Daeng Litere'Jurnalisme WargaNewsSejarah

Tantangan dan Refleksi Bangsa dalam Momen Kelahiran Pancasila

Ilustrasi: KOKO/RADAR BANJARMASIN
(https://kalsel.prokal.co/read/news/41405-mencari-nilai-pancasila-pada-masyarakat-banjar-modern)

Mengawali Juni, tepatnya setiap tanggal 1  bangsa Indonesia merayakan Hari Lahir Pancasila dengan penuh semangat dan kebanggaan. Hari ini memperingati momen bersejarah ketika Pancasila, sebagai dasar negara Indonesia, secara resmi diumumkan kepada publik oleh proklamator Indonesia, Bung Karno. Perayaan ini menjadi kesempatan bagi kita untuk merenungkan dan menghargai nilai-nilai yang menjadi pondasi bangsa ini.

Pancasila, yang dianggap oleh Bung Karno sebagai Philosophishe Gronslag atau Weltanschauung (filsafat, fundamen, atau pandangan dunia), bukanlah sekadar seperangkat prinsip atau slogan kosong. Ia adalah sebuah pandangan hidup yang mencerminkan semangat persatuan, keadilan sosial, demokrasi, dan ketuhanan yang maha esa. Pancasila menggambarkan identitas dan karakter bangsa Indonesia yang beragam, namun tetap bersatu dalam semangat kebersamaan.

Sejarah Lahirnya Pancasila

Secara singkat, sejarah perumusan Pancasila diawali pada tanggal 1 Juni 1945, dalam sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), Bung Karno mengusulkan agar sebuah panitia dibentuk untuk merumuskan dasar negara Indonesia. Panitia tersebut dikenal sebagai PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Dalam prosesnya, PPKI merumuskan dasar negara Indonesia. Melalui diskusi dan negosiasi, terbentuklah lima sila yang menjadi inti Pancasila. Proses perumusan ini melibatkan tokoh-tokoh penting seperti Bung Karno, Bung Hatta, Soebardjo, Muhammad Yamin, dan lainnya.

Perumusan tersebut terjadi beberapa perbedaan pandangan antara Moh. Yamin, Mr. Soepomo, dan Soekarno. Dalam mengatasi perbedaan tersebut maka disepakatilah untuk membentuk tim kecil yang beranggotan 9 orang yang terdiri dari golongan Islam dan Nasionalis. Adapun anggota tersebut antara lain Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Mr. Moh. Yamin, Mr. A.A. Maramis, Ahmad Soebardjo, Abikusno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakkir, A. Wachid Hasyim, dan H. Agus Salim.

Pada kesempatan tersebut, Bung Karno menyampaikan pandangannya bahwa kelima prinsip yang menjadi titik persetujuan (common denominator) segenap elemen bangsa itu, meliputi: Pertama: kebangsaan Indonesia Kedua: Internasionalisme, atau perikemanusiaan Ketiga: Mufakat atau demokrasi Keempat: Kesejahteraan Sosial  Kelima: Ketuhanan yang berkebudayaan.

Hasil dari kesepakatan tim tersebut tertuang dalam rancangan Preambule pada alinea keempat yang kemudian dijadikan sebagai dasar negara. Isi kesepakatan tersebut yakni, “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya; Kemanusiaan yang adil dan beradab; Persatuan Indonesia; Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan; dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Selengkapnya kesepakatan tersebut disebut ialah Rancangan Preambule Hukum Dasar. Mr. Moh. Yamin kemudian mempopulerkannya dengan nama “Piagam Jakarta”.

Selang sehari pasca proklamasi, sebelum dilaksanakannya sidang PPKI di tanggal 18 Agustus 1945, Bung Hatta kedatangan opsir Jepang dan menyampaikan keberatan wakil Indonesia bagian Timur terhadap tujuh kata yang terdapat pada sila pertama di Piagam Jakarta. Kemudian pesan tersebut diteruskan oleh Bung Hatta kepada wakil-wakil Islam sehingga akhirnya disepakati menghilangkan tujuh kata tersebut dan mengganti redaksinya menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Pada kesempatan itu pula, Bung Karno secara resmi mengumumkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Pengumuman ini menjadi tonggak penting dalam pembentukan identitas nasional Indonesia.

Tantangan Bangsa Indonesia terhadap Nilai Pancasila

Tidak bisa dipungkiri bahwa seiring perkembangan zaman memberikan dampak terhadap internalisasi nilai-nilai Pancasila. Bangsa Indonesia menghadapi berbagai tantangan dalam menerapkan dan menjaga nilai-nilai tersebut. Beberapa tantangan tersebut meliputi:

  1. Pergeseran Nilai: Perkembangan globalisasi dan modernisasi sering kali menghadirkan tantangan terhadap nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal yang menjadi bagian dari Pancasila. Nilai-nilai seperti gotong royong, keadilan sosial, dan persatuan seringkali tergeser oleh individualisme, materialisme, dan ketimpangan sosial. Mempertahankan nilai-nilai Pancasila dalam era perubahan ini menjadi tantangan yang nyata.
  2. Ekstremisme dan Radikalisme: Adanya gerakan ekstremisme dan radikalisme di Indonesia merupakan tantangan bagi nilai-nilai Pancasila. Gerakan yang menentang kebebasan beragama, menghasut kebencian, atau mengancam kesatuan bangsa merupakan ancaman langsung terhadap prinsip-prinsip Pancasila seperti Bhinneka Tunggal Ika dan ketuhanan yang maha esa.
  3. Korupsi dan Kekurangan Etika: Korupsi dan kekurangan etika di berbagai lapisan masyarakat juga menjadi tantangan terhadap nilai-nilai Pancasila. Ketidakjujuran, nepotisme, dan penyalahgunaan kekuasaan merusak prinsip-prinsip keadilan sosial dan persatuan yang dianut oleh Pancasila.
  4. Pertentangan Sosial dan Kesenjangan Ekonomi: Tantangan sosial seperti konflik antar-etnis, agama, atau kelompok masyarakat tertentu dapat mengancam persatuan dan keberagaman yang dijunjung tinggi oleh Pancasila. Selain itu, kesenjangan ekonomi yang tinggi juga menjadi tantangan yang menghalangi tercapainya keadilan sosial yang diharapkan oleh Pancasila.
  5. Kurangnya Kesadaran dan Pendidikan: Kurangnya kesadaran akan nilai-nilai Pancasila dan pendidikan yang memadai tentang Pancasila menjadi tantangan lainnya. Penting untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai Pancasila melalui pendidikan formal dan informal agar nilai-nilai tersebut menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
  6. Perubahan Sosial dan Teknologi: Perubahan sosial dan kemajuan teknologi juga memberikan tantangan tersendiri. Kemajuan teknologi dapat membawa dampak positif seperti meningkatkan akses informasi dan pemberdayaan, tetapi juga dapat menjadi ancaman jika tidak diiringi dengan pemahaman dan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam penggunaannya.

Menghadapi tantangan ini, penting bagi bangsa Indonesia untuk terus berkomitmen dan berupaya secara aktif dalam mempromosikan, menerapkan, dan menjaga nilai-nilai Pancasila. Ini melibatkan peran aktif pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat sipil, dan individu untuk membangun kesadaran, memerangi korupsi, membangun kerukunan antar-etnis dan agama, serta memperjuangkan keadilan sosial yang lebih baik.

Refleksi Hari Lahir Pancasila

Perayaan Hari Lahir Pancasila memang menjadi momen yang tepat untuk merefleksikan arti dan pentingnya Pancasila dalam kehidupan kita sehari-hari. Nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong, toleransi, persatuan, dan keadilan sosial harus terus ditanamkan dalam diri setiap individu, keluarga, dan masyarakat.

Gotong royong adalah nilai yang melekat dalam Pancasila. Gotong royong mendorong kita untuk saling membantu dan bekerja sama dalam membangun bangsa ini. Dalam gotong royong, kita menghargai perbedaan dan saling melengkapi. Sebagai mahluk sosial, kita memahami bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh individu tidak dapat tercapai tanpa kontribusi dan dukungan kolektif dari masyarakat.

Selanjutnya, toleransi menjadi nilai penting dalam Pancasila. Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagaman budaya, agama, dan suku bangsa. Toleransi mengajarkan kita untuk menghormati perbedaan dan menciptakan harmoni di tengah keragaman. Melalui toleransi, kita membangun jembatan penghubung antar-etnis dan agama, menjaga kerukunan sosial, dan mencegah konflik.

Lebih lanjut, persatuan adalah inti dari Pancasila. Dalam persatuan, kita menghargai semangat kebangsaan yang mengikat kita sebagai satu bangsa. Persatuan mengatasi perbedaan dan menyatukan kita dalam semangat bersama untuk memajukan bangsa. Dengan persatuan, kita dapat mengatasi tantangan dan menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi oleh bangsa ini.

Dan yang terakhir adalah keadilan sosial adalah prinsip yang melekat dalam Pancasila. Keadilan sosial mengajarkan kita untuk memperjuangkan kesetaraan, keadilan, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadilan sosial mendorong kita untuk mengatasi kesenjangan ekonomi, akses pendidikan, pelayanan kesehatan, dan peluang kerja yang merata.

Perayaan Hari Lahir Pancasila juga merupakan panggilan untuk menjaga dan memperkuat nilai-nilai Pancasila di tengah tantangan zaman. Globalisasi, modernisasi, dan perubahan sosial yang pesat dapat menghadirkan tantangan dalam menjaga integritas dan aplikasi nilai-nilai Pancasila.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus memperkuat pendidikan Pancasila dan membangun kesadaran akan nilai-nilai tersebut di kalangan masyarakat, terutama generasi muda. Pendidikan Pancasila harus menjadi bagian integral dalam kurikulum pendidikan, sehingga setiap individu memahami dan menginternalisasi nilai-nilai Pancasila sejak dini.

Selain itu, partisipasi aktif masyarakat dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara juga penting. Dengan terlibat dalam kegiatan sosial, politik, dan ekonomi, kita dapat menerapkan nilai-nilai Pancasila secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Perayaan Hari Lahir Pancasila adalah panggilan bagi kita semua untuk terus memperkuat semangat kebangsaan, keadilan sosial, dan persatuan. Melalui pemahaman dan penerapan nilai-nilai Pancasila, kita dapat membangun Indonesia yang lebih baik, di mana setiap warga negara merasa dihargai, memiliki kesempatan yang setara, dan hidup dalam harmoni.

Mari kita jadikan setiap hari sebagai perayaan nilai-nilai Pancasila, bukan hanya pada Hari Lahir Pancasila. Dengan demikian, kita berkomitmen untuk menjaga integritas bangsa dan meneruskan warisan mulia para pendiri bangsa dalam membangun Indonesia yang adil, demokratis, dan berkeadaban.

Alif Tawaqal

Freelancer Infinity Interaksi_Art Creative Studio

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *