BantaengLingkunganLiterasi

Tabebuya adalah Jawaban(?)

Bagai rudal para pejuang Hamas, ribuan biji menyerbu Israel. Per 7 Desember 2023, ribuan ucapan selamat melayang buat hari jadi Bantaeng ke-769. Kabupaten Bantaeng, tergolong negeri kecil di Provinsi Sulawesi Selatan. Luasnya, 395,83 km persegi. Lebih luas sedikit dari Jalur Gaza, 365 km persegi.

Memang negeri ini kecil, tapi small is beautiful, kecil itu indah. Keindahan itu bisa bermakna metafor maupun berarti fisik. Secara metafor, keindahannya tertuju pada usia yang sudah lumayan panjang. Maka Bantaeng pun dijuluki Butta Toa, tanah tua nan bertuah. Akumulasi hidup dan kehidupan orang tempatan. Bermula dari mengadanya orang Toala 4700 tahun silam. Lalu, gelombang manusia Austronesia 2200 tahun lampau, berlanjut masa pra Islam, masuk Islam, era kolonialisme, orde kemerdekaan, hingga kini.

Keindahan fisik, telah menjadi buah bibir di berbagai penjuru Nusantara. Khususnya Sulawesi Selatan, bagian selatan. Kotanya sejuk, penuh pepohonan rindang, hijau memanjakan mata. Kota telah tertata sejak era Belanda. Sebagai afdeling, peninggalannya masih bisa dijumpai. Baik gedung maupun ruas-ruas jalan utama. Apatah lagi, 15 tahun terakhir, Bantaeng sering dipendapatkan, lebih hijau kotanya, tinimbang daerah pelosok ketinggiannya.

Pohon-pohon dalam kota adalah koentji. Karena kunci ini pula, sehingga pepohonan bukan saja menjadi objek percakapan publik, tetapi merambah pula ke perkara politik. Persisnya, subjek-subjek politik yang telah memerintah negeri ini.  

Jujur, sodoran minda saya hanya berlapik ingatan. Sewaktu saya masih kelas 1 SD tahun 1973, hingga tamat SMP tahun 1981, pohon-pohon yang merajai bahu jalan dan taman kota, berjenis pohon Mahoni. Batangnya lumayan besar lingkarannya, orang dewasa tak sanggup mempertemukan kedua tangannya. Tingginya menjulang menantang langit. Dari cerita ke cerita, saya mengetahui bahwa pohon Mahoni telah ditanam sejak zaman Belanda.

Jejak pohon tanaman Belanda ini hampir menjadi primadona di sekotah wilayah kolonial. Saya melakukan pengamatan di kekinian, tak satu pohon pun tersisa di bahu jalan dalam Kota Bantaeng. Namun, masih ada tersisa di sekitar Taman Mall Pelayanan Publik Bantaeng, bekas Kantor Bappeda Bantaeng, yang sebelumnya Kantor Bupati Bantaeng. Jumlahnya, kurang dari 10 pohon.

Pohon Mahoni, masyarakat tempatan Bantaeng sering menyebutnya Kanina. Waktu masih sekolah, kami sering menjadikan buahnya yang pahit, buat saling mengerjai di antara kawan-kawan. Baik saat ke sekolah maupun pulang sekolah. Maklum, buahnya mudah didapat, sebab pohonnya menjadi pelindung di sepanjang jalan.

Pohon Mahoni termasuk pohon besar dengan tinggi pohon mencapai 35–40 m dan diameter mencapai 125 cm. Mahoni bisa mengurangi polusi udara sekitar 47%-69%, sehingga disebut sebagai pohon pelindung sekaligus filter udara dan daerah tangkapan air. Daun-daunnya bertugas menyerap polutan-polutan di sekitarnya. Sebaliknya, dedaunan itu akan melepaskan oksigen (O2), membuat udara di sekitarnya menjadi segar. Ketika hujan turun, tanah dan akar-akar pepohonan itu, akan mengikat air yang jatuh, sehingga menjadi cadangan air.

Seiring pertumbuhan Kota Bantaeng, ruas jalan diperlebar. Ada yang satu jalur menjadi dua jalur. Tampak pula satu jalan hanya ruasnya diperlebar. Konsekuensinya, pohon-pohon pelindung Kanina itu ditebang, tiada sisa. Penggantinya? Mulai diperkenalkan sejenis pohon Trambesi.

Trambesi sejenis pohon besar dan tumbuh cepat, mahkota daun menyerupai payung dan lebar, banyak ditanam karena memberi naungan, kayunya tidak terlalu awet. Trambesi pernah populer sebagai tumbuhan peneduh. Perakarannya yang sangat meluas membuatnya kurang popular, karena dapat merusak jalan dan bangunan di sekitarnya. Trambesi memang diperuntukkan bagi ruang publik yang sangat luas seperti taman, halaman sekolah, ataupun pekarangan rumah yang sangat luas.

Trambesi menjadi primadona dan masif ditanam pada masa Nurdin Abdullah, selaku Bupati Bantaeng dua periode, 15 Agustus 2008-2018,  dengan semboyan “The New Bantaeng”. Trambesi ditanam dalam rangka pengembangan kota yang sejuk, asri, dan hijau. Baik di bahu-bahu jalan, maupun di beberapa taman dan wilayah reklamasi Pantai Seruni dan Pantai Marina.

Hijau nan sejuknya persembahan Trambesi, melambungkan nama Nurdin Abdullah selaku Bupati Bantaeng. Akibatnya, Bantaeng menjadi daerah kunjungan wisata sekaligus sebagai daerah studi tiru pemerintahan. Tentu bukan Trambesi saja sebagai faktor tunggal. Namun, kesejukan dan hijaunya Kota Bantaeng, Trambesi adalah kaptennya, didampingi beberapa jenis pohon lainnya. Semisal pohon Katapang.

Pascapemerintahan Nurdin Abdullah, Trambesi bertumbuh makin besar. Lingkaran batangnya sudah melebihi pohon Mahoni peninggalan Belanda. Dahan-dahannya selain menjulang, pun akarnya melebar. Kontribusi Trambesi mulai melahirkan dilema. Di satu sisi, kerindangan dan kesejukannya dibutuhkan, tapi pertumbuhannya membawa konsekuensi, baik di bahu jalan maupun di kabel aliran listrik. Trotaor tak kuasa menahan laju pertumbuhan akar yang melebar, bahkan di beberapa jalan, terbentuk gundukan seperti “polisi tidur” jalan.

Nah, masalah ini dituai oleh pengganti Nurdin Abdullah. Bupati terpilih, Ilham Azikin, tidak lepas dari dilema Trambesi. Pemain catur bilang, “skak-ster”. Menghadapi pertumbuhan Trambesi ibarat kehilangan raja atau perdana menteri. Ancamannya, lumayan serius. Sebab, terkait langsung dengan kelantipan dalam mengurus negeri.

Tidak sedikit warga menilai Ilham, tak cakap mengurus kota, utamanya trotoar yang pecah berantakan. Tak sanggup membiayai perawatan kota. Kerjanya hanya menebang Trambesi sang primadona. Kota Bantaeng mulai panas, kurang sejuk seperti sedia kala. Stigma menyata, jangankan membangun, memelihara saja kota tiada mampu. Bantaeng terpuruk.

Sebagai warga yang nyaris setiap hari berkeliling kota, pikiran saya pun kadang berkecamuk, waima tiada amuk. Apa yang dibikin Ilham sebagai solusi atas ulah Trambesi?

Nopember 2023, saya mulai terpukau. Ada yang memikat hati, menyegarkan pikiran. Mekarnya bunga-bunga dari beberapa pohon pengganti yang mulai unjuk bunga. Rasa penasaran saya membawa ke satu OPD penanggung jawab teknis tata kota, khususnya lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantaeng. Saya mulai menelusuri, dan bertanya, pohon apa yang sementara berbunga itu?

Kadis Lingkungan Hidup Bantaeng menjawab, “Pohon Tabebuya kanda.”

Nah, saya minta bantuan paman Goggle, agar menerangkan secuil tentang Tabebuya. Tanaman yang berasal dari Brasil dan termasuk jenis pohon besar. Seringkali dikira sebagai pohon Sakura, karena bila berbunga, bentuknya mirip bunga sakura. Tabebuya memiliki kelebihan di antaranya daunnya tidak mudah rontok, di saat musim berbunga, mekar bunganya terlihat sangat indah dan lebat, akarnya tidak merusak rumah atau tembok walau berbatang keras.

Tabebuya berada di daerah iklim kering, sehingga tanaman ini memiliki ketahanan hidup yang tinggi dalam cuaca kering. Tabebuya serupa pohon hias popular, dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah di daerah subtropis dan tropis. Pemeliharaannya mudah, pemangkasan dibutuhkan hanya untuk menghilangkan tangkai mati atau rusak. Jarang ada hama atau penyakit yang mengganggu tanaman ini.

Lalu, saya minta penjelasan Nasir Awing, sang Kadis Lingkungan Hidup Bantaeng, tentang Tabebuya di Bantaeng. Awing memberikan catatan singkatnya. Pohon Tabibuya mulai ditanam di Bantaeng pada tahun 2020, sejumlah 200 pohon. Lokasinya, Jln. Raya Lanto, Rest Area Tino, depan Rujab Bupati Bantaeng,  dan sebagian Jln. Merpati, serta terbatas di beberapa taman kota.

Tahun 2021, DLH Bantaeng bersama PLN (CSR), menanam sejumlah 970 pohon. Areanya di Jln. Raya Lanto, Pahlawan, Bangau, Kartini, Rambutan, Mangga-Manggis, Gagak, Dahlia, Kemanga, dan Elang. Juga di Lapangan hitam, Pantai Seruni, Rest Area Tino, dan Taman Bermain. Jenisnya, berbunga kuning, pink, putih, dan ungu. Hasilnya? Diperkirakan yang hidup dan berbunga sampai saat ini sekitar 65-70 persen.

Tabibuya (Sakura Indonesia) sejenis pohon endemis Indonesia dan mulai dikembangkan di Pulau Jawa, khususnya di Kota Surabaya. Pohon ini agak unik, mirip dengan  bunga Bougenville, karen semakin terik, bunganya akan semakin banyak. Bahkan, nantinya akan menutupi seluruh daun, khususnya yang warna putih dan kuning.

Kiwari, DLH Bantaeng sementara mempersiapkan sekitar 700 pohon. Akan ditanam pada saat musim hujan nanti. Awing berharap, kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya Kota Bantaeng agar ikut memeliharanya. Sebab, Tabebuya tidak merusak properti dan fasilitas publik. Batang dan akarnya tidak besar. Pun, akan memperindah Kota Bantaeng.

Penjelasan tentang Tabebuya itu, kemudian membawa saya untuk berefleksi. Saya pun berpikir, seorang Ilham, Bupati Bantaeng, masa jabatan 26 September 2018-2023, cukup lantip dalam menghadapi dilema Trambesi. Solusinya, amat paradigmatik, bukan pragmatis. Seandainya Ilham seorang pragmatis, maka cukup memperbaiki saja trotoar atau sejenisnya, akibat pertumbuhan Trambesi. Toh, ia akan menuai pujian, sebagai seorang pemelihara. Walau, mungkin setahun atau dua tahun rusak lagi, karena akar tiada berhenti menjalar. Bangunan trotoar dan jalan bersifat statis, sementara akar trambesi tiada berhenti menjalar, kecuali mati.

Sembari berkeliling menikmati mekar bunga Tabebuya, masih unjuk bunga hingga Desember 2023, sebagai bulannya Bantaeng, saya mengingat-ingat Ilham Azikin yang lagi jeda masa jabatan. Ibarat permainan sepak bola, ia telah menyelesaikan babak pertama. Dan, saya dengar-dengar Ilham akan main lagi untuk babak kedua masa jabatan.

Ya, Ilham serona Tabebuya yang sementara bertumbuh dan memberikan bunganya, walaupun belum menyeluruh di Bantaeng. Sebab, tidak mesti juga sekotah pohon Trambesi diganti, cukup yang merusak trotoar dan jalan saja. Trambesi yang ada di taman-taman atau raung publik yang luas areanya, karena cocok peruntukannya. Begitu pula pohon Mahoni, bila masih ada sisa, tetap perlu dipelihara. Pilihan men-Tabebuya-kan Kota Bantaeng, hanya bisa lahir dari persona kelantipan literasi lingkungan. Selaras kecakapan pemahaman akan keberlanjutan penataan pembangunan kota.

Cuman, di Milad ke-769 Bantaeng, saya ingin mengingatkan sebentuk hama lima tahunan bagi pohon. Entah itu Tabebuya, Trambesi, Mahoni, Katapang, atau lainnya. Apa gerangan? Baliho para politisi, baik caleg, capres-cawapres, cagub-cawagub, cabub-cawabup, dan cakades, yang memakui sekotah pohon. Senyum dan janjimu, tidak lebih manis dan pasti dari sekotah pohon, yang telah mempersembahkan keindahan dan keteduhan.

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

3 komentar pada “Tabebuya adalah Jawaban(?)

  • Dg. Kassi

    Saya sangat menikmati tulisan ini. Gaya bahasa yg digunakan memaksa saya harus membaca hingga titik akhir. Pesona tulisan ini bahkan melebihi pesona bunga tabebuya. Mantap Pak! Kami akan selalu menikmati tulisan2 indah bapak (tegak bersambung) dalam buku tulisan indah meski tak lagi memakai pena dan kertas bergaris ganda.

    Balas
  • Rosdalifah

    Sungguh ulikan yang keren dan berbobot, kado hari jadi Bantaeng. Akhirnya pertanyaan yang selama ini terbersit di pikiran terjawab sudah tentang jenis tanaman yang menarik perhatian ini. Semoga dengan kehadiran Tabebuya makin menambah keindahan Butta Toa tercinta.

    Balas
  • Kamaruddin_Kamhim

    Tabebuya dinantikan keberlanjutannya memperindah, penyejuk kota Bantaeng. Jika ada ruang masuk ke area sekolah, insya Allah saya pun bisa berkontribusi untuk negeri…
    Dulu, pernah saya menanam Trambesi, berikut Pohon Ketapang, tetapi kini hanya sedikit yang tersisa akibat korban kekeringan dan atas nama pembangunan…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *