Daeng Litere'

Taipa Wowo

Musim taipa (mangga) di kampungku sudah berakhir. Meskipun di pepohonan mangga warga masih tersisa beberapa biji. Termasuk di mukim Daeng Litere, tinggal beberapa biji saja, tidak cukup lima puluh buah, dari tiga pohon miliknya. Kusambangi dua pasar tradisonal di Bantaeng, Lambocca dan Dapoko, tak ada penjual mangga. Mereka beralih jual buah lain. Kini, musim taipa berganti durian, rambutan, langsat, dan sukun.

Waima musim taipa usai, tapi percakapan tentang taipa masih hangat, cenderung panas. Khususnya, di salah satu grup WA, “Empat Sekawan”. Grup medsos ini dibikin oleh Daeng Litere beberapa waktu lalu, setelah tandang liburan Daeng Gappa ke kampung halaman, sebagai pelepas rindu dari perantauan di negeri seberang. Anggotanya hanya empat orang. Daeng Litere, Daeng Dunding, Daeng Gappa, dan aku.

Kami berempat adalah sahabat karib sejak kanak-kanak hingga remaja belia, sebelum berpencar dengan takdir hidup masing-masing. Selain masih ada pertalian kekerabatan, juga masih satu kampung di negeri yang kami cintai bersama: Butta Toa.

Apa passala’ na bambang perdebatan di grup. Mengapa percakapan memanas di grup “Empat Sekawan”. Tiada lain, sebab istilah Daeng Litere, “Taipa Gibrang”, sebagaimana pernah kudedahkan di Bonthaina.com dengan judul yang sama.

Esai tersebut kuunggah ke grup. Akibatnya, Daeng Dunding dan Daeng Gappa terpancing. Maklum, Daeng Dunding pemilih fanatik Jokowi, sedangkan Daeng Gappa pendukung berat Prabowo. Pilpres 2014 dan 2019, keduanya berhadap-hadapan. Bahkan, sewaktu Daeng Gappa pulang kampung liburan, perselisihan dengan Daeng Dunding, sering menghiasi hari-hari percakapan kami. Entah di warkop maupun mukim Daeng Litere.

Pilpres 2024, keduanya bersetubuh dalam satu paket. Prabowo capres dan Gibran, sang putra mahkota Jokowi sebagai cawapres. Dan, ketika muncul istilah “Taipa Gibrang”, keduanya bersatu mengkritisi Daeng Litere. Aku menikmati perseteruan mereka. Pasalnya, sependek pengetahuanku, dulunya Daeng Litere tak tertarik dengan percakapan politik, tapi kali ini lumayan aktif bicara pasangan capres-cawapres.

Suhu perdebatan meninggi, tatkala Daeng Litere mengunggah kutipan kata-kata Eep Saefullah Fatah. Kurang lebih begini kutipannya, “Saya tak berkepentingan memenangkan pasangan Anies-Muhaiman atau Ganjar Mahfud. Namun, saya berkepentingan agar pasangan Prabowo-Gibran Kalah.”

Sontak saja, di grup yang hanya beranggotakan empat orang itu, nyaring bersahut-sahutan, bagai kucing birahi ingin bersenggama. Sesekali aku juga menunjukkan birahiku, agar mereka tetap menjaga kewarasan nalar, memelihara akal sehat, dan tidak termakan hoaks.

Jujur, perdebatan di grup ini, tak kalah seru dengan debat pendukung capres-cawapres yang dipandu Najwa Shihab di Narasi Tv. Terkadang, tidak sedikit argumentasi dirujuk ke chanel Najwa. Tentu, sering pula dibumbuhi potongan-potongan video, plus aneka meme lucu-lucuan. Tak perlu saya tuliskan ulang perdebatan mereka. Soalnya, bagiku tidak ada yang unik.

Namun, aku tersentak tatkala Daeng Litere mengeluarkan argumen pamungkas. Ia mengibaratkan pasangan Prabowo-Gibran tak lebih semisal pasangan dua taipa. “Taipa Wowo” dan “Taipa Gibrang”. Aku terpesona dengan istilah Taipa Wowo. Kalau Taipa Gibrang, aku sudah tahu maksudnya. Bahkan sudah kutuliskan dalam secarik esai.

Lalu, Taipa Wowo itu apa? Aku lempar pancingan tanya. Langsung disambar Daeng Litere, “Sejenis taipa (mangga) yang diawetkan agar tidak busuk. Serupa taipa lajappo, tapi nisare formalin, sehingga awet.”

Maksud Daeng Litere, Prabowo itu seperti mangga yang hampir busuk, terlalu matang, sehingga harus diawetkan pakai formalin?

Iye, seribu persen betul,” tegasnya.

“Bukankah Prabowo itu, selain dari sisi usia yang sudah terlalu matang, juga telah berkali-kali jadi capres. Setiap kali gagal, diberi lagi citra baru, supaya mampu ikut kompetisi lagi di hajatan pilpres berikutnya?” Tulis Daeng Litere.

Unggahan Daeng Litere menyebabkan percakapan grup jeda. Mungkin mereka lelah. Maka kusempatkan merenungi istilah Taipa Wowo, sebentuk mangga diformalin.

Ah, sebaiknya aku minta tolong pada paman Goggle saja, seperti apa itu zat formalin, yang bisa dipakai sebagai bahan pengawet. Aku nukilkan saja secara langsung, “Formalin biasanya digunakan untuk mengawetkan bahan agar tidak mudah rusak. Tujuannya digunakan untuk industri seperti pengawetan triplek, kain, karpet, busa, obat pembersi lantai, dan lain-lain. Selain itu juga digunakan untuk mengawetkan mayat dan bangkai agar tidak cepat busuk.”

Nah, dari sinilah pangkalnya, “Banyak penjual makanan dan buah-buahan tetap, menggunakan formalin untuk memperpanjang masa simpan, karena bahan ini mudah digunakan, gampang didapat, dan harganya relatif murah dibanding bahan pengawet lain.”

Akibatnya, makanan dan buah-buahan berformalin agak berbau menyengat dan kadang-kadang menimbulkan pedih di mata. Sehingga, makhluk penyuka tempat jorok saja, semacam lalat, tak sudi hinggap, apalagi ingin beranak-pinak. Anehnya, manusia tega melakukan demi keuntungan.

Coba bayangkan kisanak-nyisanak, formalin untuk industri, tapi pedagang memakainya untuk makanan. Ngeri-ngeri sedap, bukan?

Keterangan dari media daring ini, aku unggah ke grup. Daeng Litere langsung saja menyambut dengan emoticon, lima senyum berlogo cinta, tiga tanda jempol, dan dua tanda maaf. Seolah ia terbantu dengan unggahanku.

Daeng Gappa dan Daeng Dunding masih senyap dalam diam, tiada memberi reaksi. Walau ia sudah baca.

Kalakian, aku melihat Daeng Litere mengetik lumayan lama di grup. Bakalan apa yang mau diunggah?

Tak lama kemudian, unggahannya bertubi-tubi. “Jadi, Taipa Wowo, serupa mangga yang diformalin. Prabowo diberi formalin, sebentuk citra berlapis-lapis, agar kelihatan masih segar bugar. Coba lihat, ia sering joget-joget, menampilkan gimik ala anak milenial. Tujuannya, tak lain agar kelihatan masih fresh. Sorry ye mas Wo?”

Sungguh, aku ingin menyela, tapi unggahan Daeng Litere muncul lagi, “Pasangan Prabowo-Gibran, merupakan perpaduan dua taipa. Satu taipa pallo, mangga muda yang dikarbit agar kelihatan matang, sedangkan satunya lagi, taipa lajappo, mangga hampir busuk diformalin biar kelihatan fresh. Perpaduan, kecut-kecut manis dengan aroma menyengat kurang sedap, dan pedih di mata.”

Bagaimana tanggapan Daeng Gappa dan Daeng Dunding? Hingga esai ini kubikin belum memberi reaksi, tapi ia sudah membacanya.

Aku hanya membatin sebatin-batin mungkin, lalu kuunggah pernyataan. “Ingat, grup ini dibikin untuk mengawetkan persahabatan kita sejak kanak-kanak. Empat Sekawan akan selalu abadi. Pilpres hanya hajatan lima tahun, yang anginnya sering berubah-ubah. Pasangan politik tidak abadi, hanya kepentingannya yang abadi.”

Sengaja kuunggah pernyataan bak nasehat bersama, sebab aku masih membayangkan, sodokan pengibaratan Daeng Litere menyebabkan rona Daeng Gappa dan Daeng Dunding kecut-kecut manis, kurang sedap dipandang, karena mencicipi Taipa Gibrang dan Taipa Wowo.

Kredit gambar: Dream.co.id

Sulhan Yusuf

Sulhan Yusuf, lahir di Bantaeng, 20 Februari 1967. Sehari-hari aktif sebagai pegiat literasi. Mendirikan dan mengasuh Paradigma Institute Makassar dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menulis buku: antologi puisi AirMataDarah (2015), literasi paragraf tunggal Tutur Jiwa (2017), antologi esai Pesona Sari Diri (2019), antologi Maksim Daeng Litere (2021), dan antologi narasi-esai Gemuruh Literasi (2023).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *