingga dipatenkan namanya pada Masjid Agung Syekh Abdul Gani Bantaeng.

Meskipun rekomendasi itu belum terlaksana, disebabkan oleh berbagai perkara. Namun, saya dan beberapa kawan sudah melakukan riset-riset terbatas, khususnya melakukan penulusuran literartur. Hingga esai ini saya bikin, hasilnya belum memadai. Masih butuh keseriusan tingkat tinggi, guna mewujudkan langkah paling awal tersebut.

Dari makam Syekh Abdul Gani, dinisbahkan menjadi nama kampung, lalu diabadikan pada satu nama jalan. Selanjutnya, dinubuatkan pada satu tempat suci: Masjid Agung Syekh Abdul Gani. Singkatnya, dari makam, ke jalan-kampung, berlabuh di masjid. Satu nama penuh berkah nan bertuah.

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *